4. Kemarahan Marchello

1507 Kata
Tangan Angela serasa gemetar, wanita itu meremas gaun yang kini dia pakai. Teguran Marchello terasa menusuk indra pendengarannya sampai bulu kuduk Angela berdiri seketika. Sungguh, malam ini adalah malam yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya. Bahkan di dalam mimpinya sekalipun, Angela tidak berharap bertemu dengan lelaki di masa lalunya. Duduk di depan mantan kekasihnya tiga tahun yang lalu membuatnya tidak bisa bergerak leluasa. Tatapan mata seakan ingin menerkam Angela secara terang-terangan dilayangkan Marchello tanpa rasa sungkan. Marcehllo menatap Angela dengan seksama, senyuman de-vil kini tersungging di bibir lelaki tampan itu. Marchello tampak menikmati pertemuannya kembali bersama wanita yang pernah mematahkan hatinya tanpa rasa ampun. Lihat saja, Angela hidup dengan baik setelah meninggalkan dan mengakhiri hubungan mereka berdua. Wanita itu pergi begitu saja ke Amerika, tanpa membicarakan baik-baik kelanjutan hubungan di antara dirinya dan juga Marchello. Di dalam hati Marchello, cinta beserta kerinduan memuncak bersamaan luka yang kembali menganga tatkala netra coklat miliknya memandang legamnya manik mata Angela. Suhu ruangan mendadak terasa pengap, tidak ada sirkulasi udara di sekitar Angela tatkala pandangan menusuk milik mantan kekasihnya seolah-olah ingin menguliti Angela hidup-hidup. Bagaimana bisa, dia dipertemukan kembali bersama Marchello, terlebih dalam situasi sedekat ini? Siapakah pemberi ide rencana di balik jamuan makan malam yang seharusnya tidak ada di agenda acara? "Anda tidak mencicipi jamuan makan malamnya, Nona Angela?" tanya Marchello mengintruksi. Suara Marchello membuat Angela gelagapan, sepertinya pikiran wanita itu tengah berkelana jauh hingga tersentak kaget begitu mendengar suara Marchello. Padahal Angela sedang berpikir cara yang tepat untuk berkilah dan pergi dari acara tersebut. Prang! Tanpa sengaja Angela menyenggol gelas kaca saking kagetnya. Beberapa mata menoleh ke arah meja mereka. Suara pecahan gelas tentu menyita banyak perhatian orang-orang yang turut serta di acara jamuan makan malam, bertemu dengan para pemenang nominasi pada hari ini. "Maafkan aku, Tuan Marchello," ucap Angela penuh sesal. Pemenang nominasi Direktur Wanita Paling TOP menyesali keteledorannya karena sudah menyebabkan kegaduhan hingga menarik perhatian banyak orang di sekitarnya. Angela langsung berdiri dari tempat duduknya, wanita itu segera berjongkok untuk memunguti pecahan gelas yang tadi dia senggol tanpa sengaja. Padahal bisa saja Angela memanggil seorang pelayan agar membersihkan puingan kaca berserakan di lantai. Namun, Angela menganggap itu adalah timing yang pas agar Angela dapat bernapas leluasa tanpa mendapatkan pandangan lekat dari mantan kekasihnya. Melihat Angela berjongkok, Marchello langsung menggebrak mejanya dengan kasar. Mantan kekasih Angela tersebut tidak habis pikir dengan kinerja para pelayan yang memang bertanggungjawab dalam jalannya acara jamuan makan malam. "Apakah di sini tidak ada pelayan atau manager restaurant? Kenapa tidak ada yang datang ketika gelas jatuh!" Teriak Marchello dengan kilatan mata marah. Mendengar suara teriakan dari Marchello membuat nyali Angela menciut. Angela mendongakkan wajahnya, menatap sosok lelaki yang saat ini sedang mengedarkan pandangannya dengan mata menyala penuh kemarahan. Wanita itu tanpa sadar menggenggam pecahan kaca dalam tangannya. Angela memejamkan matanya, berharap jika pertemuannya dengan Marchello malam ini hanya sebuah mimpi. Jika benar hanya mimpi, bisakah salah satu orang membangunkan Angela sekarang juga? Sungguh, Angela masih belum sanggup untuk bertemu dengan mantan kekasihnya beberapa tahun silam yang telah dia tinggalkan untuk perusahaan entertainmentnya. Perasaan Angela seperti dicampur aduk, ada perasaan bahagia dan juga kesedihan ketika melihat wajah yang sangat-sangat dia rindukan selama ini. Andai saja pertemuan mereka saat itu datang di waktu yang lebih tepat. Atau, andai saja kegilaan Angela dalam mendirikan perusahaan entertaintment tidak memaksanya meninggalkan Marchello saat itu. Mungkin, kini Angela akan tersenyum lebar dan merentangkan tangannya menyambut kedatangan Marchello di depannya setelah sekian lama mereka tak berjumpa. "Aww," ringis Angela spontan ketika rasa nyeri menjalar di tangannya. Wanita itu menatap tangannya, tangannya tergores karena pecahan gelas kaca yang dia genggam erat tanpa sadar. Mendengar suara ringisan yang keluar dari mulut Angela, mata Marchello langsung menatap ke arah wanita itu. Marchello bangkit dengan kasar dari kursi yang dia duduki hingga menimbulkan suara decitan kasar. Marchello berjongkok di depan Angela, lelaki itu meraih tangan Angela. Matanya berkilat seakan amarah membuncah di dalam diri Marchello. Benar-benar keterlaluan, para pelayan bahkan tidak ada yang berani mendekat ke sumber keributan hingga menimbulkan goresan di tangan mantan kekasihnya. "Fahlefi, apa yang kamu lihat! Cepat bawa petugas medis ke mari!" ucap Marchello dengan suara yang sirat akan kekhawatiran. “Baik, Pak,” jawab Fahlefi patuh. Mendengar ucapan Marchello, Fahlefi langsung menghubungi anak buahnya untuk membawa petugas medis yang bertugas malam ini. Fahlefi meminta manager acara dan juga pelayan yang bertugas dalam jamuan makan malam untuk segera berkumpul. Mereka harus siaga dan bertanggungjawab atas semua kemungkinan yang dapat terjadi pada acara jamuan makan malam tersebut. "Marchello, aku tidak apa-apa. Tidak perlu membawa petugas ke sini, aku akan mengobatinya di rumah," ucap Angela. Mata mereka berdua bertemu, Marchello sempat terdiam beberapa detik. Begitu juga dengan Angela yang kini terasa udara di sekitarnya lenyap seketika tatkala pandangan mereka bertemu. Da-da Angela serasa bergemuruh, detak jantungnya berdebar sangat kencang. Debaran jantungnya masih sama seperti ketika keduanya memiliki hubungan asmara di masa yang sudah lalu. Dengan cepat Angela menarik tangannya dari genggaman Marchello, namun Marchello nampaknya enggan melepaskan tangan itu. Marchello justru menggenggam tangan Angela, berharap darah di tangan wanita itu tidak semakin banyak keluar akibat luka terbuka yang disebabkan oleh goresan pecahan gelas kaca. Merasa mendapatkan panggilan, Tuan Shin bersama manager cathering lantas berjalan cepat menuju Marchello dan Angela berada. Mereka dilingkupi perasaan gelisah dan cemas atas kelangsungan pekerjaan mereka masing-masing. "Maafkan kami, Tuan, Nona," ucap Manager jamuan makan malam yang telah diberikan tugas untuk mengatur acara. Tuan Shin, selaku Pimpinan Produksi langsung menghampiri Marchello dan Angela. Lelaki itu menunjukkan wajah panik karena tahu benar bagaimana karakter Marchello yang tidak akan menolerir kesalahan sedikitpun. Berbagai bayangan jika lelaki itu akan menarik semua investasi pada perusahaannya membuat Tuan Shin beringsut ketakutan. Belum lagi, kemarahan di diri Marchello menunjukkan kekecewaan mendalam atas ketidakpuasan lelaki itu dengan acara jamuan makan malam pada hari ini. "Maaf atas kekacauan ini, Tuan Marchello," ucap Tuan Shin membungkuk meminta maaf. Para pelayan langsung membersihkan pecahan gelas dan juga mengelap lantai yang kini basah karena tumpahan minuman. Sebelum meninggalkan tempat itu, para pelayan membungkuk hormat meminta maaf karena tidak segera menghampiri suara pecahan kaca dan malah membuat Angela sampai terluka. "Maafkan kami, Nona Angela. Seharusnya kami cekatan untuk segera membersihkannya," sesal sang manager acara dengan wajah yang sangat ketakutan. Tentu saja manager itu merasa takut jika dirinya dipecat dari pekerjaan yang selama ini menafkahi dirinya dan juga keluarganya. Angela mengangguk memahami bahwa pekerjaan mengurus acara bukanlah pekerjaan yang mudah. Angela sendiri sempat merasakannya, dia harus mengurus banyak agenda para aktrisnya hingga membuat isi kepalanya tidak pernah beristirahat barang sebentar saja. Meski begitu Angela tidak pernah merasa kesal atau sampai kehilangan kesabaran, sebab itulah pekerjaan Angela yang membuatnya bangga atas kerja kerasnya sendiri. "Tidak masalah, ini kecerobohan saya sendiri," jawab Angela. Marchello mendengkus, tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Angela saat wanita cantik itu tak mempermasalahkan kejadian kali ini. Padahal ketangkasan dan tanggungjawab para pekerja adalah kualifikasi pekerjaan nomor satu. "Sebenarnya apa pekerjaan kalian sampai mengurus hal begini saja tidak becus? Kalau sudah melukai klien kalian, ini bisa merusak citra perusahaan kalian! Kalian harus paham tanggungjawab atas pekerjaan kalian!" tegas Marchello. Suara Marchello meninggi, lelaki itu benar-benar marah melihat tangan Angela yang kini mengeluarkan cairan merah. Belum lagi suara ringisan Angela berkali-kali berputar dalam otaknya sampai Marchello tidak bisa berpikir jernih. Meski Angela sudah melukai perasaannya, nyatanya Marchello tidak sanggup melihat wanita yang sampai detik ini masih dia cintai merasa kesakitan. Terlebih kesakitan itu Angela rasakan di depan mata Marchello. "Marchel-, Tuan Marchello, sungguh saya tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," jawab Angela berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dia sebabkan. Andai saja wanita itu tidak melamun dan tidak menyenggol gelas hingga pecah, mungkin dirinya tidak akan melibatkan banyak orang dalam kemarahan Marchello. Angela sendiri baru melihat kemarahan di dalam diri mantan kekasihnya. Selama ini Marchello yang dia kenal adalah sosok penyabar, humoris, dan juga rendah hati, pada malam ini lenyap sekejap mata. "Luka kecil katamu?" tanya Marchello dengan sengaja menekan tangan Angela sampai wanita itu meringis dan berjingkat kesakitan. "Kamu menyakiti tanganku," ringis Angela tak tertahankan. "Kamu bilang luka kecil dan aku menyakiti tanganmu?" Kekeh Marchello dengan tawanya sumbang. Angela memalingkan wajahnya. "Aku hanya tidak ingin membuat banyak orang kehilangan pekerjaannya," jawab Angela dengan bahasa Indonesia. "Maka kamu tidak akan berhasil!" sahut Marchello dengan nada bicaranya yang tidak main-main. Angela manatap Marchello tidak percaya. Apa yang akan lelaki itu lakukan hanya karena kesalahan kecil perbuatannya. Marchello tidak akan membuat mereka semua kehilangan pekerjaannya, bukan? Senyuman kecil namun mengerikan bagi Angela terasa menjadi berita buruk untuknya. Tidak, jangan sampai kesalahan Angela menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Biarkan Angela yang menerima hukuman karena tidak pandai menjaga diri dengan baik. "Fahlefi, kamu tahu apa yang harus dilakukan, kan?" Fahlefi mengangguk. "Baik, Tuan Muda," jawab Fahlefi. Mata Angela membulat sempurna. Bagaimana bisa Marchello begitu kejam hanya karena kesalahan kecil seperti itu? "Marchello, apa yang kau lakukan?" Wajah Angela memerah menahan kekesalannya akan tingkah laku Marchello saat ini. "Berdiri!" ucap Marchello mengintruksi. Tangan lelaki itu menarik lengan Angela hingga wanita itu berdiri. Marchello menyuruh Angela untuk kembali duduk di tempatnya. "Tunggu sampai petugas medis datang," ucap Marchello tak terbantahkan. Keadaan seketika hening, semua mata menatap ke arah mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN