Naga di langit

587 Kata
Darman yang melihat itu syok dan langsung ikut berlutut di hadapan Dandi, “Aku juga patut dihukum!” Tadinya Darman sedang asyik menikmati waktu berdua dengan pasangannya, candlelight dinner di kamar, tiba-tiba ia mendapat panggilan dari Yusrin dan diminta bergegas membawa anak buahnya ke Restoran Fortune untuk membantu seseorang. Saat itu Darman masih tidak berpikir apa-apa dan mengira hanya ada orang yang meminta bantuannya. Toh memang banyak sekali orang yang sering meminta bantuan kepada Yusrin, sehingga Darman juga tidak merasa aneh dengan itu. Akan tetapi Darman syok ketika melihat Yusrin datang-datang langsung berlutut di hadapan Dandi. Ini sih apanya yang meminta bantuan? Di seantero kota X, tidak banyak orang yang bisa membuat Yusrin bertekuk lutut. Setiap orang yang sanggup membuat Yusrin tunduk adalah orang yang berkemampuan luar biasa. Lantas siapakah orang yang bernama Dandi ini? Darman tidak berani berpikir lebih jauh lagi. Seketika itu udara di sekitar terasa sangat menyesakkan. Keempat wartawan tadi, termasuk Harvey, Jhonson, dan juga Esther tidak mengerti apa yang terjadi. Bukankah Dandi hanya membeli Restoran Fortune saja? Lantas mengapa bisa orang terkaya di Distrik X seperti Yusrin sampai berlutut begitu seperti seekor anjing yang menunggu majikannya? Pastinya Dandi menyembunyikan identitasnya yang sangat mengerikan …. Membayangkannya saja sudah membuat orang-orang ketakutan. Di situ Dandi hanya diam saja melihat mereka berdua berlutut. Setelah beberapa saat berlalu barulah Dandi berbicara, “Apa di seisi ruangan ini hanya kalian berdua yang pintar?” “Pak Dandi, aku minta maaf!” Harvey seperti baru tersadar dari mimpinya dan langsung berlutut, “Aku salah, tolong kasih aku hukuman!” Harvey juga sadar kalau dirinya telah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya ia singgung. “Sepertinya hanya tiga orang saja ya,” kata Dandi. Harvey pun langsung memelototi Jhonson dan berkata padanya, “Jhonson, mau mati ya kamu?” Jhonson langsung tersadar dan segera berlutut di hadapan Dandi, “Dandi, aku minta maaf karena sudah berbicara yang tidak pantas sama kamu. Aku tidak tahu kalau ternyata kamu lebih hebat dari aku. Tolong ampuni aku.” Sebodoh-bodohnya Jhonson pun paling tidak dia tahu bahwa Dandi bukanlah orang yang bisa diperlakukan semena-mena oleh keluarganya. Jhonson yakin betul Dandi memiliki kesanggupan untuk menghabisi nyawanya sekarang juga. Usaha properti milik Yusrin berada jauh di atas keluarga wharfi, karena itu dia sangat menghormati Yusrin. Dari dulu sampai sekarang ini pertama kalinya Jhonson merasa setakut ini. Namun masih ada satu hal yang menjadi misteri baginya. Seorang menantu tak berguna di keluarga Wharfi bagaimana bisa tiba-tiba menjadi sehebat ini. Keempat wartawan yang berada di belakang pun ikut berlutut meminta pengampunan dari Dandi. “Aku sudah bilang kan dari awal aku tidak mau bikin masalah ini jadi rumit. Tapi malah kalian sendiri yang cari masalah. Memang apa susahnya sih hanya cuci piring di restoran ini?” “Siap!” sahut Jhonson. Dirinya hampir saja meneteskan air mata mendengar ucapan Dandi tadi, tapi apa daya. Apa dia punya pilihan untuk menolak? “Setiap hari pulang kerja kemari cuci piring, mau?” “Mau, mau banget!” Jhonson merasa malu sekali membayangkan dirinya masuk berita karena disuruh cuci piring dan menjadi bahan lelucon seisi Kota X. Kelak ketika dia menjadi general manager pun setiap hari masih harus datang ke restoran untuk mencuci piring, apa tidak akan menjadi bahan tertawaan? Tapi kalimat berikutnya yang dilontarkan oleh Dandi membuat Jhonson sadar bahwa dia sendiri yang berpikir terlalu berlebihan. “Yusrin, kamu awasi Jhonson. Pastikan dia harus datang setiap hari ke sini untuk cuci piring, mengerti?” ujar Dandi. “Baik! Pak Dandi tidak usah khawatir, pasti akan aku kerjakan,” jawab Yusrin. Yusrin sudah terbiasa berada di atas dan memberi perintah pada orang lain. Tentu dia tidak akan senang jika ada orang lain yang malah memberinya perintah. Tapi hari ini pertama kalinya dia mendapat perintah dari Dandi. Anehnya adalah dia justru malah merasa senang dan tersanjung. Dandi pun mengangguk puas dan beralih ke Harvey, “Tadi kamu suruh aku berlutut minta maaf? Terus aku juga disuruh memberi kamu satu botol