19- Calla Kembali Terluka

1008 Kata
Draco tiba di Kerajaannya dengan Calla yang berada dalam dekap pelukannya. Dia dengan segera kembali ke paviliunnya. Bahkan para pengawal dan pelayan serta selir menatap heran dan bertanya-tanya ada apa dengan Draco? Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Draco memasang ekspresi dan raut wajah penuh ke khawatiran. "Rajaku, ada apa ini?" Rhea bertanya dan mengimbangi langkah lebar Draco. Draco abai dan tetap berjalan cepat, Rhea yang tak menyerah terus mengikuti langkah Draco hingga kini mereka sampai di depan gerbang paviliun pribadi milik Draco. Rhea menghentikan langkahnya, ia tak lupa jika ia dan bahkan semua yang lain tak diizinkan untuk memasuki daerah paviliun pribadi milik Draco. Draco berbalik dan menatap Rhea, "ikutlah, Rhea." ucap Draco singkat. Rhea yang telah mendapatkan izin segera masuk dan mengikuti Draco. Bukankah ini kesempatan langka? Bisa melihat langsung dan memasuki tempat pribadi Raja. Draco menaiki satu per satu anak tangga yang membawanya hingga ke sebuah ruangan. Rhea dibuat kagum, ini lebih indah daripada kamarnya dan Dhara saat di Kerajaan. "Apa kamar seindah ini di tempati selir seperti Calla?!" batin Rhea. Draco membaringkan tubuh Calla dengan sangat hati-hati. Lalu suara la ta g Draco memanggil beberapa pengawal yang memang bertugas khusus menjaga paviliun ini. "Pengawal!" teriak Draco. Lalu tak lama dua orang pengawal masuk dan membungkuk hormat kepada Draco dan Rhea. "Iya Raja... Ada apa?" tanya salah satu dari dua pengawal yang datang. "Bawa dokter kerajaan kemari dalam sepuluh menit." ucap Draco dengan nada suaranya yang begitu dalam. Mereka mengangguk dan sesegera mungkin menjalankan apa yang Draco pinta. Mereka tak ingin Draco marah dan terkena imbasnya. Draco mendudukkan dirinya di samping Calla, tangannya secara spontan mengelus lembut rambut bergelombang milik Calla dengan sangat hati-hati. Rhea lagi dan lagi di buat syok, mengapa Draco bisa selembut itu pada Calla?! Bukankah sebelumnya Draco selalu bersikap kasar? Draco memandangi Calla yang wajahnya sangat pucat, dengan lumayan banyak luka goresan kecil di wajah dan lengannya. Lalu tatapan Draco berpindah pada jari-jemari Calla yang ternyata terdapat banyak sekali luka-luka kecil. Bukan, Draco tak pernah mengamati Calla sedetail sekarang. Ia baru tahu ada banyak luka kecil yang bahkan sudah mengering di sana. "Luka?" tanya Draco yang entah pada siapa. "Sebanyak ini?" Draco mengangkat sedikit lengan gaun yang Calla pakai dan betapa terkejutnya Draco saat mendapati ada lebih banyak luka sayatan dan bahkan luka pukulan benda tumpul di tangan Calla. Jika luka ini sudah mengering tentu saja ini bukanlah luka yang disebabkan oleh Areta si penyihir hutan, Draco harus mencari tahunya nanti. "Sialan." lagi dan lagi Draco hanya bisa mengucapkan kata sialan. Entah mengapa Draco merasa seperti kecolongan. Draco benar-benar merasa kecolongan, dia tak mengira Calla akan seperti ini. Dia tak mengira orang yang ia pekerjakan untuk menemani Calla adalah seorang penyihir hutan yang begitu licik. "Raja, ada apa sebenarnya..." Rhea yang sedari tadi diam akhirnya memilih untuk mencairkan suasana dengan sebuah pertanyaan. Draco enggan menjawab, dia tetap terdiam dengan fokusnya yang tertuju pada Calla. Hingga pintu ruangan ini terbuka. Ceklek Seorang pengawal dan dan dokter kerajaan masuk. Draco enggan bergeser ataupun pindah dari posisinya. Dia masih menggenggam erat jemari ramping Calla "Periksa dia!" pinta Draco kepada si dokter. Si dokter merasa sedikit takut, dan lagi, bagaimana ia bisa memeriksa Calla jika Draco menempeli Calla seperti ini? Bahkan dokter itu rasanya sulit sekali bernafas karena Draco yang memandangnya tajam seolah akan membunuhnya. "Yang Mulia Raja, bisakah anda bergeser sedikit? Saya akan mengecek nadinya terlebih dahulu." pinta si dokter dengan suara bergetar. Akhirnya Draco menggeser tubuhnya dan membiarkan si dokter dapat dengan leluasa memeriksa pembuluh darah Calla. Sebelum sempat tangan si dokter menyentuh permukaan kulit Calla, Draco lebih dulu menghalanginya. "Jangan menyentuhnya!" desis Draco seraya menatap tak suka pada si dokter. Si dokter dengan tangan bergetar dan melayang di udara, dia kebingungan, "lalu bagaimana saya memeriksa dia?" tanya si dokter dengan nada suara bergetar. "Gunakan kain ini saat menyentuh bagian dari kulitnya," Draco memberikan kain polos berwarna hitam pada si tabib. Draco tak rela jika ada lelaki lain yang menyentuh Calla. Entahlah perasaan ini datang darimana. Mungkin saja benar jika rasa dalam hati Draco mulai tumbuh, dan kalian tahu? Rasa itu akan tumbuh semakin besar hingga kalian tak lagi mampu membayangkan semengerikan apa Draco dengan obsesi cintanya yang gila kepada Calla. Namun bagaimana jika seandainya Draco tahu tetang Calla dan Weylan? Weylan bahkan sudah sangat sering merasakan betapa lembut dan manisnya bibir delima milik Calla. Akankah semuanya menjadi semakin runyam dan tak terkendali saat hubungan antara Weylan dan Calla yang terjalin dalam sebulan ini mulai terbongkar? "Mengapa Raja begitu posesif terhadap selir itu? Bahkan pada Nona Dhara dan Nona Rhea dia tak se-posesif ini." batin si dokter yang merasa heran. Dokter itu mulai memeriksa Calla dan mendapati sesuatu yang aneh. "Tuan, denyut nadinya tidak normal. dan suhu tubuhnya begitu panas. Dia kelelahan dan sepertinya, dia telah diracuni." "Sialan! Areta si penyihir hutan itu pasti telah berbuat sesuatu kepada Calla!" ucap Draco. "Dia menjadi lebih muda saat aku menemukan dia!" ucap Draco penuh kebencian. Rhea yang masih tak tahu apapun memilih untuk diam dan mendengarkan semuanya. "Apa?!" tanya si dokter dengan terkejut. "Lakukan apapun agar racunnya tak menyebar. Buat Calla kembali seperti semula atau kau akan menerima akibatnya!" desis Draco. Si dokter mengangguk kaku, "baik Raja, aku akan meracikan obat terlebih dahulu." ucapnya dan kemudian dia meninggalkan ruangan itu. "Rhea, gantikan pakaian yang nyaman untuk Calla. Bersihkan tubuhnya juga!" ucap Draco dan kemudian dia meninggalkan ruangan itu. Cklek Pintu tertutup, kini hanya tersisa Rhea dan Calla di dalam sini. Rhea mengamati wajah dan tubuh Calla. "Apa ini artinya aku harus melayanimu? Calla? Selir rendahan?!" desis Rhea tak suka. Karena sumpah demi apapun, apakah ini maksud Draco mengizinkan Rhea memasuki Paviliunnya? Hanya untuk mengurusi Calla?! "Menyebalkan!" desis Rhea, dia segera melakukan apa yang Draco perintahkan sebelumnya. Gerakannya sungguh kasar dan bahkan terkesan brutal. Seperti tak sepenuh hati. "Kau akan membayar untuk jasaku membersihkan dan merawatmu hari ini. Calla!" ucap Rhea dengan tangan yang sedang menarik kasar gaun Calla yang memang sudah robek. "Bahkan kulitmu tak seindah kulitku! Aku yakin Raja hanya tergila-gila sesaat padamu. Setelahnya ia akan sadar dan kembali menjalankan rencananya untuk membuatmu menderita!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN