23- Pergi Bersama Weylan

1280 Kata
Calla mencoba sekuat tenaga untuk menahan rintihan yang akan keluar dari bibirnya, sungguh pelukan Draco saat mereka sedang menunggangi kuda membuat lukanya berdenyut nyeri. Selama perjalan menuju kerajaan, Draco hanya terdiam dengan memacu kudanya secepat mungkin, bahkan Draco masih belum menyadari raut wajah serta keringat dingin yang Calla keluarkan karena menahan rasa sakit di punggungnya. Hiyak Kuda hitam Draco berlari sangat cepat, debu-debu berterbangan karenanya, tak sedikit beberapa dari debu itu masuk ke mata Calla. "Tutup matamu." perintah Draco sambil sebelah tangannya ia gunakan untuk menutup mata Calla. Calla hanya menurut, toh ia juga masih menahan rasa sakit di punggungnya. Hingga setelah beberapa menit berkuda akhirnya mereka telah tiba di Hellas, tepatnya di paviliun milik Draco. Di saat Draco ingin menurunkan Calla dari kuda, Calla menolak dengan gestur tangannya, "aku akan turun sendiri..." ucap Calla namun Draco tak menghiraukannya. Draco langsung mengangkat tubuh Calla dan niat hati ingin menggendongnya, namun Calla merintih. "Akh!" rintihan yang sedari tadi Calla tahan, karena demi apapun, punggungnya sangat sakit. Bahkan sepertinya darahnya kembali keluar dan sudah membasahi perbannya. Mata tajam Draco memicing, dia tahu Calla merintih kesakitan, "punggungmu," desis Draco, saat tangan Draco hendak menyentuh punggung Calla, lagi-lagi Calla menggeleng dan menolak, "aku hanya nyeri punggung sedikit, aku salah posisi tidur semalam." ucap Calla dengan kekehan yang sangat terlihat palsu. Draco bahkan baru menyadari jika Calla mengeluarkan keringat dingin bahkan tangannya bergetar, sedari tadi karena diselimuti emosi pada Jayden yang membawa Calla keluar tanpa izin membuat Draco seolah teralihkan. Namun kini ia tahu jika ada sesuatu yang salah pada Calla, Calla sedang tak baik-baik saja. "Darah?!" desis Draco saat matanya tak sengaja menyadari jika gaun biru muda Calla sedikit memerah di bagian punggung. Reflek, Calla langsung memegang punggungnya dengan kencang yang justru semakin membuat lukanya terasa sakit, "aksh!" rintih Calla. "Apa yang terjadi?!" pertanyaan Draco terdengar sangat tajam namun di balik itu semua Draco merasakan cemas dan khawatir akan rasa sakit yang Calla alami. Calla menggeleng, setidaknya Draco tak boleh sampai mengetahui semuanya, Calla tahu Dhara pasti akan terkena hukuman, namun Jayden yang akan menanggung hukuman Dhara. "Tidak, Draco tak boleh tahu. Bagaimana ini?!" panik Calla di dalam hatinya. "Calla?!" Draco mendekat dan tanpa kata ia menarik tangan Calla untuk masuk ke dalam paviliun, membawa Calla ke ruangannya dan mendudukan Calla di ranjang. Tanpa meminta izin Draco membuka tali gaun bagian belakang Calla, "Draco jangan..." tangan Calla masih memegangi lengan Draco. Namun Draco abai, ia tetap membuka tali gaun itu hingga terlihatlah luka yang sangat parah di punggung Calla, luka yang sebagian sudah terbalut perban dan beberapa masih basah dan mengeluarkan banyak darah. "Siapa yang melakukan ini?" aura di dalam ruangan itu sudah sangat tak mengenakan. Draco murka, dia marah! Calla diam, dia menggelengkan kepalanya. "Aku, aku..." Calla terlalu bingung harus mencari alasan seperti apa. Lukanya memang bukan luka kecil. Luka itu terlihat sangat menakutkan dan menyakitkan. "Katakan, Calla!" desis Draco yang kini berlutut di hadapan Calla. Dengan sangat jelas Calla dapat melihat mata Draco berkilat tajam, "Draco, ini hanya, aku..." Calla tak tahu harus bagaimana, jantungnya berdegup kencang sekali. Jujur, ia sangat amat takut. "Aku baru pergi beberapa hari dan kau terluka sebanyak ini? Separah ini?" Draco menangis! Calla semakin tak mengerti dengan keadaan ini, Draco menangis di pahanya, "Hiks, aku benar-benar bodoh, Calla kau terluka lagi!" racau Draco yang masih menenggelamkan kepalanya di paha Calla. Calla spontan mengelus rambut Raja Hellas itu, "Draco, tenanglah. Lukanya akan sembuh... lukanya-" "Lukanya sangat menyakitkan!" potong Draco cepat. Draco kembali menatap Calla. "Calla aku sudah bersumpah untuk menjagamu, aku akan membuatmu aman dalam kendaliku! Kau harusnya tak terluka!" ucap Draco dengan menghapus kasar air matanya. Draco bangkit dan wajahnya mengeras, urat-urat di dalam permukaan kulitnya mulai nampak terlihat. "Dan aku tahu siapa yang melakukan ini padamu!" desis Draco, saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, Calla menghentikannya dan memeluknya erat sekali dari