Polandy, ‘kan?” “Iya, aku salah! Aku rela bayar ganti rugi 20 miliar! Tolong maafkan aku.” “Hanya 20 miliar kamu harap aku mau memaafkan kamu?” ujar Dandi sembari berjalan ke arah Mary, “Sejak kapan minta maaf sama aku jadi semurah itu?” “Waktu itu ada orang yang tawar 200 triliun. Tapi Pak Dandi jawab begini … kepala kamu harganya berapa?” kata Mary. “Pak Dandi mau berapa, sebut saja,” balas Harvey. “Satu tangan kamu harganya berapa?” “Aku rela kasih berapa pun yang aku punya, tolong beli tanganku!” “Uang tidak ada masih bisa dicari, tangan tidak ada ya hilang selamanya. Kadang ada beberapa hal kalau belum sampai ada pertumpahan darah, kamu tidak akan tahu berapa harga yang harus kamu bayar karena sudah bikin aku marah! Aku mau tangan kamu!” Mary mengeluarkan sebilah pisau dari lengan bajunya dan memotong tangan Harvey hingga tangannya putus dan darah bertebaran ke mana-mana. Karpet yang semula berwarna hijau ternoda dengan bercak merah darah. Harvey menjerit kesakitan sampai dia pun berguling-guling di lantai. Mary masih tetap berada di belakang Dandi, tidak ada seorang pun yang melihat dia mencabut pisau, memasukkan pisau ataupun bergerak sedikit pun. Tapi tangan Harvey yang berjarak 3 meter darinya tiba-tiba terpotong begitu saja. “Menyerah?” tanya Dandi dengan senyuman meledeknya. “Menyerah! Aku menyerah! Terima kasih karena Pak Dandi tidak membunuhku.” Sekarang hanya satu tangan, tapi kalau Harvey masih belum menyerah, maka yang akan hilang berikutnya adalah nyawanya, dan Harvey masih belum siap untuk mati. “Tidak bisa ya kasih aku hidup tenang? Untuk apa coba suruh aku berlutut minta maaf segala. Haduh, aku juga tidak tahan. Aku ini kan orang baik.” Jika orang lain yang berbicara seperti itu kepada Harvey, dia pasti sudah melabraknya. Akan tetapi responnya sangat berlawanan ketika Dandi yang mengatakan itu ke Harvey. Dandi berbalik menoleh ke Jhonson dan membuatnya ketakutan sampai kencing di celana. “Jhonson, kamu tidak bisa jadi orang yang benar sedikit? Puas kamu sekarang seperti saat ini?” “Iy … iya! Aku rela seumur hidup cuci piring di sini, tolong jangan memotong tanganku.” “Tangan kamu terlalu kotor. Lebih baik kamu coba ingat baik-baik belakangan ini kamu telah berbuat hal apa yang seharusnya tidak kamu perbuat,” seusai mengatakan itu, Dandi mengatakan sesuatu kepada Yusrin sebelum dia pergi, “Anggap saja apa yang terjadi hari ini tidak ada, aku tidak pernah datang ke restoran ini.” “Siap, Pak Yusrin!” Setelah cukup lama Dandi pergi, akhirnya Yusrin merasa udara di sekitar sana menjadi tidak begitu dingin dan mencekam lagi. Dia perlahan bangkit dan melihat Harvey dan Jhonson, “Untung hari ini Pak Dandi masih berbaik hati, kalau tidak cukup satu perintah darinya kalian akan musnah dari dunia ini.” “Pak Yusrin, kalau boleh tahu siapa Pak Dandi itu? Apa benar dia lebih hebat dari Pak Yusrin?” tanya Harvey. Yusrin memandangi plafon yang ada di atas kepalanya dan menghela napas panjang, “Aku ini hanya semut di atas tanah, dia itu naga yang ada di langit.” Harvey terkejut mendengarnya. Bahkan Yusrin saja begitu memandang tinggi Dandi. Perasaan takut yang Harvey rasakan dalam hatinya menjadi semakin besar. Tak lama kemudian Yusrin bertanya kepada Jhonson, “Kemarin-kemarin kamu cari masalah ya sama orang lain?” Jhonson pun mencoba mengingat kembali apa yang dia lakukan beberapa hari ke belakang. Walau memang dia sudah menyakiti beberapa wanita dan mengkhianati perasaan mereka, tapi mereka bukanlah siapa-siapa. Satu-satunya kemungkinan adalah … hal yang telah dia perbuat kepada sepupunya sendiri, Claire. Apa mungkin Dandi itu adalah orang yang diam-diam melindungi Claire dari belakang? Itu … rasanya tidak mungkin. “Ada apa? Ngomong saja, atau kamu sendiri yang akan mati mengenaskan,” kata Yusrin. Jhonson pun akhirnya menceritakan semua perbuatan yang dia lakukan kepada Claire sejelas-jelasnya. “Jangan harap kamu bisa dapat posisi general manager lagi, kamu setiap hari harus datang kemari untuk cuci piring. Kalau kamu berani melawan, jangan salahkan aku jika keluarga kamu dihabisi!” kata Yusrin. “Kalau sampai ada orang yang berani kasih tahu apa yang terjadi barusan ke orang lain, aku akan bikin keluarga dia binasa!” imbuh Darman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN