Paviliun pribadi milik Draco adalah tempat yang indah, walau terletak cukup jauh dari bangunan utama Kerajaan Hellas. Draco menuruni beberapa anak tangga yang akan membawanya kepada paviliun. Anak tangga yang dibuat melingkar kebawah dengan lumut-lumut yang tumbuh di sekelilingnya membuat nuansa tua dan lapuk terlihat sangat kental.
Draco berjalan secepat mungkin, ia sangat mempercayai Weylan. Weylan adalah orang yang paling Draco percaya di Kerajaan Hella, mana mungkin Weylan berkhianat?
Draco melangkahkan kaki jenjangnya, langkah lebar miliknya seolah membuat binatang-binatang kecil yang ada di sana ketakutan.
Hingga sampailah Draco di gerbang paviliun miliknya yang dijaga oleh beberapa pengawal pilihan.
"Apa kalian yakin tidak ada yang masuk dan menyelinap ke paviliunku ini?!" tanya Draco tanpa basa-basi kepada lima orang pengawalnya yang sedang berjaga.
Para pengawal dengan badan besar itu menciut takut karena Draco yang memperlihatkan raut wajah tak enak miliknya, salah satu dari pengawal itu mengangguk. "Tidak ada yang memasuki paviliun Raja, tidak ada seorangpun." ucapnya dengan hormat.
Draco tak bisa sepenuhnya percaya, ia akan membuktikannya secara langsung dengan mata kepalanya.
"Jika sampai aku menemukan jejak seseorang di dalam sana,satu per satu dari kalian akan merasakan pedangku! Kalian lalai dalam bertugas jika benar itu yang terjadi!" ucap Draco dengan suara seraknya, ia kemudian memasuki paviliun itu.
Suasana sepi dan temaram adalah hal utama yang dirasakan ketika menginjakan kaki masuk ke dalam paviliun.
Draco menaiki anak tangga hingga sampai di ujung, lalu dengan cepat tatapannya terkunci kepada ruangan di paling ujung. Ruangan dengan pintu terindah yang ada, tempat dimana Calla berada.
Tanpa mengulur waktu akhirnya Draco membuka pintu ruangan itu dengan sangat kasar.
Brak.
"Raja..." suara lembur Calla menyambut Draco yang datang dengan amarah dan kegelisahan.
Draco menggenggam rendah, "sialan!" desisnya, laku Draco segera tubuh Calla untuk ia baringkan ke ranjang.
Calla yang diangkat tiba-tiba menjadi bingung dengan apa yang Draco pikirkan dan mengapa Draco dengan tiba-tiba seperti ini mengangkat tubuh Calla yang sedang duduk di lantai kucing liar yang Weylan bawa tadi.
Weylan? Dia adalah pria cerdas dan berinsting kuat, dia dengan cepat pergi dengan menyelinap dari ruangan itu beberapa menit sebelum kedatangan Draco.
"Apa yang kau lakukan hah?!" bentak Draco pada Calla yang sudah ia baringkan kembali ke ranjang.
Calla menoleh pada kucing dengan bulu berwarna putih yang masih duduk diam di lantai.
"Aku bermain bersama kucing itu Tuan, aku hany-"
"Apa kau sudah mendapatkan izin dariku untuk turun dari ranjang?!" tanya Draco yang kini mencengkram kuat bahu Calla.
"Tidak Tuan, aku belum meminta izin darimu." ucap Calla bergetar ketakutan.
Draco menganggukkan kepalanya dan tersenyum sinis. "Lalu? Kau sudah sangat berani melakukan sesuatu tanpa izinku?!" tanya Draco lagi.
Calla sedikit heran, apa masalahnya jika ia turun dari ranjang dan bermain bersama kucing itu? Bukankah ini sedikit aneh?
"Dan lagi, siapa yang mengizinkan kucing sialan itu masuk ke dalam sini?!" kini Draco memandang benci kepada seekor kucing.
Draco mengangkat anak kucing itu dan membuka jendela lalu dengan tanpa perasaan Draco membuang kucing itu keluar.
Calla panik, bagaimana jika kucing itu mati? Ini lantai dua, bagaimana bisa Draco Setega itu kepada kucing manis?!
"Tuan!" Calla berteriak dan segera berlari mendekati jendela.
Draco menahan pinggang Calla dan lagi-lagi mengangkat tubuh ringan itu lalu ia lemparkan dengan sedikit keras tubuh Calla ke ranjang.
"Kau tak diizinkan turun dari ranjang ini! Apa kau tuli?!" tanya Draco memandang Calla dengan tajam.
Calla semakin menciut, bagaimana bisa Draco sekejam ini? Apa Draco akan membunuhnya perlahan? Apa Draco tak akan mengizinkan Calla bangun dari ranjang ini? Apa Draco menginginkan Calla mati membusuk hanya dengan berbaring di ranjang?!
"Pertama, kau hanya boleh bertindak jika aku sudah mengizinkanmu untuk melakukannya. Kedua! Kau tak diizinkan memelihara binatang berbulu seperti kucing sialan tadi! Ketiga..." Draco menjeda ucapannya dan mendekati Calla.
Draco bahkan menindih Calla di bawah tubuhnya, "kau selirku! budakku! milikku!" ucap Draco yang sangat dekat wajah Calla, bahkan Calla dapat mencium dan merasakan aroma harum dari nafas Draco menerpa wajahnya.
"Apa kau paham?!" tanya Draco dengan berdesis tepat di telinga Calla, Draco mengendus leher jenjang Calla, mencium dan merasakan betapa wanginya tubuh itu. Calla tak memiliki parfum mahal seperti yang para selir lain punya, ini adalah aroma alami Calla. Aroma lavender yang berpadu dengan lembut vanila.
"Saya paham Tuan," ucap Calla dengan lirih, sungguh demi apapun Calla merasakan wajahnya semakin panas, jantungnya berdetak lima kali lebih kuat serta Calla merasakan banyak sekali kupu-kupu di perutnya.
Ada masalah apa ini? Mengapa Calla merasakan ini?!
"Bagus." ucap Draco dan ia kembali bangkit dari tubuh Calla.
Draco memandangi tubuh Calla dari atas hingga ke bawah. Draco memang belum menyiapkan gaun dan keperluan wanita yang lainnya di kamar itu...Draco mengamati gaun yang Calla kenakan. Gaun lusuh yang terdapat banyak noda tanah dan darah... Ahh, darah itu berasal dari luka yang Calla perbuat dengan sendirinya.
"Apa kau sudah sangat berani hingga melukai tubuh itu?!" desis Draco yang kembali melihat kepada tangan Calla yang terperban. Calla juga kini melihat pada tangannya sendiri.
"Tuan, saya..." Calla bingung harus menjawab seperti apa.
Calla pikir ia akan langsung mati dan terbebas dari segala buruknya kehidupan dunia, namun nyatanya tidak. Calla justru kembali selamat dan bangun dengan tangan yang sudah terperban dengan rapih.
"Kau tahu? Tubuh itu adalah milikku! Jangan berbuat semaumu pada tubuh ini!" Draco mencengkram kuat rahang Calla.
"Kau tak akan mampu membayarnya, kau tak akan mampu!" ucap Draco yang membuat Calla menunduk sedih.
Perkataan Draco barusan menyiratkan jika Calla adalah barang, dan properti milik sang Raja, bahkan Calla tak memiliki hak atas tubuhnya lagi.
"Apa kau paham? Apa kau mengerti apa yang aku ucapkan?! Jawab aku!" tanya Draco menatap tajam bola mata bening milik Calla.
Calla mencoba tersenyum walau hatinya terasa sangat sakit.
"Aku paham Tuan, sangat paham... Kau adalah pemilik dari tubuh ini... Kau Tuanku, pemilik tubuhku..." ucap Calla yang balas menatap dalam kepada bola mata hitam kelam milik Draco.
Deg
Draco seolah merasakan sesuatu, hatinya terasa sedikit sakit kala mendengar apa yang Cakka ucapkan.
"Aku tak memiliki hak apapun atas tubuhku." ucap Calla dengan sedikit memundurkan tubuhnya, lalu kemudian ia membuka pengait gaunnya dan terpampang tubuh putih Calla di hadapan Draco.
pundak, bahu, punggung, d**a semuanya terlihat. Draco tak berkedip. Ia lelaki normal yang akan selalu jatuh cinta pada Alisa, ah maksudku Alisa yang Draco yakini bereinkarnasi dalam tubuh Calla.
"Kau menggodaku?!" Draco kembali menerjang tubuh Calla, mengukungnya di bawah tubuh besar miliknya.
Jari Draco berjalan menyusuri tubuh putih Calla, mencari letak aliran pembuluh darah yang tercetak jelas di kulit itu karena memang kulit Calla sangat putih.
"Alisa... Kau memang penggoda yang unggul... Apa kau akan menggoda pria lain seperti ini?!" tanya Draco dengan nada suara rendah.
Draco terus menyusuri pembuluh Darah Calla, lalu dengan sangat agresif Draco mencium dan menggigit beberapa bagian di tubuh Calla.
Draco terus meninggalkan bekas merah di sana, seolah meninggalkan bekas yang menjadi tanda kepemilikan. Calla adalah milik Draco, seperti itu.
"Aku buk-an Ali-sa!" ucap Calla dengan terbata-bata. Ini adalah kali pertama dalam hidup Calla ada yang membuat tanda pada tubuhnya seperti saat ini.
Calla tak tahu jika rasanya akan secampur- aduk ini. Draco masih pada aktivitasnya mencumbu Calla.
"Kau Alisa! Wanita licik yang begitu menjijikan!" ucap Draco dengan keras.
Air mata kembali meluncur membasahi wajah cantik Calla. Jika dia mirip Alisa dan Draco mengatakan jika ia menjijikan, maka mengapa Draco bertingkah seperti ini?!
"Hisk... " tangis Calla kali ini terdengar, Draco yang baru menyadari jika Calla menangis mulai menghentikan kegiatannya.
"Jika Alisamu adalah orang licik yang menjijikan. Maka aku bukanlah Alisamu Tuan! Aku Calla, hanya Calla!" ucap Calla dengan mengusap air mata yang masih saja mengalir itu.
"Jika kau mungkin adalah pemilik tubuh dan hati Alisa, maka tidak denganku! Kau hanya pemilik tubuh ini!" ucap Calla yang kini menjadi semakin emosional.
"Kau tidak memiliki Hatiku..." ucap Calla dengan lirih seraya memegang dadanya yang berdenyut nyeri.
"Kau tidak akan memilikinya." ucap Calla sekali lagi dan kemudian Cakka jatuh pingsan.
Draco terdiam. Ia mencermati apa yang barusan Calla ucapkan. Entah mengapa dua kalimat singkat itu terasa begitu menyakitkan di telinga Draco.
"Alisa? Apa kau sedang memainkan trikmu? Kau membuatku merasa bersalah seperti ini?" Draco membenarkan posisi tidur Calla, menyelimuti wanita cantik itu dan kemudian membelai rambutnya.
"Alisa, kau tahu?! Aku sangat mencintaimu... Tapi kau? Kau mengkhianati cintaku dulu, dan kini aku bersumpah akan membuat hidupmu hanya sebatas berada dalam cengkraman ku! Aku tak akan membiarkanmu bebas dan merasakan kebahagiaan." ucap Draco dengan sangat serius.
"Jika aku adalah pemilik hati dan tubuhmu di masa laku, maka sama seperti saat ini. Aku adalah pemilik hati dan tubuhmu pula!"
"Seluruhnya yang ada di dalam dan di luar tubuhmu adalah milikku! Alisa..." ucap Draco yang mengakhiri hari itu dengan kecupan dalam yang panjang pada bibir delima milik Calla.