5. Taman Bunga Edelweiss

2069 Kata
Tampaknya perpisahan di antara mereka berdua selama bertahun-tahun lamanya tidak merubah sikap wanita yang pada malam ini mendapatkan penghargaan sebagai Direktur Wanita Paling Top di kancah dunia entertaintmen kota fashion tersebut. Angela masih tetap mengutamakan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Bahkan darah segar yang kini mengalir dari tangannya terlihat tidak dia pedulikan. Angela berusaha sebaik mungkin menahan rasa sakit dan perih yang dia rasakan dari goresan singkat pecahan gelas kaca. Padahal Angela berpikir lukanya tak akan separah itu sampai-sampai darah terus mengucur keluar tanpa dapat Angela tahan. Wanita yang pernah menjalin hubungan asmara dengan pewaris dua perusahaan besar asal Indonesia tersebut secara diam-diam mengamati raut wajah mantan kekasihnya. Aura tidak menyenangkan, dan awan gelap rupanya telah menggelapkan mata seorang Marchello. Melihat wanita yang sudah menorehkan luka mandalam di dalam hatinya terluka, sepertinya tidak juga membuat Marchello lantas mampu bersikap acuh terhadap Angela. Ingin rasanya Marchello memaki siapapun membuat gelas kaca di dunia, berharap mereka tidak akan lagi mengeluarkan peralatan makan edisi terbaru dengan bahan dasar kaca agar wanita yang dia cintai tak mengalami luka seperti hari ini. “Maaf, Nona Angela, izinkan saya membersihkan luka Anda,” permintaan salah satu petugas medis wanita berjongkok di hadapan Angela. “Tidak, berdirilah dan duduk di kursi ini,” kata Angela menolak. “Seperti ini saja tak apa, Nona. Mari silahkan ulurkan tangan Anda,” ucap petugas medis yang dapat Angela baca namanya adalah Medina. Angela bersikeras, wanita itu bahkan menarik kursi menggunakan satu tangannya yang tidak terluka. Perilaku Angela tentu berada di dalam pengamatan Marchello. Lelaki tampan dengan paras yang digandrungi banyak kawula hawa tersebut sampai bernapas panjang. Kegugupan jelas saja melanda sosok petugas medis di sana. Medina yang masih berjongkok di depan Angela bahkan tidak mempunyai keberanian mendongakkan wajahnya. Semua mata mengarah kepada sosok tampan Marchello dan juga Angela. Selain karena kebanyakan para tamu undangan makan malam di sana sangat mengenal Marchello dan tahu sepak terjangnya, mereka juga mengenal Angela, direktur perusahaan entertaintment yang mana para aktris di bawah naungannya tengah naik daun di era kepemimpinan Angela. ‘Sungguh, situasi macam apa ini,’ batin Angela ingin berteriak. Tidak, Angela harus memberanikan diri mengawali percakapan untuk memecah keheningan yang terjadi. Bahkan suara detak jarum jam saja sampai terdengar di telinga Angela saking heningnya satu ruangan tempatnya berada saat ini. Angela menggelengkan kepala. “Duduklah, kau hanya akan merasa tidak nyaman jika berjongkok seperti itu. Aku pun tak ingin diobati oleh seseorang yang kakinya gemetar, bisa-bisa lukaku semakin dalam,” tutur Angela mengultimatum. Kali ini suara Angela terdengar begitu jelas, Angela seperti meminta pengertian kepada Marchello agar mantan kekasihnya dapat memaklumi jika Angela meminta Madina duduk di kursi ketika mengobati lukanya. Angela menatap singkat ke arah Marchello dan tidak ada reaksi apapun dari lelaki itu. Kebungkaman Marchello adalah iya, begitu terjemahan yang sedang diartikan oleh Angela. “Kau mendapatkan izin, tidak usah takut begitu, duduklah!” ucap Angela. Angela memberikan keyakinan kepada petugas medis untuk mempercayai dirinya. Dengan kepercayaan diri setengah hati, Medina melirik ke arah Angela. Medina seolah meyakinkan apakah perintah dari Angela benar-benar tidak akan bermasalah. Pemegang penghargaan Direktur Wanita Paling Top tersebut menganggukkan kepalanya, sorot mata teduh milik Angela mulai meyakinkan Medina sehingga petugas medis yang menanganinya sedikit mempunyai keberanian menggerakkan tubuhnya dengan kaki gemetar dan duduk di kursi tepat di samping Angela berada. Angela tersebut melihatnya, sedangkan Marchello masih tidak menyangka mengapa Angela begitu ramah dengan banyak orang. Baru saja Medina mengeluarkan peralatan medisnya untuk membersihkan luka pada tangan Angela, salah satu cuter miliknya sampai jatuh ke lantai saking gugupnya. Angela memegang tangan Medina. “Kegugupanmu bisa membuat lukaku semakin dalam, tenangkan dirimu.” Angela kembali memperingatkan petugas medis yang saat ini sedang menanganinya. Dapat Angela pastikan, ketidaksuksesan Medina juga akan mempengaruhi emosional Marchello. Sehingga patut rasanya demi menjaga Medina masih bisa bekerja seperti sebelumnya maka Medina harus menuruti apa kata Angela. Peringatan dari Angela membuat Medina mengatur napasnya secara rileks. Perlahan segalanya dilakukan Medina, membersihkan luka Angela, memberikan salep luka terbuka kemudian menutupnya dengan kain kasa. “Terimakasih, Medina,” kata Angela tulus. “Eh?” Medina tampak kaget saat Angela mengetahui namanya. Namun di detik selanjutnya Medina menundukkan kepala. “Saya yang seharusnya berterimakasih, dan maaf karena saya datang sangat terlambat,” ucap Medina meminta maaf. Setelah memastikan petugas medis mengurus luka pada tangan Angela teratasi dengan baik. Marchello langsung memerintahkan Fahlefi untuk menindak tegas para petugas yang tidak becus dalam pekerjaannya. Ini bukan masalah profesionalitas dalam bekerja, namun tingkah Marchello kali ini didasari oleh kekhawatiran tinggi pada sosok Angela Joanna. Wanita yang tiga tahun lalu menolaknya demi menerima suntikan dana dan pergi meninggalkan Marchello penuh sayatan luka pada hatinya. Tiga tahun berlalu tidak membuat Marchello melupakan sosok hangat yang selalu mengisi hari-harinya kala itu. Segala tingkah laku, sikap lucu dan semua kesukaan Angela Joanna menjadi kenangan terindah bagi lelaki itu. Angela menahan napasnya, wanita itu memejamkan matanya saat Tuan Shin memarahi semua pekerjanya. Hanya luka kecil karena kecerobohannya sendiri, justru menjadi malapetaka bagi banyak orang. Andai saja Angela tidak mengiyakan undangan Tuan Shin untuk makan malam bersama dengan mereka, mungkin saja Angela tidak akan bertemu kembali dengan Marchello pada kesempatan kali ini. “Marchello,” lirih Angela menggelengkan kepalanya. Detak jantung Marchello bergemuruh sangat hebat. Sudah lama sekali dia tidak mendengarkan suara Angela memanggil namanya dengan sangat lembut seperti hari ini. Bahkan di awal pertemuan mereka berdua sekalipun Angela bersikap sangat formal, Angela memanggilnya dengan sebutan Tuan. Keduanya memainkan peran seolah keduanya tidak pernah saling mengenal apalagi pernah menjalin hubungan asmara di antara mereka berdua. Pertemuan mereka kali ini membuat Angela bigung bukan kepalang. Bukannya tidak ingin bertemu dengan Marchello. Hanya saja Angela Joanna belum siap, bertatap langsung dengan lelaki yang masih mengisi hatinya sampai detik ini. Kala itu Angela terpaksa memilih mimpi dan masa depan yang dia inginkan tanpa campur tangan keluarganya maupun nama besar keluarga Marchello. Apa jadinya kalau Angela masih saja bersama Marchello? Kemungkinan usaha dan nama terangnya saat ini malah menjadi aib bagi dirinya karena menumpang ketenaran pada nama keluarga besar Marchello. “Tuan Shin, tidak perlu mendisiplinkan mereka. Semua ini salah saya, untuk itu saya bertanggung jawab penuh atas kekacauan yang terjadi malam ini. Termasuk mengganti kerugian materiil Tuan Marchello,” ucap Angela dengan nada datar, wajahnya tidak berekspresi sama sekali. Tidak, Angela sungguh gugup saat