S A T U

1248 Kata
    09 April 2015     Pemakaman Umum, Jakarta     9:26 AM     Kanaya sudah bersimpuh di sebuah gundukan tanah yang berada didepannya, menatap nisan bertuliskan nama seorang anak laki-laki.     Arya Dirgantara     Lahir : 09 April 2011     Wafat : 16 April 2011     "Arya, Bunda rindu." Lirihnya mengelus nisan itu. Ia membayangkan tangannya mengelus rambut Arya dengan sayang.     "Seandainya kamu masih hidup, pasti kamu sudah berusia 4 tahun … dan tampan seperti ayahmu." Kanaya tersenyum lirih.     Ia menangis dalam diam, sesungguhnya ia tak ingin menangis di depan makam Arya. Tetapi, sialnya mata ini tak bisa ia kendalikan, setiap ia berkunjung ke tempat peristirahatan Arya, ia selalu lemah dan menangis.     "Maafin, Bunda ngga bisa menjagamu, Nak. Maaf." Lirihnya dengan tangis yang semakin terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan nya, ia sudah lelah harus seperti ini. Ia selalu berharap anak nya masih hidup dan sekarang berusia 4 tahun.     Ia membayangkan wajah Arya pasti seperti ayahnya memilik wajah tampan, dan baik. Memikirkan itu membuat Kanaya semakin terisak di tengah hujan rintik yang membasahi pemakanan pagi ini.     Ia tidak berniat sedikit pun untuk pergi meninggalkan makam Arya, Kanaya mendongakkan wajahnya ke atas merasakan tetesan hujan menerpa wajahnya. Matanya terpejam membayangkan ia berada di bawah guyuran hujan bersama Arya, menari-nari.     Lima belas menit ia melakukan itu sampai sebuah benda menyadarkan Kanaya bahwa hujan sudah tidak menerpa wajahnya kembali. Namun, Kanaya masih bisa mendengar suara rintik hujan yang berada di sekitarnya.     Kanaya membuka mata dan mendapatkan seseorang tengah memayungi dirinya. Dengan dahi mengerut Kanaya menatap seseorang yang cukup ia kenal.     Bagas Pramoedya, pria yang selama ini telah menampung dan membantunya hidup selama  lima tahun terakhir. "Tidak baik hujan-hujanan." Ucap Bagas mensejajarkan tubuh mereka.     "Aku merindukannya." Ucap Kanaya menatap gundukan tanah didepannya. Walaupun ia baru menggendong dan menyusui selama seminggu penuh namun itu sudah membuat Kanaya menyayangi Arya.     Ia masih ingat perjuangan dirinya melahirkan Arya tanpa seseorang yang menemaninya. Masih terekam jelas di benaknya ia merasakan sakit di sekujur tubuh saat melahirkan. Namun rasa sakit itu seketika menghilang ketika mendengar suara tangis seorang bayi.     Sejak saat itu ia berjanji akan menjaga buah hatinya dengan sangat baik walaupun Arya terlahir tanpa ayah.     Mengingat bahwa pria itu memilih menuruti keinginan keluarganya membuat Kanaya kembali terisak, "kenapa hidupku seperti ini, Tuhan." Gumamnya dalam hati.     Kalau bisa memilih, ia akan memilih menggantikan Arya yang berada di dalam sana. Lebih baik ia yang mati, toh dengan ia mati pun tak ada seseorang yang akan merindukan dirinya.     Kedua orang tuanya sudah meninggal ketika Kanaya menginjak masa kuliah semester lima karena kecelakaan, yang membuat kedua orang tuanya meninggal seketika.     Malang sekali nasibnya, ditinggalkan kedua orang tua, pria itu dan anaknya. Hidup Kanaya sebatang kara, ia hanya hidup dari belas kasihan Bagas.     Tanpa mereka sadari seorang pria tengah menatap mereka dari jarak yang cukup jauh. Ia sangat ingin memeluk wanita itu dan membisikan kata 'maaf'. Namun, ia harusn mengurungkan niatnya kembali sampai waktu yang akan menjawab.     Ia tak ingin Kanaya semakin menjauh dari dirinya. Sudah cukup, selama beberapa tahun ini ia berpisah dari Kanaya. Dan tak ingin kejadian itu terulang kembali.     Bagas sudah tahu jika sahabatnya itu sedang memandangi dirinya dan Kanaya, ia pun menoleh sekilas sebelum mengetik sesuatu di ponselnya.     Ingin bertemu?     Pria itu menghembuskan napas membaca pesan yang ia terima, menatap sahabatnya itu sebelum mengetik balasan.     Belum saatnya.     Bagas membaca pesan itu lalu menghela napas kasar. Ia sudah ingin mengakhiri semua keterlibatan dirinya terhadap masalah ini, tak sanggup lagi melihat Kanaya yang terlihat sedih ketika memandang sebuah berkas yang ia yakini adalah sidik telapak kaki Arya.     "Mau pulang?" Kata Bagas menepuk pundak Kanaya pelan.     "Ak—"     "Aku tidak menerima penolakan." Tegasnya berdiri dan mengulurkan tangan kearah Kanaya.     "Bunda pulang dulu, nanti Bunda kesini lagi." Setelah mengatakan itu Kanaya pun meraih tangan Bagas dan pergi menuju sebuah mobil yang sudah terparkir disana.     Sesampainya di depan mobil, Kanaya menoleh untuk melihat seseorang yang cukup ia kenal. Bagas yang menyadari hal itu pun mengikuti arah pandang Kanaya namun mereka tidak melihat siapa pun disana.     "Kenapa?" Tanya Bagas mengangkat satu alisnya.     "Oh tidak, Aku merasa melihat seseorang." Jawabnya tersenyum.     "Ayo." Ajak Bagas memasuki kursi pengemudi.     "Dia selalu menyadari kehadiranmu." Batin Bagas menatap Kanaya yang sudah duduk di sampingnya. ▪️▪️▪️▪️     Kediaman Reynand     08:45 PM     Seorang pria dengan kemeja dilipat sampai siku dengan kancing teratas sudah terlepas, berjalan menaiki tangga tanpa melihat seorang anak kecil yang sedang bermain di ruang TV bersama pengasuh.     "Yah!" Panggil anak itu.     "Kevin? Kenapa belum tidur, Nak? Sudah jam sembilan malam." Pria itu terkejut ketika melihat anaknya masih bermain disana.     "Mau bobo bareng Ayah." Ucap anak itu tersenyum memamerkan deretan gigi nya yang putih.     "Mommy ngga mau bobo bareng aku." lanjut Kevin memeluk pria itu.     "Mommy bukannya tidak mau tidur bareng Kevin tapi Mommy pengen Kevin jadi anak mandiri." Ucap pria itu lembut. Mengusap rambut Kevin seraya tersenyum.     "Mas Reynand, sudah pulang?" tanya seorang wanita tersenyum menuruni tangga. Melangkah mendekat dan duduk di samping pria itu.     "Kevin sudah besar lho, jadi harus tidur sendiri." Lanjutnya tersenyum seraya membelai pipi gembil Kevin.     "Yah." Rengek Kevin memeluk erat Reynand.     "Mau Ayah bacakan dongeng sebelum tidur?" Reynand berkata sembari menggendong Kevin dan berjalan menuju kamar. Meninggalkan Meysa seorang diri.     Kevin pun hanya mengangguk pasrah dan memeluk tubuh Reynand erat dan menyandarkan kepala di bahu sang ayah.     Mengusap rambut Kevin sembari membacakan dogeng Kancil. "Ternyata benar dugaanku. Masih ada air di kolam ini"  Gumam si Kancil.     Setelah selesai bercerita Reynand pun menutup buku dongeng itu dan menatap Kevin yang sudah terlelap. Ia mengusap pipi Kevin sembari menyelimuti sampai d**a.     Reynand pun mengecup kening Kevin dan berlalu meninggalkan Kevin seorang diri. Sesampainya ia di kamar, Reynand menatap istrinya yang tengah terduduk di ranjang.     Wanita itu memandangnya dengan tatapan memuja. Ia sengaja menggigit bibir bawahnya ketika mata mereka bertatapan. Entah  kenapa, saat ini Meysa saat ingin merasakan dirinya berada di bawah kuasa Reynand. Apa mungkin karena efek ia sedang hamil.     Hamil?     "Mey." Ucap Reynand ketika wanita itu sudah berdiri di depannya. Memeluk lehernya sembari mengecup bibirnya.     "Mey. Please aku lelah." Ucap Reynand menahan hasratnya. Ia tak ingin menghacurkan hati istrinya. Reynand masih ingat ketika malam disaat mereka melakukannya, tanpa sengaja, ia menyebutkan nama kekasihnya dan itu membuat wanita ini sangat marah dan mendiamkannya selama seminggu.     Reynand bukan takut di diamkan selama seminggu oleh sang istri. Tetapi, ia sudah berjanji tak akan menyakiti hati istrinya. Karena, bagaimanapun Meysa adalah istri sah yang telah berjuang melahirkan Kevin.     Entah kenapa setiap Reynand ingin melakukannya yang terlintas di pikiran hanya Kanaya. Sedangkan,  ia hanya melakukan hal itu sekali, namun, efeknya masih terasa sampai saat ini.     "Tapi aku ingin." Ucap Meysa mengelus d**a Reynand.     "Mey, ku mohon." Tolaknya halus.     "Ok. But- one kiss, please." Pintanya.     Akhirnya mereka pun mengeluarkan hasrat yang harus terpendam dengan cara berciuman. Ya, hanya satu ciuman panas yang akan mereka lewati malam ini.     "Maaf kan aku, aku tak ingin menyakiti mu, Mey. Untuk kesekian kali nya." Gumam Reynand membasuh wajahnya. Saat ini Reynand berada di dalam kamar mandi dan berniat membersihkan diri.     "Entah kenapa aku selalu kecanduan atas dirimu, Nay." Ucapnya lirih.     Disisi lain, Meysa mendesah pasrah karena tak bisa menuntaskan hasratnya malam ini. Ia tahu, Reynand tidak mau melakukan hal itu karena tak ingin menyebutkan nama kekasihnya saat mereka bercinta.     Karena memang, Meysa merasa sakit saat Reynand menyebut nama wanita lain saat mereka melakukannya. Dan ini sudah kesekian kalinya Reynand melakukan itu, walaupun pria itu dipengaruhi alkohol.     "Aku tahu, kamu masih mencintainya. Dan aku sudah jahat memisahkan kalian. Aku yakin kamu pasti akan semakin membenciku, jika tahu sebuah rahasia yang selama ini kami tutup-tutupi." Ucapnya terisak.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN