18- Calla Penyelamat Draco

1043 Kata
Pagi itu Kerajaan Hellas tengah dilanda keributan. Bagaimana tidak? Draco sedang mencambuki satu per satu pengawal dan beberapa pelayan. "Apa kalian hanya tidur? Bagaimana bisa kalian lengah hanya dalam menjaga seorang gadis lemah sepertinya?!" Draco berteriak seperti orang gila. Mungkin bagi beberapa orang pemandangan ini sangatlah mengerikan, saat darah dan bahkan tulang-tulang mereka retak tak berbentuk, namun bagi Dhara dan Rhea semua pertunjukan ini sangat amat seru! "Sudah lama sekali sejak pertunjukan menarik dilakukan..." gumam Dhara yang di dengar oleh Rhea yang berada di sampingnya. Kali ini Rhea dan Dhara nampak akur,mungkin saja kedua selir cantikku bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. "Ma-af, Raja, kami lalai..." ucap salah satu pengawal yang di wajahnya penuh lebam. "Apa dengan maafmu, Calla akan di temukan?!" tanya Draco seraya mengacungkan pedangnya. "Raja!" Weylan yang baru saja datang karena mendengar kericuhan yang terjadi menjadi dua kali lipat lebih panik saat mengetahui Calla menghilang. "Tenang, emosi dan amarah tak akan membuahkan apa-apa." ucap Weylan yang saat itu sedang risau karena orang yang ia cintai, kekasihnya menghilang. "Calla! Aku akan benar-benar menghukum dirinya! Dia-" "Raja!" Weylan memotong perkataan Draco. Ini adalah kali pertamanya bagi Weylan seberani ini menentang Draco. "Kau bersuara tinggi kepadaku?!" desis Draco yang kini berjalan mendekati Weylan. Weylan mengusap wajahnya kasar, "Raja, yang terpenting saat ini adalah menemukan Calla dalam keadaan selamat. Itu yang terpenting, bukannya menghukum mereka satu per satu." ucap Weylan. Draco terdiam lalu membuang pedangnya ke lantai, sehingga suara nyaring dari pedang silver dan lantai menghasilkan keheningan dalam beberapa saat. "Dii mana Areta?!" tanya Draco setelah menyadari jika Areta tak terlihat sedari tadi. Semua yang ada di sana saling memandang dalam diam, benar, dimana Areta? "Sialan! Apa dia membawa kabur Calla?!" ucap Draco yang kembali tersulut emosi. Weylan diam dan berfikir dengan tenang,mencari kemungkinan dimana Calla berada. Yang ia tahu Areta adalah pelayan tua yang Draco pekerjakan untuk menemani Calla di paviliun. Calla sempat bercerita kepada Weylan jika Areta adalah orang yang sangat baik dan Areta tak mungkin membawa lari Calla kan? "Raja, itu tak mungkin-" "Dia yang terakhir bersama Nona Calla, Raja..." ucap salah seorang pelayan. Draco semakin yakin dengan pemikirannya. Areta membawa lari Calla! Tapi untuk apa?! "Sialan!" desis Draco. Draco kemudian memerintahkan seluruh pengawalnya untuk mencari keberadaan si tua Areta. Draco juga tak tinggal diam, dia bergegas menaiki kudanya dan menyusuri daerah Kerajaan Hellas bahkan sampai ke perbatasan dengan wilayah penyihir hutan. . "Sialan! Apa yang kau lakukan hah?!" Draco berteriak murka, bahkan ia telah mengeluarkan pedangnya dan mengacungkan pedang itu kepada Areta yang tersenyum licik. Entah keberuntungan darimana, tapi Draco menemukan Areta yang wajahnya menjadi lebih muda, bagaimana bisa Draco mengenali Areta? Gaun yang wanita itu pakai. Draco masih ingat jelas. "Oh, Rajaku yang tampan... Apa yang aku lakukan? Aku hanya mencoba untuk mempertahankan keabadianku ini... Kecantikan ini..." ucap wanita tua yang kini nampak lebih muda seraya mengelus wajahnya sendiri yang membuat Draco ribuan kali menahan muntahnya. Licik! Draco dan Areta saat ini berada di perbatasan antara wilayah Kerajaan dan wilayah penyihir hutan. Seketika terbesit pemikiran, '"apa dia adalah salah satu penyihir hutan yang tersisa?!" batin Draco. "Di mana Calla?!" tanya Draco mengacungkan pedangnya tanpa basa-basi. Areta tertawa licik, tubuhnya lalu melayang di udara. Areta adalah seorang penyihir! Pemikiran Draco benar kali ini! Baiklah, Draco kecolongan satu kali. Tapi ia tak akan kecolongan dua kali! "Penyihir!" desis Draco. Areta mendekati Draco dan menyentuh lembut pedang berkilau yang Draco pegang. "Ya... Itu aku, kau terkejut Rajaku?" tanya Areta licik. Areta semakin menjamah tubuh Draco. Mengapa Draco hanya terdiam? Areta adalah penyihir, dia baru saja menyihir Draco, membacakan mantra dan membuat tubuh Draco kaku tak bisa bergerak. "Ahahahaha!" Areta semakin tertawa puas saat melihat Draco yang tak bisa berkutik. "Raja... Draco! Kau begitu tampan!" ucap Areta yang sejatinya wanita tua! Penyihir tua! Draco memandang Areta dengan tatapan mematikan, namun bagaimana? Tubuhnya tak mampu bergerak. "Calla? Selir lemah itu?" tanya Areta seraya mengecup rahang tegas milik Draco. Dalam hati Draco ingin muntah rasanya saat tahu jika Areta wanita tua itu baru saja menciumnya tepat di rahangnya. "Sialan! Tubuhku tak bisa digerakkan!" batin Draco di dalam hatinya seraya memandang benci Areta "Bagaimana jika kukatakan aku telah menumbalkan dia?" Draco melotot penuh amarah, matanya tak bisa berbohong, walau tubuhnya kaku tapi tidak dengan kekuatan di dalam tubuhnya. Dengan berbagai cara Draco mencoba untuk bergerak, namun sayang sekali ia tak mampu. Sihir milik Areta ternyata begitu kuat. "Bagaimana jika kita menghabiskan satu malam, berikan aku benihmu di dalam sini..." ucap Areta seraya mengelus perut rata miliknya. Secara tak langsung Areta meminta Draco untuk bersetubuh dengannya! Sudah pasti Draco tak akan Sudi! "Ahaha, itu ide yang bagus bukan? Aku akan memiliki keturunan dari Raja sepertimu, bayangkan akan sekuat dan secerdik apa anak kita nantinya..." ucap Areta yang membelai d**a bidang Draco. "Lalu aku akan menjadi Ratu di Kerajaan Hellas.Kita bisa menyatukan kaum manusia dengan penyihir!" ucap Areta dengan intonasi bahagia. Namun tak lama setelah itu Areta melotot dan dari matanya keluar darah segar berwarna hitam, darah khas para penyihir. "Akhs!" Areta memegang perutnya. Sebuah anak panah timah yang ujungnya diselimuti oleh racun menembus dalam perutnya, hingga membuat pembuluh darah di matanya pecah saking sakitnya panahan itu. Dan seketika itu pula sihir Areta di tubuh Draco hilang, Draco terjatuh ke tanah dengan tubuh yang telah mampu ia kendalikan. "Calla?" Draco menoleh ke sebrang sungai kecil itu, Calla berdiri dengan bergetar seraya memegang anak panah. Saat Draco akan menghampiri Calla, wanita cantik itu telah lebih dahulu jatuh tak sadarkan diri. "Calla!" teriak Draco yang mempercepat langkahnya mendekati tubuh putih Areta yang terdapat banyak sekali lebam. "Calla!" Draco menepuk-nepuk pipi putih Areta yang kehilangan rona merah muda di dalamnya. Seketika rasa sesak yang tak bisa Draco deskripsikan kembali menguar, ia tak bisa melihat Calla terbaring dengan menutup matanya seperti itu. Draco tak rela. Bahkan ia tak pernah merasakan perasaan ini kepada Alisa dulu, namun untuk Calla, mengapa perasaan ini menjadi lebih kuat? "Bertahanlah. Kau akan baik-baik saja." ucap Draco dengan mengangkat tubuh Areta dan kembali menunggangi kuda putihnya untuk kembali ke Kerajaan. Calla harus segera mendapatkan pertolongan pertama! "Maafkan aku... Calla, maafkan aku!" gumam Draco dengan air matanya yang menetes membasahi kedua mata Calla yang tertutup rapat saat itu. "Aku mencintaimu..." ucap Draco lirih pada akhirnya. Kini akhirnya Draco telah menyadari perasaanya, dia mencintai Calla. Calla dan bukan Alisa!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN