17- Ingatan Kecil Draco

1298 Kata
"Bagaimana perkembangan negosiasi kita dengan Kerajaan Mixrin?" Draco bertanya kepada Weylan, saat ini mereka berdua tengah berada di ruang kerja Draco. "Mereka belum sepenuh hati menyetujui keinginan kita, Raja. Ratu Rena, dia selalu menghasut Raja Willem. Kurasa semuanya berlangsung alot karena Ratu Rena yang ternyata sangat membenci anda." ucap Weylan dengan analisis yang sangat matang. "Rena? Apa aku mengenalnya?" tanya Draco. Weylan nampak terkejut, apa Draco melupakan Rena yang dulunya adalah kekasih Draco? "Kau melupakan dia? Raja kau sungguh tak mengingatnya?" tanya Weylan dengan wajah binggung. Draco, ya dia adalah Liam. Bisa dikatakan jiwa Liamlah yang mendiami raga Draco saat ini. Masalahnya saat pertama kali Liam membuka mata dan sadar ia berada dan menjadi Draco, semua ingatan Draco samar-samar mulai muncul walau belum sepenuhnya jelas. "Entahlah, jangan tanyakan apapun." ucap Draco. Weylan menurut, perintah Raja adalah segalanya bagi Weylan. "Raja, bolehkan aku meminta sesuatu?" tanya Weylan tiba-tiba. Draco menoleh kearah Weylan, mengangkat alisnya dan mengangguk, "apa?" "Jika suatu hari nanti aku menikah, bolehkan kuberikan posisiku yang sekarang kepada orang lain yang jauh lebih pantas?" tanya Weylan. Draco kembali fokus pada orang kepercayaannya itu. "Jika kau akan menikah, mengapa tak tetap bekerja dan tinggal di Kerajaanku?" tanya Draco balik. "Lagipula aku membayar dirimu dengan mahal kan? Kau dan istrimu nantinya akan hidup berkecukupan dan memiliki status yang tinggi." ucap Draco spontan. Weylan menggeleng dan tersenyum, "aku ingin hidup seperti orang biasa di desa dengan keluarga kecilku nanti, dengan istri yang kucintai dan anak-anak kami." ucap Weylan yang saat itu membayangkan dirinya dan Calla bersama. Draco tak menanggapi, dia memilih untuk membaca semua berita dan berkas tentang Kerajaan lain. Hingga Weylan menyebut nama Calla. "Nona Calla..." ucap Weylan yang langsung membuat Draco menaruh fokusnya kembali kepada Weylan. "Apa dia membuat masalah? Apalagi kali ini?!" tanya Draco yang mulai terpancing emosi. Weylan terkekeh kecil, tangannya ia gunakan untuk menutupi bibirnya yang tak bisa untuk tak tertawa. Mengapa Rajanya begitu mudah terpancing hanya karena selir itu? Apa benar Draco sangat membenci Calla? Pikir Weylan saat itu. Tapi, jika memang benar adanya, bukankah hal ini akan semakin lebih mudah bagi Weylan untuk memiliki Calla? Toh mereka berdua saling mencintai, bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti kisah Calla dan Draco nantinya. "Nona Calla tak melakukan apapun Raja," ucap Weylan. "Jika kau selalu seperti itu maka semua orang akan sukar untuk dekat denganmu..." ucap Weylan. "Raja, sesekali cobalah tersenyum kepada orang lain, jangan terlalu mengeluarkan aura mengerikan milikmu..." nasihat Weylan. Ya, jauh sebelum ini Weylan memang sudah menganggap Draco sebagai adiknya, dia sudah mengenal lama Draco bahkan sejak mereka kecil. Tapi kurasa Draco melupakan itu semua "Ini wajahku. Aku tak bisa mengoperasi wajah ini agar selalu tersenyum ramah sepertimu!" ucap Draco kesal, Weylan hanya tertawa kecil dan bernostalgia tentang seperti apa Draco semasa dia kecil dahulu. "Semenjak dulu hingga kini kau masih tetap sama Raja..." "Ceritakan masa kecilku." pinta Draco tiba-tiba. Weylan menoleh pada Raja Kerajaan Hellas itu, dia mengangguk. "Baiklah, sedikit cerita masa kecil rasanya tak akan membosankan..." kekeh Weylan, dan di mulai bercerita tentang Draco kecil, tentang Raja dan Ratu sebelumnya, orang tua Draco. Weylan mulai bercerita dengan sangat amat tenang, sementara Draco dengan serius mendengarkan setiap kata yang Weylan ucapkan. "Raja Ronf dan Ratu Mirae, mereka begitu baik padaku, aku hanya anak yatim piatu yang tak memiliki identitas, hingga suatu hari saat usiaku lima tahun, Ratu Mirae membawaku ke Kerajaan ini, sejak saat itu aku tinggal dan mengabdikan hidupku pada kalian.," "Ratu Mirae tak terlalu menyukaimu, Raja. Dia selalu enggan untuk berada di ruangan yang sama denganmu, dia tak pernah mau menatapmu. Tapi jangan salah paham, aku yakin Ratu Mirae memiliki sebuah alasan untuk itu." ucap Weylan dengan memandang sang Raja yang sedang sangat serius. "Waktu itu Kerajaan Hellas juga bukan kerajaan yang besar... Penyihir hutan lebih berkuasa ketimbang para manusia bahkan Raja sekalipun." "Aku ingat saat itu aku dan kau bertemu untuk yang pertama kalinya di perbatasan hutan dan kerajaan. Saat itu kau sedang berlatih memanah rusa, Raja Ronf, ayahmu memintaku untuk membawamu kembali ke Kerajaan karena serangan penyihir hutan yang kembali memanas." Weylan menjeda ucapannya. "Raja, karena kejadian waktu itulah membuatku berhutang nyawa padamu." ucap Weylan dengan sedikit sendu. Draco masih mencerna semuanya, kepingan ingatan mulai datang saling bertautan di pikirannya. "Kau menyelamatkanku dari kutukan penyihir hutan, bahkan kau terpanah oleh racun mematikan demi menyelamatkanku," nada suara Weylan semakin menyendu. Kejadian bertahun-tahun lalu sungguh sangat kelam bagi Weylan dan juga Draco. "Kutukan? terpanah?" tanya Draco yang masih tak paham. Weylan mengangguk samar, "pundak kirimu, bekas panahan itu membekas di sana." ucap Weylan seraya menunjuk pundak Draco. Sungguh demi apapun Draco tak paham dan bahkan ia baru tahu, Liam hanya seorang petinju yang mati dan membuka mata di dalam tubuh Draco. "Aku harus mencaritahu semuanya!" gumam Draco saat itu yang terdengar oleh Weylan. "Apa yang mau kau cari tahu Raja?" tanya Weylan. "Bahkan satu Kerajaan dibuat panik dan bingung di saat bersamaan saat itu,kau seharusnya kesakitan, tapi kau sama sekali tak merasakan sakit yang seharusnya. Tabib mengatakan jika daya tahan tubuhmu memang kuat, tapi bukankah itu sangat aneh? Bahkan sejak saat itu Ratu Mirae semakin ketakutaan saat melihatmu." terang Weylan. "Mirae? Dia ibu kandungku?" tanya Draco yang membuat Weylan menggerutkan keningnya. Ada yang tak beres, itulah yang Weylan pikirkan. "Raja, kau benar-benar melupakan segalanya? Ada apa ini?" tanya Weylan yang sekarang justru panik. "Apa kau jatuh terbentur hingga melukai ingatanmu?" tanya Weylan yang tak lagi bisa menyembunyikan kekhawatiran miliknya. Draco menggeleng, akan semakin rumit jika ada yang tahu jika sejatinya Liam yang mendiami jiwa Draco saat ini. "Tidak, aku hanya lupa." ucap Draco singkat. "Lalu-" "Cukup. Pergilah aku akan melihat Calla terlebih dahulu." ucap Draco dengan nada yang tak ingin di bantah. "Semoga Raja tak melampiaskan kemarahannya kepada Calla." batin Weylan seraya menutup pintu ruangan Draco. . "Tuan? Kau di sini?" Calla yang saat itu tengah duduk termenung di pinggir kolam hanya mampu membungkuk hormat. "Ini Kerajaanku!" ucap Draco sinis seraya mengambil tempat duduk tepat di samping Calla. Calla sedikit kikuk, "maaf... Ini memang Kerajaanmu..." ucap Calla lirih. Draco tak menghiraukan ucapan Calla. Dia berbaring dengan menjadikan paha Calla sebagai bantalannya. Calla bahkan sampai kaget atas apa yang Raja Kerajaan Hellas itu lakukan. Apa Draco sedang sakit? "Pijat keningku!" pinta Draco yang masih menutup matanya. Dua detik Calla terdiam dan me Gamari wajah Draco, tangannya melayang di udara, terlalu takut untuk memijat kening Draco, hingga saat sang Raja membuka matanya dan memandang Calla dengan datar, Draco mengarahkan tangan Calla ke keningnya dan meminta Calla untuk memijatnya. "Pijat, aku sangat pening." ucap Draco dengan suara rendah dan bahkan terdengar sangat lelah di dalamnya. Calla menurut dia mulai memijat Draco, dengan lembut dan hati-hati. Sentuhan Calla pada Draco membuat Raja itu merasa tenang dan bahkan hampir tertidur. "Dhara dan yang lain tak menganggu dirimu lagi kan?" tanya Draco supaya dia tak tertidur, dia harus mencari topik untuk dijadikan alsan agar ia tak tertidur karena sentuhan dan pijatan lembut milik Calla. "Tidak..." jawab Calla apa adanya, jujur saja selama beberapa hari ini Draco berada di Kerajaan, mana mungkin Dhara dan selir lain berani untuk memperbudak Calla? Tunggu saja saat Draco tak berada di Kerajaan, dapat dipastikan jika Dhara kembali meliar. "Bagus." ucap Draco singkat. Calla terdiam, sontak sebuah pertanyaan sederhana muncul di pikirannya. "Tuan, mengapa anda begitu membenci Alisa?" "Apa wajahku ini benar-benar mirip Alisa?" Dua pertanyaan yang Calla lontarkan membuat Draco kembali membuka matanya dan duduk. "Nama Alisa dilarang untuk diucapkan! Tak ada yang boleh mengucapkan nama Alisa!" ucap Draco dengan suaranya yang kembali menjadi serak dan dalam. Calla tersenyum sendu, "kecuali kau, Tuan selalu menyebut namanya..." ucap Calla dan selir itu pergi dari sana meninggalkan Draco dengan semua pemikirannya yang tak menentu. "Alisa! Aku membencimu! Bahkan duplikat dirimu!" desis Draco saat melihat wajah Calla yang tersenyum sendu, entah mengapa membawa rasa sakit tersendiri. Mengapa Draco tak suka melihat senyuman sendu tadi?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN