Nayna! Bukan Ayra.

1846 Kata

Gunawan mengernyit. “Ayra?” Kemudian ia tertawa. “Di sini tidak ada yang namanya Ayra, Gibran. Saya hafal semua mahasiswi seni lukis semester akhir yang sedang menyiapkan Skripsi, jumlah mereka hanya enam orang, dari dua puluh lima orang dan kebanyakan dari mereka adalah laki-laki.” Gibran merasa seperti terperosok ke dasar jurang. Entah sampai mana dia akan jatuh dan merasakan sakit selain dari hatinya yang sudah terluka. Gunawan memanggil Gibran berkali-kali. HIngga dia terperanjat dari lamunannya. Kemudian pria itu menghela napas. “Ya sudah, terima kasih pak. Saya permisi,” ucapnya seraya bangkit. “Silakan. Hati-hati, ya.” Gibran ke luar dengan perasaan hampa. Kosong, bahkan dia merasa langkah kakinya terasa gamang. Kini dia berlari menuju mobil. Meluapkan semua kesedihannya. Kali

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN