Lalu kubuka chat dari Bagus, salah satu rekan kerjaku di bagian finance, dia mengajakku makan malam di mall Pacific Place. Akupun menyetujuinya, karena memang belum ada janji, terlebih sekarang sudah terbebas mengejar jam kuliah. Ini seperti euforia baru bagiku. Menikmati hari kerja dengan rekan kerja, makan malam, main, dan lainnya tanpa memikirkan apapun.
Aku dan Bagus mulai dekat semenjak menjabat sebagai sekretariat Divisi Corporate Secretary. Karena ketika pengajuan biaya, aku mengambil lembar persetujuan yang telah ditanda tangani Kepala Bagian dan Kepala Divisi Finance untuk dicairkan ke teller. Dan lembar tersebut aku ambil di meja Bagus, karena dia yang mengurus pencairan biaya. Selain pekerjaan, kami juga sering berkomunikasi melalui chat atau telpon. Saling curhat, meminta saran, atau membahas tugas kampus karena Bagus adalah Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi, sama sepertiku.
Jam pulang kantor tiba, aku dan Bagus berjalan beriringan menuju tempat makan yang tadi pagi kami bicarakan. Kami makan malam di Penang Bistro dan memesan beberapa menu seperti hainanese roasted chicken rice, penang mee shua, roti canai beef curry, dan dua ice tea. Tempatnya bagus dan rasa makanannya cocok di lidahku makanya aku merekomendasikan tempat ini ke Bagus saat dia mengajakku makan malam.
Tidak perlu menunggu lama, setelah kami memesan, sekitar dua puluh menit kemudian makanan dan minuman kami datang. Kami mulai memakannya sambil mengobrol beberapa hal ringan.
"Kuliah udah kelar dong Dit, kapan wisuda?" tanya Bagus.
"Insyaallah akhir bulan depan, Btw gimana sama Sisca, lo jadian nggak sama dia akhirnya?" tanyaku penasaran.
"Jadian dong, makanya gue ajak lo makan malam untuk merayakannya. Usulan lo berhasil gue praktekkin dan diterima. Lo gimana, masih asik ngejomblo? Itu yang sering antar jemput nggak lo jadiin pacar aja biar nggak bosan?" Bagus meledekku sambil minum ice teanya.
Aku mengusulkan agar Bagus menyatakan perasaannya ke Sisca secara jujur ditempat yang romantis dan berkesan bagi keduanya. Kata-kata dan tatapan yang tulus adalah hal yang paling penting bagi perempuan setauku.
Aku mendengus. "Nggak lah, gue belum kepikiran pacaran, kemarin sih Dipta ngelamar gue selesai sidang."
"Lha, serius lo Dit? Gila bukan ngajakkin pacaran, tapi ngelamar untuk dijadiin istri Dit? Kenapa lo nggak mau sih?" mata Bagus membulat dan beberapa saat kemudian mengerutkan keningnya.
"Gue lihat dia juga ganteng, fashionable, kerjanya juga bagus dan lumayan tajir kayaknya Dit, kurang apa coba?" lanjut Bagus.
"Nggak kurang banyak tuh pertanyaan Gus? Gue bingung jawab yang mana dulu jadinya." Aku menyipitkan mata.
"Intinya gue belum mau banyak pikiran soal perasaan, dan perasaan gue ke dia biasa aja, soal dia ganteng dan lain-lain, ya gue tau, tapi gimana dong masa gue harus maksain diri dan korbanin semua yang gue dambakan terus nikah. Belum waktunya Gus, gue belum siap," ucapku sambil nyemil roti canai.
"Iya sih, lagian buru-buru amat sih dia ngajakkin nikah, harusnya pacaran dulu kek, kayak kebelet banget tuh orang," ucap Bagus memiringkan kepala dan menaruh jari telunjuk diatas dagunya.
"Iya kan, gue juga mikir gitu, kalau pacaran mungkin gue masih bisa pikirin dan belajar untuk suka ke dia, tapi kalau nikah berat Gus."
"Iya benar, terus sekarang hubungan lo sama dia gimana?" Bagus penasaran.
"Dia sih tetap kasih perhatian dan mau jemput gue tadi, cuma gue tolak. Gue ngerasa harus jaga jarak karena takut dia kebawa perasaan lagi dan lebih sakit hati. Udah gitu kan lo tau gue bukan tipe yang mau dikekang dan sering kasih kabar, jadi ya untuk saat ini menurut gue ini yang terbaik."
"Uhm gitu, ya udah kalau itu keputusan lo, gue akan selalu dukung apapun keputusan lo Dit."
"Makasih, terus gimana kemarin pas lo nembak Sisca, dia terharu dong, lo kan udah lama suka sama dia," tanyaku penasaran.
"Ya nggak gimana-gimana mungkin karena kita dekat dari pas kuliah dan dia juga punya perasaan yang sama kayak gue, jadi semua lancar banget kayak jalan tol. Ditambah gue ikutin cara brilliant dari lo. Makasih ya Dit," ucap Bagus mengingat kejadian semalam.
"Sama-sama Gus. Btw Sisca tau soal gue nggak? Jangan sampai lo kemarin nembak dan baru pacaran sehari sama dia, terus ada masalah karena dia lihat lo, atau temannya lihat lo makan malam sama gue sekarang."
"Tenang, dia tau kok. Kemarin pas pulang gue cerita ke dia soal lo yang kasih usulan ke gue untuk nembak dia."
"Alhamdulillah kalau begitu, btw balik yuk udah jam delapan malam nih." Aku melihat jam tangan disebelah kanan.
"Ok, gue antar sampai stasiun ya, gue bawa mobil kok. Tapi kita nyebrang dulu ambil mobil diparkiran kantor."
Aku mengancungkan jempol untuk menjawab Bagus dan menghabiskan minumanku.
Aku duduk dilobby kantor menunggu Bagus mengambil mobilnya. Saat membuka hp aku kaget karena banyak telpon dan chat dari Dipta. Aku menjadi penasaran sekaligus khawatir dan mencoba menelpon Dipta.
"Assallamualaikum Dip, ada apa?" tanyaku.
"Gpp Dit, kamu dimana? Udah makan malam?" tanya Dipta.
"Alhamdulillah udah, kamu?"
"Udah juga, btw kamu udah pulang?"
"Ini lagi tunggu teman ambil mobil."
"Owh laki-laki?"
"Iya, kenapa Dipta?" ucapku merasa tidak nyaman seperti sedang diinterogasi.
"Owh nggak apa-apa, maaf ganggu kamu Dit, Assallamualaikum," jawab Dipta mengakhiri telpon.
"Gpp, waalaikumsallam," jawabku menutup telpon.
Mobil Bagus sudah berada di lobby saat aku mengakhiri telpon. Aku pun segera masuk ke mobilnya.
"Kenapa Dit, kok muka lo jadi BT gitu?" tanyanya.
"Gue barusan baru lihat hp ternyata Dipta chat dan telponin gue mulu, gue kirain ada hal penting jadi gue telpon balik, nggak taunya cuma nanya gue udah balik dan makan apa belum." Aku memajukan bibirku sebal.
"Ampun deh Dita, nggak boleh begitu tau."
"Gue nggak suka kalau begitu Gus, kayak diteror tau. Udah gitu dia nanya lagi gue makan sama laki-laki atau bukan?"
"Cemburu kali dia." Bagus tertawa.
"Kayaknya nolak dia adalah hal yang tepat deh, seandainya diterima, nggak tau deh dia bakal seposesif apa." Aku menghela nafas lega tanpa menanggapi ucapan Bagus barusan.
"Intuisi dan feeling wanita memang yang terbaik," ucap Bagus.
Aku mengangguk dan tersenyum kecil mendengar ucapan Bagus barusan.
Aku sudah sampai rumah jam setengah sepuluh malam. Mama sedang menonton tv sambil menungguku. Adik dan kakakku sedang keluar rumah dengan urusannya masing - masing.
"Dit, kamu udah makan malam?"
"Udah ma, tadi sama Bagus. Mama udah makan?"
"Owh yang orang finance itu? ya udah kamu beres-beres dan istirahat deh, Mama juga sudah makan."
"Betul, ok Ma."
Selesai beres-beres dan mandi aku ke ruang tamu dan melihat Mama masih menonton tv. Aku pun duduk di samping Mama dan bersandar padanya.
"Kenapa Dit?" tanya Mama.
"Gpp, aku pengen sandaran aja sama Mama."
"Ya ampun, sayangnya Mama manja banget sih. Ya udah tidur gih udah malam, Mama juga mau istirahat" Mama mematikan tv.
"Ada yang mau kamu ceritakan ga Dit? Insyaallah Mama bisa dengarin."
"Ada sih Ma, tadi dikantor aku dipanggil Pak Yadi dan katanya setelah terima ijazah saat wisuda nanti, aku akan diajukan promosi karyawan tetap dan kenaikkan gaji," mataku berbinar.
"Alhamdulillah, selamat dan semoga lancar ya sayang."
"Terima kasih banyak ya Mamaku." Aku mencium pipi Mama.
"Ya udah yuk tidur, biar kamu fresh besok berangkat kerjanya."
Sesampainya dikamar, aku melihat hp sebentar, ternyata ada chat lagi dari Dipta. Namun tidak aku buka, karena merasa sikap Dipta semakin aneh. Padahal dulu saat dekat, dia ga seposesif dan sesering ini chat dan telpon. Sikapnya membuatku tidak nyaman. Aku menaruh hp dan menyentuh tombol mode flight agar tidak terganggu saat tidur.
***
Hari yang aku dan keluarga tunggu-tunggu pun tiba. Aku sudah berdandan dan mengenakan kebaya berwarna pink. Mama mendandaniku dengan makeup natural dan rambut dikepang dua lalu dijadikan satu pada bagian tengah atas yang membuat rambutku seperti disanggul.
"Cantik," Mama mencium pipiku.
"Terima kasih Ma, kan Mamanya juga cantik."
Alhamdulillah jalanan lancar dan kami sampai tepat waktu. Aku ditemani oleh Mama, Kakak, dan Adikku. Cuaca pun cerah namun teduh, Mama menuntunku masuk kedalam gedung hingga ruangan wisuda. Kakak dan Adikku mengikuti dibelakang.
Sesampainya dimeja penerima tamu, kami mengisi daftar Mahasiswi dan Keluarga lalu memasuki ruangan. Hatiku berdegup kencang. Rasa bahagia, syukur, dan haru bercampur menjadi satu. Akhirnya selesai juga masa yang berat ini. Aku mengenakan toga yang membuatku bangga dengan diriku sendiri.
Saat namaku dipanggil, jantungku berdegup lebih kencang lagi, apalagi ketika menerima ijazah, aku sangat terharu hingga menitikkan air mata. Selesai acara wisuda, aku dan keluarga mulai melakukan prosesi foto bersama diluar ruangan.
Aku tak menyangka seseorang yang kukenal dan sempat dekat denganku juga hadir hari ini. Dipta datang bersama Maminya. Dia membawa bunga dan hadiah di dalam paper bag. Aku pun menerimanya dengan sedikit tidak enak. Ini adalah pertemuan pertama kami setelah terakhir kali aku menolaknya untuk menikah.
"Selamat ya Dit." Dipta menjabat tanganku.
"Terima kasih banyak Dipta."
"Selamat ya sayang, kamu cantik sekali," ucap Mami sambil memelukku.
"Terima kasih banyak tante."
Aku pun memperkenalkan keluargaku kepada Mami Dipta. Sesuai perkiraanku mereka merupakan orang-orang yang mudah akrab.
Tak lama setelah pertemuanku bersama Dipta dan Maminya, Kak Pasha dan Bagus pun datang bergantian menghampiri untuk mengucapkan selamat dan memberikan hadiah serta bunga padaku. Pada saat yang sama, aku merasakan tatapan tajam kearahku tapi sengaja tak ku hiraukan.
Aku melihat Mamaku dan Maminya Dipta masih asik mengobrol ketika aku menghampiri pasca berfoto dengan teman-teman seangkatanku.
"Dit, kita makan siang bareng dulu yuk sekalian arah pulang," ajak Maminya Dipta.
Aku melihat kearah Mama dan melihat beliau mengangguk sebagai tanda menyetujui ajakkan Mami Dipta.
"Boleh tante."