Hari tanpa Ayra

1856 Kata

Nayna terbangun dengan mata yang bengkak. Dia memandangi pantulan bayangannya di depan cermin. Dia lalu menghela napas dengan bibir yang mengerucut. Kemudian bangkit dan berjalan gontai ke kamar mandi meninggalkan bayangannya di depan cermin. Setelah setengah jam menghabiskan waktu di kamar mandi. Dia terkejut melihat Aksa yang sudah berada di kamarnya. "Apa?" "Kamu hampir di cium sama Gibran?" Nayna membelalakkan matanya. "Kak Gibran cerita?" Aksa menangguk. Nayna kemudian duduk di tepi ranjang disusul Aksa. "Iya, dia emang hampir ngelakuin itu." Bahu Nayna turun. "Tapi nggak jadi, ‘kan?" Nayna menatap Kakaknya yang over protectif itu. "Iya, emang nggak jadi." Dia terdiam sejenak. "Hati aku sakit. Perih." Dia kemudian bangkit. "Apalagi, setiap dia berdoa minta sama Tuhan buat nge

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN