"Cepatlah! Kau sangat lamban!" makian itu sudah terdengar lebih dari belasan kali pagi ini.
Dhara yang dengan suara nyaringnya selalu memerintahkan Calla untuk melakukan setiap tugas dan pekerjaan baru, membersihkan semua lukisan yang ada, menyapu, dan mengelap setiap petak lantai, bahkan memastikan jika kebun bunga para selir selaku indah terawat.
Sebulan lebih beragam tugas ini Calla alami dan jalani. Tanpa sepengetahuan Draco mereka semua membuat Calla layaknya seorang b***k yang hidupnya selalu bekerja dan bekerja. Belum lagi beberapa kekerasaan fisik yang mereka lakukan pada Calla jika Calla melakukan kesalahan walau hanya sekecil debu.
"Setelah ini pergilah ke hutan dan bawakan aku bunga teratai biru, aku akan membuat ramuan kecantikan ajaibku dengan bunga itu! Apa kau mengerti?! Pastikan jika bunganya tak layu apalagi mati saat kau membawanya untukku!" Dhara dengan seenak hatinya memerintah Calla.
Calla tak memiliki opsi lain selain menerima, "baiklah Nona Dhara, saya akan mengambilkan bunga teratai biru untukmu..." ucap Calla yang saat itu masih mengelap lukisan yang tergantung indah di aula utama Kerajaan.
"Bagus!" ucap Dhara dan pergi dari sana tanpa mengucap terima kasih.
Calla mencoba untuk kuat, setiap hari yang ia lakukan saat Draco pergi adalah melayani dan menjadi b***k Dhara dan selir lain, lalu setelah malam saat kepulangan Draco, mereka semua akan memakai topengnya dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Saat malampun sepertinya tak ada kata istirahat untuk Calla. Draco selalu memintanya melakukan sesuatu kecil yang membuat Calla menjadi heran apa manfaatnya untuk Draco.
Di saat Calla akan menyelesaikan satu lagi lukisan terakhir. Lukisan paling besar dan paling tidak menonjol diantara lukisan yang lain sebuah suara yang tak lain adalah milik Weylan mengagetkan Calla.
"Calla!"
Calla kehilangan keseimbangannya, saat itu dia sedang menaiki kursi guna menyamakan tingginya dengan lukisan besar yang sedang ia bersihkan.
Fokus Calla buyar, dia terjatuh, namun Weylan dengan sigap meraih tubuh Calla sehingga Calla tak merasakan dingin dan kerasnya lantai, melainkan dekap peluk hangat milik Weylan.
Untuk lima belas detik pertama Calla memandangi wajah tampan Weylan.
"Lukisan karya Vincentius Vance itu dibuat akhir abad ke-10, lukisan sebuah apel dengan warna merah muda yang dikelilingi oleh 3 lebah jantan." ucap Weylan dengan masih mempertahankan posisinya, merengkuh tubuh harum milik Calla.
Calla tersadar dan segera melepaskan dirinya dalam pelukan Weylan. Seketika Calla menjadi sedikit canggung.
Weylan terkekeh mendapati raut wajah Calla yang nampak sangat kelihatan gugup. Entah mengapa bagi Weylan Calla dengan ekspresi gugup sangat amat menggemaskan.
"Lukisan ini bahkan menjadi salah satu lukisan termahal milik Raja..." ucap Weylan lagi dengan diakhiri senyuman.
"Tapi memang benar, walau lukisan ini terlihat begitu sederhana, entah mengapa aku suka melihatnya ketimbang lukisan lain yang berjajar di sana..." Calla berucap sambil menunjuk rentetan lukisan yang sebelumnya sudah ia bersihkan.
"Kurasa kita memiliki selera yang sama, Calla." ucap Weylan pada Calla yang masih mencoba untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
Calla mengangguk dan memberanikan diri menatap Weylan, selama sebulan ini Weylan dengan cerdiknya selalu menemui Calla setiap hari tanpa dicurigai oleh siapapun. Entahlah Calla harus senang atau cemas akan hal ini.
Hubungan keduanya berjalan dengan semakin erat dalam sebulan. Calla tak bisa mengelak jika Weylan adalah pria yang membuatnya merasakan kenyamanan saat Calla bersama dengannya.
"Lan, apa kau tidak takut jika ada yang tahu semua ini?" tanya Calla dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas.
"Aku ini cerdas, Calla. Kau tak perlu khawatir. Oke?" Weylan membingkai wajah Calla.
Weylan tak akan berdusta dengan mengatakan jika ia sama sekali tak jatuh hati pada Calla, Calla nampak seperti Dewi, dia sangat cantik walau dengan kesederhanaan dalam setiap titik di tubuhnya. Hingga akhirnya beberapa waktu yang lalu Weylan menyatakan perasaannya pada Calla dan Calla yang ternyata juga memiliki rasa yang sama dengan Weylan.
Dalam beberapa detik berikutnya Weylan mengecup lembut bibir atas Calla, menyesap rasa manis alami dari bibir Calla, manis yang bahkan mengalahkan kemurnian madu hutan yang paling mahal.
"Lan..." Calla menghentikan Weylan yang sepertinya sudah kecanduan menyesap bibir Calla.
"Ini manis Calla..." ucap Weylan seraya mengelus permukaan bibir Calla dengan ibu jari miliknya.
Calla menggeleng dan tersenyum, lalu kemudian tangan Calla dengan luwesnya memencet hidung tinggi milik Weylan.
"Bibirku ini bukan gula-gula, Lan. Kau meyesapnya setiap hari apa kau tak bosan, hmm...?" Calla suka sekali melihat betapa jernihnya mata Weylan yang bersinar.
Dalam satu bulan ini Calla dan Weylan benar-benar sangat dekat, mereka mengetahui masa lalu satu sama lain. Bisakah kita katakan jika mereka berdua mulai jatuh hati satu sama lain? Lalu bagaimana dengan Draco?
"Calla!" saat Calla sedang asyik mengamati mata Weylan, Dhara memanggil namanya dengan sangat keras, suara nyaring yang sudah sebulan ini memerintah Calla sesuka hatinya.
"Aku harus segera pergi," ucap Calla pada Weylan.
Weylan yang masih nampak tak rela menahan Pergelangan tangan Calla. "Nenek sihir itu sangat menganggu..." adu Weylan dengan raut wajah kesalnya.
"Kau menyebutnya nenek sihir? Tapi apa ada nenek sihir secantik Nona Dhara?" tanya Calla dengan polosnya.
Calla menganggap Dhara memang sangat cantik, berenda dari beberapa selir lainnya.
"Dia-"
"Calla!" panggil Dhara lagi sehingga membuat Weylan mengehentikan ucapannya.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Weylan, kau harus berhati-hati. Tak perlu mengunjungi aku setiap hari. Aku takut jika ada yang mengetahui ini semua." ucap Calla dengan mengelus rahang tegas milik Weylan dan mengecup singkat rahang tegas itu.
***
Di luar gerbang Kerajaan Hellas adalah tempat yang indah, maksudku Kerajaan Hellas saja sudah indah, tetapi pedesaan dan hal lain di luar kerajaan Hellas tak kalah indah.
Calla berjalan dengan tenang sembari menikmati keindahan dan keasrian jalan setapak yang ia lalui untuk sampai di hutan tempat dimana ia harus mencari bunga teratai biru.
Lumayan jauh memang, tapi tak apa saat ini cuaca sedang mendung jadi di siang yang biasanya begitu panas ini sekarang menjadi lebih teduh dan dingin.
Calla sudah memasuki pintu masuk hutan, sangat sunyi dengan banyak sekali kabut yang menghalangi pengelihatan. Calla menoleh ke sana dan kemari. Dia tak boleh lengah dan berakhir tersesat di di dalam hutan, itulah mengapa Calla sengaja menebar biji bunga matahari di sepanjang jalan yang ia lalui.
Bunga teratai biru biasanya tumbuh liar di danau es yang ada di jantung hutan, itu artinya Calla harus berjalan masuk hingga ke dalam hutan itu. Tanpa didampingi siapapun Calla memberanikan dirinya untuk terus masuk jauh ke dalam hutan.
Krek
Di tengah perjalanan Calla seperti mendengar dan merasakan jika ada orang lain di hutan ini, dan yang lebih membuat Calla was-was adalah, sepertinya orang itu juga mengikuti Calla dari belakang.
Calla menoleh ke belakang, melihat dengan jeli siapa yang mungkin mengikutinya.
"Tidak ada siapapun..." gumam Calla lirih, saat ia akan berbalik ke depan dan melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba seseorang yang sangat tak disangka mengejutkan Calla dengan berdiri tegak di hadapan Calla.
"Astaga!" kaget Calla saat berbalik ke depan dan mendapati Jayden tengah tersenyum padanya.
"Hallo Calla!" sapa Jayden dengan ramah.
Adik tiri dari Draco itu sangat aneh, sejak Calla pertama kali tiba di Kerajaan Hellas dan bahkan sebulan ini, Calla menyadari jika Jayden itu seperti seseorang yang ahli dalam memanipulasi semuanya.
"Tuan Jayden-"
"Panggil aku Jayden, tanpa Tuan. Aku bukan Kakak yang gila hormat." ucap Jayden sembari menyinggung Draco.
"Baiklah... Apa yang kau lakukan di sini, Jay?" tanya Calla pada akhirnya.
"Kau sedang apa?" bukannya menjawab, Jayden justru menanyakan hal itu pada Calla.
Calla menunjuk pada keranjang bunga yang ia bawa, "aku harus mencari bunga teratai biru. Ini perintah Nona Dhara." ucap Calla apa adanya.
Jayden mengangguk dan tersenyum, "kemarikan." Jayden mengambil alih keranjang bunga itu dari tangan Calla.
"Aku yang akan mencarikan bunganya." ucap Jayden yang semakin membuat Calla bingung.
"Kau, kau bisa berkeliling di hutan ini atau kembali ke kerajaan, terserah apa yang mau kau lakukan." ucap Jayden sembari tersenyum pada Calla.
Calla menggeleng, jika ia kembali ke kerajaan tanpa bunga teratai, bisa saja Dhara mencambuknya atau bahkan memberinya hukuman lain. Jika Calla berjalan-jalan di hutan, ia terlalu takut tersesat
"Bisakah aku ikut denganmu saja, Jay?" tanya Calla.
Jayden nampak berfikir sejenak setelahnya mengangguk setuju, "ayo!" ucap Jayden yang berjalan terlebih dahulu memimpin jalan.
Di sepanjang perjalanan Jayden selalu bersiul, wajah adik dari Draco itu nampak begitu cerah dan ceria.
"Jay, boleh aku bertanya?" tanya Calla memecah keheningan.
Jayden tak menoleh namun berkata, "tanyakan saja, akan aku jawab jika aku tahu jawabannya." ucap Jayden.
"Raja, Raja Draco selalu saja memanggilku dengan nama Alisa ketika dia marah padaku. Apa kau tahu siapa itu Alisa?" tanya Calla.
Jayden menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Alisa?" tanya Jayden sembari mengamati wajah Calla.
Calla mengangguk dan menanti jawaban dari Jayden, namun bukannya menjawab Jayden malah terdiam dan menunjuk wajah Calla.
"Kau sering berkaca tidak?" tanya Jayden yang terdengar ambigu.
Jayden sebenarnya juga tak tahu siapa Alisa, walau ia merasa jika nama itu tak asing di telinganya. Tapi tak apa, mungkin akan seru saat menjahili Calla seperti sekarang ini. Itulah yang ada di pikiran Jayden.
"Kau. Wajahmu, kau Alisa!" ucap Jayden diakhiri dengan senyuman, lalu kemudian dia melanjutkan langkahnya.
Calla masih terdiam di tempatnya, dia memegangi wajahnya sendiri.
"Aku? Alisa adalah aku?" tanya Calla pada dirinya sendiri.
"Hei! Cepatlah!" teriak Jayden dari depan sana saat menyadari jika Calla masih diam di tempatnya.
"Cepatlah!" teriaknya lagi.
Calla segera berjalan cepat menghampiri Jayden.
"Nah, ini dia tempatnya!" Jayden tersenyum, wajah sumringah miliknya sangat ceria.
"Indahnya..." Calla kagum dengan apa yang ia lihat. Danau es membeku yang ujungnya ditumbuhi banyak sekali teratai biru yang terang menyala.
"Bunga teratai biru hanya bisa tumbuh dan berkembang di danau es. Mereka juga hanya tumbuh dalam dua tahun sekali di saat musim semi." ucap Jayden menjelaskan hal ini pada Calla.
Calla mengangguk, "terima kasih Jay, kau sudah mengantarkan aku untuk mengambil bunga itu." tunjuk Calla pada hamparan bunga yang menyala di ujung sana.
"Terima kasih?" tanya Jayden.
Calla mengangguk, "iya, terima kasih karena sudah mengantarkan aku kemari."
Jayden tertawa dan menepuk pundak Calla dua kali.
"Dharaku sangat menyukai bunga ini, aku hanya tak ingin dia kecewa karena kau terlaku lama dalam mengambil bunga ini." ucap Jayden yang seketika membuat Calla membulatkan matanya.
Apa maksud Jayden barusan, secara tidak langsung Jayden mengatakan jika ia menyukai Dhara? Salah satu selir utama milik Draco?
"Kau menyukai Nona Dhara?" tanya Calla spontan.
"Tentu. Aku sangat menyukai dia. Bukankah Dhara sangat cantik? Ah, dia sedikit pemarah dan sensitif, tapi itulah yang membuatku semakin tergila-gila pada dirinya." ucap Jayden dengan senyuman.
Calla sedikit terhempas kenyataan. Seorang selir Raja hanya akan menjadi milik Raja, lalu bagaimana dengan nasib Pangeran terakhir, adik tiri dari Raja? Apa bisa nantinya Jayden memiliki Dhara? Ah tapi bukankah kisah Jayden dan Dhara sama seperti kisah Calla dan Weylan?
"Ah, sudahlah. Kau terlalu lama. Aku akan ke ujung danau dan mengambilkan bunga itu. Kau tunggu saja disini." ucap Jayden dan segera menyebrangi danau es ini.
Di saat Calla termenung sambil mengamati Jayden yang sedang berusaha mengambil dan membawa bunga teratai sebanyak mungkin di ujung sana, tiba-tiba sebuah suara yang entah datang darimana terdengar seperti berbisik pada Calla.
"Yang kau cintai adalah Soulmate, yang kau benci adalah twinflame, dan yang tak pernah kau bayangkan adalah Karmic, takdirmu... Calla."
Calla tersentak, "siapa itu?" tanya Calla yang mulai memandang liar sekitarnya. Namun tak ada siapapun kecuali Calla di tempat itu, dan Jayden yang berada jauh di ujung danau.
"Apa maksudnya Soulmate, Twinflame, dan Karmic?