P R O L O G
SUDAH TERBIT!!!
Kalian bisa beli Novel My Bride di i********: @beemedia47 atau s****e beemediashope.Di buku akan ada 3 extrapart dan kalian akan lebih puas karena 416 halaman.
Luv----Debs
***
Tahun ini adalah tahun yang sangat menegangkan bagi Kanaya. Hamil di usia muda, diasingkan, dan melahirkan tanpa pendamping.
Setelah berhubungan badan setahun lalu dengan pria yang ia kenal, beberapa bulan setelahnya tumbuh janin di rahimnya. Janin yang tak ia inginkan. Karena, bagaimanapun ayah dari calon anaknya adalah pria yang akan menikah dengan sahabatnya sebentar lagi.
Laki-laki, jenis kelamin janin di dalam kandungannya. Saat ini usia kehamilan Kanaya menginjak 33 minggu. Beberapa minggu menuju persalinan.
Ditemani seorang pria dengan setelan jas berwarna biru tua, Kanaya memeriksa kondisi janin yang sedang ia kandung. Pria itu menemani Kanaya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, terlebih saat melihat janin itu dari layar monitor.
Mendengar detak jantung dan penuturan dokter kandungan membuat pria itu semakin senang. “Janinnya sehat.” Itulah kata-kata yang mereka dengar saat ini.
Dengan wajah berbinar dan air yang menggenang di pelupuk mata, Kanaya mengusap perutnya yang semakin membesar. Ia sudah tak sabar bertemu jagoan kecilnya. Jagoan yang akan menjaga dirinya, selain pria di sampingnya ini. Pria yang memberinya dukungan, tempat tinggal, dan perlindungan. Pria yang seharusnya tidak terlibat ke dalam masalahnya.
“Gas, maaf.” Dua kata itu yang keluar dari bibir manis Kanaya, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Setelah pemeriksaan itu, Bagas meminta dua arsip janin kepada dokter. Satu untuk mereka dan, “Satu untuk sahabatku,” kata Bagas sembari memasukkan foto itu ke dalam saku jas.
Kanaya semakin menundukkan kepala. Untuk apa pria itu menyimpan foto anakku? Seharusnya foto anak bersama istrinyalah yang ia simpan atau bahkan ia bingkai dan ia pajang di rumah mereka. Ungkapan itu yang ingin Kanaya keluarkan ketika Bagas mengatakan hal tadi. Namun, entah kenapa hanya mampu ia pendam.
Ia tak ingin pria itu mengetahui keadaan anaknya—anak mereka. Anak yang seharusnya tak pernah hadir di kehidupannya.
Sejak pria itu mengetahui Kanaya hamil, ia memang berniat bertanggung jawab dan menikahinya. Akan tetapi, semuanya tidak terjadi sampai saat ini, dan Kanaya mengerti kenapa pria itu tidak menikahinya.
***
Rumah Sakit Ibu dan Anak Sahaja
09 April 2011, 22.00
Hari ini adalah hari yang cukup menegangkan bagi Kanaya dan beberapa keluarga yang lain. Walaupun kedua orang tuanya mengusirnya saat tahu ia mengandung di luar nikah, namun mereka tetap menemaninya melahirkan. Karena, bagaimanapun orang tua tidak akan tega jika melihat anaknya melahirkan seorang diri. Dan hanya merekalah yang Kanaya punya saat ini, selain Bagas tentunya.
Selama di ruang bersalin Kanaya terus berdoa agar persalinannya lancar, ia ingin seperti wanita lain, melahirkan dengan ditemani suami.
Suami?
Jangankan suami, kekasih saja Kanaya tidak punya. Meski Bagas ingin menemani dan memberi dukungan moril saat ia berada di dalam ruang bersalin. Namun, lagi-lagi Kanaya melarangnya. Ia tak ingin dianggap lemah oleh siapa pun, termasuk Bagas. Kanaya tahu Bagas melakukan itu karena perintah dari sahabatnya, pria yang diam-diam selalu memberikan apa pun yang Kanaya butuhkan.
Tepat pukul sebelas malam lewat tiga menit, Kanaya melahirkan seorang anak laki-laki dengan berat tiga kilogram dan panjang empat puluh sembilan sentimeter. Kanaya terharu melihat anaknya. Bibir dan hidungnya persis seperti pria itu, sementara wajah dan matanya persis seperti dirinya.
***
“Namanya siapa, Nay?” Bagas bertanya ketika mereka sudah berada di ruang perawatan. Pria itu baru saja tiba dan langsung menghampiri boks bayi yang berada di samping ranjang Kanaya.
“Haidar Zhafran Abrisam.” Kanaya tersenyum lembut, menatap Haidar dan mengelus pipinya.
Bagas ikut tersenyum, lalu menyapa bayi itu seraya berlutut di depan boks bayi. Diamatinya wajah Haidar cukup lama, kemudian ia menggelengkan kepala.
“Kenapa?” tanya Kanaya heran. Wanita itu ikut mengamati sang anak seperti yang di lakukan oleh Bagas.
Bagas menatap Kanaya seraya tersenyum dengan satu tangan mengusap pipi Haidar, “Mirip sekali dengan … Reynand.”
“Hu-um,” gumam Kanaya, mencoba tersenyum.
“Oh ya, ini ada titipan dari Rey.” Bagas memberikan satu set perlengkapan tidur juga beberapa baju bayi dengan warna kesukaan Kanaya. Wanita itu hanya mengatakan terima kasih lalu meminta Bagas untuk menaruhnya di meja.
“Mungkin besok atau lusa dia kema—”
“Tolong bilang padanya, tidak usah kemari atau menengok Haidar,” potong Kanaya. Ia sudah kembali merebahkan tubuhnya, enggan menatap Bagas.