D U A

1444 Kata
    Malam ini Meysa berniat pergi menginap di apartemen salah satu sahabatnya. Ia ingin menuntaskan masalah ini secepatnya. Karena selama empat tahun terakhir, Meysa selalu di liputi rasa bersalah terhadap mereka.     Bukan hanya satu kesalahan yang sudah ia buat tapi dua kesalahan sekaligus, dan itu semakin membuatnya terbebani.        Meysa berjalan menghampiri lemari dan mengambil beberapa baju yang akan ia gunakan ketika menginap nanti.     Dengan dress selutut dan koper kecil dilengannya, Meysa sudah bersiap pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika suara pintu kamar mandi terbuka.     Ia melihat Reynand keluar hanya menggunakan handuk yang menggantung rendah di pinggangnya.     Reynand yang terkejut melihat Meysa sudah rapi dengan membawa satu tas besar pun hanya menatap Meysa dengan tangan didagunya. Menatap pakaian yang ia gunakan dan koper bergantian.     "Kau ingin kemana?" Tanyanya.     "A— aku. Aku ingin menginap di apartemen Kim. " Ucapnya terbata.        Meysa menelan salivanya dengan susah payah karena melihat suaminya yang terlihat sangat menggoda setelah mandi.     "Sial! Aku sangat menginginkannya." Batin Meysa kesal.     Namun, ia tahu Reynand pasti akan menolaknya. Walaupun mereka melakukannya pasti Reynand akan menyebut nama wanita lain dan itu membuat Meysa semakin merasa bersalah.     Meysa pun berdeham seraya menundukan kepala nya, jari lentiknya sudah gatal ingin menyentuh perut suami nya yang sangat keras.     "Aku pergi dulu." Ucap Meysa tanpa menatap tubuh Reynand.     "Sekarang sudah sangat malam, sebaiknya aku mengantarmu."     Reynand bergegas meraih kaos lengan pendek dan celana selutut. Ia berniat mengantar Meysa ke apartemen Kimberly.     Reynand bukannya tidak melarang sang istri menginap. Namun, ia tahu bahwa Meysa tidak suka hidup nya di atur, walaupun itu oleh suaminya.     Meysa pun bergumam lalu berjalan menuruni tangga dan menunggu suaminya di bawah. Ia sudah tidak tahan melihat Reynand yang semakin hari semakin seksi di matanya.     Sesampainya Meysa di apartemen Kimberly ia langsung menerjang tubuh wanita itu yang sedang terduduk di sofa dengan satu stoples cookies ditangannya.     "Mey!" pekik Kimberly terkejut.     “Hei, kenapa?” Tanya Kimberly memastikan. Ia bisa merasakan tubuh Meysa yang gemetar dan air mata yang sudah membasahi gaun tidurnya.     "Ak-aku, Aku sudah tidak—" ucap Meysa semakin terisak.     Saat ini yang Meysa butuhkan adalah menangis dan memikirkan bagaimana caranya ia menebus semua kesalahan dimasa lalu.     "Ngga apa-apa, menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik. Setelah itu kau harus menceritakan semua," ujar Kimbely mengusap punggung dan rambut Meysa.     Kimberly tidak tahu pasti apa yang membuat sahabatnya ini terlihat semakin menyedihkan. Dan itu membuat dirinya berspekulasi bahwa kehidupan rumah tangganya sedang tidak baik.     Setelah setengah jam menangis, akhirnya Meysa pun mulai melepas pelukan dan menyandarkan tubuh di kepala sofa.     Dengan sisa air mata di wajah, ia pun meraih minum yang berada di meja dan meminumnya dengan sekali tegukan.     "Sudah siap bercerita?" Tanya Kimberly memastikan.     Ia tak ingin memaksa sahabatnya itu jika tidak siap. Ia hanya ingin Meysa-lah yang memulai bercerita tanpa paksaan. Toh, suatu saat nanti pasti Meysa akan bercerita jika sudah siap. Ia yakin itu.     Meysa pun mulai menceritakan semua kejadian-kejadian dimasa lalu yang membuatnya merasa semakin terbebani sampai saat ini.     Ia menceritakan semuanya tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan. Dan ia pun mulai menceritakan penyakit yang selama ini diderita. Penyakit yang selalu menghantuinya.     "Ya, Tuhan!" Kimberly menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia terkejut karena mendengar semua penjelasan Meysa. Ia tak menyangka bahwa Meysa akan melakukan hal semacam itu.     "Kau tahu, perbuatan ini bisa membuatmu masuk penjara." Ucap Kim kesal.     Ia tak habis pikir kenapa Meysa bisa melakukan hal ini. Ia yakin pasti ada seseorang yang membuatnya seperti ini. Karena yang Kimberly ketahui Meysa-nya tak akan melakukan hal b***t semacam itu.     "Siapa yang berada di balik semua ini?" Tanya Kimberly memicingkan matanya.     "Aku... Aku." Ucap Meysa terbata. Ia sudah berjanji tidak akan membocorkan siapa dalang dari semua ini. Karena bagaimana pun orang itu adalah orang yang membuat dirinya bisa mengandung.     "Mey! Tatap mataku. Siapa orang itu Mey, siapa?! Kau percaya padaku kan?" Ucap Kim mencengkram kedua pundak Meysa dengan erat.     "Maaf." Kim mendesah kasar karena hanya kata 'maaf' yang keluar dari bibir Meysa.     "So. Apa yang akan kamu lakukan? Memberitahu mereka bahwa kamu terlibat dalam masalah itu? Atau tetap berpura-pura tak tahu?"     Meysa pun hanya mendesah pelan, ia menatap wajah Kimbeely yang sedang memicingkan matanya. Meysa tahu wanita ini adalah sahabat terbaiknya selain Kanaya. "Sepertinya aku akan mempertemukan mereka terlebih dahulu dan mendekatkannya." Ucap Meysa     "Dengan cara?" Ucap Kim menaikan satu alisnya.     Meysa pun menceritakan semua yang akan ia lakukan dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ia yakin ini adalah cara paling aman untuk membuat mereka bersatu.     "Bagaimana menurutmu?" Tanya Meysa meminta pendapat.     "Apakah akan berhasil? Menurutku dia akan menolak."     "Kita pakai opsi kedua. Kita minta bantuan sahabatnya " ucap Meysa semangat.     "Bagaimana kalau dia menanyakan, mengapa kau melakukan ini? Dan ia pasti akan bercerita pada suamimu." Ujar Kimberly dengan raut wajah tak suka.     Kimberly tahu bahwa pria itu adalah salah satu orang kepercayaan suami dari sahabatnya ini. Jadi bagaimanapun pasti ia akan bercerita.     "Bagaimana kalau kita—"     Suara bel membuat ucapan Meysa terputus. Menatap ngeri kearah pintu.     "Kim siapa yang datang malam-malam begini?" Tanya Meysa takut.     Jam menunjukan pukul sebelas malam. Dan jam segini seharusnya seluruh penghuni apartemen sudah terlelap dan mungkin sudah berkelana ke alam mimpi.     "Mungkin suami mu." Kata Kimberly melangkah menuju pintu dan berniat membukanya.     "Ngga mungkin, buat apa dia kemari. Jam segini biasanya dia sudah tertidur dan tidak akan terbangun sampai pagi." Ucap Meysa mengikuti Kimberly.     Sesampainya di depan pintu mereka pun menghembuskan nafas pelan sebelum membukanya, tak lupa Meysa sudah menggenggam sebuah tongkat baseball di tangan nya. Sudah bersiap memukuli tamu tersebut jika dirasa perlu.     "Hai, cantik?" Sapa tamu tersebut.     Pria dengan setelan santai pun masuk tanpa mereka persilahkan. Dan langsung mendudukan dirinya di sofa yang tadi mereka duduki.     "Mau apa kau kemari malam-malam? Bersama suami ku?" Tanya Meysa mendudukan dirinya di depan pria itu.     "Tidak. Aku hanya ingin berkunjung. Tadi, ngga sengaja melihatmu berada di lobi apartemen." Ucap tamu tersebut.     "Aku kesini ingin meminta tolong padamu." Lanjutnya tersenyum.     "Apa?" Saat ini baik Kimberly maupun Meysa merasa khawatir terhadap pria yang sedang berada di depan nya ini. ▪️▪️▪️     Setelah mengantar Meysa ke apartemen Kimberly, Reynand pun memilih menuju kafe dua puluh empat jam yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Ia ingin menikmati kopi yang terkenal di kafe itu.     Sebelum ia keluar dari mobil, Reynand meraih topi yang biasa ia taruh di dalam dashboard mobilnya. Topi yang selalu setia menemaninya sejak beberapa tahun lalu. Topi pemberian kekasihnya. Mungkin.     Setelah selesai memakai topi itu Reynand pun keluar dan berjalan menuju meja yang tak jauh dari meja kasir. Ia sengaja memilih meja itu karena itu akan memudahkannya membayar jika terjadi sesuatu.     Walaupun jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Namun, suasana di kafe ini masih saja penuh. Sudah terlihat dari kendaraan yang memenuhi area parkir.     Reynand pun mengangkat tangan kanan, berniat memanggil pelayan dan memesan coklat panas untuk menghangatkan tubuhnya. Namun, tangannya terhenti ketika melihat seorang wanita dengan kaos berlengan pendek berwarna hitam dan celana jin berwarna senada tengah melewatinya. Ditangan wanita itu terdapat nampan yang berisi beberapa minuman.     Reynand pun menatap wanita itu tanpa berniat mengalihkan pandangan. Walaupun seorang pelayan pria sudah berdiri di samping dan siap mencatat pesanan yang akan ia pesan.     Reynand pun langsung menyebutkan pesanan tanpa melihat kearah pelayan itu. Matanya masih menatap pergerakan wanita disana. Pelayan itu pun undur diri dan melangkahkan kaki menuju meja lain. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika Reynand bersuara, "aku ingin wanita itu yang mengantar minumanku." Tunjuk Reynand kearah wanita yang sejak tadi sibuk mengantar pesanan.     "Baik, Mas. Saya permisi." Ucap pelayan itu undur diri.     "Aku akan mendapatkanmu kembali, Honey." Gumam Reynand pelan.     Setelah menunggu selama lima belas menit, pelayan wanita yang tadi ia tunjuk pun datang menghampiri dan menaruh secangkir coklat panas di atas meja. "Silahkan dinikmati, Mas." Ucap pelayan itu tersenyum.     Setelah mengatakan itu pelayan wanita tersebut berniat pergi untuk mentuntaskan pekerjaan, karena sebentar lagi seseorang akan menjemputnya, namun pergerakannya terhenti ketika sebuah tangan menarik tangannya dengan lembut.     Wanita itu pun menatap tangan dengan dahi mengerut dan mencoba melepasnya dengan lembut karena ia sudah sering diperlakukan seperti ini.     "Mas maaf, saya sedang banyak pekerjaan." Ucapnya mencoba melepas kembali cekalan itu.     "Honey."     Tubuh wanita itu pun menegang dan semakin melepas paksa pegangan itu. Masih ia ingat jelas suara dan panggilan itu untuknya. Sesungguhnya ia pun sangat merindukan suara it. Tetapi, ia sangat takut.     "Jauhkan Reynand jika kau masih ingin hidup! Dan jangan pernah mencoba mencarinya. Saya akan menanggung semua kebutuhanmu dan anakmu.!"     "R— Reynand?"     "Honey. I miss you." Ucap Reynand semakin mengeratkan pegangannya.     "Rey, please, aku–aku." Ucap wanita itu dan menghempaskan tangan Reynand di tangan nya dengan keras.     Wanita itu pun berlari meninggalkan Reynand dan melewati seluruh pengunjung kafe tanpa menghiraukan teriakan-teriakan dari beberapa pelanggan, karena tubuhnya menabrak beberapa tubuh pengunjung.     "Kanaya kamu kenapa?!" Teriak salah satu pelayan sekaligus sahabat Kanaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN