Pagi itu Kerajaan Hellas diliputi awan hitam. Draco murka, dia mencambuk dan menyiksa semua pengawal yang dia miliki dengan membabi buta.
"Akh!"
Ctas
Ctas
"Akghhh!"
Tangisan dan rintihan dari pelayan dan pengawal mewarnai ruangan itu. Suasana benar-benar sangat suram.
Saat Draco membuka matanya, ia sama sekali tak menemukan Calla di sisinya, tak ada Calla bahkan di satu Kerajaan Hellas.
"Kalian! Apa kalian tak menjaga Kerajaan ini hah? Paviliunku?! Bagaimana Callaku bisa hilang?!" tanya Draco dengan tatapan penuh emosi.
Ctas
Ctas
Draco masih membabi buta mencambuki mereka, bahkan Jayden yang sedari tadi mencoba untuk menghentikan kakaknya merasa kesulitan. Tak ada yang berani menyentuh Draco kecuali dirinya sendiri.
"Kak, mari bicarakan ini dengan kepala dingin." Jayden masih berusaha menenangkan Draco.
"Apa yang kau sebut kepala dingin?! Calla menghilang! Dia kabur! Dia pergi entah ke mana!" racau Draco.
"Dan dia pergi bersama Weylan. Orang kepercayaanmu." ucap Rhea yang saat itu membuat Draco menghentikan cambukan itu.
Deg
Deg
"Weylan?!" teriak Draco marah.
Ia baru menyadari jika Weylan tak sama sekali terlihat sedari tadi.
"Sialan!" Draco membuang cambuknya dan bergegas keluar istana untuk mencari Calla.
"Kalian, jika masih ingin menghirup udara segar, carilah Callaku hingga dapat, jika bisa Weylan dengan kepalanya yang terpisah!" ucap Draco di ujung pintu dan pergi keluar setelahnya.
.
.
Draco tak pernah menyangka jika orang yang menjadi tangan kanannya, orang yang telah ia anggap menjadi saudaranya sendiri akan tega mengkhianati dia, Draco sangat amat tak menyangka Weylan akan bertindak sejauh ini.
"Jadi pernikahan yang dia maksud adalah menikahi Calla?" gumam Draco penuh kebencian di atas kudanya.
Saat itu Draco telah berangkat untuk mencari keberadaan Weylan dan Calla seorang diri, dia berpencar dengan para pengawal Kerajaan yang lain.
Draco memacu kudanya dengan beragam emosi dan pertanyaan yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya.
"Tuhan, maksudmu membawa Calla menjauh dariku, apa kau ingin menyadarkan jika aku mulai mencintai dia?" tanya Draco dengan menatap ke langit berbintang di atas sana.
Apakah ini yang di sebut jarak membuat cinta semakin kuat? Tidak, mereka tetap tak saling mencintai, Calla tak akan mencintai Draco karena Calla memang untuk Weylan.
Apa Draco tahu jika Calla mencintai Weylan?
Apa Draco tahu jika mereka berdua saling mencintai?
Jawabannya, tidak. Draco belum mengetahui fakta tentang Calla dan Weylan yang saling mencintai satu sama lain.
"Aku akan membawa kembali milikku. Calla adalah milikku apapun yang terjadi." ucap Draco penuh tekad dalam tatapan matanya yang tajam.
Berjam-jam Draco memacu kudanya, menyusuri jalanan yang ada, namun hingga detik ini ia bahkan belum menemukan jejak Calla barang sedikitpun. Setitik rasa putus asa mulai muncul, Draco terlalu takut untuk kehilangan Calla.
Saat Draco tengah beristirahat di sebuah pohon Cherry di hutan itu, Rhea datang dengan menaiki kuda, Draco sedikit terkejut dengan kedatangan salah satu selirnya itu. Ya, Rhea memang ahli berkuda, bukan hanya itu, Rhea adalah wanita dengan banyak kemampuan, itu yang Draco tahu.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Draco, ia berdiri dan menatap Rhea kesal. Draco tak marah pada Rhea, hanya saja emosi yang ada di dalam dirinya membuat banyak sekali letupan emosi yang keluar tanpa mampu ia bendung.
"Rajaku, aku mencemaskan dirimu." ucap Rhea seraya turun dari kuda coklat yang ia naiki, Rhea membuka tudung mantel birunya dan mendekat pada Draco.
"Aku akan membantumu..." ucap Rhea sembari memberikan sebuah pelukan hangat pada Draco.
Draco tak bereaksi apapun, dia tak menganggap lebih sikap manis dan perhatian yang Rhea tunjukan padanya, bukankah itu wajar? Rhea adalah selirnya, itu artinya bukan hal baru jika Rhea mengorbankan hidupnya sekalipun untuk Draco.
Pertanyaannya, apakah Rhea mencintai Draco seperti Dhara yang tergila-gila pada Draco dan kekuasaannya?
Entahlah, aku tak tahu apa yang Rhea rasakan. Sedikit sulit menebak Rhea.
"Aku membawakan beberapa roti dan buah, kau pergi tanpa makan malam tadi..." Rhea menggiring Draco untuk kembali duduk dan membuka buntalan kain merah yang ia bawa.
Roti gandum dengan isi coklat serta beragam buah yang sudah dipotong dadu menyambut mata Draco.
"Apa ini waktu yang tepat untuk makan?" tanya Draco tajam. Bagaimana bisa Draco makan dengan tenang di sini, sedangkan orang yang mulai menjadi oksigennya hilang entah kemana bersama dengan orang kepercayaannya. Apakah Draco terlalu membuat Weylan merasa seenaknya? Jika iya, Draco bersumpah akan menyiksa Weylan dan membuatnya menyesali apa yang telah ia lakukan padanya, penghianatan besar yang membuat Draco merasakan kebencian kepada seseorang sedalam ini setelah sekian lama.
"Aku akan membuat Weylan mati perlahan. Aku akan membuat Calla hanya menoleh padaku, menjadikannya Ratuku. Milikku." ucap Draco penuh akan keseriusan.
Rhea yang duduk tepat di samping Draco, dapat dengan mudah tahu jika semua yang Draco katakan akan menjadi kenyataan. Rhea tahu Draco tak pernah main-main dengan semua yang ia ucapkan.
"Kau tak akan menjadikan Calla sebagai Ratu Hellas. Tidak akan." batin Rhea tanpa emosi.
Draco enggan menyentuh makanan itu, dia sama sekali tak memiliki nafsu makan saat ini,itulah mengapa Draco mulai bangkit dan berniat untuk kembali mencari keberadaan Calla.
"Aku akan ikut denganmu." ucap Rhea yang juga bangkit seraya menutup kembali makanan yang ia bawa karena Draco sama sekali tak menyentuh makanan itu.
"Aku tak mengizinkanmu." tolak Draco memandang datar kepada Rhea.
"Setidaknya aku akan menemani, aku tak akan menghambat perjalananmu untuk mencari Calla. Aku akan ikut. " ucap Rhea yang mulai mengeluarkan sikap pemaksanya.
"Terserah. Aku tak akan berhenti jika kau pingsan di tengah jalan." ucap Draco, lalu setelahnya ia mulai memacu kembali kudanya guna mencari Calla dan si penghianat, Weylan.
Rhea yang tertinggal segera menaiki kudanya dan menyusul Draco, "aku akan pastikan kau mendapatkan Calla tanpa nyawa, Rajaku. Kalian tak akan bisa bersama..." ucap Rhea di dalam hatinya.
.
.
Bahkan hari sudah pagi, Draco dan Rhea masih betah menyusuri hutan guna mencari Rhea, awalnya Rhea berpendapat jika Calla dan Weylan tak akan pergi ke hutan, melainkan mereka akan pergi ke suatu kota baru. Namun sayang Draco memang sedikit sulit untuk diberitahu.
"Aku sudah katakan, mereka tak akan lari ke hutan. Masih ada penyihir hutan yang tersisa, tak mungkin mereka akan menginjakan kakinya memasuki hutan." terang Rhea pada Draco yang berada di depannya
"Apa aku memintamu untuk berpendapat? Tidak! Jadi diamlah atau kembali ke Hellas!" ucap Draco yang secara tak langsung seperti sedang mengusir Rhea.
Rhea hanya tersenyum manis dan dengan santainya menjawab, "aku bukan Dhea yang tak bisa apa-apa selain bermain di ranjang." ucap Rhea yang terdengar tak terlalu nyambung dengan suasana dan topik kali ini.
"Tapi aku memiliki ini.", ucapnya sembari menunjuk otaknya.
"Kita akan berpencar, aku ke Utara dan kau ke selatan, tapi aku akan mengunjungi beberapa desa terdekat, aku akan mencari mereka di sana." ucap Rhea, Draco hanya mengangguk, kali ini ia setuju dengan ide dari Rhea, mungkin memang benar jika Weylan dan Calla tak berada di dalam hutan ini.
"Rajaku... Tenanglah, aku yakin Calla akan di temukan." ucap Rhea sekali lagi sebelum menaiki kudanya dan pergi ke arah Utara.
"Terima kasih, Rhea." gumam Draco lirih sesaat setelah Rhea memacu kudanya berlari kencang.