11- Weylan & Jalan Kebahagiaan Calla

1216 Kata
Calla melihat kearah jendela, Weylan nampak berdiri disana dengan raut wajah yang sedih. Weylan kemudian berjalan perlahan mendekati Calla yang berbaring di ranjang. "Apa kau sengaja?" tanya Weylan seraya berlutut di samping ranjang Calla. Calla mengangguk dan tersenyum kecil. Senyuman yang justru terlihat memilukan untuk dilihat. "Lan, kau tahu tidak, aku selalu merasa jika hidupku ini hanyalah sebuah pembalasan dosa. Aku tak mengerti kesalahan ataupun karma yang mungkin kulakukan dulu, aku tak mengerti..." Calla mulai bercerita, setidaknya ia memiliki satu orang untuk berbagi keluh kesahnya. "Aku merasa setiap detik hidupku telah dikutuk... Aku tak akan pernah bahagia..." ucap Calla dengan sendu sambil memandang Weylan yang juga tengah menaruh fokusnya pada Calla. Weylan menggeleng dan kini menggenggam kedua jemari ramping Calla dengan jemari kekar berurat miliknya. "Kau tahu Calla, Tuhan itu adil. Percayalah ini... Penderitaan dan semua rasa sakit yang kau alami hari ini, akan membawamu pada sebuah kebahagiaan. Itu pasti, Calla... " ucap Weylan dengan suara pelan namun sangat meyakinkan. Calla terdiam, ia melihat dan menelisik ke dalam bola mata coklat milik Weylan, seolah sedang mencari sebuah kebohongan dari ucapan di pria tampan itu. Namun, yang Calla temukan hanyalah sebuah kebenaran, dan keyakinan atas sebuah prinsip. Calla tersenyum dan melepaskan jemari tangan Weylan yang bertaut dengan jemarinya. "Lan, bagaimana aku bisa menuju kebahagiaan? Sedangkan aku tak memiliki jalan menuju kebahagiaan itu." ucapan Calla membuat Weylan menggerutkan dahinya. "Siapa bilang?" tanya Weylan dan kini Weylan kembali membawa jemari tangan Calla untuk ia genggam. Calla mengerjakan matanya polos, ia sedikit tak paham dengan apa yang Weylan maksud dengan pertanyaan itu. "Siapa bilang kau tak memiliki siapapun untuk membawamu ke sebuah kebahagiaan? Calla..." ucap Weylan yang menghilangkan pertanyaan di dalam otak kecil Calla beberapa detik yang lalu. Calla terdiam, ia tak tahu harus menjawab ataupun menanggapi apa tentang perkataan Weylan barusan. "Aku. Aku akan membuat jalan menuju kebahagiaan untukmu... Bagaimana?" tanya Weylan disertai senyuman yang akan melelahkan hati setiap wanita. "Lan... Aku hanya selir, derajat dan hak hidupku bukanlah milikku... Raja... Dia yang memegang kendali." ucap Calla sendu sembari menoleh pada jendela yang menampakan bulan purnama yang begitu bersinar. "Andai aku terlahir menjadi bulan... Terang dan bersinar, tanpa ada masalah ataupun rintangan untuk menuju kebahagiaan. Bulan bersinar terang itu adalah kebahagiaannya." ucap Calla yang mulai berandai. Weylan menggelengkan kepalanya, "aku akan berusaha untuk itu Calla... Raja Draco... Dia memang Raja kita, dia pemimpin Kerajaan Hellas tempat dimana kita sedang berpikir kali ini. Tapi percayalah, aku akan membuat semuanya mungkin..." ucap Weylan penuh akan tekad dan keyakinan. "Dan iya, jika kau pikir bulan itu akan selalu bahagia karena bersinar terus-menerus maka kau salah... Kau tahu, bulan bersinar terang karena matahari yang memberikan separuh cahanya kepada bulan itu. Jadi bukan tak sendiri, ia memiliki matahari yang selalu ada untuk menopangnya dalam mencari kebahagiaan di langit malam yang terlihat kelam itu." jelas Weylan pada Calla yang masih betah mengamati bulan purnama. Calla mengangguk, dia tersenyum simpul. Setidaknya beberapa beban yang ia rasakan hari itu sedikit terangkat karena Weylan. "Terima kasih... Lan, kau membuatku sedikit jauh lebih baik." ucap Calla berterima kasih kepada Weylan. Orang kepercayaan Draco itu tersenyum dan mengangguk. "Aku akan ada untukmu Calla... Sama seperti matahari yang selalu ada untuk bulan." ucap Weylan yang entah mengapa membuat Calla tersipu malu.l, bahkan rona merah muda terlihat sangat jelas pada pipi Calla. Bukan hanya Calla, Weylan pun sama, kau bisa melihat telinganya yang juga mulai memerah. Malam bulan purnama itu berjalan dengan begitu cepat, Weylan dan Calla yang saling berbagi keluh kesah dan potongan kisah hidup mereka tanpa ada seorangpun yang tahu. Sedangkan di lain tempat Draco tengah berurusan dengan kedatangan Putri Amabel. Kerabat jauh dari mendiang ibunya. "Salam, Raja Draco..." ucap Amabel sembari membungkukkan tubuhnya di hadapan Draco yang hanya terdiam angkuh. "Ish... Kakak ini!" gerutu Jayden yang berdiri di belakang Draco. Jayden akhirnya berinisiatif untuk maju dan membungkuk hormat pada Amabel. "Salam untukmu juga, Putri..." ucap Jayden yang membuat Amabel tersenyum kecil sambil melirik kearah Draco yang diam seolah sedang bersandiwara menjadi patung paling tampan di dunia. "Bagaimana perjalananmu Putri? Mari masuk dan duduklah, kami sudah mempersiapkan segalanya untukmu..." Rhea yang sedari tadi ikut berada di sisi kiri Draco akhirnya membuka suara, ia mempersilahkan Amabel untuk masuk ke ruang perjamuan. "Wah... Terima kasih, Raja Draco kau memiliki selir secantik dan sesopan dia... Kau beruntung," ucap Amabel sembari melirik Rhea yang tersenyum dengan anggun. "Cih! Dia tak secantik diriku..." celetuk Dhara yang berdiri di samping Rhea, namun sayang Amabel tak mendengar celetukan Dhara barusan karena Putri cantik itu telah melangkahkan kakinya masuk. "Kau memang yang tercantik... Dhara, sangat cantik," ucap Jayden yang kini justru mencoba meraih tangan Dhara untuk ia kecup, namun sayang Dhara lebih memilih untuk mengabaikan Jayden dan masuk ke dalam mengikuti langkah Rajanya. Jayden tersenyum menatap punggung kecil Dhara yang berbalut gaun berwarna merah tua. "Aku akan menjadi Raja di hatimu, Dhara... Kumohon tunggulah sampai hari itu tiba." ucap Jayden dengan lirih, bahkan angin saja tak akan mendengarnya. Aula perjamuan tertata dengan sangat mewah dan juga nyaman. Amabel begitu takjub dengan segala hal yang disuguhkan kepadanya. "Raja, aku sangat menyukai segala layanan yang kau berikan, ini begitu memuaskan!" ucap Amabel yang kala itu tengah menyesap madu hutan murni dalam cangkir emas. "Ya, Weylan yang mempersiapkan semuanya." ucap Draco singkat dengan wajah super datar. Jujur saja ia enggan untuk berlama-lama dalam acara semacam ini. Draco sangat tak menyukai pesta dan segala jenisnya. "Weylan? Siapa dia?" tanya Amabel. "Weylan adalah orag kepercayaan Raja, dia kaki tangan Raja, Putri..." terang Jayden yang duduk di sebelah kakaknya. Amabel mengangguk, "lalu dimana dia?" tanya Amabel yang sontak membuat Draco mengangkat alisnya. "Benar. Dimana Weylan?" tanya Draco yang baru menyadari jika sedari tadi Weylan sama sekali tak terlihat. Di saat semuanya sedang saling melihat kesekeliling untuk mencari barang hidung Weylan, Jayden yang nampaknya tahu dimana Weylan berada tersenyum licik di dalam hatinya. "Kak, apa kau sudah memastikan jika paviliun pribadimu aman?" tanya Jayden yang sedang memancing emosi Draco. Draco mengerutkan dahinya. "Weylan tak akan berani memasuki paviliun tanpa izin dariku." ucap Draco dengan tegas. Entah mengapa namun suasana di sana menjadi semakin panas dan semakin memanas kala Dhara yang dengan sengaja berkata, "aku beberapa kali melihat Weylan dan Calla bersama saat kau pergi Rajaku, mungkin saja saat ini mereka-" "Cukup!" potong Draco yang enggan mendengar penuturan Dhara lebih lanjut. "Aku percaya dan yakin jika Weylan tak akan menentang perintah dariku. Dia tak akan berani memasuki wilayah paviliun." kekeh Draco. Amabel yang sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi kemudian berbisik kepada Rhea yang berada di sampingnya. "Ada apa sebenarnya? Mengapa Raja terlihat tak menyukai orang memasuki wilayah paviliunnya, dan siapa itu Call?" tanya Amabel. "Calla adalah selir baru, Raja membelinya beberapa hari yang lalu dengan harga yang tinggi. Raja bahkan sampai menempatkan Calla di paviliun pribadi miliknya yang dilarang untuk dimasuki oleh siapapun sembarangan." Rhea me jelaskan segala hal dengan mendetail. "Lalu apakah Weylan dan Calla sedang berselingkuh dan bercinta di belakang Raja?" tanya Amabel yang sayangnya di dengar oleh Draco. Prank Draco membanting cangkir kaca yang ada di dekatnya. "Jaga ucapanmu, Putri Amabel. Kau hanya tamu disini!" ucap Draco dengan amarah. "Aku akan memastikan apa yang terjadi! Weylan tak akan berkhianat!" geram Draco sembari melangkahkan kakinya dengan cepat menuju paviliun. Jayden tersenyum setan di balik itu semua, "semakin menarik bukan?" gumam Weylan yang tanpa ia sadari di dengar oleh Rhea. Blak "Raja...?" "Sialan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN