19

2763 Kata
"Mau pesan apa Han? Kenapa lama sekali?" lamunan Han Rae seketika buyar saat mendengar Yongtae tiba-tiba bertanya padanya. "Eungg... aku mau steak lada hitam saja." Ucap Han Rae cepat. "Minumannya?" tanya pelayan yang sedari tadi menunggu Han Rae untuk menyebut pesanan. "Jus mangga." Balas Han Rae. Setelah pelayan itu mencatat semua pesanan Han Rae dan Yongtae, ia pun bergegas pergi. "Kau kenapa? Masih memikirkan foto yang tadi?" tanya Yongtae. Han Rae menggelengkan kepalanya. Yongtae meletakan kedua telapak tangannya diatas kedua telapak tangan Han Rae. "Han Rae-" "Iya, iya, aku percaya. Tapi moodku jadi buruk saja. Kau tahu? Hormon Ibu hamil itu- sering tidak stabil." Yongtae menghela napasnya sembari mengusap punggung tangan Han Rae. Ia tahu wanita itu berbohong tentang perasaannya, ia pasti masih merasa geram akan foto-foto itu. "Aku milikmu, begitupun sebaliknya. Oke?" kata Yongtae mencoba untuk membuat mood Han Rae membaik, setidaknya sedikit. "Oke." Gumam Han Rae. Tak berselang lama, pesanan mereka datang. Yongtae dan Han Rae pun langsung menikmati makanan yang tersaji. "Mau pesan makanan lagi untuk dibawa pulang? Mungkin saja kau ingin sesuatu." Ujar Yongtae. "Eum, aku... tidak ingin apa-apa." Ucap Han Rae. Ia ingin menunjukan, ia masih sedikit kesal. "Yang benar? Nanti kau menyesal saat pulang." Yongtae memastikan. "Tidak kok. Eum, tapi takoyaki aku rasa tidak masalah." Han Rae menyerah, dan akhirnya mengutarakan keinginannya. Yongtae tertawa kecil. "Ya sudah nanti kita cari restoran Jepang yang enak." Kata Yongtae. Selesai makan, Han Rae pamit sebentar ke kamar mandi, Yongtae mengiyakan, dan menunggu Han Rae sembari menghabiskan sisa minumanmya. *** Han Rae baru saja keluar dari salah satu bilik. Ia kemudian bercermin pada cermin besar yang ada toilet, untuk memeriksa penampilannya. "Kau Kang Han Rae?" Han Rae tersentak saat wanita yang berdiri disebelahnya, tiba-tiba mengajaknya bicara. "Eum, ya, aku Kang Han Rae." Ucap Han Rae. "Kau siapa ya?" "Aku wanita yang ada di dalam foto ciuman suamimu itu, kau tidak ingat?" Han Rae seketika melebarkan matanya. Wanita itupun menyeringai. "Kau ternyata wanita bodoh ya? Mau saja percaya dengan apa yang Yongtae ucapkan. Setelah kami berciuman itu kami bercinta, dan sekarang aku sedang hamil anaknya." Han Rae terdiam sejenak, sebelum akhirnya malah tertawa kecil mendengar perkataan wanita asing itu. "Jangan mengarang cerita, Yongtae bilang kalian hanya berciuman, bahkan kau duluan yang mulai menciumnya." Kata Han Rae. "Kau itu mudah dibodohi. Mana ada orang yang berbuat kesalahan sebesar ini mau mengaku? Dia pasti akan berusaha mati-matian menutupi kesalahannya. Apa lagi dari yang aku dengar, Yongtae itu memang b******k, hanya saja sekarang mencoba berubah. Dan asal kau tahu, dia mencoba berubah hanya untuk kedok. Dia mencoba menutupi fakta kalau sudah menghamili wanita lain." Wanita mengoceh panjang lebar. "Aku tidak percaya. Yongtae anti s*x bebas, aku tahu itu. Dia tidak mungkin melakukannya. Kau pasti hamil anak orang lain." Timpal Han Rae, membuat wanita itu menggeram kesal karna Han Rae tidak mudah dihasut. "Enak saja! Ini anak Yongtae! Dia harus bertanggung jawab! Dia tidak bisa seenaknya hidup bahagia denganmu, dan meninggalkan aku begitu saja dengan anaknya!" Seru wanita itu. Han Rae tidak mau masalah semakin larut, dan akan ada pertengkaran di kamar mandi, yang membuat mereka jadi pusat perhatian lebih. Sekarang saja sudah. Han Rae memilih hendak keluar dari toilet, ia ingin penjelasan langsung dari Yongtae. Namun langkahnya terhenti saat rambutnya tiba-tiba ditarik dari belakang, dan tubuhnya langsung dibanding hingga punggungnya membentur wastafel dengan keras. "Astaga! Darah!" seru orang-orang yang berada di toilet. *** "Kau tidak bisa menuntutku! Kau harus bertanggung jawab!" Brak. Yongtae membanting punggung wanita itu pada tembok sembari mencengkram erat kerah bajunya. Ia kemudian menatap tajam Karina yang sedari tadi terus meronta dan berteriak seperti orang gila. Tidak peduli jika mereka saat ini tengah berada di rumah sakit. "Bertanggung jawab apa bodoh?! Bertanggung jawab apa?!" teriak Yongtae sembari mencengkram erat kerah kemeja Karina. Yuto dan Johnny mencoba menghentikan aksi Yongtae yang mencekik Karina. Yuto dan Johnny bahkan Woojung langsung datang ke rumah sakit, saat mendengar kabar dari Yongtae jika istrinya masuk rumah sakit, dan minta pertolongan untuk membawa Karina ikut serta ke rumah sakit, agar tidak kabur dan bisa dimintai pertanggung jawaban wanita itu. Kebetulan saat itu mereka bertiga, dengan Lucas sedang berkumpul di kantin kantor Yongtae. "Kau itu hanya w************n gila! Yang kebingungan tidak ada yang bertanggung jawab atas bayi yang kau kandung!" Yongtae tidak bisa berbicara kalem. Ia terus berteriak. "Dan sekarang kau sudah membunuh anakku! Penjara memang tempatmu! Bahkan seharusnya kau dihukum mati! Aku tidak peduli kau hamil atau apapun! Yang jelas kau sudah membunuh anakku!" "Yongtae sudah, biarkan polisi yang bertindak." Kali ini Woojung yang angkat tangan. Ia kemudian mencoba menjauhkan Yongtae dari Karina dan menenangkannya. Napas Yongtae masih memburu, wajahnya memerah menahan emosi. Tak lama dua orang polisi datang bersama Lucas dan langsung menangkap wanita yang sedang meraung, dan menangis sejadi-jadinya seperti orang gila. Setelah kepergian Karina, Yongtae langsung berjongkok sembari menarik kebelakang rambutnya. Ia tidak bisa mengekspresikan rasa sedihnya kali ini. Ini terlalu menyakitkan. Ia tidak bisa membayangkan reaksi Han Rae setelah ia sadar nanti. Yongtae menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tangisannya akhirnya pecah. Edward yang baru datang beberapa menit yang lalu menepuki bahu Yongtae, bermaksud menenangkan pria itu. *** Han Rae menatap bingung Yongtae. Ia tidak mengerti kenapa wajah pria itu memerah, matanya sembab, dan sorot matanya terlihat sangat sedih dan pilu. "Ak-aku kenapa? Apa sesuatu terjadi? Aku... hanya pendarahan biasakan?" tanya Han Rae dengan nada mencicit. Yongtae meraih tangan kanan Han Rae kemudian menggenggamnya. "Aku tahu ini menyakitimu, tapi kau harus tahu, kalau- hhhh," Yongtae menghentikan sejenak kalimatnya, rasanya sulit untuk melajutkan kalimatnya. Ia menghela napasnya sembari menundukan kepalanya sejenak. "Kau keguguran." Ucap Yongtae pada akhirnya dengan nada sangat pelan, lebih seperti berbisik. Han Rae menatap tidak percaya Yongtae. "Hah? Ap-apa? Ak-aku hanya terbanting pelankan? Aku harusnya tidak apa-apa." Kata Han Rae sembari mencoba menutupi rasa terkejutnya. Shock, tidak percaya, sedih dan hancur bercampur menjadi satu. "Kakak dibanting sangat keras, bahkan sampai saat ini Kakak masih belum bisa pulang, karna pendarahan Kakak belum berhenti dengan benar." Edward tiba-tiba menimpali obrolan Yongtae dan Han Rae. Bermaksud memberi penjelasan rinci soal kondisi wanita itu, agar ia tahu. Ia tahu Yongtae tidak akan sanggup menjelaskan masalah yang lain. Cukup memberitahu Han Rae keguguran saja sudah sangat sulit. Han Rae hendak membuka mulutnya, ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa menatap satu-satu pria yang mengelilingi ranjangnya dengan tatapan tidak percaya. "I-itu tidak mungkin. Aku... sudah hamil cukup lama, kandunganku seharusnya sudah kuat- iyakan?" kata Han Rae sembari menatap Yongtae yang sedari tadi sudah menangis sembari mengenggam tangan Han Rae. "Maaf aku tidak bisa menjagamu." Ucap Yongtae lirih. Han Rae akhirnya hanya bisa termangu, ia tidak tahu harus berkata apa sembari memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Ia seperti mengalami kontraksi, dan kaki-kakinya juga masih terasa sangat lemas. Woojung menatap nanar Han Rae dan Yongtae. Yang lebih sulit lagi untuk dikatakan, kemungkinan besar dilain waktu, Han Rae akan sulit hamil, karna ia mengalami cedera dirahimnya. Yang memungkinkannya kembali keguguran jika hamil lagi. Yongtae tahu fakta itu, dan salah satu fakta itu, yang menyebabkan Yongtae menangis tak kunjung berhenti sekarang. Ia merasa benar-benar menyesal membiarkan Han Rae pergi sendirian tadi. Seandainya waktu bisa diputar, semua ini tidak akan terjadi. *** "Han Rae ayo makan." Ucap Yongtae sembari menyodorkan sesuap nasi dan lauk pada Han Rae, namun Han Rae menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau makan." Kata Han Rae. "Seharian kau belum makan, nanti kau malah kena penyakit yang lain bagaimana?" Yongtae mencoba membujuk. "Aku mau anak kita." Ucap Han Rae. "Iya, kalau sudah saatnya nanti kita juga punya anak lagi." Kata Yongtae mencoba sabar menghadapi Han Rae saat ini. "Anak kita yang kemarin itu? Jenis kelaminnya apa ya? Dan... bagaimana rupanya?" Yongtae menghela napasnya. Dadanya terasa sesak, dan matanya terasa panas mendengar penuturan Han Rae. "Jangan memikirkannya." Ucap Yongtae berusaha tenang. "Tidak bisa~" balas Han Rae, wanita itu pun hendak menangis lagi. Setelah sebelumnya ia sudah menghabiskan harinya untuk menangis. Yongtae meletakan piring yang ada ditangannya pada meja nakas, kemudian memilih berpindah duduk di pinggir ranjang. Yongtae meraih kepala Han Rae dan meletakannya di dadanya. Yongtae memeluk Han Rae erat sembari mengelus bahu wanita itu. "Aku tahu... setelah ini kita akan sulit memiliki anak lagi. Tanpa perlu kau katakan aku tahuuu... kau tidak perlu menutupinya." Kata Han Rae disela isakan tangisnya. "Tidak, pasti kalau sudah waktunya meskipun sulit, pasti kita akan punya anak lagi. Kau harus berpikir positif." Balas Yongtae. Tangisan Han Rae pecah, membayangkan kenyataan pahit bahwa ia akan sulit memiliki anak lagi. Han Rae sudah mencoba berpikir positif seperti yang Yongtae katakan, tapi rasanya sulit. "Ini semua salahku. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan aku." Ucap Yongtae. *** Yongtae memasangkan Han Rae kaos kaki dengan desain yang lucu, memiliki kerah diujungnya. Oleh-oleh dari Yuto yang baru pulang dari Jepang dua hari lalu. Kemudian mengenakan Han Rae sepasang sepatu kets berwarna putih biru yang masih baru juga. Yongtae tersenyum melihat penampilan Han Rae. "Aku terlihat seperti anak kecil, malu ah pakai baju seperti ini." Kata Han Rae sembari mengayukan kakinya, menatap Yongtae yang kini tengah membenarkan kerah baju dressnya. "Jangan malu, aku suka melihatnya. Kau terlihat bagus kok." Ucap Yongtae seraya menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Hari ini Han Rae sudah bisa keluar dari rumah sakit, setelah hampir seminggu menjalani harinya di rumah sakit. Dan setelah ini mereka tidak akan langsung pulang, Yongtae hendak mengajak Han Rae jalan-jalan dulu. Sesuai saran Dokter, Han Rae harus diajak bersenang-senang karna ia masih stress sejak keguguran yang dialaminya. "Ayo." Kata Yongtae sembari meraih tangan Han Rae untuk membantunya turun dari ranjang. "Aku kan sedang menstruasi, kalau tembus bagaimana? Aku pakai baju warna gelap saja." Ujar Han Rae sembari mengibaskan rok dress putihnya, dengan corak bunga-bunga biru. Ia benar-benar tidak percaya diri dengan penampilannya saat ini. "Tidak akan tembus, aman. Lagi pula ada aku, aku pakai jaket, kalau nanti memang tembus bisa ditutupi, kau tenang saja." Han Rae akhirnya tidak mengelak lagi untuk memakai baju pilihan Yongtae. *** Yongtae mengajak Han Rae memasuki time zone, begitu mereka sampai di mall. Han Rae langsung menarik tangan Yongtae untuk bermain basket. Dan Yongtae hanya menurut. Sejujurnya ia cukup buruk dalam bermain basket. Setelah menggesek kartu dan bola-bola mulai bergelindingan jatuh ke bawah. Han Rae dengan semangat mengambil bola-bola itu dan memasukannya ke dalam ring, Yongtae hanya ikut-ikutan dan beberapa kali gagal. Brak. "Au..." keluh Yongtae saat dadanya tanpa sengaja terkena bola yang memantul. Han Rae jadi panik dan langsung memegangi d**a Yongtae. "Eung....." Yongtae terdiam sejenak. "Auuu... akhhh... ini sakit sekali, ini sakit sekali, astaga." Yongtae tiba-tiba mengeluh sakit dengan sedikit heboh. "Ya sudah kita berhenti saja. Tapi sekali lagi, masih ada sisa waktu." Yongtae mendengus kecil saat Han Rae menyelesaikan permainan dulu sampai waktu habis, sebelum akhirnya menuntun Yongtae untuk duduk, pada kursi panjang yang disediakan. "Masih sakit?" tanya Han Rae dengan ekspresi khawatir. Yongtae menganggukan kepalanya sembari mengerucutkan bibirnya, ia kemudian meraih tangan Han Rae dan meletakannya di d**a kirinya yang terkena lemparan bola tadi. Yongtae mengusap-ngusapnya pelan sembari membuat ringisan yang dibuat-buat. "Memang sakit sekali ya?" tanya Han Rae. "Sakit sekali tahu." Balas Yongtae sembari memicing sinis pada Han Rae. "Jadi mau sampai kapan seperti ini?" tanya Han Rae lagi "Sampai pipiku dicium nanti juga sembuh." Balas Yongtae. Ekspresi wajah Han Rae seketika berubah datar, ia segera menarik tangannya dari d**a Yongtae. "Kau mengerjai aku!" seru Han Rae. Yongtae tergelak, ia tiba-tiba memeluk Han Rae dari samping dan mencium pipi wanita itu cukup lama. Hingga Han Rae tidak sempat menghindar. Yongtae merasa gemas terhadap wanita itu. "Yongtae maluuu... ini ditempat umum." Ucap Han Rae dengan nada berbisik. Yongtae pun akhirnya melepas ciuman dan pelukannya. "Ya sudah ayo, kita main yang lain." Kata Yongtae sembari meraih tangan Han Rae, dan menuntunnya untuk bermain permainan yang lain. *** Mereka sudah selesai bermain, dan Yongtae langsung mengajak Han Rae ke tempat makan. Selain sudah jamnya makan siang, Han Rae juga harus minum obat. "Senang?" tanya Yongtae saat mereka baru dapat tempat duduk. Han Rae menganggukan kepalanya sembari tersenyum lebar. Yongtae pun ikut tersenyum. "Baguslah kalau kau senang. Setelah ini mau apa? Nonton, belanja atau mau langsung pulang?" Yongtae memberikan beberapa pilihan. "Eummm... belanja mungkin. Belanja bulanan untuk di rumah." Kata Han Rae. "Kalau kau mau belanja selain itu juga tidak apa-apa. Mau belanja baju, makeup, pernak-pernik, beli saja yang kau mau." Ucap Yongtae. "Aku sedang tidak butuh apa-apa, mungkin hanya pembalut, hehe." Balas Han Rae dengan jujur sembari memberi cengiran kecil. Yongtae tersenyum simpul sembari mengacak rambut Han Rae. "Jangan sedih lagi ya? Aku jadi ikut sedih. Aku tidak bisa fokus bekerja akhir-akhir ini karna memikirkanmu terus." Kata Yongtae. "Maaf, aku selalu sedih jika mengingat aku baru saja keguguran, rasanya benar-benar tidak bisa dipercaya." Balas Han Rae sembari menundukan kepalanya. "Kau tidak perlu minta maaf, aku mengerti perasaanmu. Tapi mulai sekarang, kau harus terus berpikir positif, jangan sedih lagi. Edward bisa kau jadikan anak." Han Rae tertawa kecil mendengar kalimat akhir yang dilontarkan Yongtae. "Badannya terlalu panjang untuk aku gendong-gendong." Ucap Han Rae. "Jadi..... kabar Karina bagaimana?" Yongtae terhenyak mendengar pertanyaan Han Rae, ia terdiam sejenak. "Karina... dia memang ada masalah pada jiwanya, sejak dia hamil, dan Ayah bayi itu tiba-tiba menghilang. Dia jadi frustasi. Sekarang dia jadinya ditahan di rumah sakit jiwa." Jelas Yongtae "Kasihan." gumam Han Rae. "Untuk apa kasihan? Dia sudah membunuh anak kita." Balas Yongtae. "Yah tapi alasannya melakukan itu semua menyedihkan." Ucap Han Rae. Yongtae tiba-tiba menangkup kedua pipi Han Rae, menekannya hingga bibir Han Rae jadi maju ke depan. "Tidak usah pikirkan dia lagi, oke? Pikirkan saja bagaimana caranya membuat pipimu ini berisi lagi." Kata Yongtae. "Pipiku menirus ya? Bagus dong!" balas Han Rae dengan bersemangat. "Bagus apanya?" cibir Yongtae. "Kau juga tirus, jadi kita sama." Timpal Han Rae dengan cengiran lebar. "Tidak mau, aku sukanya pipimu berisi." Ucap Yongtae. "Aku juga sukanya pipimu berisi." Sahut Han Rae. "Taruhan." Kata Yongtae dengan raut wajah serius. "Apa?" tanya Han Rae dengan salah satu alis terangkat. "Taruhan siapa yang bisa menggemukan pipi dalam waktu dua minggu, nanti hadiahnya untuk yang menang, boleh minta apapun pada yang kalah. Bagaimana?" Yongtae melontarkan taruhannya sembari menyeringai kecil. "Ah kalau taruhan seperti itu, sudah pasti aku yang menang, aku kan cepat gemuk. Aku tidak mau, aku tidak mau gemuk." Kata Han Rae. "Ya baguskan kalau kau yang menang? Kau bisa minta apapun padaku." Timpal Yongtae. Han Rae seketika terdiam dan tampak berpikir. "Oke, nanti kalau aku yang menang, aku minta kau cuti selama sebulan, dan kita bulan madu. Kau sanggup tidak bekerja selama itu?" Yongtae melebarkan matanya mendengar permintaan Han Rae. "Tidak kerja sebulan? Yang benar saja? Aku bisa gila Han." Kata Yongtae tidak terima. "Lebih pilih aku atau pekerjaan?" tiba-tiba pertanyaan yang tidak nyambung dari pembicaraan awal terlontar dari mulut Han Rae. "Kalau aku tidak bekerja, bagaimana aku bisa memberimu makan?" Yongtae akhirnya balik memberikan pertanyaan. "Aku tahu. Tapi kau kan bisa sesekali tidak bekerja. Apa lagi posisimu kan Ceo, harusnya banyak bersantai." Kata Han Rae. "Hari ini aku tidak bekerja." Ucap Yongtae membela diri. "Tapi nanti malam aku yakin kau akan sibuk bekerja. Karna kau tidak bisa tidur, sebelum berkutat dengan pekerjaanmu. Sekalian saja sana buat anak dengan meja kerja dan laptopmu." Han Rae berujar dengan kesal. Dan Yongtae malah mencubit kedua pipi Han Rae. "Istriku cemburu dengan meja kerja dan laptop rupanya. Ya sudah, aku akan cuti sebulan dan kita bulan madu, kalau kau yang menang taruhan. Tapi kalau aku yang menang, aku minta kau menemani aku bekerja selama sebulan. Jadi sekretaris pribadi." Kata Yongtae. "Melelahkan. Tapi ya sudah." Ucap Han Rae. "Deal?" tanya Yongtae untuk meresmikan taruhan mereka. "Deal." Balas Han Rae. Yongtae dan Han Rae pun berjabat tangan, sebelum akhirnya Yongtae mendaratkan ciuman singkat pada ujung hidung Han Rae. "Berhentilah menciumku, ini tempat umum." Protes Han Rae. *** Yongtae dan Han Rae berakhir ditempat karaoke, namun dengan Lucas dan Edward. Edward sudah pulang sekolah, dan besok minggu, jadi Edward ingin bersenang-senang. Awalnya Edward mengirim pesan pada Han Rae jika dia bosan, jadi Han Rae menyuruhnya datang ke mall. Sedangkan Lucas, dia diusir Woojung karna membuat masalah di ruang meeting. Membawa kecoa karet untuk menggoda karyawan perempuan. Dia akhirnya mengirim pesan juga pada Han Rae kalau dia bosan, dan Han Rae dengan berbaik hati menyuruhnya datang menghampirinya dengan Yongtae. Yang jadi korban disini tentu saja Yongtae, dia tidak suka kehadiran mereka disini. Selain menganggu waktunya dengan Han Rae, yang terbeban biaya karaoke sudah pasti dirinya. Lucas tidak punya uang karna Woojung memang tidak memberinya gaji, dan Edward masih anak ingusan yang masih minta uang jajan pada orang tuanya. Yongtae melirik Han Rae yang sedang tertawa lebar melihat Lucas bernyanyi dengan suara anehnya. Yongtae tersenyum simpul, setidaknya rasa kesalnya terbayar dengan tawa Han Rae.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN