21- Bercerita Bersama Jayden

1933 Kata
Calla itu hanya manusia biasa, dia bisa lelah dan merasakan kesedihan. Apa mereka semua yang ada di sini sama sekali tak memikirkan perasaan Calla?! Bagaimana jika mereka atau mungkin kerabat mereka yang harus mengalami nasib seperti Calla? Apa mungkin mereka akan sanggup? Kurasa nasib hidup Calla adalah yang paling buruk. Tak percaya? Mari sedikit kuceritakan kisah Calla yang tak pernah dihiraukan oleh siapapun. Calla artinya cantik, namanya bahkan mengakui kecantikan alami miliknya, bidadari dan bahkan Dewi di atas sana saling memandang iri saat Calla lahir dari rahim seorang wanita yang tak lama hidupnya, benar, Ibu Calla meninggal tepat sesaat ia melahirkan Calla. Calla kecil saat hidup dalam lingkaran kebencian warga desa, rumor buruk tentang Ayah Calla dan Ibunya yang meninggal, membuat Calla dan Kakaknya hiduo dalam keadaan terasingkan. Kakak Calla yang setiap hari berjuang agar dapat membuat Calla hidup bahagia walau dalam ketidakmampuan dan kesederhanaan. Warga desa akan selalu menggunjing Calla, mengatainya anak iblis, penyihir kecil, penggoda licik, dan bahkan tak sekali, berkali-kali mereka mencoba mencelakai Calla. Namun, mungkin Tuhan masih menginginkan gadis kecil penuh luka itu untuk hidup dan menjalani berat dan berliku jalan panjang untuk mencapai ke surganya. Tuhan menguji Calla setiap saat. Kakak Calla, dia tak membenci Calla saat itu, saat mereka kecil mereka saling melengkapi, hidup berdua dengan kesederhanaan di dalam gubuk kecil di tengah hutan, warga desa membuang mereka, mengasingkan keduanya. Hingga saat usia mereka mulai menginjak remaja, Calla tumbuh menjadi semakin indah dan cantik, mata-mata yang tadinya memandang mereka dengan kebencian mulai berbalik kagum, banyak yang secara terang-terangan ingin menjadikan Calla sebagai istrinya, bahkan mengangkat Calla menjadi anaknya. Tapi kakak Calla tentunya tak rela, hingga di suatu hari di musim dingin, saat seorang bandar senjata dari pulau sebrang datang dan ingin merebut Calla untuk ia nikahi, Kakak Calla berusaha sekuat mungkin untuk melindungi sang adik, namun takdir lagi dan lagi merampas hak paling berharga dalam hidup Calla saat itu, Kakak Calla satu-satunya jatuh ke jurang yang begitu dalam yang ujungnya adalah sungai besar dengan aliran yang begitu deras. Calla berteriak dan menangis di tepi tebing itu, ia menangis dan berteriak marah pada Tuhan, kakaknya adalah orang yang begitu berharga bagi Calla, dan kini ia tak lagi mampu bersama dengan kakaknya, kakaknya jatuh jauh ke dalam sana, entah apa yang terjadi, Calla ingin menyusul kakaknya saat itu, namun si bandar senjata yang menyebabkan kakak Calla terjatuh telah terlebih dahulu menangkap Calla dan membawa gadis remaja itu ke kota. Calla menangis saat tangan dan kakinya diikat tak main-main dengan si bandar itu, ia ditarik layaknya hewan untuk diperjual belikan, karena ternyata orang-orang di kota sangat tertarik dengan kecantikan Calla yang jarang sekali terlihat di kota mereka ini. Ya... Kota Mexry. Hingga seorang Pangeran tampan dengan kuda putihnya datang dan membeli Calla, Calla tak pernah mengira ia akan diselamatkan oleh pangeran berkuda putih, namun Calla baru menyadari tak ada yang gratis di dunia ini. Pangeran berkuda putih itu menjadikan Calla sebagai salah satu selir Ayahnya. Ya, Frans pangeran berkuda putih yang menyelamatkan Calla dari bandar senjata itu. Namun, Frans juga yang menempatkan Cakka menjadi selir, orang yang digunakan oleh Raja untuk mengisi, dan menghangatkan ranjang mereka. Calla benar-benar tak menyukai hubungan semacam itu, dia memilih untuk menggores lehernya menggunakan batu runcing saat ia tahu jika malam itu Raja menginginkannya. Calla benar-benar menancapkan batu runcing itu dengan dalam sehingga sebuah bekas luka yang sangat terlihat jelas muncul di sana. Calla hanya tak ingin menjadi satu dari selir yang digilir oleh Raja. Itu bukan cinta. Itu kegilaan. Keserakahan. Kehidupan Calla tak pernah lebih baik ketimbang tembok dan pagar tinggi Kerajaan Mexry, dia hanya mampu berandai dan melihat jauh ke sana, berharap jika kakaknya, orang yang paling Calla sayangi datang kembali dan membawanya pergi dari tempat ini. Namun, naas semuanya sama sekali jauh dari apa yang Cakka pikirkan. Dia justru harus bertemu dan berhadapan dengan Draco dan Kerajaan Hellas. Tempat yang membuatnya merasakan neraka dunia. "Aku lelah dengan semuanya! Tak bisakah aku pergi saja dari dunia ini?" ucap Calla di dalam hatinya, yang saat itu sedang menjalani hukuman. "Aku ingin menjalani kehidupan sederhana tanpa semua beban dan masalah yang rumit ini. " batinnya lagi Ctas Ctas Dhara sedang mencambuk tubuh Calla, dia memanfaatkan keadaan saat Draco tak ada di Kerajaan, Dhara membawa Calla ke ruangan pribadinya dan menyiksanya agar tak ada siapapun yang melihatnya kecuali Rhea dan beberapa selir lain, oh dan juga Jayden. "Kuharap saat nanti aku dilahirkan kembali aku hanya menjadi manusia biasa, rakyat biasa yang tak perlu ikut campur dan masuk di dalam masalah kerajaan seperti ini." batin Calla menangis saat merasakan kulit punggungnya terasa sangat perih. "Apa Tuhan membenciku begitu dalam? Mengapa kau membuat hidupku semenderita ini? Semengerikan ini? aku hanya meminta kedamaian dan ketenangan, aku tak meminta harta dan kekuasaan. Tapi kau?! Kau membuatku terjebak di Kerajaan Hellas dengan Raja Draco dan masalahnya, aku tak mau... " "Tuhan, paling tidak kali ini berikanlah satu keajaiban milikmu. Jangan buat Raja mencintaiku, karena kau tahu, aku mencintai Weylan...." Ctas Ctas "Aku tak akan kuat jika hidup dalam dendam dan obsesi seseorang. Kali ini saja, Tuhan. Kau mendengar aku kan?" Ctas Ctas Entah sudah cambukan yang keberapa kali, Calla tak mau mengitung rasa sakitnya. "Kau, kau begitu membuatku merasa emosi! Kau tahu benar-benar membencimu Calla!" teriak Dhara penuh amarah. Calla hanya menunduk dan terdiam, tubuhnya kemas akibat cambukan di punggungnya. "Dhara, cukup." Jayden menghalangi cambukan Dhara yang baru saja akan dilayangkan ke tubuh Calla. "Minggir kau!" Dhara berusaha mendorong tubuh Jayden, namun Jayden menahan tanganya dan merampas cambuk itu. "Kakak akan tahu jika kau membuat lukanya semakin parah, aku tak ingin kakak melukaimu karena dia." tunjuk Jayden kearah Calla. Dhara menghela nafasnya kasar, kemudian dia memilih untuk pergi keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh selir lainnya, meninggalkan Calla dan Jayden berdua. "Huft..." Jayden menghela nafasnya, dia mengamati sedikit darah yang tercecer di lantai. "Aku tahu itu sangat menyakitkan." ucap Jayden yang tengah melepaskan ikatan di tangan Calla. Jayden membantu Calla berdiri, namun apa boleh buat, Calla benar-benar sangat lelah dan lemas. "Aksh..." rintih Calla. "Jika aku menggendongmu di depan dadaku, aku akan menyentuh luka di punggungmu, jadi ayo naik ke punggungku, aku akan menggendongmu di punggung." ucap Jayden yang saat itu mengangkat tubuh Calla dengan perlahan. "Mengapa kau membantuku?" tanya Calla dengan suara parau miliknya. "Kau menginginkan aku menjadi jahat?" tanya Jayden yang justru ambigu. Calla menggeleng samar, dia sudah cukup hidup dikelilingi oleh orang-orang jahat yang selalu menyiksa dan membuat hidupnya menderita. "Aku akan mengobatinya nanti, Kakak akan pulang dalam tiga hari lagi, kuharap luka di punggungmu akan lekas mengering." ucap Jayden ya g saat itu berjalan dengan Calla di punggungnya.Dia membawa Calla ke kamarnya. Kamarnya? Iya, Jayden membawa Calla ke sana. "Dimana ini?" tanya Calla lirih. "Kamarku, ruanganku." ucap Jayden apa adanya. "Mengapa ke sini?" "Memangnya mau kemana? Kau mau kembali ke paviliun dan membiarkan para pelayan dan penjaga tahu akan lukamu dan membuat Dharaku dalam bahaya? Tidak." ucap Jayden sambil menutup pintu. Jayden menurunkan Calla dengan sangat hati-hati di ranjangnya. "Nona Dhara..." lirih Calla saat menyadari ruangan ini dipenuhi oleh lukisan Dhara dengan beragam pose dan ekspresi. "Dia cantik kan?" tanya Jayden yang sedang menyalakan perapian, udara malam sangat dingin. "Kau yang melukisnya?" tanya Calla dengan mata yang masih meliar, melihat satu persatu lukisanya. "kedua tanganku," jawab Jayden yang terdengar seperti candaan. Jayden kembali mendekati Calla yang duduk di ranjangnya. "Buka pakaianmu," pinta Jayden yang sungguh terdengar enteng. Calla terdiam beberapa detik, "tak mau, untuk apa?" tanya Calla menatap binggung kepada Jayden. "Bagaimana aku bisa mengobati lukamu?" Jayden bertanya balik. Jayden yang tahu apa yang sedang Calla pikirkan saat itu tersenyum kecil, "aku mencintai Dhara, tubuhmu tak akan membuat rasa cintaku pada Dhara berubah." ucap Jayden yang sedang menyiapkan bebrapa obat ramuan yang sudah terlebih dahulu ia siapkan sedari siang tadi. "Ba-iklah," ucap Calla. Calla mulai membuka gaunnya, namun sangat amat perih dan menyakitkan. "Ssh..." ringis Calla. "Huh... Mari biar aku saja yang membukanya," Jayden turun tangan dan membantu Calla untuk melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Sehingga terlihatlah tubuh Calla yang mulus, namun diselimuti cukup banyak luka di punggungnya. "Kakak tak akan menyentuh dan berhubungan badan denganmu kan?" pertanyaan Jayden memang tak main-main. Calla bahkan sampai merasakan pipinya memerah. Calla menggeleng kaku, faktanya Draco memang tak pernah melihat tubuh Calla dalam keadaan polos. Draco hanya akan tidur bersama dengan Calla sambil mendekap erat tubuhnya. "Bagus, kuharap dia tak akan melihat luka ini. Aku akan berusaha supa bekasnya bisa hilang, jadi tak ada celah untuk mendapatkan Dhara yang melakukan semua ini padamu." ucap Jayden yang selalu membawa nama Dhara. Calla mengamati Jayden dari cermin di hadapannya, dia sedang membalur punggung Calla dengan obat tradisional. "Jayden, kau begitu mencintai Dhara..." ucap Calla memecah keheningan. "Sangat." tambah Jayden yang masih fokus kepada luka di punggung Calla. "Apa Dhara mencintaimu?" pertanyaan Calla tersebut membuat Jayden terdiam beberapa saat dan memandang Calla dari cermin. "Belum, tapi dia akan. Aku percaya itu." ucap Jayden yang membuat Calla sedikit terharu. "Kau tahu Calla? Cinta adalah hal paling aneh sekaligus paling misterius di dunia ini. Aku begitu mencintai Dhara, aku melakukan apapun untuknya, segalanya akan kuperjuangkan jika itu untuk Dhara. Namun, Dhara belum sama sekali menyadari semuanya." ucap Jayden yang sedang bercerita. "Aku dan Dhara, kita bertemu saat pertama kali aku menginjakan kaki di Kerajaan Hellas, saat Ibuku meninggal dan Ayah Ronf meninggal. Saat itu usiaku masih remaja, lima belas tahun jika aku tak salah. Saat itu aku sangat sedih, kematian kedua orangtuaku membuatku harus merasakan kehilangan di usia yang sangat muda, belum lagi karena aku harus tinggal di Kerajaan ini. Kau tahu kan anak remaja itu labil? Aku berniat bunuh diri saat itu, aku ingin menggoreskan pisau apel di nadiku,namun coba tebak... Dhara dengan gaun merah mudanya yang angkat manis datang menghampiriku dengan emosi, dia mengatakan 'dimana pisauku! apelku harus dikupas!' dia datang padaku dengan menyodorkan tangannya untuk mengambil kembali pisaunya yang aku genggam. Aku awalnya abai, aku benar-benar frustasi dan ingin mengakhiri hidupku, tapi Dhara dengan berani merampas pisaunya hingga tangannya tergores dan mengeluarkan darah, dia menangis kencang sekali, aku tak bisa melihat seorang perempuan menangis, aku membantunya, mengobati lukanya, bahkan aku meminta maaf ribuan kali, namun dia selalu saja marah-marah dengan wajah manisnya. Aku sangat terpesona pada Dhara sejak hari itu, aku selalu mengamati Dhara dari jauh, aku selalu mengatasi masalahnya dan menghalau hal buruk apapun yang akan ia alami, keinginanku melindunginya muncul dalam waktu, waktu membawaku kepada perasaan yang jauh lebih dalam. Aku mencintainya... Namun, Dhara mencintai Kakak." Jayden menjeda ucapannya dan tersenyum kearah Calla. "Jayden mencintai Dhara dengan sepenuh hati, dia bahkan tak masalah mengorbankan harga diri dan rasa sakit hanya untuk Dhara." batin Calla. "Aku tahu kau sedang memandangku dengan tatapan kagum." celetuk Jayden yang sontak membuat Calla memutuskan pandangnya kepada Jayden melalui cermin. "Ti-dak." "Tapi Kakak mencintaimu saat ini..." ucap Jayden lagi dengan senyuman lega. "Seandainya Dhara yang memandangi aku seperti itu, itu sudah sangat cukup untuk membuatku bahagia." ucap Jayden yang sudah selesai membalur punggung Calla. "Nah selesai." ucapnya lagi. "Sekarang istirahatlah," ucap Jayden merapihkan obat-obatan itu. "Ah, jangan kenakan pakaian, tidurlah dengan posisi menyamping ataupun tengkurap, agar lukanya tak bergesekan dengan Seprei, kau tahu itu akan menyakitkan saat luka basah seperti itu bergesekan dengan kain atau apapun." jelas Jayden panjang lebar. Calla mengangguk, dia mulai tidur menyamping ke arah kanan, "kau akan tidur dimana?" tanya Calla yang baru menyadari jika ia saat ini tidur di ranjang milik Jayden. "Aku? Tenang aku tak akan tidur seranjang bersamamu. Aku mencintai Dhara, aku akan tidur di sofa." ucap Jayden menunjuk sofa di sebrang ranjang. "Baiklah, selamat malam, Calla." ucap Jayden yang sudah lebih dulu menutup matanya. "Pangeran Jayden adalah orang baik ternyata," batin Calla sambil menutup matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN