"Apa yang ingin kau lakukan?" pertanyaan itu terdengar, pertanyaan yang dilontarkan dengan suara yang begitu dalam namun lembut.
Draco, sejak Calla tersadar, Raja tampan itu bahkan tak pernah lagi meninggikan suaranya pada Calla, kini justru Draco selalu bersikap lembut kepada Calla.
Bukankah Calla harus bahagia?
Tidak.
"Aku akan melakukan beberapa pekerjaan, aku terlalu bosan tak melakukan apapun, Tuan," ucap Calla dengan menunduk, enggan bertatapan dengan si Raja Kerajaan Hellas itu.
"Tatap aku saat sedang berbicara padaku, apa wajahku ada di lantai itu?" Draco menyentuh dagu Calla dan menariknya perlahan hingga kini mereka saling bertatapan.
Calla menggeleng ragu, tapi faktanya berada dalam jarak sedekat ini adalah hal yang membuat Calla menjadi takut dan gelisah.
"Jangan melakukan apapun yang berat, kau belum sepenuhnya sembuh. Oke?" ucap Draco dengan lembut.
Calla yang tak memiliki jawaban apapun hanya mampu mengangguk, dia tak tahu harus merespon bagaimanapun lagi.
"Aku akan ke Kerajaan Mexry, aku akan bawakan beberapa manisan yang kau suka. Aku mendengar dari Pangeran Frans jika kau menyukainya kan?" Draco bertanya dengan memandangi bibir Calla yang tampak lembut dan manis, dan mengapa Draco rasanya ingin mencicipi bibir itu?
Calla menggeleng, ia tak ingin membuat Rajanya itu kesusahan. "Tak perlu, Tuan, aku tak terlalu ingin," jawab Calla apa adanya.
"Hei? Kau masih memanggilku Tuan? Sudah berapa kali aku bilang, panggil aku Draco, hanya Draco, bukan Tuan, ataupun Raja." ucap Draco menuntut.
"Aku tak bisa Tu-"
Cup
Draco menempelkan bibirnya di atas bibir Calla, membuat selir cantik itu tak mampu melanjutkan ucapannya dan dibuat kaget sekagetnya.
"Jika kau memanggilku Tuan lagi, bibirku akan senang hati mendisiplinkan bibirmu ini, Calla..." ucap Draco seraya mengelus bibir Calla dengan ibu jari miliknya.
Pipi Calla merona merah, Draco membuat sebagian bulu Roma Calla terangkat, bukan, bukan karena perasaan senang dan salah tingkah, tapi lebih kepada sebuah ketakutaan. Ia takut jika Draco akan benar-benar mencintai dirinya.
Calla tak menginginkan Draco untuk jatuh hati dan mencintainya dengan begitu dalam.
Weylan. Adalah lelaki yang mengisi hati Calla. Weylan adalah satu-satunya bagi Calla. Itulah yang selalu Calla ingat.
"Baiklah, aku akan segera pergi, kau boleh berjalan-jalan kecil di taman paviliun ini, tapi jangan terlalu lelah, hmm..." ucap Draco dan dia langsung mengecup kening Calla lama.
***
"Apa?! Mengapa jadi seperti ini?! Aku sangat tak rela!" maki Dhara dengan emosi.
Prank
Prank
Bahkan saking emosinya Dhara sampai melempar seluruh vas bunga yang ada di dalam ruangannya ke lantai.
Rhea yang duduk di ranjang hanya memijat keningnya lelah, "berfikir, jangan hanya emosi dan marah-marah." ucap Rhea.
"Kau sangat amat kekanak-kanakan." tambah Rhea lagi.
"Aku sangat membenci wanita itu! Aku sangat yakin, dia pasti mengguna-guna Raja saat di hutan kemarin, atau justru Calla sejatinya adalah bagian dari penyihir hutan?!" tanya Dhara sambil menutup mulutnya seolah baru menyadari jika yang ia katakan adalah sebuah kebenaran yang sebenarnya.
"Otakmu begitu sempit." ucap Rhea memutuskan untuk pergi meninggalkan Dhara di ruangan itu sendirian.
Di saat Dhara sedang menggunakan otak sempitnya untuk berfikir cara menyingkirkan Calla, Jayden masuk dan memeluk pinggang Dhara tanpa izin. Tentu saja Dhara langsung menjauhkan tangan Jayden, Dhara tak tertarik dengan Jayden.
"Lepaskan! Sangat tak sopan!" maki Dhara dengan suara nyaring miliknya.
Jayden sama sekali tak marah dengan ucapan dan tindakan Dhara, bukankah sudah kukatakan jika mereka saling mencintai? Ah? Maksudku Jayden yang teramat mencintai Dhara.
"Untuk apa kau kemari Pangeran Jayden yang terhormat?! Ruanganku tak menerima dirimu! Pergilah!" usir Dhara, walau bagaimanapun bukankah seharusnya Dhara menunjukkan rasa hormatnya? Jayden tetaplah pangeran di Kerajaan Hellas.
Jayden tersenyum, melihat Dhara yabg marah-marah seperti ini adalah suatu hal menyenangkan. Baginya Dahra sangat amat manis saat sedang marah, saat suara nyaringnya keluar dengan sempurna, saat wajahnya memerah dan saat bibir indah itu saking beradu mengucapkan beragam kalimat, Jayden rasanya sangat ingin menyentuh Dhara saat itu juga!
"Ceritakan padaku, Dhara aku akan membantumu..." ucap Jayden yang memilih untuk duduk di ranjang Dhara.
Jayden mengambil selimut Dhara dan mencumiumi aroma tubuh Dhara yang tertinggal di sana.
"Sangat harum..." gumam Jayden dengan suara kecilnya yang mustahil untuk di dengar Dhara.
Dhara menatap Jayden yang sedang menciumi selimutnya. Dengan emosi yang tak kunjung surut Dhara merampas selimut itu dan membuangnya ke lantai.
"Apa kau tak mengerti bahasa manusia?! Jayden! Aku sagat amat tak suka padamu! Aku mengusirmu! Aku tak menginginkanmu!" teriak Dhara tepat di hadapan Jayden yang saat itu menunduk, mencoba untuk mempertahankan senyuman miliknya untuk Dhara.
"Kau tak memiliki apapun! Kau hanya pangeran terakhir! Kau bukan siapa-siapa tanpa Raja Draco!" ucap Dhara yang entah disadari tidak oleh Dhara jika ucapannya sungguh menusuk hati Jayden.
Jayden bangkit dan berdiri menghadap kearah Dhara, masih dengan senyuman yang dengan susah payah ia pertahankan.
"Masalahmu adalah Calla... Benar?" ucap Jayden dengan sangat lembut.
"Aku akan membereskan masalahmu, aku akan.. Dhara," ucapnya lagi dan pergi dari ruangan itu dengan setetes air mata yang menetes keluar.
Mengapa rasanya hidup begitu tak adil bagi Jayden?
Jayden kembali ke ruangannya. Ruangan di paling ujung dengan penerangan yang sangat mini.
"Kakak, haruskah aku melenyapkan Calla? Aku tahu kau mulai mencintai dia, kau mulai merasakan kebenaran akan hatimu kan?" Jayden memilih untuk duduk di jendela yang memperlihatkan pemandangan malam.
"Tapi Dharaku begitu membenci Callamu..." ucap Jayden.
Jayden mengambil pisau lipatnya dan menggores jarinya, tanpa raut wajah kesakitan yang terlihat, Jayden mengambil darah itu dengan kuas dan mulai melukis wajah Dhara lagi di sebuah kertas kosong.
"Aku begitu mencintai Dhara, awalnya aku harap kakak akan jatuh hati pada Calla dan Dhara akan melihat ke arahku... Tapi aku salah, aku tak memiliki apapun untuk membuat Dhara bahagia kak." ucap Jayden ya g masih menggoreskan kuas itu dengan sangat lihai, belum apa-apa bahkan sudah nampak jelas gambar seorang wanita cantik yang tak lain dan tak bukan adalah Dhara.
"Kak, jika aku memiliki harta dan kekuasaanmu, pasti Dhara akan menjadi milikku kan?" tanya Jayden pada bulan di atas sana.
Jayden meletakan kuasnya dan memandangi lukisan kecil yang ia buat dengan sangat amat cepat.
"Benar... Dhara akan menjadi milikku sepenuhnya, kau akan bersama Callamu, tapi tanpa harta dan kekuasaan ini..."
"Aku tak terlalu tega melenyapkan kalian, tapi menghilangkan kalian dari mata Kerajaan Hellas adalah rencana yang bagus kan?" Jayden tersenyum aneh dengan pemikiran abstrak yang sulit untuk di pahami.
Kalian bisa menebak seperti apa karakter Jayden, dia tak baik ataupun jahat. Dia hanya ingin bahagia, namun takdir dan Tuhan membuatnya berada dalam situasi sulit.
Jayden orang baik, namun dia picik.