15- Cabang Hati Draco

1406 Kata
Suasana di dalam ruangan itu sungguh gelap dan mencengkam. Hawa dingin yang seolah membuat setiap orang yang ada di sana kesulitan bahkan hanya untuk menarik dan membuang nafas mereka. Draco duduk di kursi yang selalu menghadap kepada Calla yang masih tertidur. Beberapa jam yang lalu dokter Kerajaan bernama Betran, mengatakan jika Calla kelelahan dan mendapati sebuah racun dosis rendah yang mengalir di dalam pembuluh darahnya. Draco heran, bukankah setiap kali Draco meninggalkan Kerajaan di pagi hari, Calla selalu berada di dalam paviliun ini? Draco belum sama sekali menugaskan Calla untuk melakukan sesuatu apapun selama ia pergi. Jadi bagaimana bisa semua luka di tangan Calla itu datang? Bagaimana bisa Calla diracuni? Bahkan Draco telah mengkhususkan tukang masak terbaik untuk Calla. "Ada yang janggal di sini." gumam Draco seraya memainkan pisau lipat dengan ukiran bunga teratai dan elang di tangan kanannya. Draco menatap ke luar jendela. Bulan besar itu nampak sangat terang. "Apa Calla adalah kau Alisa? Apa mungkin? Aku... Mengapa terasa berat dan sakit untuk menyiksanya?" tanya Draco pada bulan di atas sana. Memang benar, Draco hingga detik ini belumlah mampu untuk menyakiti Calla secara langsung maupun tidak langsung, bahkan saat melihat semua luka di tangan Calla justru membuat darah di ubun-ubun Draco terasa mendidih, ia tak rela melihat sebuah luka di permukaan halus kulit putih Calla. Rasanya sungguh tak rela. Draco bangkit dan memutuskan untuk berbaring di samping Calla yang tertidur dengan sangat pulas. Dipandanginya wajah cantik Calla. "Kau memang Alisa... Wajahmu begitu mirip dengannya. Aku tak akan melupakan setiap detail wajah Alisa..." ucap Draco lirih dengan membelai setiap sisi wajah Calla dengan sangat lembut. Draco ingat betul setiap titik di wajah Alisa, dulu ia dan Alisa sangat sering menghabiskan malam yang panjang bersama, bercerita tentang keluh kesah mereka dan juga memandangi wajah satu sama lain. Draco menyamankan posisinya sehingga ia bisa tertidur menghadap Calla, saking dekatnya bahkan Draco bisa merasakan hembusan nafas Calla yang terdengar lelah di wajahnya. "Kau itu... Mengapa kau memainkan trikmu ini padaku? Alisa, kau tahu aku begitu mencintaimu..." Draco memejamkan matanya dan menjatuhkan kepalanya di d**a Calla, Draco mendengarkan deru detak jantung Calla yang entah mengapa membuatnya tenang dan merasakan sebuah kedamaian yang tak pernah ia dapatkan sejak ia terbangun di dalam diri Raja Kerajaan Hellas. Draco kembali membuka matanya, lalu dalam gerakan lamban, Draco mendekatkan wajahnya pada Calla dan mencumbu setiap titik di wajah Calla, Draco mencium alis, mata, hidung, dan yang terakhir adalah bibir Calla. Rasanya masih sama lembut dan manis. "Siapapun kau. Calla atau Alisa, aku tak akan membiarkanmu hilang dari pandanganku." ucap Draco setelah menyesap rasa manis dari bibir Calla. "Aku tak mencintaimu. Aku membencimu.Tapi kau harus selalu hidup dan berada dalam pandanganku... Calla." ucap Draco dan setelahnya ia mendekap erat tubuh Calla dan jatuh tertidur dalam tidur yang sungguh nyenyak. Beberapa menit setelahnya Calla membuka matanya. Rupa-rupanya Calla sadar saat Draco mengatakan semuanya, Calla sadar saat Draco mengecup setiap bagian di wajahnya. Calla balik memandangi wajah Draco yang tertidur dengan damai. Mata Calla yabg bersinar ditimpa cahaya bulan memandang Draco dengan pancaran kesedihan yang terasa sangat dalam. "Aku tak tahu, aku merasakan perasaan asing yang tak kupahami. Aku merasa nyaman dan aman saat berada dalam jarak sedekat ini denganmu..." ucap Calla dengan sendu. "Tapi..." Calla mengehentikan tangannya saat ia akan menyentuh tahan Draco. "Tidak... " Calla menjauhkan tangannya dari wajah Draco. "Tuan, bencilah aku... Kuharap suatu hari nanti kau melepaskan aku. Aku tak akan menjadi Alisamu... Aku hanya Calla, dan aku tak mencintaimu." lirih Calla yang hanya di dengar oleh bulan purnama di luar sana. *** "Dhara, kau selalu terlihat cantik!" "Kau sangat sempurna..." "Aku begitu mencintaimu!" Saat ini Jayden tengah melukis wajah dan tubuh erotis milik Dhara dengan tinta dari anggur hutan yang ia dapatkan sore tadi saat membantu Calla mencari bunga teratai biru. "Kau tahu Dhara? Aku memang bukan Raja, aku tak memiliki kekuasaan seperti yang Kakak punya. Tapi, cintaku padamu melebihi apapun yang ada di dunia ini, aku yakin akan hal itu, ?" ucap Jayden seraya mengecup lukisan Dhara yang baru setengah jadi. Jika kalian lihat lebih jauh lagi, ruangan milik Jayden ini dipenuhi dengan banyak sekali lukisan Dhara dalam beragam pose, tentulah imajinasi Jayden yang berperan penting di sini. Jayden memang tak pernah merasakan sehangat apa saat memeluk tubuh indah Dhara, Jayden tak pernah tau seberapa mulus dan lembutnya bagian tertentu di tubuh Dhara, ya... Jayden tak pernah tahu dan merasakannya secara langsung, namun ia mampu mengimajinasikan segalanya tentang Dhara dengan bakat melukis yang ia miliki. "Setidaknya aku bersyukur kepada Tuhan karena memberiku bakat ini... Dhara kau adalah milikku dalam lukisan ini," ucap Jayden yang penuh dengan keposesifan. Jayden yang bahkan sejak lama menyukai dan jatuh hati pada Dhara selalu bersabar dan menanti keajaiban saat Dhara balik merasakan cintanya. Tapi apakah itu mungkin? Dhara hanyalah wanita pecinta uang dan kekayaan, Dhara sangat menginginkan status. Jayden memiliki semua itu namun tak sebesar milik Draco. "Dhara, aku yakin kau akan mencintaiku, aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Aku yakin penantian dan kesabaranku ini akan berbalas dan membuahkan hasil." ucap Jayden dengan sendu. "Kita akan bahagia dalam kekayaan dan cinta, Dhara aku berjanji padamu, aku akan menjadikanmu Ratu Kerajaan Hellas suatu hari nanti... Aku akan menjadi Rajaku satu-satunya..." ucap Jayden dengan senyuman seolah sedang berandai tentang segala hal indah yang akan ia jalani dengan Dhara. Sedetik kemudian Jayden tersenyum licik bak orang yang kehilangan kewarasannya, "aku benar-benar akan membuat kakak jatuh hati pada Calla! Aku tak peduli jika kakak memang membenci wanita itu, tapi kakan kupastikan Kakak akan mencintai Calla.... Lalu kau akan menjadi milikku, Dhara..." gumam Jayden yang tak pernah lepas dari senyuman memikatnya pada lukisan Dhara yang saat itu berpose setengah tiduran dengan diselimuti gaun putih tipis dan dikelilingi bunga mawar merah. . "Katakan apa yang terjadi saat aku tak ada!" Draco berucap dengan raut wajah datar miliknya. Draco tengah mengintimidasi semua orang yang hadir dalam pertemuan Kerajaan saat itu. Calla masih tertidur karena Draco memberikan cukup banyak obat yang membawa efek mengantuk dan tertidur dalam sarapan Calla pagi ini. Draco hanya ingin Calla beristirahat lebih banyak. Dhara dan Rhea serta beberapa selir yang hadir di sana nampak sedikit ketakutan, bagaimana jika Draco tahu jika semua yang terjadi pada Calla adalah ulah dari mereka semua? Tidak, mereka tak bermaksud menyiksa Calla, namun Dharalah yang awalnya memerintahkan mereka agar memerintah Calla sesuka hati. Lalu Dhara bahkan mengancam setiap orang agar tak memberitahukan perihal hal ini kepada Draco. Weylan, dan bahkan Jayden tahu semua yang Dhara lakukan. Tapi seperti yang kukatakan, posisi Dhara di Kerajaan ini sangat tinggi, walau tak setinggi Draco, namun semuanya patuh terhadap Dhara, karena yang mereka tahu adalah, Dhara si selir kebanggan Draco.l yang semua keinginannya adalah sebuah perintah yang wajib dijalankan. "Weylan! Apa kau mengetahui ini semua?!" desis Draco seraya melirik kearah orang kepercayaannya itu. Weylan tak ingin berbohong, lagipula ia tak ingin Calla diperlakukan seperti b***k setiap hari, maka dengan itu Weylan menganggukkan kepalanya, "benar Raja, mereka terutama Nona Dhara, ia selalu membuat Calla bekerja keras saat kau pergi..." terang Weylan yang membuat Jayden mengeraskan urat-urat di leher dan lengannya, pertanda jika sebuah emosi kembali memuncak di ubun-ubun Jayden. Bagaimana bisa Weylan menyangkut-pautkan nama Dhara di dalamnya?! "Dhara tak akan berbuat seperti itu!" ucap Jayden dengan spontan. Walau kenyataanya tak akan ada yang percaya dengan ucapannya. Dhara memang terkenal akan kelicikan dan juga ketamakannya. Draco melihat kearah Dhara yang berdiri diantara para selir lain. "Lalu, luka sebanyak itu di tangannya, apa kau juga yang membuatnya?" tanya Draco yang mulai bangkit dan berjalan perlahan mendekati Dhara yang mulai bergetar ketakutan. "Raj-a..." Dhara tak tahu harus mengatakan apa. Jayden yang melihat jika kakaknya mendekati Dhara segera maju dan menjadi perisai bagi Dhara. "Kak!" Jayden berdiri melindungi Dhara yang berada di belakang punggungnya. Draco memandang datar adik tirinya, "minggir" ucap Draco singkat. Jayden menggeleng, dia tahu tabiat Draco. Draco tak segan melukai siapapun yang membuatnya marah dan emosi. "Aku akan memberikan hadiah untuknya." ucap Draco seraya melirik Dhara yang sudah berkeringat dingin. Suasana di ruangan itu menjadi lebih mencengkam dari biasanya. Tak ada yang berani membuka suara untuk melerai atau mendinginkan suasana. "Dhara telah membuatnya terluka... Dan luka harus dibalas dengan luka, bukankah begitu? Dhara?" tanya Draco dengan licik. "Dia, Calla! Kau membencinya kan kak? Atau justru benci itu mulai tumbuh menjadi cinta?!" pertanyaan Jayden membuat Draco berhenti menganyunkan cambuknya. "Kau telah mencintai Calla!" ucap Jayden sekali lagi, dan Draco tertegun beberapa saat ketika kalimat adiknya itu menusuk masuk ke dalam hatinya. "Aku mencintainya?" tanya Draco dengan raut wajah tak terbaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN