9- Awal Pertemuan Dengan Weylan

1715 Kata
"Ini menggelikan. Ahahaha, Hentikan Cipcip!” Calla mencoba menghindar kala seekor tupai bermain di pangkuannya. Salah satu keistimewaan yang Calla miliki adalah ia bisa berbicara dan berkomunikasi dengan beberapa binatang, kemampuan itu ia dapatkan sejak dulu, semasa usia Calla lima tahun, seorang penyihir hutan memberinya keistimewaan karena telah menyelamatkan anak dari penyihir hutan itu yang tertangkap oleh warga desa. Hubungan Antara penyihir hutan dan warga desa sekitar memang sangat tidak baik sejak dulu, namun saat ini hubungan mereka sudah jauh lebih baik, yang jadi masalahnya saat ini adalah hubungan antara penyihir hutan dan Kerajaan yang sedang dalam masa panas-panasnya. “Aku harus menyapu di bagian sana, lihatlah itu, daun mawarnya rontok banyak sekali… Cipcip, Irin, Rov kalian ikut aku ya, ayo..” Calla membawa tupai, dan belalang daun hijau seukuran telapak tangan dan tentunya seekor burung merpati pink. Calla memulai kembali pekerjaannya, matahari telah mulai naik, siang ini begitu terik dan sangat panas, Calla bahkan sampai berkeringat banyak sekali, tetapi walaupun begitu, Calla tetap mengeluarkan aroma yang harum. Itu adalah aroma alami yang Calla miliki, seperti perpaduan Antara mawar dan lembut dari madu. Di saat Calla sedang menjalankan pekerjaannya itu ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang mengamati Calla dengan senyuman yang begitu tampan. Dia Weylan. Weylan mulai memberanikan kakinya untuk melangkah mendekati Calla yang sama sekali masih belum menyadari keberadaan Weylan yang kini bahkan sudah di belakangnya. “Calla…” panggil Weylan dari balik tubuh Calla. Calla menoleh saat mendengar namanya dipanggil. “Ha? Eh, Iy-a..” Calla sedikit kaget karena ini adalah kali pertamanya ada yang memanggil namanya tanpa amarah dan rasa jijik. Weylan tersenyum kecil saat mendapati Calla yang terlihat begitu menggemaskan dengan ekspresi kagetnya, “apa aku membuatmu terkejut?” Tanya Weylan. Calla menggeleng dan tersenyum kikuk, “tidak tuan, aku tidak kaget hanya…” Calla menjeda kalimatnya, ia bingung harus mengatakan dan bereaksi seperti apa. Weylan sebenarnya tak sengaja melihat Calla berada di kebun bunga ini, tadinya ia kembali ke Kerajaan untuk mempersiapkan kedatangan Putri Amabel, karena Draco yang saat ini sedang sibuk mengurusi beragam hal terkait kerajaan dan pemerintahan. Weylan tak menyangka akan dapat melihat, bertemu dan juga berbincang dengan Calla, si selir baru milik Draco. Weylan memang tahu dari kabar yang beredar jika Draco membeli seorang selir baru dengan harga yang cukup fantastis. “Jangan takut padaku…” ucap Weylan dengan senyuman yang terlihat begitu indah di mata Calla. Ini adalah kali pertama dalam beberapa tahun terakhir di hidup Calla, saat ada seseorang yang berbicara dengan sangat tulus kepadanya seperti saat ini. Weylan seolah dapat membaca raut wajah Calla yang terkesan takut kepadanya, Weylan tahu Draco itu memang sangat mengerikan jika sudah memasang wajah datarnya dan suara seraknya, namun bukan berarti semua orang yang ada di kerajaan ini memiliki sikap dan pembawaan yang sama seperti Draco, mungkin karena itulah Calla awalnya merasa takut atas kehadiran Weylan. Weylan maju dua langkah dan mengeluarkan tangannya kepada Calla, “namaku Weylan, aku adalah orang kepercayaan Raja Draco…” ucap Weylan memperkenalkan dirinya dengan sangat lugas. Calla memperhatikan tangan Weylan lalu kemudian dia melihat pada tangannya sendiri, “tanganku kotor tuan,” ucap Calla yang saat itu mencoba sebisa mungkin membersihkan tangannya yang terkena tanah dan pupuk dengan gaun lusuhnya, namun sebelum itu Weylan telah terlebih dahulu mengambil tangan Calla untuk ia jabat. “Itu hanya tanah, bukan racun yang akan membuat kulitku gatal-gatal…” canda Weylan. Calla sedikit tersenyum dan mengangguk, “Tanah ada yang beracun, apa Tuan Wey tahu jika tanah yang memiliki tingkat keasamaan rendah, dan juga mengeluarkan bau yang busuk itu beracun. Tuan bisa sakit jika bersentuhan dengan tanah semacam itu,” ucap Calla menjelaskan tentang sedikit pengetahuan yang ia tahu. Sebenarnya Calla bukanlah ahli botanical, tetapi Calla sangat menyukai pengetahuan dan ilmu-ilmu tentang tanaman, Calla seolah memiliki perasaan terikat dengan alam. “Wah, kau tahu banyak ya ternyata…” ucap Weylan sedikit takjub, Weylan kemudian memutuskan untuk duduk di bawah pohon maple teat didekat tempat Calla berdiri. “Ini semakin panas, apa kau tak lelah?” Tanya Weylan. Calla hanya menggeleng dan terus melanjutkan pekerjaanya. “Aku tak pernah melihat seorang selir bekerja seperti ini, bagaimana kau bekerja seperti ini Calla? Apa ada yang sengaja memerintah dirimu?” Tanya Weylan penasaran, orang kepercayaan Draco itu mengeluarkan apel dari dalam tasnya dan mulai memakannya sembari menunggu Calla menjawab pertanyaannya. “Nona Dhara yang memerintahkan, aku hanya menjalankannya.” Ucap Calla apa adanya. “Dhara?” Tanya Weylan, Calla mengangguk dan melanjutkan kegiatannya memungut dedaunan yang rontok. “Seharusnya seorang selir tak perlu bekerja seperti ini, jika Raja tahu pasti dia akan marah,” terang Weylan, pria itu berdiri dan menghampiri Calla, dia membawa jemari Calla yang kala itu sibuk memungut daun-daun mawar, Weylan menghentikan Calla. “Tuan Lan,” Calla memandang kepada tangan Weylan yang memegang tangannya. “Weylan, kau bisa memanggilku hanya dengan Weylan tanpa Tuan.” Ucap Weylan memberi pengertian kepada Calla. “Tapi-“ “Kita sama, status kita sama, aku bukan Raja seperti Tuan Draco, jadi panggil aku Lan, oke Calla?” tanya Weylan dengan senyuman apiknya, Calla yang melihat itu tersenyum dan mengangguk, “baiklah Lan,” ucap Calla dengan senyuman kecil. Setidaknya Weylan tak mengerikan seperti orang-orang yang Calla temui di Kerajaan beberapa hari terakhir ini. Di saat Weylan dan Calla tengah asik berbincang sembari memungut dedaunan mawar sebuah suara serak yang dominan terdengar dan menghentikan semua obrolan manis Antara Calla dan Weylan. “Siapa yang mengizinkanmu keluar dari paviliun, Calla?!” Draco yang dating dengan raut wajah dipenuhi emosi dengan spontan langsung menyeret lengan Calla, sehingga membuat wanita cantik itu sedikit merasakan sakit di lengannya karena begitu kuatnya cengkraman Draco. “Tuan…” cicit Calla ketakutan. Weylan yang masih berada di sana mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi, dia tak ingin jika Calla terkena amarah dari Draco. “Raja, tadi Nona Calla sedang membersihkan taman ini seorang diri, aku berniat untuk membantunya dan kami hanya sedikit berbincang.” Ucap Weylan dengan tanpa menghilangkan rasa sopan santunnya kepada Draco. “Weylan, apa yang aku katakan tentang tugasmu siang tadi?!” kini justru Draco yang bertanya kepada Weylan. “Saya harus mempersiapkan kedatangan Putri Amabel.” Ucap Weylan dengan menundukkan kepalanya, jujur ia bahkan melupakan tujuan dan tugas utamanya hari ini. Mungkin sudah sepantasnya Draco marah akibat hal itu. “Dan apa yang kau lakukan? Dia! Jangan lagi kau temui Calla, selir rendahan itu tak pantas untukmu Wey, kau orang kepercayaanku, kau berhak mendapatkan yang terbaik, aku memiliki banyak selir cantik dan terhormat untukmu… Kau bisa bebas memilih mana yang kau suka, asalkan bukan dia!” tunjuk Draco ke arah Calla yang hanya bisa terdiam dan mendengarkan semua omongan pahit yang Draco tujukan padanya. “Raja, kau sungguh baik, tapi aku tak mau… Untuk saat ini aku hanya akan fokus menjalankan tugasku untukmu dan untuk Kerajaan Hellas.” Ucap Weylan. “Bagus, jika saja kau mau kau boleh membawa selir dengan kualitas unggul yang kumiliki, Dhara.” Ucap Draco yang ternyata di dengarkan oleh Jayden yang menguping. “Sialan! Apa yang kakak maksud? Apa kakak akan menyerahkan Dharaku kepada si pengawal itu hah?!” batin Jayden murka. Weylan menggeleng, dia lantas menoleh sekilas kepada Calla, lalu membungkuk hormat kepada Draco, “Baiklah Raja, saya akan segera mengurus kedatangan Putri Amabel, Saya pamit undur diri…” ucap Weylan dengan sopan dan melangkahkan kakinya keluar dari kebun bunga itu. Semilir angin di sore yang begitu memenangkan ini menjadi saksi utama betapa tajamnya saat Draco memandang Calla. Seolah Calla adalah mangsanya yang paling utama, Draco mendekatkan jaraknya dengan Calla, memastikan jika taka da lagi ruang yang tersisa dan memisahkan mereka berdua, “Alisa, apa kau ingin bermain dengan orang kepercayaan sekarang? Apa kau akan merayunya?” Tanya Draco dengan meraih dagu Calla. Draco mengamati bibir Calla yang terlihat cukup kering, namun tak mengurangi rona delima alami di bibir itu. “Tuan aku Calla, namaku Calla!” ucap Calla yang mencoba menghindari tatapan tajam Draco. Draco kini beralih membingkai wajah Calla, mengamati wajah itu lagi dan lagi. “Apa kau yakin kau bukan Alisa? Kau pikir kau mampu membohongiku? Sungguh Calla?” Draco menekan pipi Calla, “Akhs, Tuan ini menyakitkan!” ucap Calla, Draco tak main-main, walau bagi Draco cekalannya di pipi Calla tidaklah kuat, namun yang Calla rasakan sebaliknya, ia merasa jika tulang rahangnya bahkan terasa akan patah sebentar lagi. “Alisa… Kutegaskan sekali lagi padamu, aku berjanji akan membuatmu menderita! Aku tak akan membiarkan secercah kebahagiaan muncul dalam kehidupanmu yang sekarang ini!” ucap Draco yang secara langsung membuat Calla semakin bingung. Calla tentu ingat, Draco dan dirinya belumlah saling mengenal sebelum ini, keduanya hanya orang asing. Namun mengapa sikap dan perkataan Draco kepada Calla membuat Calla merasa jika dia dan Draco adalah dua orang yang saling mengenal? Mengapa Draco selalu memanggilnya Alisa saat mereka sedang berdua seperti ini?! Posisi mereka masih sama, Draco masih mempertahankan Calla dalam sisinya, hingga Rhea datang dan membuyarkan semua emosi Calla dan Draco. “Rajaku, kau sudah kembali ternyata…” Rhea mendekat dan menyentuh pundak Draco. “Ekhm, “ Draco segera melepaskan Calla dari cengkraman tangannya. “Aku dan para selir lain telah menunggumu, beberapa jam lagi Putri Amabel akan datang, sebaiknya kau segera bersiap Rajaku, aku sudah menyiapkan kolam air hangat untukmu mandi… Ayo…” ucap Rhea dengan sangat lembut. Rhea memang selir dengan tutur kata yang begitu lembut, namun hanya di hadapan Draco saja. Saat Draco sudah terlebih dahulu melangkahkan kakinya meninggalkan Calla dan Rhea, Calla mulai memperlihatkan sikap sikap aslinya. “Calla? Itu namamu?” tanya Rhea yang sedang mengamati Calla. Calla mengangguk dan mencoba tersenyum ramah kepada Rhea. “Benar Nona Rhea, nama saya Calla…” ucap Calla dengan senyuman. Rhea mengangguk. “jangan terlalu berharap, aku bukan orang baik seperti yang sedang kau pikirkan saat ini, Calla.” Ucap Rhea dan mulai pergi meninggalkan Calla yang lagi dan lagi dibuat nelangsa dengan nasibnya yang selalu bertemu dengan orang tanpa hati. “Ah, Calla… Kau tahu? Kehidupan di Kerajaan Hellas itu kejam, jadi bertahanlah. Ini gaunmu, upah kerjamu hari ini” ucap Rhea sambil melemparkan sebuah gaun berwarna biru tua kepada Calla. “Ya Tuhan, berapa waktu lagi yang harus aku lalui? Ini bahkan belum satu minggu…” sendu Calla. “Alisa, kau membuatku menjadi semakin tersiksa, siapa kau sebenarnya, Alisa?!” gumam Calla yang mulai menitihkan air matanya di langit yang mulai menggelap
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN