"Cepatlah! Susun dengan benar!" Draco selalu memerintahkan Calla untuk melakukan hal-hal kecil yang terdengar konyol seperti saat ini.
Apa gunanya menyusun Piramida Kristal di malam hari? Bukankah itu sangat tak masuk akal?
Jujur saja Calla sebenarnya sangat amat lelah. Seharian ia diperlakukan menjadi seperti seorang b***k oleh para selir lain, lalu tadi siang hingga sore hari, ia harus berjalan kaki cukup jauh ke hutan. Rasanya Calla benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Dia sungguh lelah hari ini, namun semua keinginannya harus ia tanggalkan karena Draco yang tanpa hati memerintahkan Calla melakukan sesuatu tak masuk akal seperti ini.
Draco yang duduk di ranjang sambil bertelanjang d**a mengamati gerak-gerik Calla yang terlihat sangat amat lamban.
"Tak bisakah kau bergerak sedikit lebih cepat?!" tegur Draco pada Calla.
Calla enggan menanggapi. Ia berharap tangannya bisa bekerja menyusun Piramida Kristal ini dengan cepat, namun tidak, kekuatan tangannya seolah telah berkurang akibat kelelahan.
"Kau tak menjawabku! Apa kau sudah seberani itu hah?!" tanya Draco yang sepertinya ia sudah sangat marah.
Draco bangkit dari ranjang dan mendekati Calla.
Draco meraih pinggang Calla dan memposisikan tubuh Calla sehingga kini mereka saling bertatapan.
"Kau sudah berani mengabaikan aku?!" desis Draco.
"Calla. Ah, Alisa... Ingat ini, aku benci diabaikan, apalagi jika itu kau!" Draco menatap tajam kepada manik sayu Calla.
Calla tak ingin memperpanjang masalah ini. Ia ingin segera menyelesaikan tugas konyol pemberian Draco dan langsung tidur setelahnya. Jujur saja mendengar suara Draco yang terdengar marah membuat Calla semakin merasakan pening di kepalanya.
"Maaf Tuan, saya akan segera menyelesaikannya... Piramida Kristal Tuan akan segera jadi " ucap Calla dengan lirih dan lesu.
Calla tak bisa menutupi semua rasa lelahnya, ia begitu letih, lesu. Ia melewatkan makan siang dan makan malam hanya karena banyaknya tugas yang harus ia selesaikan di satu waktu yang bersamaan. Bisakah kita katakan jika Draco sangat bodoh? Ia bahkan tak menyadari jika Calla diperlakukan dengan sangat tak adil di Kerajaan saat Draco pergi. Sebenarnya Draco juga ingin membuat Calla menderita, itu adalah sumpah Draco kan? Namun sepertinya hingga detik ini Draco belum sekalipun memperbudak Calla dalam artian memperkerjakan Calla sampai melebihi batas kemampuan wanita itu.
Draco yang baru menyadari jika raut wajah Calla terlihat lebih atau bahkan sangat pucat dari biasanya langsung membingkai wajah itu. Muncul rasa khawatir dalam hatinya saat melihat wajah itu terlihat sangat pucat tanpa rona merah muda di kedua pipi putihnya.
"Kau sakit." ucap Draco, dia lantas menyentuh kening Calla untuk mengecek suhu tubuhnya.
Panas.
Bahkan sangat panas.
"Sialan." desis Draco yang entah untuk situasi macam apa. Jika niat Draco adalah untuk menghancurkan Calla dan untuk membuat Calla menderita maka bukankah ini pas? Draco harusnya senang saat ini.
Draco mengangkat tubuh ringkih Calla untuk ia baringkan ke ranjang Calla hendak berontak karena pekerjaannya menyusun kristal menjadi Piramida belum selesai.
"Tu-an aku belum menyelesaikan Piramida itu," ucap Calla yang kini sudah dibaringkan dengan nyaman di ranjang.
Draco diam dengan tatapan tajam yang selalu mengarah pada Calla. Mengapa Draco harus seperti ini? Calla bingung akan sikap Raja Kerajaan Hellas itu.
"Apa pekerjaan kecil seperti itu membuatmu sakit?! Betapa lemahnya kau!" desis Draco yang entah khawatir atau marah Calla tak ahli dalam menafsirkan apa yang Draco ucapkan.
"Siapapun cepat kemari!" Draco berteriak. Ia tahu ada beberapa pengawal di luar paviliun yang berjaga. Lalu tak lama beberapa pengawal masuk dan membungkuk hormat pada Draco.
"Iya Raja... Ada apa?" tanya salah satu dari tiga pengawal yang datang.
"Bawa tabib kerajaan kemari dalam sepuluh menit." ucap Draco dengan nada suaranya yang begitu dalam.
Mereka mengangguk dan sesegera mungkin menjalankan apa yang Draco pinta. Mereka tak ingin Draco marah dan terkena imbasnya.
Calla yang memang pening dan merasa tubuhnya tak enak perlahan mulai memejamkan mata dan tidur guna mengistirahatkan tubuhnya, hatinya.
Draco memandangi Calla yang mulai tertidur lalu ia duduk tepat di samping Calla. Draco bahkan membelai lembut rambut indah Calla dengan perlahan. Lalu tatapan Draco berpindah pada jari-jemari Calla yang ternyata terdapat banyak sekali luka-luka kecil. Bukan, Draco tak pernah mengamati Calla sedetail sekarang. Ia baru tahu ada banyak luka kecil yang bahkan sudah mengering di sana.
"Luka?" tanya Draco yang entah pada siapa.
"Sebanyak ini?" Draco mengangkat sedikit lengan gaun yang Calla pakai dan betapa terkejutnya Draco saat mendapati ada lebih banyak luka sayatan dan bahkan luka pukulan benda tumpul di tangan Calla.
"Sialan." lagi dan lagi Draco hanya bisa mengucapkan kata sialan. Entah mengapa Draco merasa seperti kecolongan. Tidak Draco tak berniat untuk melindungi Calla dia berniat untuk membuat Calla menderita. Namun mengapa ia tak rela, dan marah saat mendapati Calla terluka dan semua itu dikarenakan orang lain?
"Hanya aku yang boleh melukaimu. Aku!" desis Draco dengan lirih tepat di depan telinga Calla.
Ceklek
Seorang pengawal dan dan tabib kerajaan masuk. Draco enggan bergeser ataupun pindah dari posisinya.
"Periksa dia!" pinta Draco kepada si tabib.
Si tabib merasa sedikit takut, dan lagi bagaimana ia bisa memeriksa Calla jika Draco menempeli Calla seperti ini?
"Yang Mulia Raja, bisakah anda bergeser sedikit? Saya akan mengecek nadinya terlebih dahulu." pinta si tabib dengan suara bergetar.
Draco menggeser tubuhnya dan membiarkan si tabib dapat dengan leluasa memeriksa pembuluh darah Calla.
Sebelum sempat tangan si tabib menyentuh permukaan kulit Calla, Draco lebih dulu memberikan instruksi.
"Jangan menyentuhnya!" desis Draco.
Si tabib dengan tangan bergetar kebingungan, "lalu bagaimana saya memeriksa dia?" tanya si tabib.
"Gunakan kain ini saat menyentuh bagian dari kulitnya," Draco memberikan kain polos berwarna hitam pada si tabib. Draco tak rela jika ada lelaki lain yang menyentuh Calla. Entahlah perasaan ini datang darimana.
Namun bagaimana jika seandainya Draco tahu tetang Call dan Weylan? Weylan bahkan sudah sangat sering merasakan betapa lembut dan manisnya bibir delima milik Calla. Akankah semuanya akan semakin runyam dan tak terkendali saat hubungan antara Weylan dan Calla yang terjalin dalam sebulan ini mulai terbongkar?
"Mengapa Raja begitu posesif terhadap selir itu? Bahkan pada Nona Dhara dan Nona Rhea dia tak se-posesif ini." batin si tabib.
Tabib itu mulai memeriksa Calla dan mendapati sesuatu yang aneh.
"Tuan, denyut nadinya tidak normal. dan suhu tubuhnya begitu panas. Dia kelelahan dan sepertinya, dia telah diracuni."
"Apa?!" tanya Draco dengan sedikit meninggikan suaranya.
Ia tak percaya jika Calla telah diracuni. Siapa yang berani Melakukan hal sedemikian rupa?!