ini. Tajamnya sorot mata Marchello seperti akan mencabik-cabik dirinya kali ini. Angela harus mengatur ekspresi wajahnya agar Marchello tidak dengan mudah menebak apa yang saat ini Angela pikirkan. “Kau pikir segalanya akan selesai dengan mengganti seluruh kerugian malam ini?” tanya Marchello dengan menggunakan bahasa ibunya. Angela menoleh menatap Marchello. Jika kekacauan disebabkan oleh Angela hingga makan malam tidak berjalan baik sebagaimana mestinya, maka sudah menjadi kewajiban Angela bertanggungjawab atas kerugian materiil yang disebabkan olehnya. Atau Angela juga bersedia jika pada akhirnya nanti Angela diminta mengganti kerugian. “Kenapa tidak? Otoriter dan juga sikap diktatormu tak akan mampu menyelesaikan semuanya,” jawab Angela, meraih tasnya dari meja makan. Angela menatap seluruh orang di sana, banyak para petinggi yang turut menyaksikan kekacauan karena Angela. Harusnya hari ini tidak pernah terjadi. Di malam membahagiakan penghargaannya, sudah sepantasnya Angela mendapatkan moment menyenangkan. Tapi bukankah pertemuannya dengan Marchello adalah hal yang sangat dia dambakan? “Saya akan bertanggungjawab atas kerugian malam ini, termasuk juga bertanggungjawab secara materiil. Tuan Shin bisa menghubungi saya secara pribadi,” ucap Angela. “Maaf Nona, tapi acara malam ini diselenggarakan oleh Tuan Marchello Carollino,” ujar Tuan Shin. Angela menatap ke arah Fahlefi. “Bisa hubungi saya secara pribadi untuk nominal kerugiannya.” Angela menyerahkan kartu nama ke arah Fahlefi. Asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Marchello hanya diam terpaku menerima kartu nama dari Angela. “Maaf telah menyebabkan kekacauan pada malam ini, saya permisi,” pamit Angela membungkuk hormat sebelum berbalik melangkahkan kakinya meninggalkan Marchello dan yang lainnya. Mata Marchello semakin berkobar, tidak menyangka pertemuannya dengan Angela setelah tiga tahun berlalu tidak berjalan dengan baik. Bukankah seharusnya Marchello yang marah untuk saat ini? Kenapa justru Angela yang menunjukkan raut wajah tidak peduli? Mungkinkah wanita itu telah memiliki lelaki lain yang mengisi hati dan hidupnya selama tiga tahun perpisahan mereka berdua? Membayangkannya saja sudah membuat hati Marchello tercabik-cabik. Tidak, Marchello harus memastikan sesuatu! “Berikan kunci mobilnya,” ucap Marchello kepada Fahlefi. Kening Fahlefi berkerut, lelaki itu menatap bosnya dengan pandangan tidak percaya. “Kau tidak mendengarku?” tanya Marchello mengulangi kalimatnya. Fahlefi meminta maaf, asisten pribadi Marchello itu langsung menyerahkan kunci mobil yang mereka tumpangi kepada Marchello. “Tuan!“ panggil Fahlefi. Terlambat, kalimat Fahlefi tidak akan didengarkan sama sekali oleh lelaki itu. Marchello dengan cepat berlari kecil untuk mengejar langkah kaki Angela Joanna. Marchello melihat punggung wanita yang dia cintai, dengan mempercepat langkah kakinya Marchello berusaha mengejar Angela di depannya. Di dalam kepala Marchello saat ini adalah bagaimana cara supaya dia dan Angela dapat berbicara empat mata. “Angel,” panggil Marchello membuat Angela berhenti. Wanita itu menautkan kedua alisnya bingung, merasa heran karena Marchello tiba-tiba saja berlari mengejar dirinya. Tanpa berkata apapun, Marchello meraih tangan Angela dan menarik wanita itu menuju lift yang akan membawa mereka ke basement tempat mobil Marchello terparkir. Angela memberontak, mencoba meloloskan dirinya sekarang. Namun usaha Angela terlihat sia-sia, pegangan tangan lelaki itu di tangannya justru semakin dieratkan, seakan tidak ingin Angela pergi begitu saja dari jangkauannya. “Marchello, lepaskan aku,” ucap Angela memberontak. Usahanya seakan sia-sia saja, lelaki itu sedikitpun tidak merasa terusik dengan teriakan-teriakan dan usaha Angela untuk melepaskan dirinya. “Jangan berteriak, atau wartawan akan menangkap gambar kita dan membuat skandal tentang kita berdua,” ucap Marchello begitu tenang, tidak peduli perlawanan Angela pada dirinya. Mata Angela terbelalak saat kilatan blits tanpa sengaja menyapa indra penglihatannya. Wanita itu segera menyembunyikan wajahnya. Dengan cepat Marchello menutup pintu lift, mengunci dia dan Angela dalam satu ruangan yang tertutup. Begitu menyesakkan dan mendebarkan jantung bagi wanita itu. Hanya suara deru napas keduanya yang saat ini terdengar dalam lift itu. Angela memejamkan matanya, wanita itu mundur satu langkah untuk mengisi jarak di antara mereka berdua. “Aku akan mengantarkanmu pulang, sekalian menyapa kedua orang tuamu,” kata Marchello membuat Angela mendongak. “Sepertinya mereka belum pulang, mereka mengunjungi kakakku,” jawab Angela memilin gaun yang dia pakai karena begitu gugup. Marchello menoleh ke belakang, matanya menyapu wajah Angela yang kini terlihat begitu cantik dengan pencahayaan remang-remang. Kabar tentang keadaan kakak Angela sempat didengar oleh Marchello lewat Rebecca. Pencahayaan di dalam lift membuat Marchello menatap Angela secara intens. Ada satu hal yang membuat Marchello tertegun di tempatnya. “Kau … masih sama cantiknya seperti tiga tahun yang lalu,” ucap Marchello tanpa dia sadari. Sialan! Marchello merutuki kebodohannya karena kalimat memalukan itu justru lolos dari mulutnya tanpa dia sadari sebelumnya. Angela menatap Marchello, mata mereka kini bertemu. Suasana begitu canggung, Angela memilih mengakhiri peraduan mata di antara mereka berdua. “Ayo.” Marchello menarik tangan Angela, menuntun langkah kaki wanita itu menuju mobil pribadinya. “Marchello … aku bisa memesan taxi. Kamu pasti sibuk,” ucap Angela merasa tidak enak dengan kebaikan Marchello kepadanya. Dosanya tiga tahun yang lalu saja belum terbayar lunas, namun kebaikan Marchello semakin menyesakkan d**a bagi Angela. Wanita itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Kepingan rasa yang dulu pernah singgah nyatanya masih tinggal dan bertahta di dalam hati keduanya. Angela seperti melangkah namun dia tidak tahu kemana tujuannya akan menjadi garis finish perjalanannya. Marchello benar-benar acuh, lelaki itu memilih membukakan pintu mobil untuk Angela tanpa berniat menjawab penolakan mantan kekasihnya. Lagipula ini bukan kali pertama Marchello memaksakan kehendaknya kepada Angela. “Masuklah, jangan membantah lagi,” ucap lelaki itu menatap Angela dengan lekat. Percuma saja Angela menolak keinginan Marchello, lelaki itu mungkin akan semakin gencar memaksakan kehendaknya pada diri Angela. Marchello punya seribu macam cara untuk melancarkan keinginannya. Angela memilih mengikuti saja kemauan Marchello asalkan itu tidak merugikan dirinya. Mereka berdua menaiki mobil yang sama dengan atap yang sama, mengingatkan rutinitas mereka berdua dulu saat masih menjalin tali asmara. Menjalin hubungan tanpa keluarga mereka tahu, berniat membuat keluarga mereka terkejut atas hubungan keduanya saat mereka nanti memutuskan ke jenjang pernikahan. Sayangnya, hubungan mereka kandas terlebih dahulu atas keegoisan Angela. Mungkin telah menjadi hukum karma bagi dirinya ketika setiap saat dirinya merasakan kerinduan begitu dalam pada sosok Marchello. Dan malam ini, lelaki itu duduk di sampingnya berniat mengantarkannya pulang. “Kau ingin menghukumku atas kejadian tiga tahun yang lalu kan?” Kalimat itu terucap dari mulut Angela, menebak apa yang tengah direncanakan Marchello saat ini. “Menurutmu?” tanya Marchello balik, menoleh menatap mata seindah taman bunga edelweiss yang ingin dia selami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN