10- Percobaan Pertama

1563 Kata
"Apa yang kau lakukan?! Kau mengotori gaun indahku! Calla!" Shara berteriak marah kala Calla yang berjalan dengan terburu-buru menumpahkan dengan warna merah ke gaun jingga yang Dhara kenakan malam itu. Calla terdiam, ia meremas gaunnya sendiri. Jujur, Calla sedikit takut untuk berhadapan dengan Dhara, Dhara terlalu tempramental dan bermulut pedas. "Jawab! Apa kau tuli?! kau tak memiliki mulut hah?!" ucap Dhara, wanita itu bahkan kini telah menyentuh kedua pipi Calla dengan sangat tak sabar, menekannya sambil melotot marah. "Maaf Nona, sa-ya tidak sengaja..." lirih Cakka yang sedang menahan tangisannya. Walaupun Calla lemah, tapi ia tak ingin terlalu kelihatan lemah di mata orang-orang. Calla selalu dan sebisa mungkin menutupi air matanya. "Apa kau pikir dengan maafmu itu gaun cantikku akan kembali bersih?! Tidak!" ucap Dhara yang justru semakin marah. Wanita itu bahkan kini menarik rambut indah Calla hingga si pemilik rambut meringis kesakitan. "Akhs... Ampun, Nona Dhara.." rintih Calla. Ia tak takut rambut merah kecoklatannya yang indah itu rontok karena tarikan Dhara yang kuat. Ia hanya tak ingin semua masalah ini semakin panjang. Calla adalah tipikal orang yang sangat menyukai ketenangan. Ia tak menyukai konflik dan segala hal lain yang membuat suasana menjadi panas dan tak terkendali. "Akhs..." rintih Calla karena sedari lima menit yang lalu Dhara sama sekali belum melepaskan tarikannya pada rambut Calla. Hingga Draco yang saat itu baru pulang dengan emosi yang selalu tak pernah pergi dari wajahnya datang dan menghentikan aksi Dhara. "Dhara!" sentak Draco yang langsung melepaskan cekalan Dhara pada rambut Calla. Draco memandang Calla dan Dhara secara bergilir. Draco lelah atas segala aktivitas yang ia lakukan hari itu dan ia disuguhi oleh hal seperti tadi?! "Yang Mulia Raja.... Lihatlah selir baru itu mengotori gaun indahku. Lihat ini," Dhara mulai memeluk lengan Draco dan menunjukan noda bekas tumpahan minuman merah itu pada gaunnya. Draco menghela nafas dengan berat, dia mengamati Calla, Calla hanya menunduk. Walau begitu Draco dapat melihat sedikit jika wanita berambut indah itu sedang bergetar ketakutan. Calla sedang mencoba menahan dirinya untuk tidak ketakutan. "Kau benar Dhara." ucap Draco yang kemudian seraya tersenyum licik yang sialnya tampan. Draco melepaskan pegangan Dhara pada ke lengannya dan mulai berjalan mendekati Calla. Saat jarak antara Draco dan Calla hanyalah dua langkah, Draco mulai mengeluarkan suara seraknya yang sayang sekali sangat seksi. "Gaun itu mahal. Sutra yang kugunakan untuk membuat gaun itu didatangkan dari negeri luar..." ucap Draco dengan angkuh. Seperti seseorang yang sedang memamerkan kekayaanya. "Aku yakin, kau tak akan mampu membayarnya... Menggantikannya, ataupun memilikinya." Draco melirik kepada beberapa selir lain. Mata Draco berhenti kepada Rhea yang saat itu sedang mengamati semuanya dalam diam. Draco lantas memanggil Rhea untuk mendekat kepadanya. "Rhea! Kemarilah..." titah Draco. Rhea yang cepat tanggap langsung mendekati Draco. "Ada yang kau perlukan Rajaku?" tanya Rhea dengan suara lembutnya. Draco tersenyum licik ke arah Calla. Tangannya ia gunakan untuk menaikan dagu Calla, sehingga kini wanita cantik itu sepenuhnya melihat kearah Draco dan juga Rhea yang berada di sisinya. "Rhea, katakan betapa mahalnya gaun yang kau kenakan malam ini..." ucap Draco yang tangannya ia gunakan untuk menarik pinggang Rhea mendekat padanya. Rhea tersenyum paham. Ia tahu tentang apa yang sedang Draco coba lakukan. "Dia mencoba membuat Calla cemburu dengan kekayaan dan semua gaun mewah ini... Wah!" batin Rhea yang sangat paham dengan situasi dan kondisi "Gaun ini sangat mahal Rajaku... Kau membawanya dari saudagar kaya kala perayaan malam natal. Ini sangat mahal, kurasa lebih dari lima kantong emas." ucap Rhea sambil mengelus gaun yang ia gunakan lalu menatap seolah mengejek Calla. Calla yang sedari tadi memang sudah merasa terhina dengan hati sakitnya ia menatap pada Draco. Lalu tanpa di duga Calla justru bertekuk lutut dan menangis di hadapan Draco. Ia sudah lelah. Berada di Kerajaan Hellas memanglah hal yang begitu mengerikan, itulah yang Calla pahami. "Hiks... Maafkan aku... Raja. Aku memang mis-kin, aku memang tak berguna. Hiks..." tangis Calla yang seolah memiliki sihir, karena suasana di aula itu yang tadinya ramai riuh berubah menjadi sepi. Draco mengamati, ia tak menyangka jika Calla akan dengan mudah menangis dan bertekuk lutut seperti itu padanya. "Jika memang aku tak berguna, hidupku hanyalah beban dan..." Calla menjeda ucapannya, ia mendongak untuk melihat wajah Draco. Lalu dengan senyuman yang sangat cantik. Bahkan Draco terpana selama beberapa detik. "Izinkan aku untuk pergi saja... Raja Draco..." ucap Calla yang langsung menancapkan pecahan kaca pada urat nadi di tangan kirinya. Draco panik saat melihat cairan merah kental itu keluar dari nadi Calla. Sangat banyak hingga Draco dapat melihat Calla yang masih tersenyum lama kelamaan mulai kehilangan kesadaran. "Kau berkata ingin melihat senyumanku kan? Ini adalah senyumanku Raja, apa kau puas?!" tanya Calla dengan lirih sebelum kesadarannya benar-benar hilang. "Sialan! Panggil tabib!" teriak Draco yang kini justru ketakutan. Draco langsung menggendong tubuh ringan Calla. Mengamati bagaimana wajah cantik Calla tak sadarkan diri membawa sebuah perasaan aneh pada Draco. Draco tak rela, ia tak ingin mata indah itu tertutup seperti saat ini. "Yang Mulai Raja..." Dhara mendekat, saat ia akan menyentuh Draco, Drano menghentikannya dengan tegas. "Jangan sentuh aku!" tegas Draco dengan tatapan tajamnya. Draco mulai melangkahkan kakinya menuju paviliun miliknya dengan Calla yang berada dalam gendongan miliknya. semua selir dan pelayan serta pengawal yang ada di sana melihat takjub sekaligus bingung pada sikap Draco. Mereka tak pernah mengira jika Draco akan bersikap sebegitu pedulinya terhadap selir baru seperti Calla. Weylan yang kala itu baru datang dibuat bingung dengan suasana yang cukup mencengkram. ,"Ada apa ini? Penyambutan Putri Anabel satu jam lagi, mengapa kalian semua masih terdiam di sini?" tanya Weylan yang kini sudah berada di deoan Dhara dan Rhea. Dhara mengehembuskan nafasnya lelah dan pergi dari sana tanpa kata apapun. "Ada apa ini, Nona Rhea?" akhirnya Weylan bertanya Rhea yang masih berdiri di hadapannya. "Raja Draco dan si selir baru, Calla." ucap Rhea singkat dan kemudian wanita cantik itu juga memilih untuk pergi dari sana. Meninggalkan Weylan yang dilanda kebingungan. Weylan ingin mengunjungi paviliun dan melihat apa yang terjadi, apa Calla baik-baik saja? Weylan mulai risau, ia takut jika Calla tak baik-baik saja. "Aku akan mencari tahu apa yang terjadi." putus Weylan. Ia melangkahkan kakinya dengan terburu-buru ke paviliun. Weylan tak menyadari jika sedari tadi Jayden ternyata mengikutinya dan menunjukan ekspresi masam. "Dia bisa menjadi lalat penganggu! Aku akan memusnahkan dia!" gumam Jayden yang masih mengikuti Weylan. Weylan telah tiba di paviliun milik Draco. Ia tahu paviliun utama Raja adalah tempat paling dilarang untuk dimasuki, itulah mengapa ia akan menyelinap dari gerbang Utara yang minim penjagaan laku masuk dan melihat ada apa dengan Calla. Namun sebelum niatnya mampu untuk terealisasikan Jayden menepuk pundak Weylan dan tersenyum. "Lan!" panggil Jayden yang sungguh demi apapun membuat Weylan terkaget. "Pangeran Jayden?;" kaget Weylan. Jayden masih tersenyum kecil dengan melipat tangannya ia berkata, "apa yang kau lakukan di paviliun pribadi milik kakakku?" tanya Jayden. Keringat dingin mulai terlihat membasahi pahatan wajah tampan milik Weylan. "Aku hanya..." ucap Weylan gugup. Jayden mengangguk, "ya... Kau hanya?" tanya Jayden. "Aku khawatir dengan apa yang terjadi kepada Calla-" "Kau mengenal Calla?" tanya Jayden yang dengan cepat memotong perkataan Weylan. "Aku tidak, aku hanya..." Weylan bingung ingin mengatakan apa. "Ah... Kau menyukai dia... " ucap Jayden dengan mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti. "Tidak, aku tidak... Aku hanya khawatir padanya." ucap Weylan gelagapan. "Benarkah?!" tanya Jayden yang kini wajahnya bak seorang psikopat yang sedang menanti kesalahan dari mangsanya. *** "Jangan sentuh kulitnya!" ucap Draco dengan pemikiran yang entah datang dari mana. Saat ini Draco sudah berada di dalam kamar utama miliknya dengan Calla yang terbaring tak sadarkan diri dan seorang tabib lelaki bernama Betran. "Bagaimana aku bisa mengobati luka basah ditangannya Raja?" tanya Betran dengan binggung. Ia bukan penyihir hutan yang memiliki trik dan ilmu sihir mengobati tanpa menyentuh. "CK!" Draco berdecak. "Aku yang akan menyentuhnya. Kau berikan saja instruksi padaku!" ucap Draco dengan cepat. Draco mengambil tempat dengan duduk di samping Calla, ia menanti Betran untuk melakukan hal apa agar luka di tangan Calla dapat terobati. "Cepatlah!" ucap Draco karena Betran yang masih cengo dengan keadaan. "Woah Bet! Kau memiliki kesempatan untuk memerintah Raja!" batin Betran girang. Selanjutnya Betran mulai menyebutkan intruksinya agar luka yang ada di tangan Calla tak semakin mengeluarkan banyak darah. Draco dengan telaten dan sabar membalut pergelangan tangan Calla. Jujur saja, ia sedikit merasa takut saat melihat Calla yang terluka. "Raja, sepertinya Nona Calla kehilangan cukup banyak darah. Hal ini akan membuatnya sedikit lebih lemah dan tak bertenaga dalam seminggu ke depan." jelas Betran. Draco mengangguk paham. "Pergilah!" usir Draco kepada Betran. Untung saja Betran itu sabar dan pengertian. "Huh, sesaat lagi drama percintaan akan dimulai!" batin Betran dan pergi melangkahkan kakinya meninggalkan paviliun Raja. Kini tersisa Calla dan Draco. Draco masih terduduk di samping Calla dan mengamati wajah cantik itu. "Alisa... Aku akan membuatmu menderita... Aku akan..." ucap Draco dengan lirih. Apa ucapannya itu benar? Bahkan nada suara yang Draco keluarkan terdengar tak sungguh-sungguh. "Alisa... Sihir apa yang kau gunakan kali ini hmmm?!" Drcao mulai membelai pipi Calla. "Aku membenci dirimu! Kau tak bisa menyihir diriku untuk mencintaimu! Tidak akan... Alisa!" desis Draco yang kemudian pergi dari sana. Calla membuka matanya kala Draco sudah meninggalkan ruangan itu. "Alisa... Kau... Kau membuatku menderita! Aku tak paham dengan apa yang terjadi.Tuhan mengapa kau menyelamatkan nyawaku? Mengapa orang-orang kejam itu menyelamatkan aku? Apa mereka menyelamatkanku hanya untuk mereka lukai di kemudian hari?" Calla menitihkan air matanya. "Biarkan saja aku menghilang. Kau tahu... Kehidupan ini selalu menjadi yang paling berat untukku. Tuhan..." gumam Calla. "Tuhan tak akan menyukai keluhanmu, Calla..." sebuah suara datang mengejutkan Calla. "Weylan?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN