"Kak Han Rae jalan-jalan dari pagi sampai malam begini memang tidak apa-apa?" tanya Edward dengan mulut penuh kebab.
"Itu sebabnya dia ada dipunggungku bocah, kakinya lemas karna dia keluar banyak darah." Balas Yongtae.
"Maaf, aku merepotkanmu." Ucap Han Rae yang berada dipunggung Yongtae.
Han Rae tiba-tiba menoyor kepala Lucas, karna melihatnya menggali emas sembari makan.
"Jorok." Gumam Han Rae.
"Aku sedang tidak mengupil, hidungku gatal tahu." Balas Lucas.
"Jadi... Kakak mau mengantar kami pulang?" tanya Edward.
"Kalian pulang sendiri ya? Kasihan Han Rae harus istirahat." Balas Yongtae.
"Antarkan saja, aku tidak apa-apa. Edward malam ini tidur dimana? Di rumah Woojung atau... rumahmu sendiri?" tanya Han Rae pada Edward.
"Aku tidur di rumahku sendiri. Habis kalau di rumah Kak Woojung, aku jadi main game terus dengan Kak Lucas, dan tidak belajar. Kak Woojung juga jadi marah-marah terus seperti Ibu-Ibu." Balas Edward.
"Ya sudah. Berarti kalian pulang sendiri-sendiri ya?" kata Yongtae.
"Dompetku kering." Ucap Lucas sembari menggosok-gosok kantung celananya dan memberi cengiran.
Yongtae seketika memasang ekspresi datar.
"Ambilkan dompetku Han," Han Rae menurut. Ia segera mengambil dompet Yongtae yang berada disaku celananya.
"Jangan menyentuh yang lain." Gumam Yongtae dengan nada berbisik.
"Aku menyentuh apa memangnya?" tanya Han Rae sembari menyerahkan dompet yang sudah berhasil ia ambil.
Yongtae menghela napasnya, dan mengambil dompet tersebut dari tangan Han Rae. Yongtae mengambil beberapa lembar uang, kemudian menyerahkannya pada Lucas dan Edward.
"Karaoke, kebab, soda dan ongkos pulang. Kalian harus mencatat hutang-hutang kalian padaku." Kata Yongtae setelah uang pemberiannya diterima Lucas dan Edward.
"What?!" Seru Lucas dan Edward.
"Bayar hutangnya datang ke rumah, dan bantu Han Rae mengerjakan tugas rumah. Mencuci, beres-beres, dan mengurus kebun. Aku tunggu kalian besok." Kata Yongtae.
"Aku sekolah." Ucap Edward beralasan.
"Besok minggu bocah. Ayo kita pulang Han." Sahut Yongtae, yang membuat Edward seketika bungkam.
***
Lucas menggembungkan pipinya, dan dengan malas memberikan pupuk pada tanaman-tanaman Han Rae. Pupuknya bau sekali, Lucas sampai mau muntah rasanya menciumnya. Tugas Edward enak, hanya memotong bagian-bagian yang busuk atau layu pada tanaman, sedangkan Han Rae menyiram dan menyusun pot-pot bunga.
"Kerja yang rajin ya anak-anak, bantu Ibu kalian." Ledek Yongtae yang baru keluar dari rumah sembari membawa secangkir kopi ditangannya, yang sudah disiapkan Han Rae, sebelum wanita itu berkebun.
Lucas menatap sinis Yongtae, namun tatapan itu terganti gelakan tawa karna Yongtae yang kepanasan saat meminum kopinya.
"Karma berlaku!" seru Lucas.
"Hei!" teriak Yongtae kesal sembari duduk pada kursi di teras.
"Han Rae sini duduk saja, biarkan mereka yang mengerjakan semuanya." Ujar Yongtae.
"Tidak bisa! Aku tidak bisa meninggalkan mereka berkebun sendirian, nanti salah." Balas Han Rae.
"Memangnya tidak lelah?" tanya Yongtae.
"Aku kan suka berkebun, jadi aku tidak akan merasa lelah. Apa lagi mawar yang kemarin masih kuncup, sekarang sudah mengembang loh. Kau harus melihatnya." Balas Han Rae.
Yongtae akhirnya beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Han Rae. Setelah Yongtae berada di samping Han Rae, Han Rae dengan sumringah menunjukan mawar berwarna pink yang ia tanam.
"Cantikan? Tinggal menunggu warna-warna yang lain mekar." Ujar Han Rae. "Kalau aku punya anak perempuan, pasti akan menyenangkan sekali berkebun dengannya diakhir pekan."
Edward dan Lucas seketika saling bertatapan, melihat ekspresi wajah Han Rae yang seketika berubah murung. Yongtae menghela napasnya, kemudian mengusap kepala Han Rae lembut.
"Nanti kita punya anak perempuan. Mau sebanyak pot bunga mawarmu juga tidak masalah." Kata Yongtae sembari tertawa kecil, bermaksud bergurau. Tapi Han Rae tidak tertawa, dia hanya diam saja sembari menatap Yongtae.
"Satu saja masih belum pasti bisa." Ucap Han Rae.
"Ya kita usaha. Kau susah payah menanam mawar begini sampai mengembang saja bisa, masak... membuat anak yang menyenangkan, mau menyerah? Bahkan sebelum bertindak."
Duk. "Au!" keluh Yongtae sembari memegangi kepalanya yang baru saja dilempari pot bunga kecil kosong oleh Lucas.
"Ada anak dibawah umur! Ingatlah! Dunia ini bukan hanya milik kalian berdua!" seru Lucas.
"Apa? Aku mengerti kok." Balas Edward.
"Nah kan! Dia jadi tidak polos lagi! Woah! Bahaya kau Yongtae, sudah menodai anak polos!" teriak Lucas.
"Polos apanya? Aku sudah dewasa, meskipun masih dibawah umur." Timpal Edward.
"Benarkah?" tanya Lucas.
"Memangnya aku terlihat polos ya?" Edward balik bertanya dengan kerutan di keningnya.
"Aku kira begitu. Kalau tahu tidak polos, dari kemarin sudah aku ajak nonton film..." Lucas menggantung kalimatnya.
"Woahhh parah kau Lucas, malah kau yang mau menodai anak dibawah umur!" teriak Yongtae.
"Maksudku film beauty and the beast, aku belum selesai bicara!" sahut Lucas.
"Halah! Pasti maksudmu film birukan?! Ayo mengaku! Aku adukan pada Woojung nanti!" Seru Yongtae.
"Jangan-jangan! Akan aku lakukan apapun, asal jangan adukan masalah ini ke Woojung!" Lucas tiba-tiba memohon.
"Jadi benarkan maksudmu film biru. Woah parah sekali kau ini." Yongtae berujar sembari berdecak dan menggelengkan kepalanya.
"Apapun, akan aku lakukan, please." Lucas memohon lagi, merasa benar-benar takut Yongtae akan mengadukan masalah ini ke Woojung.
"Setrika semua baju yang ada di ruang cuci." Ucap Yongtae.
"Teganyaaa," sungut Lucas.
***
"Menyenangkan ada Lucas dan Edward hari ini?" tanya Yongtae, dengan pandangan tetap fokus pada laptop. Ya, ia tengah bekerja sebelum tidur. Dengan posisi duduk bersandar pada headboard, dan laptop pada pangkuannya. Sedangkan Han Rae berbaring memunggunginya.
"Han Rae, kok pertanyaanku tidak dijawab?" tuntut Yongtae.
"Iya, menyenangkan." Han Rae akhirnya membalas pertanyaan Yongtae dengan nada malas.
Yongtae melirik Han Rae sejenak, namun fokusnya kembali pada laptopnya.
"Kau kenapa? perutmu sakit?" tanya Yongtae.
"Tidak." Balas Han Rae.
"Lapar?" tanya Yongtae lagi.
"Tidak." Jawaban yang sama pun terlontar dari mulut Han Rae.
"Lalu kenapa? Moodmu sepertinya buruk."
Han Rae hanya diam sembari berdehem. Yongtae terdiam sejenak sembari menatapi laptopnya. Kalau diingat, sudah hampir 3 jam Yongtae berkutat dengan pekerjaannya. Padahal Yongtae sudah berjanji hanya akan sebentar pada Han Rae.
Yongtae akhirnya mematikan laptopnya, kemudian meletakan laptopnya yang sudah ia tutup pada meja nakas. Sebelum akhirnya memeluk Han Rae dari belakang.
"Maaf ya?" bisik Yongtae.
"Mmmh." Balas Han Rae.
"Jangan marah lagi dong." Bujuk Yongtae.
"Kau juga jangan bekerja terus." Timpal Han Rae.
"Bekerja itu untuk cari uang." Ucap Yongtae.
"Tapi apa harus bekerja sebelum tidur hingga berjam-jam? Aku menunggumu selesai bekerja dari tadi agar kita bisa tidur bersama. Tapi rupanya kau lama." Gerutu Han Rae.
"Aku harus apa agar kau tidak marah lagi?" tanya Yongtae.
Han Rae tidak menjawab, namun ia tiba-tiba berbalik dan membalas pelukan Yongtae. Yongtae tersenyum simpul, sebelum akhirnya menyamakan posisi tidurnya.
***
"Pipiku jauh lebih gemuk darimu! Jadi aku yang menang! Yuhu! Kau cuti sebulan!" Han Rae berteriak sembari melompat senang setelah baru saja bercermin. Yongtae mendengus sembari berbaring di ranjang dengan malas.
"Kan, kau ternyata lebih cinta pekerjaanmu dibanding aku, sekarang kau kesal tidak bekerja sebulan." Kata Han Rae sembari menatap jengkel Yongtae.
"Bukan begitu, astaga. Aku rasanya tidak bisa kalau tidak bekerja." Balas Yongtae.
"Hanya sesekali." Ucap Han Rae sembari menaiki ranjang dan berbaring disamping Yongtae.
"Ayo sekarang kita cari tempat bulan madu yang indah." Kata Han Rae.
"Bulan madu di rumah saja." Timpal Yongtae.
"Tidak sesuai perjanjian kalau begitu, tidak sportif." Sungut Han Rae.
"Ya sudah mau kemana?" Yongtae menyerah.
"Bali." Ucap Han Rae.
"Tidak boleh pakai bikini." Peringat Yongtae.
"Justru itu yang aku inginkan, aku tidak pernah pakai bikini sebelumnya, sesekali aku mau." Kata Han Rae.
"Kalau kau mau pakai bikini, tidak usah kemana-mana, di rumah saja, pakai bikini di depanku." Sahut Yongtae.
Han Rae mengerucutkan bibirnya.
"Oke, baiklah, aku tidak akan pakai bikini."
***
Hari yang ditunggu pun tiba. Akhirnya mereka akan pergi bulan madu hari ini.
"Jangan bawa laptop dan semua yang berhubungan dengan pekerjaanmu." Ucap Han Rae sembari menahan Yongtae yang hendak mengambil laptopnya.
"Oh come onnn..." dengus Yongtae kesal.
Han Rae dan Yongtae akan pergi jam 10 siang nanti. Yongtae rasanya tidak rela meninggalkan pekerjaan-pekerjaannya, meskipun sekretarisnya sudah meyakinkan Yongtae, jika dia bisa mengerjakan semua pekerjaan Yongtae dengan baik. Tapi Yongtae tidak rela saja harus memberi bonus pada sekretarisnya.
***
Yongtae dan Han Rae saat ini sudah berada di dalam pesawat. Han Rae saat ini sama sekali tidak bisa melepaskan senyumannya, ia terus tersenyum sembari menatap keluar jendela pesawat. Menatap langit yang berawan dengan indah. Yongtae tersenyum melihat bagaimana Han Rae terlihat senang saat ini, tapi ia juga khawatir Han Rae akan lelah jika sekarang tidak tidur. Terlalu bersemangat untuk pergi, Han Rae bangun dari jam 5 subuh, untuk menyiapkan barang bawaannya sendiri dengan Yongtae, lalu membersihkan rumah dan sebagainya.
Yongtae meraih tangan kanan Han Rae kemudian menggenggamnya, membuat Han Rae sontak menolehkan kepalanya ke arah Yongtae.
‘’Istirahat, kau bangun dari subuh.’’ Ucap Yongtae.
‘’Kau tahu? Aku tidak pernah naik pesawat, aku tidak mau menyia-nyiakan moment ini.’’ Balas Han Rae.
‘’Nanti juga pulang naik pesawat, kau bisa naik pesawat kapanpun. Sekarang kau istirahat, agar sampai Bali nanti kau fresh, dan kita bisa jalan-jalan.’’ Han Rae menyerah dan akhirnya menurut dengan perkataan Yongtae.
Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Yongtae kemudian memejamkan matanya, dan membiarkan tangannya, tetap berada di genggaman Yongtae.
***
Yongtae berjalan santai di belakang Han Rae yang berlari kesana-kemari sembari memainkan pasir menggunakan kakinya. "Hati-hati Han." Ucap Yongtae melihat wanita itu hampir terjatuh.
Han Rae seolah tidak mendengar Yongtae, ia berjalan lebih jauh mendekati bibir pantai. Namun tak lama langkahnya terhenti, karna dua orang pria eropa yang lewat di depan Han Rae. Dua orang pria yang baru saja berselancar itu tampak memberi senyuman pada Han Rae dan menyapanya, Han Rae pun dengan senang hati membalas sapaan mereka.
Yongtae segera berlari mendekati Han Rae dan memegangi bahu wanita itu. Memberi isyarat jika wanita ini miliknya. Tak lama kedua orang pria itu pun berlalu pergi.
"Astaga tampan sekali, mereka pasti orang Inggris, aku pernah punya cita-cita menikah dengan pria Inggris." Ujar Han Rae tanpa merasa bersalah.
"Kau tidak puas punya suami sepertiku?" tanya Yongtae sembari menatap tajam Han Rae.
"Tidak." Balas Han Rae sembari menjulurkan lidahnya dan berlari ke air. Yongtae pun segera mengejarnya.
Ia meraih pinggang Han Rae, kemudian membanting tubuh wanita itu pada pasir yang memiliki cukup banyak air, hingga seluruh tubuh Han Rae tenggelam.
"Yak!" seru Han Rae dan balas mencekik Yongtae, dan memutar balik posisi hingga kini ia yang berada di atas tubuh Yongtae. Han Rae tertawa kecil melihat Yongtae yang kesulitan bernapas, pria itu segera mendorong Han Rae dari atas perutnya hingga ia bisa duduk. Han Rae jadi duduk tepat di atas pangkuannya. Yongtae menatap tajam Han Rae yang sudah berhenti tertawa. Mereka sudah sama-sama basah saat ini.
"Aku merasa sakit hati." Ucap Yongtae.
"Kenapa?" tanya Han Rae. "Karna aku bilang tidak puas memilikimu?"
Yongtae mendengus sembari membuang wajahnya.
"Aku kan hanya bercanda, astaga." Ucap Han Rae.
"Tetap saja, aku sudah terlanjur sakit hati." Balas Yongtae.
"Aku tahu ini hanya alibimu agar aku melakukan sesuatu padamukan?" tebak Han Rae.
Yongtae mencebikan bibirnya.
"Tidak." Ucap Yongtae.
"Bohong. Mau aku melakukan apa?" tanya Han Rae.
"Ck, ayo kita ke hotel sekarang." Balas Yongtae dingin.
"Aku masi mau disini, cuci mata." Ucap Han Rae.
"Cuci mata kau bilang? Aku bahkan tidak selera melihat wanita-wanita berbikini disini, kau malah nafsu." Sungut Yongtae.
"Ah bohong." Goda Han Rae sembari memicingkan matanya.
"Aku tidak bohong." Balas Yongtae.
"Bohonggg..." Han Rae tetap menggoda Yongtae.
"Bicara sekali lagi kita melakukan itu disini." Ancam Yongtae.
Han Rae seketika langsung bungkam.
***
Yongtae mengarahkan kameranya ke arah Han Rae yang masih tertidur dengan hanya berbalut selimut, dalam posisi tengkurap. Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela, kamar hotel yang bagus, dan Han Rae yang menurutnya benar-benar indah pagi ini, membuat Yongtae berpikir benar-benar bagus untuk mengambil gambar.
Ckrek ckrek ckrek. Yongtae tersenyum simpul saat melihat hasil fotonya. Ia sekarang merasa heran dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia mengatai wanita di hadapannya sekarang ini buruk rupa. Bahkan rasanya saat ini Yongtae ingin terus menerus memotret Han Rae, dan menyimpan foto-fotonya dialbum khusus.
"Apa yang kau lakukan?" Yongtae tersentak saat tiba-tiba mendengar suara Han Rae.
Ia segera menurunkan kamera yang sedari tadi menutupi wajahnya, dan menatap Han Rae yang terlihat masih belum mengumpulkan seluruh nyawanya.
"Hanya... memotret sesuatu yang indah." Ucap Yongtae.
"Uummm... kamar hotel ini memang indah." Balas Han Rae sembari memejamkan matanya lagi.
"Bukan kamar hotelnya yang indah." Kata Yongtae.
"Lalu? cahaya mataharinya?" tanya Han Rae.
"Kau." Balas Yongtae.
Han Rae tiba-tiba tertawa sembari membuka sedikit matanya.
"Tidak bagus bohong pagi-pagi." Ucap Han Rae.
"Ya sudah kalau kau tidak percaya." Balas Yongtae.
***
3 Month later
Brak!
"Han Rae!" pekik Yongtae sembari menghampiri Han Rae yang terduduk lemas di lantai di kamar mandi. Darah terlihat mengalir di kaki Han Rae. Han Rae tak lama menangis histeris.
"Aku keguguran lagi!" seru Han Rae.
Yongtae segera memeluk Han Rae erat, untuk menenangkannya.
"Sakittt..." Gumam Han Rae.
"Kita ke rumah sakit ya? Jangan menangis lagi."
Yongtae menggendong Han Rae dan mendudukan wanita itu di atas closet untuk membersihkan tubuh Han Rae, sebelum akhirnya mereka pergi ke rumah sakit nanti. Ini sudah yang ketiga kali Han Rae mengalami keguguran. Setelah beberapa minggu setelah mereka selesai bulan madu, dan bulan ini.