Part 23Antara Benci dan Cinta “Waduh, gimana ya, Mbak Dini. Saya hari ini ada janji ambil barang sama orang. Hm ... kalau saya bantu carikan angkutan menuju sana, berani gak? Kalau naik motor kasihan bayi kamu nanti.” “Saya takut nyasar kalau pergi sendiri, Mas. Dulu, saya pernah berapa kali ke sana naik motor sama Bang Hendra. Tapi kalau naik angkutan umum belum pernah.” Andini mulai putus asa. Ia tidak punya nyali untuk berangkat sendiri. “Gak apa-apa, Mbak. Mumpung ini masih pagi. Sebelum zuhur juga sudah sampai. Nanti saya pesanin deh, sama sopirnya, buat nurunin Mbak di alamat ini.” Yanto memberi semangat. “Oh, gitu ya, Mas. Ya, udah, saya coba deh.” Andini langsung berdiri dari duduknya. Yanto tersenyum bercampur iba melihat wanita muda yang ia tahu sudah ditinggal lagi oleh Ar

