22- Ke Hutan Bersama Jayden

1384 Kata
Kukira Calla dan Draco akan jatuh cinta satu sama lain seiring berjalannya waktu, kukira Calla lah yang akan jatuh cinta terlebih dahulu pada pesona milik Draco, namun nyatanya, Draco adalah yang paling jatuh cinta pada Calla, sedangkan Calla belum memiliki benih cinta untuk Draco di hatinya. Calla mencintai Weylan, iya, Weylan adalah orang pertama yang berbicara pada Calla dengan baik-baik, orang yang tak pernah memandang Calla dengan tatapan marah, benci ataupun jijik. Calla jatuh cinta pada Weylan yang merupakan tangan kanan Draco. Kehidupan percintaan mereka memang tak semulus kisah cinta lain, mereka harus mencari, dan menganalisis hati mereka sendiri. Mereka semua, sedang mencarinya, apa itu cinta? . "Kakak akan pulang dalam beberapa hari lagi, dan lukamu masih basah!" Jayden sedang kebingungan, dia takut jika sampai Draco kembali dan luka di punggung Calla belum mengering. Bagaimana jika Dhara sampai ikut terseret? Sebentar, bukankah memang Dhara penyebab semua itu? Ya, namun Jayden selalu menganggap Dhara adalah segalanya. Tak ada yang boleh menyakiti Dhara. "Ini akan segera mengering, makanya biarkan aku keluar, paling tidak di taman supaya luka ini semakin mengering dengan cepat." pinta Calla yang masih terduduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Hm? Benar, selama berada di dalam ruangan Jayden, Calla sama sekali tak mengenakan pakaian apapun. Dia telanjang bulat. Woah! Bukankah Jayden beruntung? Weylan dan Draco saja belum pernah melihat Calla yang full tanpa pakaian seperti ini. "Kau gila? Jika Dhara melihatmu, dia bisa kehilangan kontrol emosinya dan kembali menyiksa dirimu, Calla gunakan otakmu!" ucapan Jayden ternyata bisa semenyakitkan itu, Calla pikir hanya Draco yang ucapnya pedas, ternyata adiknya tak jauh beda. "Lalu? Aku harus bagaimana? Aku tak meminta Nona Dhara untuk melihatku, aku hanya... lelah," ucap Calla lirih. "Aku lelah menjadi objek kebencian semua orang," lanjut Calla lagi. Calla memilih untuk berdiri dan mengambil gaun bersih di sampingnya, bertemu Dhara atau siapapun di Kerajaan ini yang membencinya bukan hal baru, Calla sudah sangat terbiasa dengan itu. "Hei," Jayden menahan lengan Calla saat wanita itu hendak menggunakan gaunnya. "Lukamu!" sentak Jayden sedikit lebih kuat. "Kau khawatir pada lukaku dan rasa sakitku atau pada Nona Dhara?" tanya Calla yang terdengar lelah, Calla sudah mendengar cerita Jayden mengenai Dhara dan Dhara, Jayden selalu mengangungkan Dhara. "Calla, huft! Baiklah aku akan menemanimu, kita lebih baik ke hutan, berjalan-jalan kecil di sana." ucap Jayden setelah cukup lama berfikir, setidaknya Dhara tak akan melihat Calla saat di hutan kan. Calla hanya mengangguk dan mengenakan gaunnya, cukup sulit, punggungnya terasa amat nyeri, padahal Jayden baru saja mengoleskan obat dan juga beberapa perban di bagian yang mulai mengering. "Shh..." desis Calla lirih. Jayden tanpa kata langsung membantu Calla untuk memakai gaunnya, pangeran itu menyampingkan rambut panjang milik Calla ke pundak sampingnya, dan mulai dengan hati-hati mengikat tali dan mengikatkan gaun itu dengan sempurna. "Tak terlalu sakit kan?" tanya Jayden, Calla menggeleng. "Duduk di sana, aku akan menghias rambutmu." Jayden menunjuk meja riasnya. Calla bingung, dia tak salah dengar kan? Jayden akan menghias rambutnya? Dia bisa? Dengan apa? Bahkan di ruangan ini Calla tak pernah melihat ada hiasan rambut atau perhiasan apapun. "Aku memiliki beberapa hiasan rambut, ada di dalam sini." Jayden kembali dari pojok ruangan dengan membawa kotak berukuran sedang. Jayden sedikit mendorong Calla sehingga kini Calla sudah duduk manis di depan cermin. "Ini adalah milik Ibuku," ucap Jayden membuka kotak itu dan mengambil salah satu hiasaan rambut indah namun sederhana, sepertinya akan cocok di rambut kemerahan milik Calla. Calla diam mengamati Jayden dari cermin, "mengapa Jayden sangat misterius? Dia baik tapi di sisi lain ada sesuatu yang membuatnya terlihat sangat kejam." batin Calla. "Ibuku juga memiliki rambut dengan warna yang sama seperti milikmu." ucap Jayden saat sedang merapihkan rambut Calla, menyisirnya dengan perlahan dan memakaikan hiasan-hiasan kecil itu. "Benarkah?" tanya Calla. "Iya, bahkan miliknya lebih indah dari milikmu." ucap Jayden dengan tersenyum bangga. "Ibu kalian-" "Hanya ibuku, bukan ibu kak Draco," potong Jayden dengan cepat. Calla menepuk jidatnya pelan, ia lupa, Draco dan Jayden memiliki Ibu yang berbeda. "Maaf," "Ya.. Tak apa. Nah sudah selesai. Bagaimana?" tanya Jayden. Calla menatap cermin kemudian ia tersenyum cantik sekali, mengapa Jayden bisa menata rambut dengan seindah ini? Ini benar-benar sangat indah dan rapih. "Wah, darimana kau belajar ini Jay? Ini indah sekali!" ucap Calla senang, hingga rona merah di pipinya kembali bersemu. Jayden tersenyum kecil, sekali lagi hatinya berkata, '"andai saja Dhara yang ada di hadapanku saat ini." . Akhirnya Jayden dan Calla menyusuri hutan, jalan setapak di hutan ini memang sangat sepi, rumor beredar jika masih ada beberapa penyihir yang mendiami hutan ini, itulah mengapa warga desa enggan menginjakan kakinya di dalam hutan. Tetapi, bagi Calla suasana di hutan sangat sempurna, menenangkan dan juga membuat perasaan, pikiran semuanya kembali menjadi lebih segar. "Aku heran, hutan seindah ini selalu sepi." celetuk Calla. Dia mengamati sekumpulan bunga lavender ungu yang tumbuh liar di dalam hutan. "Mereka takut penyihir." ucap Jayden yang berjalan di samping Calla. "Apa penyihir semengerikan itu?" tanya Calla dengan bodohnya. "Bukankah aku yang seharusnya menanyakan itu padamu?" tanya Jayden dan mengusap rambut Calla dengan spontan lalu tertawa. "Kau hampir mati karena Areta si penyihir itu demi menyelamatkan kakakku." ucap Jayden. Lagi-lagi Calla menepuk jidatnya, "aku lupa, maaf..." ucap Calla dengan kekehan. "Jika aku berada di posisimu, aku tak akan menyelamatkan kakak, aku akan kabur dan lari sejauh mungkin meninggalkan kerajaan Hellas." ucap Jayden. Calla menggeleng, "bagaimana bisa aku lari dan pura-pura tak melihat saat Raja hampir mati di tangan penyihir? Setidaknya jika aku yang mati maka tak akan membawa dampak apapun, malah aku akan bahagia, kau tahu Jay, aku merindukan Ayah, Ibu dan juga kakakku di atas sana..." ucap Calla memandangi langit cerah di atasnya. "Di mana mereka semua?" tanya Jayden. "Kuharap di tempat terindah, di surga." ucap Calla dengan senyuman. "Kita sama ternyata, nasib kita membuat semua orang yang kita kasihi pergi lebih cepat." tambah Jayden, dia kini memilih untuk menaiki pohon apel dan memetiknya. "Tangkap!" Jayden melempar sekitar empat buah apel, dan Calla menangkapnya dengan suka cita. "Apel di hutan ternyata sangat manis ya, lebih dari yang biasa ada di kerajaan!" ucap Calla dengan girang saat menggigit apel itu. Saat ini mereka berdua tengah duduk di bawah pohon apel sambil berbagi kisah dan memakan apel, hingga... "Calla!" Suara Draco. "Apa yang kalian lakukan di sini?!" Draco telah kembali dengan pasukannya, lebih cepat dari perkiraan. "Weylan..." lirih Calla dengan bahagia saat menatap Weylan kembali dengan selamat di sebelah Draco. "Jayden! Siapa yang mengizinkanmu untuk membawa Calla keluar?!" Draco sepertinya terlihat sangat marah saat itu. Dia turun dari kudanya dan berdiri di hadapan Jayden. Bugh Draco meninju kuat perut Jayden hingga darah mengalir keluar dari sana. "Jay!" Calla yang kaget langsung memutuskan pandangannya dengan Weylan, dia membantu Jayden berdiri, namun Draco menahan tangannya dan mengangkat Calla ke atas kudanya, lalu memacu kudanya dengan cepat meninggalkan kerumunan. "Calla... Sepertinya Raja jatuh cinta padamu," gumam Weylan yang menatap kekasihnya menaiki kuda bersama sang Raja. . "Lan, ini terlalu beresiko, aku tak mau kau sampai terluka karena aku. Kau tahu kan Raja, dia bukan orang sembarangan." ucap Calla dengan raut wajah cemas. Saat ini Weylan dan Calla tengah berada di suatu tempat rahasia yang tak diketahui oleh siapapun. Tempat indah dan tersembunyi di sudut timur Kerajaan Hellas. "Kau tak percaya padaku? Aku akan bicarakan ini dengan Raja, aku yakin Raja akan mengerti dan membiarkan kita menikah. Calla aku tak ingin kehilangan dirimu..." Weylan menggenggam erat tangan Calla. Calla menggeleng, dia tahu jika Draco sudah memiliki sebuah rasa padanya, Calla bisa merasakan sikap Draco yang sudah sangat berubah, Draco menjadi lebih lembut dan perhatian kepada Calla. Calla bukannya memiliki kepercayaan diri yang terlampau tinggi, tapi Draco sepertinya telah jatuh hati pada Calla. "Kau tak paham Lan, aku benar-benar takut," ucap Calla dengan memandang risau jauh ke dalam bola mata Weylan. "Aku paham. Aku tahu Raja mencintaimu saat ini." ucap Weylan yang menggenggam tangan Calla semakin erat. "Kau tak perlu mencemaskan apapun. Aku akan menangani semuanya, Raja akan memberikan izinnya, lalu kita akan menikah dan tinggal di desa seperti rakyat biasa." ucap Weylan dengan sangat optimis. "Bukankah itu yang kau inginkan?" Weylan bertanya dengan senyuman meyakinkan yang ia tunjukan kepada Calla. "Ya, aku sangat menginginkan itu. Sangat... Tapi tak mudah untuk membicarakan semua hal ini kepada Raja, " ucap Calla yang kekeh. "Jika Raja tak memberikan izin, maka kita tak perlu meminta izinnya, Calla ayo kita pergi bersama ke desa, Ayo tinggalkan Kerajaan ini dan hidup bahagia..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN