Sabiya meringis ngilu. Sebelah tangannya terulur, mengusap perutnya yang terasa sakit. Menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara sebisanya. Ini masih pukul empat sore. Tidak ada siapa pun di apartemen Erika selain dirinya. Erika mungkin baru saja keluar dari kantor dan sedang menunggu bus atau taksi untuk mengantarnya pulang. Setidaknya ada sekitar tiga puluh menit untuk sampai di apartemen. Ingin menghubungi Romeo pun terasa tidak mungkin. Bahkan Sabiya lupa meletakkan ponselnya di mana. Karena memang awalnya Sabiya pergi untuk menenangkan diri. Sehingga tidak terlalu memikirkan letak ponselnya yang menghilang beberapa waktu terakhir. Rintihan sebagai pelampiasan rasa sakit itu kian terdengar jelas. Sabiya juga sudah menangis terisak karena tidak tahan dengan rasa sakit di perutnya.