belakang. "Draco, jangan pergi..." ucap Calla lembut sambil memeluk Draco. Draco membeku di tempatnya, ini adalah kali pertamanya Calla memeluk erat dirinya secara langsung. Haruskah Draco bahagia? Atau sedih? "Bantu aku mengobati lukaku, ini sangat sakit..." adu Calla. Draco menitihkan kembali air matanya. Draco berbalik dan menatap Calla, mengecup dahinya dengan sangat lama sembari berucap, "sakitnya akan hilang, aku janji Calla." "Terima kasih Tuhan, setidaknya Draco tak akan keluar dan menghukum Dhara maupun Jayden." batin Calla. Ini adalah kali pertama bagi Draco melihat langsung tubuh polos Calla, walau dengan luka semengerikan itu, namun Calla tetap terlihat memukau! Sangat indah. "Siapa yang mengobati luka ini sebelumnya?" tanya Draco saat ia sedang mengoleskan obat di punggung Calla. "Seseorang yang sangat baik." jawab Calla. "Pelayan?" tanya Draco penasaran. Tangan Draco sedikit bergetar saat ia menyentuh luka itu, Draco sangat tahu luka cambukan seperti ini sangatlah menyakitkan. Draco bisa merasakannya. Calla hanya diam tak menjawab, dia masih membiarkan Draco mengobati lukanya, hingga saat Draco sudah selesai dan luka Calla sudah kembali terperban, Draco menatap Calla dalam sekali. Mereka duduk berhadapan di ranjang itu. "Kumohon, katakan siapa yang melakukan ini." tanya Draco mencoba untuk berkata lembut. "Kau akan marah jika tahu, kau akan menjadi sangat mengerikan saat marah..." ucap Calla yang juga memandangi mata Draco. "Calla, aku... Aku..." Draco terasa sulit melanjutkan ucapannya. "Kau mencintaiku?" sambung Calla. Draco tersenyum kecil dan membuang wajahnya, "aku tahu aku adalah orang pertama yang membuatmu menderita di sini, aku orang yang membuatmu merasakan semua luka itu." ucap Draco tanpa memandang Calla. "Tapi maaf untuk ini, kau membuatku jatuh cinta padamu." ucap Draco lagi. "Kau mencintaiku? " tanya Calla balik. Draco mengangguk dan menggenggam tangan Calla erat, "sangat." ucapnya. "Atau Alisa?" tambah Calla yang masih memandang tepat ke dalam mata kelam Draco. Deg Deg Jantung Draco kembali berdetak lebih cepat, "Alisa..." ucap Draco spontan. Dalam hati Calla tersenyum dan bersyukur, "terima kasih Tuhan, setidaknya Raja tak benar-benar mencintaiku, karena aku tak mencintainya." "Jangan lukai siapapun karena lukaku ini, kumohon. Bisakah kau lakukan itu untukku?" tanya Calla lagi. "Maka kau juga harus berjanji satu hal padaku, jangan hilang ataupun pergi dari pandanganku, aku akan menjadi gila jika sampai itu terjadi, Calla." Calla tak mampu menjawabnya, dia tak akan bisa bersama Draco. Calla tak mencintai Draco. Calla mencintai Weylan. "Maaf aku akan pergi bersama Weylan," batin Calla. "Ya, aku berjanji." ucap Calla sambil mengelus rahang Draco lembut. "Tidurlah bersamaku malam ini..." pinta Calla kepada Draco. Dengan senang hati Draco menyetujuinya. Malam itu akhirnya Draco dan Calla tidur bersama dengan saling berpegangan tangan. Draco sudah jatuh terlelap ke dalam alam mimpi, ini adalah tidur paling nyenyak yang pernah Draco rasakan. Semuanya berkat nyanyian Calla. "Raja, maafkan aku..." ucap Calla lirih seraya mengelus lembut Surai rambut Draco. "Andai saja Weylan tak lebih dulu hadir dan menjadi pahlawan bagiku, mungkin aku juga sudah mencintaimu saat ini..." "Tapi aku benar-benar mencintai Weylan." ucap Calla sendu. Calla mengecup pipi Draco sekilas, melepaskan pegangan tangan Draco pada tangannya dan turun perlahan dari tempat tidur. "Raja, setidaknya terima kasih telah menjadi baik dalam beberapa saat terakhir ini." "Maafkan aku sekali lagi, aku tahu kau akan sangat sakit saat mengetahui semuanya nanti.... Tapi sekali lagi, aku mencintai Weylan." ucap Calla dan kemudian dia meninggalkan ruangan itu dalam keheningan malam bulan purnama. . "Ayo Lan, aku siap." ucap Calla saat itu. Di bawah sinar bulan purnama yang begitu indah, mereka berdua Calla dan Weylan saling tersenyum satu sama lain. Senyuman yang sangat meneduhkan. "Aku akan membuatmu bahagia, Calla aku berjanji." ucap Weylan dengan mengecup punggung tangan Calla. "Aku tahu, aku percaya padamu..." ucap Calla yang juga balik mengecup punggung tangan Weylan. "Selamat tinggal, Hellas." ucap keduanya dan pergi, hilang dalam gelapnya malam meninggalkan Kerajaan Hellas dan semua rasa sakit serta kebencian yang tersisa di dalamnya, yang tanpa mereka ketahui jika semua yang mereka pilih akan membawa sebuah badai besar serta kehancuran yang sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN