Tujuh

1519 Kata

Sebenarnya aku tidak nyaman dan tidak menyangka Dipta datang bersama Maminya. Rasanya mau kabur saja, namun perasaan tidak enak dan sopan santun tetap harus dikedepankan. Jadi aku mengiyakannya. Kami berjalan menuju parkiran setelah aku berpamitan dengan teman dan sahabat-sahabatku. Aku tetap berada satu mobil dengan keluargaku dan Dipta menggunakan mobilnya sendiri bersama Maminya. Kami berencana untuk makan siang di salah satu restaurant Sunda di daerah Pasar Minggu. Sesampainya disana, kami memesan makanan dan minuman untuk dimakan bersama. Aku sudah melepas toga saat turun dari mobil tadi. Dipta memandangku pekat, dan itu membuatku kurang nyaman. Aku dan Dipta tidak banyak bicara saat bertemu tadi. Hal itu malah membuat kami semakin canggung karena sebenarnya kami juga sudah jarang b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN