Sedetik setelah pintu kamar tertutup, Sabiya hanya bisa terpaku. Menatap penuh makna pada pemandangan di ruang tengah apartemen. Menelisik lebih jauh untuk memastikan jika yang dilihatnya benarlah yang muncul dalam pikiran. Hatinya sedikit merasakan perubahan yang tidak begitu berarti. Mendapati suaminya tidur dalam posisi yang kurang nyaman. Dengan sebuah selimut yang menutupi seluruh badan. Hanya menyisakan kepala yang menyembul dari sana. Dengan langkah pelan, Sabiya mendekati sofa panjang itu. Ingin melihat dari jarak yang lebih dekat. Hanya untuk memastikan suaminya tidur dengan nyaman dan tidak kedinginan. Walaupun tetap saja, tidur di sofa tidaklah senyaman tidur di ranjang. Senyuman Sabiya terbit. Nampak begitu indah dan mempesona jika saja Romeo bisa melihatnya. Menatap takjub

