8. Mempercayaimu

1352 Kata
Usai pertimbangan panjang yang dilakukan oleh Angela dan ibunya, pada akhirnya wanita itupun menyetujui penawaran dari Marchello. Niat baik seseorang memanglah tidak sopan jika Angela Joanna dengan sengaja menolak kebaikan orang lain. Angela tahu benar bahwa perbuatan baik Marchello saat ini merupakan cara lelaki itu memberikan Angela pelajaran tentang semua kesalahan Angela di masa lalu. Walaupun begitu Angela masih berharap akan ada waktu dimana mereka berdua bisa duduk berdua sambari meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya. Kesalahpahaman yang membuat Marchello langsung menutup pintu akses komunikasi maupun pertemuan dengan Angela Joanna. Marchello seperti memblokade seluruh akses untuk berkomunikasi kembali bersama mantan kekasihnya. Namun malam ini Marchello sengaja menerima undangan malam penghargaan dari salah satu stasiun televisi nasional di Perancis. Marchello mempertimbangankan undangan tersebut sebab salah satu tamu undangan mereka adalah Angela Joanna, sekaligus wanita yang mendapatkan nominasi direktur wanita top pada penghargaan malam ini. Sayang sekali kebahagiaan Angela harus kandas setelah mendengar dan menyaksikan sendiri ayahnya menjadi tertuduh kejahatan korporasi. “Apakah kami tidak merepotkanmu, Nak Marchello?” tanya Ekafi. Angela, Marchello, dan Ekafi menaiki mobil kerajaan yang sengaja disediakan oleh pihak kerajaan untuk Marchello setiap kali keluarga Rebecca dari Indonesia berkunjung ke Perancis. Dan asisten pribadi beserta manager Angela menaiki kendaraan di belakang mereka dengan Fahlefi sebagai sopir yang mengantarkan mereka. Marchello jelas tidak merasa keberatan sekalipun. Dia dapat menginap dimanapun, bahkan dengan family card kingdom, Marchello bisa menginap di mana saja tanpa memikirkan tentang pembayarannya. Namun Marchello memang telah membuat janji kepada Rebecca untuk dia akan menghabiskan waktu di kingdom house. Sepanjang perjalanan, Angela menatap ke arah Marchello, lebih tepatnya Angela penasaran tentang apa pendapat Marchello mengenai permasalahan ayahnya. “Tentu saja tidak merepotkan, Aunty. Kita sudah seperti keluarga, bukan?” ucap Marchello tersenyum tipis. “Kamu benar-benar menunjukkan didikan Nayna, mommymu. Dia sangat pengasih dan ringan tangan dalam membantu orang lain,” puji Ekafi di bangku belakang. Saat ini Angela memang duduk di samping Marchello. Semula Angela berpikir dirinya ingin duduk di belakang saja untuk menemani ibunya yang tengah terguncang. Akan tetapi Marchello menyelanya, lelaki itu berkata jika Angela dan sang ibu duduk di belakang dan Marchello mengemudi di depan tanpa teman duduk di sampingnya, maka sama saja Angela menjadikan Marchello sebagai sopir pribadi wanita itu. Tidak ingin semakin memperpanjang perdebatan dengan Marchello, pada akhirnya Angela berkenan duduk di samping Marchello walaupun Angela merasa begitu canggung dan gugup untuk duduk berdampingan dengan Marchello. Kini Angela hanya mampu diam membisu sambari menghela napasnya panjang. “Mmm … apakah kami sungguh tidak merepotkanmu?” tanya Angela kembali memastikan. “Sudahlah jangan memikirkan apapun yang menyita pemikiran kalian. Kita fokus saja dengan kasus Uncle Do,” kata Marchello. “Kamu benar,” jawab Angela lesu. Seandainya tidak ada Marchello, sudah dipastikan Angela kehilangan kemampuannya berpikir logis dan rasional. Kewarasannya telah terusik saat melihat ayahnya digelandang begitu saja oleh petugas kepolisian, ditambah lagi dengan pemandangan menyayat hati dimana ibunya menangis terisak dijaga oleh petugas lainnya. Angela ingin bersikap anarkis dan menang sendiri, akan tetapi Marchello selalu saja meminta Angela bersikap tenang. Kini Marchello juga telah mengirimkan satu tim penasihat hukum dari pihak Kerajaan France, ditambah pula tim legal perusahaan keluarga Angela. Tim legal mereka tengah mengupayakan yang terbaik bagi ayah Angela. Sekarang Marchello mempunyai tugas baru, pemegang saham dua perusahaan besar tersebut tampak meyakinkan Angela bahwa semuanya akan baik-baik saja. Marchello meminta resepsionis apartemen membantu Angela dan ibunya membawa barang-barang kebutuhan mereka naik ke apartemen milik Marchello. Apartemen mewah di tengah kota, belum lagi type apartemen tinggi yang diambil oleh Marchello memang menunjukkan kelas sosial lelaki itu. Tentu saja harga satu unit apartemen di sana tidak akan sebanding dengan pemasukan dari seluruh penghasilan lelaki itu dalam per sekian detiknya. “Silahkan masuk, tidak usah merasa sungkan,” kata Marchello usai meminta kunci ganda untuk akses masuk ke dalam apartemennya. Angela dan ibunya berjalan di belakang Marchello mempersilahkan sang pemilik hunian apartemen tersebut untuk masuk terlebih dahulu. Angela menatap takjub nuansa dan tata letak estetik dari unit apartemen milik Marchello. Cat ruangan bernuansa abu muda dan biru elektrik berpadu menjadi kesatuan menakjubkan di manik mata Angela Joanna. Tanpa sadar Angela tak memperhatikan langkah kakinya hingga menabrak punggung tubuh Marchello. Wanita itu memandang Marchello dengan sungkan, dirinya merasa malu telah tertangkap basah tidak fokus. “Kalian bisa tinggal di sini sampai semua urusan selesai,” ucap Marchello. “Padahal kami bisa menginap saja di hotelnya, tidak perlu menginap di apartemenmu,” kata Angela kembali menunjukkan reaksi kesungkanannya. “Tidak apa, lagipula apartemen ini memang tidak pernah terpakai. Biar rumah ini dikunjungi pemiliknya pula,” sambung Marchello penuh teka-teki. Marchello pernah memimpikan hidup bersama Angela di dalam apartemen tersebut. Marchello sampai rela membeli hunian apartemen mewah demi memberikan privasi kepada Angela setiap kali keduanya mungkin hendak bertemu satu sama lain. Tetapi rupanya hubungan Marchello dan Angela tidak berjalan lama sebab kehendak Angela dalam satu pihak saja. Marchello menunjukkan tiga kamar di apartemennya, dia menunjukkan kamar utama yang delapan puluh persen warnanya berdominasi putih gading. “Tidak, Mommy tidak akan tinggal di kamar utama. Biarkan Angela saja yang menempatinya,” ujar Ekafi. Marchello semula memang menawarkan agar Ekafi menempati kamar utama, selain terbilang paling luas di antara dua lainnya, kamar tersebut juga paling nyaman dan paling indah untuk ditempati. Sayangnya Ekafi tidak bisa menerima tawaran Marchello. Dia juga tak akan pernah dapat terlelap dengan tenang di kasur empuk sedangkan suaminya sendiri belum dia ketahui bagaimana keadaannya sekarang. “Satu kamar lainnya bisa kau gunakan untuk Kiara dan Jesselyn,” kata Marchello. Sekilas Marchello memang mendengar nama-nama orang dekat Angela sehingga lelaki itu bisa menyebutkannya. Angela semula merasa sangat sungkan apabila dirinya harus menghuni kamar utama. Selain merasa tidak sopan, Angela juga tak mau dianggap tidak tahu diri oleh Marchello. Sudah pernah menyakiti lelaki itu, malah bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Walau begitu Marchello bersikukuh meminta agar Angela menempati saja kamar utama daripada tidur satu tempat tidur dengan sang ibu. Sempat menolak, tetapi keputusan Marchello tak dapat Angela tolak. “Aku bisa tidur satu kamar dengan ibuku,” ucap Angela. “Berhenti berdebar untuk hal kecil,” jawab Marchello penuh peringatan. Ekafi yang semula merasa sedih, kini menyunggingkan senyuman simpulnya melihat kedekatan di antara Angela dan Marchello. Ibunda Angela memang tidak mengetahui hubungan asmara di antara putrinya dengan Marchello. Seandainya saja para orang tua mengetahuinya, maka keduanya dapat segera dinikahkan secepatnya. Sayangnya Marchello dan Angella saat itu telah sepakat untuk menyimpan rapat hubungan asmara di antara mereka berdua, selain Rebecca tentu tidak ada yang tahu lagi. Mereka menjalin komitmen di belakang keluarga besar keduanya. Hingga hubungan kandas sekalipun semua orang tak ada yang mengetahui hal tersebut. “Kalau begitu saya harus ke kantor kepolisian untuk melihat proses secara langsung,” pamit Marchello dengan Ekafi. Angela meminta Kiara dan Jesselyn membawa Ekafi beristirahat di kamar. Sedangkan Angela langsung menyusul Marchello ke pintu. “El,” panggil Angela dengan panggilan dekatnya. Marchello menghentikan langkah kakinya begitu panggilan kesayangan semua orang kepadanya diucapkan oleh Angela. Sudah lama sekali Angela tidak secara lugas memanggilnya dengan panggilan tersebut. Detak jantung Marchello berdegup begitu kencang. “Terimakasih sudah membiarkan kami tinggal di sini sementara waktu,” kata Angela memandang Marchello. “Sama-sama,” jawab Marchello singkat. Lelaki itu menyerahkan kunci apartemen kepada Angela. “Kamu bisa melakukan apa saja di sini, anggap saja rumahmu sendiri,” seloroh Marchello. Ya, Marchello memang mendedikasikan apartemen mewah tersebut untuk Angela. Sayang seribu sayang Marchello tak mampu mengungkapkannya kepada Angela. Hubungan mereka begitu runyam dan sangat jauh untuk keduanya berbincang nyaman seperti dahulu lagi. Angela menerima kunci tersebut dengan senyuman mengukir di wajahnya. Angela tahu dia dapat mengandalkan Marchello dalam segala hal. Lelaki itu pasti mengusahakan semampu yang dia bisa untuk melindungi Angela beserta keluarganya. “Aku titipkan ayahku kepadamu, El,” harap Angela. “Aku akan mengupayakannya,” jawab Marchello. Tanpa menunggu jawaban dari Angela, Marchello berjalan keluar dari apartemen diikuti oleh Fahlefi di belakangnya. Kedua lelaki tersebut saling bungkam seribu bahasa hingga sampai di lift yang akan membawa keduanya menuju lantai dasar. Marchello secara tidak sadar meletakkan tangannya di d**a, Marchello ingin merasakan degupan jantungnya yang terasa sangat mengganggunya saat ini. Kebersamaannya bersama Angela beberapa saat lalu sungguh menguji fungsi jantung Marchello dan juga akal sehatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN