"Aku mencintainya?!" tanya Draco dengan raut wajah yang tak akan mampu ditebak oleh siapapun.
Semua yang berada di ruangan itu menahan nafasnya. Mereka terlalu takut meledakan bom yang ada di kepala Draco. Terlihat jelas sekali Draco tak menyukai apa yang barusan Jayden ucapkan.
"Siapa kau berani mengatakan hal itu?!" Draco berdesis marah dan mencengkram kerah pakaian yang Jayden kenakan.
"Kakak, kau tahu aku bersumpah kau akan mencintai Calla hingga rasanya akan sangat membuatmu gila!" maki Jayden dengan sangat berani di hadapan Draco yang sudah mengeluarkan aura penuh amarah.
"Beraninya kau!" Draco tak segan-segan menjatuhkan tinjuannya di perut kotak milik Jayden, tinjuan kuat yang mampu membuat semburat darah meluncur keluar dari mulut Jayden.
"Uhuk, uhuk," Jayden jatuh terduduk dengan darah yang keluar dari mulutnya. Sungguh kekuatan Draco memang tak main-main.
Saat Draco hendak kembali memberi beberapa pukulan kepada Jayden, suara Rhea menghentikan semuanya.
"Rajaku..." panggilan lembut Rhea membuat Draco menatap wanita dengan gaun berwarna biru pucat di samping Dhara.
Rhea berjalan mendekati Draco dan menyentuh pundak Draco dengan sangat lembut seolah sedang menenangkannya.
"Pangeran Jayden itu adikmu... Apa kau akan melukainya? Sungguh?" tanya Rhea dengan raut wajah yang begitu menenangkan.
Draco membuang nafasnya kasar dan melirik tajam kearah Jayden yang masih terbatuk.
"Dia melewati batasannya! Dia-"
"Rajaku, semuanya bukanlah salah Pangeran Jayden, tak kah kau menyadari ini? Sejak Calla datang kemari seolah banyak sekali masalah yang terjadi..." ucapan Rhea membuat Draco balik memandang tajam Rhea.
"Lihat! Kau tak terima saat ada yang membawa-bawa Calla! Sudah jelas kau mulai jatuh cinta padany-"
Bruk
Dengan emosi yang kembali memuncak Draco menendang perut sang adik dengan begitu kuat sehingga darah yang tadinya berhenti keluar, kini kembali keluar hingga membasahi dan mengubah warna pakaian yang Jayden kenakan.
"Pangeran! Diamlah terlebih dahulu,! sentak Rhea pada Jayden.
"Shshhh," Jayden masih meringis kesakitan. Tak ada yang berani mendekati walau sekedar untuk membantu Jayden berdiri. Dhara? Dia tak berani berkutik dan abai kepada Jayden, padahal Jayden adalah satu-satunya orang yang memasang badannya demi Dhara.
"Aku tak mencintainya! Tak akan!" ucap Draco dengan lantang.
Raut wajah Draco menyiratkan emosi yang bercampur dan sangat sulit untuk dijelaskan. Rhea semakin mengelus pelan lengan Draco. Membujuknya supaya mengehentikan amarahnya kepada adik tirinya, Jayden.
"Aku tahu itu Raja, aku percaya kau tidak akan pernah mencintai Calla." ucapan Rhea yang seolah seperti mantra yang ia ucapkan pada Draco.
Draco terdiam, dia kembali melirik kearah Dhara. "Aku tak suka pada kecurangan, ketidakadilan dan kejahatan! Kalian semua tahu itu?!" tanya Draco yang masih terus memandangi Dhara.
"Kami tahu, Raja..." ucap mereka semua.
Draco menunjuk Dhara dengan jari telunjuknya dan berkata, "hukum dia! Berikan seratus kali cambukan pada tubuhnya!" perintah Draco kembali membuat Jayden merasakan amarahnya.
Saat salah seorang pengawal membawa cambuk dan berniat melaksanakan perintah Draco, Jayden kembali memasang badannya.
"Cambuk aku! Aku akan menerima hukuman Dhara," ucap Jayden sembari berlutut di hadapan Draco.
Dhara yang menyaksikan semuanya merasa sedikit tersentuh. "Jayden..." lirih Dhara dengan setetes air mata yang segera ia hapus.
"Cambuk dia! dua ratus kali!" ucap Draco dan kemudian pria tampan itu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh Rhea.
Memang di saat seperti ini hanya Rhealah yang mampu dan berani untuk berbicara kepada Draco.
Ctas
Ctas
Ctas
Cambukan itu terdengar, Dhara yang melihat berkali-kali saat cambuk itu melukai punggung Jayden merasa bersalah.
"Tidak Dhara, ini bukan salahmu! Kau tak pernah memintanya untuk membelamu!" gumam Dhara yang menyaksikan Jayden di cambuk dari kejauhan.
"Kau tidak boleh goyah! Hancurkan Calla! Rebut tahta dan binasakan mereka semua!" batin Dhara.
.
Draco memilih untuk kembali ke paviliunnya setelah berbicara panjang lebar dengan Rhea beberapa saat lalu.
Walau Rhea membuat emosinya sedikit meredup, namun tetap saja, Draco masih merasa tak rela saat mendengar semuanya. Tentang Calla yang diperbudak oleh para selir, dan tentang mereka yang memberikan racun dosis rendah pada makan siang Calla.
Sungguh, Draco tak mengerti dengan dirinya, tujuan awal Draco membawa Calla kemari adalah agar wanita itu tak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan. Namun mengapa rasanya kini justru Draco tak ingin jika luka, penderitaan dan rasa sakit datang menghampiri Calla?!
"Apa yang kau lakukan?!" Draco kembali merasakan emosinya kala melihat Calla yang tengah mengelap lantai dan berlutut di lantai dingin ini tanpa alas kaki.
Draco baru saja masuk dan membuka ruangan tempat dimana Calla berada, ya... Kamar pribadi milik Draco.
"Tu-an, aku hanya mengelap tumpahan ini, aku tak sengaja, aku tad-"
"Cukup." ucap Draco memotong ucapan Calla. Draco berlutut tepat di hadapan Calla dan melihat pada kaki putih Calla yang tanpa alas kaki dan juga lantai keras dan dingin itu.
Lalu dalam hitungan detik tubuh indah Calla telah berada di dalam rengkuhan hangat milik Draco, Draco membawa Calla kembali ke ranjang dengan cara menggendongnya.
"Tu-an?" Calla sedikit terkejut saat Draco mengangkat tubuhnya.
"Jangan turun dari ranjang tanpa izinku. Ini adalah perintah." ucap Draco tanpa ingin dibantah setelah menurunkan dan membuat tubuh Calla nyaman di ranjang miliknya.
Lalu tanpa mengucap sepatah kata apapun, Draco keluar dari ruangan itu. Calla semakin terheran dengan Draco yang bak bunglon, berubah-ubah.
"Ada apa dengan Tuan Draco?" gumam Calla memandangi tumpahan teh Rosella yang belum ia bersihkan dengan tuntas di lantai.
Tadi sewaktu bangun Calla merasa sangat haus dan memilih untuk meminum teh harum bunga Rosella yang sudah tersedia di meja kecil samping ranjangnya, namun tak sengaja cangkirnya terjatuh dari pegangan Calla, mungkin karena Calla masih merasa begitu lelah.
Cklek
Pintu itu kembali terbuka, Draco kali ini masuk bersama dengan seorang wanita tua yang memiliki wajah ramah. Bahkan wanita tua langsung tersenyum hangat kepada Calla, Callapun tanpa ragu balik membalas senyuman si wanita tua.
Draco tertegun, "senyuman itu, mengapa terlihat sangat indah?!" batin Draco berteriak.
"Dia adalah Areta, dia akan menemanimu di paviliun ini." ucap Draco dengan datar seperti biasanya.
Areta tersenyum, "perkenalkan, nama saya Areta, Nona Calla." ucapnya.
"Salam kenal bibi, namaku Calla, Calla." ucap Calla dengan senyuman kepada Areta.
"Nama yang sangat cantik, sama seperti orangnya... Bukan begitu, Raja Draco?" tanya Areta seraya melirik Draco.
Draco diam dan membuang wajahnya yang ternyata sedang memerah.
"Aku harus pergi."ucap Draco seraya dengan cepat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Calla terdiam, dia masih senantiasa memikirkan Draco yang sikapnya berubah-ubah.
"Raja memang seperti itu Nona..." ucap Areta yang seolah paham apa yang sedang Calla pikirkan.
"Bibi... Jangan panggil aku Nona, cukup panggil aku Calla. Oke?" ucap Calla dengan memegang tangan Areta.
Areta tersenyum dan mengelus rambut indah Calla. "Baiklah Calla." ucap Areta, entahlah rasanya bahagia bagi Areta karena dapat menjadi pelayan bagi Calla.
Areta tahu tentang gosip yang beredar di Kerajaan. Tentang Calla si selir yang begitu cantik, sempurna.
"Kau cantik sekali Calla... Aku yakin Raja akan jatuh hati padamu... Dia akan," ucap Areta dengan mata berbinar.