“Gendis?! Gendis?! Kamu dimana?!” Suara teriakan Gyan beradu dengan derasnya air hujan yang turun. Pria yang sudah basah kuyup itu terus mengedarkan pandangannya yang sedikit rambut, terus mencari isterinya yang berlari di derasnya hujan. Dengan berbekal ingatan arah kemana Gendis pergi, Gyan terus melangkah walau badannya sudah kedinginan. Pria itu tidak peduli apakah dia sakit atau tidak besok, hal yang harus ia pedulikan sekarang adalah keberadaan isterinya. Gendis pasti lebih merasa kedinginan, wanita itu mungkin juga ketakutan karena ia tidak punya ingatan apapun tentang daerah disini. Gendis bisa saja tersesat atau hilang. Dan, itu semua karena Gyan! Lagi-lagi ia mengecewakan Gendis, Gyan kembali tidak bisa menahan rasa amarahnya di hatinya saat melihat Gendis bersama pria lain.

