Aku dan Ian sudah sampai di cafe terdekat dari kantor. Kami turun dari mobil bersamaan dan masuk kedalam. Ian memanggil pelayan di dekatnya, dan memesan minuman untuk kami. Ian masih terdiam, dan aku mulai lelah menunggunya bicara. "Ian, are you ok? "I am not ok." Aku membulatkan mata dan menyentuh punggung tangan Ian untuk memenangkannya. Aku menarik napas dan kembali bertanya padanya. "Ian, kamu sebenarnya kenapa? Ada masalah? "Masalah aku kamu Dita." Aku mengerutkan kening, "Lho, aku kenapa?" "Kamu resign Dit, padahal kita baru bertemu kembali. Aku sangat senang saat pertama kali aku melihat kamu Dit." Aku kembali menarik nafas panjang, dan menjelaskan masalah yang aku hadapi beberapa waktu terakhir. Mulai dari usaha yang tidak berjalan lancar, tabungan semakin menipis, pemba

