Upaya penolakan yang dilakukan oleh Angela tampaknya sama sekali tidak dihiraukan oleh Marchello. Setelah tiga tahun berlalu, tentu ada keinginan tersendiri bagi Marchello untuk menikmati moment pertemuan mereka berdua usai terakhir kali pertemuan di malam ketika Angela menolak tawaran pernikahan dari Marchello.
Sakitnya masih begitu terasa, Marchello mengingat dengan jelas raut wajah kurang mengenakkan dari Angela di malam itu ketika Angela mendengar perihal niat tulus Marchello mengajak wanita cantik tersebut melangkah ke jenjang yang lebih serius. Hubungan tersembunyi sebab Angela masih sungkan dengan keluarga besar Marchello menjadi salah satu penolakan Angela kala itu. Terlebih Angela ingin melanjutkan mimpinya mempunyai perusahaan entertainment di negara pusat fashion.
Rupanya penjelasan dari Angela tidak cukup meredakan amarah di dalam hati Marchello Archelous Carollino. Lelaki itu bahkan seperti membuat benteng tebal di antara dirinya dengan sang mantan kekasih agar keduanya tidak lagi saling bertemu usai penyelesaian hubungan secara sepihak.
Cahaya terang jalanan kota tampaknya kurang mampu menerangi gelapnya pikiran Angela saat ini. Suasana di dalam mobil begitu canggung sampai rasanya Angela bingung harus mengutarakan apa untuk mengisi keheningan yang terjadi.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Angela membuka suara.
Marchello yang semula fokus atas jalanan di depannya sekarang menoleh ke arah mantan kekasihnya. Marchello tersenyum simpul.
“Akhirnya kamu menanyakan bagaimana kabarku,” kata Marchello.
Angela mendengkus di tempatnya, harusnya Angela sadar bahwa sudah pasti Marchello akan menjawab ketus pertanyaan darinya. Tidak apa, memang sudah menjadi hukuman bagi Angela sebab telah merusak kepercayaan Marchello selama ini. Harapan indah mereka tampaknya pupus begitu saja karena keegoisan Angela di dalam ambisinya.
Tidak ingin mengutarakan kalimat apapun lagi, Angela hanya diam membisu sebab bingung harus berinteraksi seperti apa lagi untuk mencoba mencairkan suasana.
“Apakah ada perkembangan terbaru tentang kesehatan kakakmu?” tanya Marchello kepada Angela.
“Kondisi Anneth masih sama seperti sebelumnya. Terkadang dia bisa bersikap baik, tetapi juga bisa menjadi sangat agresif,” jawab Angela.
Saat menjelaskan keadaan sang kakak, suara Angela sangat berbeda. Ada beban berat dalam nada bicaranya, disusul hembusan napas panjang. Entah semua itu disebabkan oleh kegugupan Angela karena keberadaannya bersama Marchello, ataukah memang membahas tentang sang kakak seolah menciptakan luka lama di dalam kehidupannya.
Ada salah satu hal mengapa Angela juga segan melangkah ke pernikahan. Dia tidak ingin membuat luka di dalam hati keluarganya kembali menganga usai mendengar berita tentang pernikahan Angela, setelah sempat pernikahan anak pertama di dalam keluarga mereka gagal begitu saja sampai menyebabkan guncangan psikologis menimpa anak pertama dalam keluarga Angela.
Kalau seandainya saja tak ada perkara seperti itu di dalam keluarganya, mungkin Angela bisa menerima Marchello usai segala ambisinya terpenuhi. Sayangnya Marchello terlanjur marah besar kepada Angela hingga menutup akses semua pintu pertemuan serta komunikasi di antara mereka berdua.
“Apakah keluargamu sudah mencoba Anneth ke rumah sakit yang ada di Berlin? Aku dengar penanganan di sana sangat baik sebab separuh staffnya mendapatkan hadiah Nobel Jerman di bidangnya,” jelas Marchello.
“Mama tidak bisa jauh dari Anneth. Dia ingin dekat dengan Anneth,” sambung Angela.
“Justru karena kasih sayang orang tua, seharusnya orang tuamu ingin kesembuhan putrinya segera terlaksana,” tukas Marchello.
“Tetapi tidak semua orang punya pemikiran singkat seperti dirimu, Tuan,” ejek Angela.
Ada alasan tersendiri bagi ibunda Angela mengapa dirinya tidak sanggup berada jauh dari putrinya. Semua itu terjadi sebab lika-liku perjalanan hidup Anneth yang sejak dalam kandungan sudah menjalani derita bersama sang ibu. Perjuangan ibu mereka mendapatkan hak dan status sebagai seorang istri secara sah di mata negara demi masa depan anaknya.
Marchello terdiam, percakapan singkat di antara mereka membuat desir darah Marchello memacu mengelilingi tubuhnya. Tidak tahu mengapa tubuh Marchello seperti kegerahan. Dia membuka kaca di sampingnya, membiarkan angin malam masuk ke dalam mobil yang dia kendarai.
Sikap Marchello mendapatkan perhatian singkat dari Angela. Baru saja Angela ingin menegur Marchello sebab udara di malam itu lumayan dingin, suara dering di ponselnya membuat Angela mengurungkan niat. Angela merogoh tasnya dengan susah payah.
“Jessy?” gumam Angela ketika nama orang kepercayaannya muncul di layar ponsel.
Angela segera mengusap ponsel miliknya, wanita itu mendekatkan benda pipih tersebut ke arah telinga. Terdengar suara sirine di seberang sana sehingga membuat Angela tesentak.
“Jessy, are you okay? Kenapa ada suara sirine di dekatmu? Kamu dimana? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Angela.
Berondongan pertanyaan dari Angela membuat Marchello melirik ke arah Angela. Rupanya sikap dan kebiasaan Angela tidak berubah sedikitpun. Wanita yang tiga tahun lalu meninggalkan Marchello mempunyai rasa kekhawatiran begitu tinggi.
“Kya! Kenapa kamu malah menangis tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa yang sedang terjadi?” keluh Angela kesal.
Jesselyn bukannya menjawab pertanyaan dari Angela malah menangis di seberang sana.
“Angel, di rumahmu ada banyak sekali polisi. Tuan dan Nyonya ada di rumah sekarang,” jelas Jesselyn membuat Angela terpekik di tempatnya.
“A-apa? Memangnya ada apa?” tanya Angela tak kalah panik.
“Tidak tahu, rumahmu dijaga ketat kami bahkan tidak bisa masuk ke dalam rumah. Dimana kamu sekarang?” ucap Jesselyn.
“Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah. Bisakah kamu memastikan orang tuaku baik-baik saja?” pinta Angela.
Jesselyn mengangguk di seberang sana. “Kami akan menjaga mereka dengan semampu kami.”
Mendengar percakapan di antara Angela dengan anak buahnya membuat Marchello menatap ke arah mantan kekasihnya tersebut. Ada guratan wajah penasaran dan juga kekhawatiran yang Marchello tampakkan saat ini.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Marchello.
“Di rumah ada banyak polisi, belum tahu apa yang sedang terjadi,” kata Angela.
Angela menatap Marchello penuh dengan permohonan. “Dapatkah kita sampai lebih cepat di rumah?”
Permintaan dari Angela lantas dijawab anggukan kepala oleh Marchello. Lelaki itu menambah kecepatan kendaraan besi yang dia tunggangi. Angela seperti mendapatkan firasat buruk tentang peristiwa malam ini. Ya, gelas kaca jatuh tidak jatuh begitu saja melainkan terdapat sebuah pesan di dalamnya.
Siapa sangka, di tengah kebahagiaannya atas kehormatan mendapatkan penghargaan harus diselingi dengan kegugupan serta kecemasan luar biasa di dalam diri Angela. Wanita cantik itu tak bisa bernapas tenang sebelum kendaraan yang dia naiki sampai di depan pelataran rumah mewah keluarga. Angela memikirkan keadaan kedua orang tuanya, terlebih sang ibu.
“Aku akan mengirim seseorang untuk memantau situasi di rumahmu,” kata Marchello dijawab anggukan kepala Angela.
Marchello langsung saja menghubungi pihak Kerajaan France, tempat dimana Rebecca berada. Adik dari Marchello, yang tidak lain adalah anak Pangeran Edward tentu punya kekuasaan mengirimkan seseorang untuk mengawasi kejadian di kediaman keluarga Angela.
Panggilan tersebut lantas tersambung di ponsel pribadi Rebecca. Marchello meminta agar adiknya mengirimkan utusan menuju rumah Angela Joanna. Tanpa bertanya lebih panjang, Rebecca pun menuruti apa perintah dari sang kakak.
Sedangkan Marchello masih berusaha mencari kepingan informasi alasan kediaman mantan kekasihnya sampai dipenuhi oleh polisi. Marchello seolah paham ketakutan Angela, wanita itu takut serta cemas terjadi sesuatu hal buruk pada ayah dan ibunya. Kenangan kelam tentang kondisi kakak perempuannya membuat Angela mempunyai trauma tersendiri perihal keluarga.
“Aku harap mereka membawa kabar untuk kita,” ucap Marchello saat panggilan masuk dari Fahlefi memecah keheningan di dalam mobil berwarna hitam metalik tersebut.
Marchello berdeham sejenak. “Ya, apa informasi yang kau dapatkan?”
“Maaf, Tuan Muda. Informasi yang saya dapatkan mungkin sangat mengejutkan bagi Anda,” kata Fahlefi.
“Katakan apa yang terjadi, jangan membuat teka-teki seperti ini!” jawab Marchello dilingkupi rasa penasaran.
Begitupun juga dengan Angela di sampingnya. Meskipun diam membisu, Angela masih sigap mendengarkan percakapan di antara Marchello dengan tangan kanannya, Fahlefi. Angela sejak tadi menaruh harapan kepada Marchello agar setidaknya Angela mengetahui alasan mengapa polisi menyambangi kediamannya hingga orang-orang Angela tidak bisa masuk ke dalam rumah seperti cerita Jesselyn ketika di telepon.
Fahlefi secara berat hati menjelaskan duduk perkara sampai pada akhirnya ayahanda Angela menjadi seseorang yang ditargetkan oleh pihak kepolisian.
“Tuan Donathan terlibat kejahatan korporasi, Tuan Muda,” sahut Fahlefi singkat.
“Apa?” pekik Angela dan Marchello bersamaan.
Pandangan mata Angela menunjukkan segalanya, wanita itu sama sekali tidak mempercayai penjelasan dari anak buah Marchello. Selama ini Angela mengenal baik ayahnya. Meskipun mempunyai sikap cuek dan tertutup, tetapi rasanya sangat tak mungkin bagi pengusaha yang merintis usaha sedari nol melakukan tindak kejahatan korporasi.
Semua ini ada kejanggalan. Tidak beres dan harus diselidiki lebih lanjut. Angela masih menolak pemberitahuan dari anak buah Marchello sebelum Angela mendengar sendiri penjelasan orang tuanya atau pihak kepolisian yang menangani.
“Jessy! Kiara!” seru Angela begitu mobil yang dia naiki bersama Marchello terhenti.
Terdapat beberapa mobil polisi lengkap dengan atributnya, Angela merasa kedatangan mereka seperti menangkap seorang bandar n*****a ataupun bandar judi nasional. Sedangkan ayahnya adalah pengusaha terhormat.
“Angel!”
Dua wanita tersebut bergegas menghampiri Angela.
“Salah satu petugas sudah bisa memberikan informasi setelah utusan Kerajaan France menjadi mediator kita. Katanya, Tuan Besar melakukan tindak kejahatan korporasi!” tukas Jesselyn.
Kaki Angela limbung, untung saja Marchello berada tepat di samping Angela sehingga lelaki itu dapat menjadi penopang tubuh Angela. Seluruh energinya bagaikan menguap begitu saja usai penuturan dari Jesselyn menyapa indera pendengarannya. Rasanya seperti mimpi, wanita itu sungguh tidak mempercayai ucapan semua orang.
“Kau mau ke mana?” tanya Marchello memegang lengan mantan kekasihnya.
“Aku harus masuk ke dalam dan bertanya langsung kepada ayahku,” sahut Angela.
Marchello menggelengkan kepala, dari sorot mata Marchello menegaskan bahwa Angela tidak bisa masuk ke dalam rumah sebab polisi tengah menjalankan tugasnya. Petugas kepolisian tengah mengumpulkan barang bukti yang mereka anggap menguatkan tuduhan tindak kejahatan korporasi sesuai aduan dari pelapor.
“Ibuku ada di dalam, aku tidak bisa membiarkan ibuku sendirian!” ucap Angela frustasi.
“Tenangkan dirimu, pengacara kerajaan dalam perjalanan ke mari.”
Kalimat Marchello seperti penenang bagi Angela. Padahal keluarga Angela memiliki pengacara sendiri, tetapi saat Marchello menawarkan bantuannya wanita itu justru mengikuti saja apa langkah Marchello selama tidak memberatkan pihak keluarga Angela. Pegangan tangan Marchello juga masih di tempat semula.
Lelaki yang sampai sekarang menyimpan cinta tiga tahun lalu berdiri seperti tembok penopang tubuh Angela. Marchello hadir seperti kekuatan bagi Angela Joanna.