25- Calla& Weylan Saling Mencintai

1156 Kata
Jauh dari Hellas, Weylan dan Calla mengelana dengan seekor kuda putih milik Weylan. Tempat ini terlihat sederhana, namun sangat indah, sebuah air terjun berukuran sedang, taman bunga terbengkalai yang menggantung serta beberapa anak tangga kayu yang melingkar di sekeliling air terjun. Tempat yang sempurna untuk memulai segala hal baru! "Kita akan menetap di sini, apa kau menyukainya?" tanya Weylan yang sedang menurunkan Calla dari kuda dengan sangat hati-hati. "Sangat! Bagaimana kau tahu tempat seindah ini Lan?" tanya Calla dengan mata yang menatap liar mengamati keindahan yang jarang sekali dilihat oleh orang-orang di luar sana. "Aku cukup sering mengelilingi hutan-hutan, aku juga sering menemukan banyak tempat yang indah. Percayalah, kau akan melihat surga dunia bersamaku, Calla," Weylan mengecup dahi Calla dengan lembut, membingkai wajahnya dan bertatapan dengan Calla. "Calla, kau tahu mungkin saat ini di Kerajaan Hellas sedang sangat kacau, kita, aku dan kau bisa saja sedang menjadi incaran mereka." ucap Weylan. Calla mengangguk, "kau benar Lan, Raja... Aku tak bisa membayangkan bagaimana dia saat ini, aku merasa sedikit bersalah." "Tidak... Kau tak bersalah. Calla, kumohon tetaplah di sisiku, kita belum aman. Walaupun tempat ini sangat jauh dari Hellas, tapi Raja Draco itu adalah seorang yang begitu hebat, aku sedikit takut dia akan dengan mudah menemukan kita." ucap Weylan sambil menyingkirkan anak rambut Calla yang tertiup angin dan mengenai wajahnya. "Aku akan selalu di sisimu Lan, Aku mencintaimu..." Calla menjatuhkan dirinya dalam dekap hangat Weylan. Weylan benar-benar orang yang paling Calla cintai, Calla jatuh cinta sedalam mungkin pada Weylan, dan Weylanpun memiliki rasa yang sama seperti Calla. Mereka adalah... Soulmate. Namun sayang, ini bukan kisah besar, sejarah hanya akan mengenal kisah antara Calla dan Draco. "Lan, kau memerlukan bantuan?" Calla bertanya, dia mengamati Weylan yang tengah membuat sebuah gubuk dari bahan dan peralatan seadanya. "Yang kau perlu lakukan adalah tersenyum dan bahagia," ucap Weylan yang membuat Calla merenggut tak suka. Calla memilih untuk mendekati Weylan dan memeluk tubuh tinggi pria itu dari belakang. "Aku ingin membantumu, berikan aku tugas..." ucap Calla yang tengah merengek manja. Entah mengapa kini Calla sudah tak sungkan untuk memperlihatkan sikap manjanya pada Weylan, Calla sudah sangat yakin dengan Weylan, itulah mengapa Calla mulai menunjukkan sikap aslinya, manja dan menggemaskan. Sikap yang bahkan tak pernah Calla perlihatkan kepada orang lain. "Astaga... Punggungmu, jangan memelukku seperti ini, aku khawatir lukanya akan kembali terbuka!" Weylan berbalik dan memegang pundak Calla. "Aku tak mau kau kesakitan Calla." ucapnya lagi lalu mengecup lama kening Calla. Weylan membawa Calla untuk duduk di sebuah batu besar yang mengarah padanya, "duduk di sini, aku menugaskan mu untuk bernyanyi, kau tahu sangat sepi di sini." ucap Weylan sambil tersenyum tampan. "Menyanyi?" tanya Calla. "Hu'um... Aku tahu kau adalah seorang penyanyi di masa laku, suaramu begitu jernih dan merdu." ucap Weylan yang membuat Calla tertawa karenanya. "Kau bisa saja Lan, baiklah untuk kekasihku ini aku akan bernyanyi." ucap Calla dengan semangat. Calla mulai menyanyikan lagu yang ia tangkai dengan sendirinya, lagu yang tercipta karena rasa kagumnya pada Weylan yang berubah menjadi cinta yang begitu besar. Suara Calla mengalun mengisi seisi hutan yang kosong, melodi dan irama yang Calla buat sangat amat indah, Weylan menikmatinya sambil sesekali memandang Calla yang selalu melihat kearahnya. "Aku begitu beruntung mendapatkan bidadari secantik Calla..." gumam Weylan dengan kapak besi di tangannya. "Aku sangat mencintaimu, Lan," Bukankah mereka terlihat sangat bahagia? Kesederhanaan bukanlah tembok besar yang mampu menghalangi kebahagiaan dan cinta diantara keduanya. Namun siapa yang mampu menebak akan bertahan selama apa kebahagiaan itu? Biasanya kebahagiaan abadi tak akan bertahan lama, takdir dan Tuhan terlaku sering menguji manusia, kebahagiaan ada, namun sesaat lalu mereka akan menghilang. "Calla, nyanyikan lagu lain, mengapa kau berhenti?" tanya Weylan saat tak lagi mendengar nyanyian merdu Calla. Calla tersadar dari lamunan miliknya, "baiklah, Lan..." ucap Calla dengan senyuman kecilnya. Calla mulai menyanyikan lagu yang ia buat sendiri, lagu yang menggambarkan keadaanya, perasaannya. ~Fairy talks me. ~When I met him for the rest of my life, ~I brave to staying, alone with his love. ~I know we're in love, so God sperate us. ~Please say you love me, don't say we're not able to be forever. ~The nimph, the Phoenix Zeus are mad to us, ~Our love our long lasting love. ~We say, we say we're in love. ~No matter what. ~I know we're in love... So God sperate us. ~Please say you love me, don't say we're not able to be forever. Setiap kata yang Calla nyanyikan, setiap lagu yang tercipta, semuanya berpusat tentangnya dan Weylan. Calla tak tahu hubungan seperti apa yang ia miliki dahulu dengan Weylan, namun Weylan membawa kebahagiaan yang tak pernah Calla rasakan seumur hidupnya. Calla merasa hidup dengan kedatangan Weylan dalam hidup kelamnya. Calla bersumpah untuk hanya mencintai Weylan, sekarang, ataupun nanti saat mereka terlahir kembali dalam bentuk yang baru, semuanya akan sama, Calla akan mengingat setiap momen dan detik yang ia habiskan dengan cintanya, Weylan. "Lan, aku sedikit lelah, aku akan mencari air untukku dan juga untukmu, boleh kan?" Calla bertanya pada Weylan yang masih sibuk dengan perkakasnya. "Iya, apa kau ingin aku menemanimu?" tanya Weylan. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri, aku akan segera kembali." ucap Calla yang mengecup pipi Weylan terlebih dahulu sebelum melangkah pergi. Calla berjalan menyusuri jalanan untuk mencari air, sungai di bawah air terjun adalah tujuannya. Dia haus, dia juga akan membawakan air untuk Weylan, Calla yakin jika Weylan juga pasti merasa lelah. "Ah... Segarnya," ucap Calla setelah meminum air dari sungai jernih itu. Calla mengamati sekitarnya, sangat indah di tempat ini, seperti tak ada seorangpun yang pernah menjamah tempat ini. "Aku gerah, aku akan mandi sebentar tak apa kan?" Calla melihat kesekitar untuk memastikan jika tak ada seorangpun di tempat itu. Lalu setelah yakin tak ada orang lain, Calla membuka gaunnya, sedikit nyeri ia tasakan saat angin berhembus menyentuh kulitnya. "Sssh..." Calla meringis. Calla mulai mencelupkan kakinya ke dalam sungai, lalu setelah yakin jika sungai tak terlalu dalam, Calla melangkah lebih jauh ke tengah dan berendam di sana. "Hah... Ini sangat menyegarkan," ucap Calla. Namun ia merasa sedikit keanehan, mengapa lukanya sama sekali tak terasa sakit? Calla menyentuh punggungnya, dan betapa terkejutnya dia saat menyadari jika luka di punggungnya menghilang entah kemana. "Ini? Ini tak mungkin!" Calla yang menjadi ketakutan akan keanehan itu segera menepi, namun air sungai seolah menariknya untuk tetap berada di tengah. Air sungai itu seolah membelenggu tubuh Calla. "Seorang bidadari cantik datang bertamu dan menikmati airku..." Sebuah suara mengejutkan Calla, suara siapa itu?! "Selamat datang, cantik..." Calla semakin merasa ketakutan, dia menoleh untuk mencari tahu, mungkinkah ini ulah dari penyihir hitam? Penyihir hutan? "Siapa kau?! Lepaskan aku?!" Calla berontak untuk keluar dari air, namun badannya kaku. "Tenanglah, cantik... Aku tak akan menyakitimu. Jangan takut." Bukannya tenang, Calla malah semakin merasa ketakutan. "Aku sudah menyembuhkan luka di punggungmu, sudah tak sakit kan? Cantik?" Calla menggenggam kesal. "Namaku Calla! Jangan panggil aku cantik!" ucap Calla kesal, lalu setelahnya terdengar suara tawa, air sungai inipun kembali terguncang, cahaya violet keluar dari dalam air dan sesosok pria dengan ekor ikan muncul. Siren!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN