Tiga Belas

1557 Kata

Selesai shalat, aku merapihkan mukena dan berjalan menuju ruangan. Ian masih terdiam, seperti menunggu sesuatu. Aku berjalan melewatinya namun dia kembali memegang tanganku. Mataku membulat dan menghentikan langkahku. Aku menengok kanan dan kiri melihat sekitar khawatir ada yang memperhatikan. Aku berusaha melepaskan tangan Ian, namun genggamannya saat ini cukup kuat dan tidak mudah kulepaskan. Aku berusaha tenang dan melihat kearahnya. "Ada apa Pak Ian? Sepertinya tidak perlu sampai memegang tangan saya seperti ini, khawatir ada yang melihat." Aku melepas tangan Ian lembut. Ian tersenyum tipis, "Aku nggak mau kamu pergi lagi Dita." "Maksud Bapak bagaimana?" "Tadi kan kamu ninggalin aku terus shalat." Aku tertawa, sedangkan Ian mengerucutkan bibirnya. "Kamu tuh apa sih Ian bocil,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN