Hellas merupakan negeri di mana semua mahluk mitologi menjadi nyata, seperti yang Calla hadapi saat ini, seorang siren
"Sungai Fillas milikku ternyata mampu menarik wanita secantik dirimu." ucap si Siren dengan mata berwarna violet menyala.
Ini adalah kali pertama dalam hidup Calla berhadapan dengan seekor siren, dan lelaki pula, sepengetahuan Calla, siren didominasi oleh kaum wanita. Dan Siren adalah mahluk yang selama ini dianggap menjadi salah satu kerusakan di sungai, lautan dan bahkan gunung.
Legenda di Hellas mengatakan jika siren adalah anak keturunan dari dewa laut Phorcys dengan seorang Muses.
"Apa maumu?! Lepaskan aku!" Calla mencoba menggerakkan kaki dan tangannya, namun semua usahanya ya sia-sia.
Sebuah rantai air tak kasat mata membelenggu Calla.
"Tenanglah, lagipula aku tak akan menyakitimu, cantik." ucapnya lagi.
"Namaku Calla! Jangan memanggilku cantik!" ucap Calla tak terima.
Merman dihadapannya ini memang tampan, namun entah mengapa Calla justru merasa jijik dengan sikap dan nada bicara Merman itu.
"Cantik, Calla berarti cantik apakah aku benar?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Akh!" Calla merasakan luka di punggungnya di remas, sangat menyakitkan namun di detik berikutnya Calla tak merasakan apa-apa lagi di lukanya.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Calla saat ia mendapati luka di punggungnya menghilang dan sama sekali tak meninggalkan rasa sakit.
"Aku mengobati lukamu, sekarang sudah tak sakit kan?" tanyanya lagi.
Merman itu semakin mendekati Calla hingga kini jarak mereka hanya terpaut sepuluh sentimeter.
"Oh? Sayang sekali..." ucap si Merman Yaang tak Calla pahami, Merman itu langsung memundurkan langkahnya.
"Raja kegelapan." ucap si Merman sedih.
"Tadinya aku akan menjadikanmu Ratu di Fillasku yang indah ini, tapu ternyata kau adalah pengantin sang Raja Kegelapan." sahut di Merman yang membuat Calla semakin tak paham.
"Apa maksudnya?! Aku belum menikah dengan siapapun! Raja kegelapan?! Kau gila?!" Calla tak terima dengan pernyataan si Siren lelaki barusan.
"Ya. Kau memiliki tanda, setiap mahluk pasti akan langsung menyadarinya. Kau tersegel, cantik." ucapnya.
Dan dalam seketika ikatan rantai tak kasat mata itu terlepas dari tubuh Calla. Calla terbebas dan dapat merasakan tubuhnya yang mampu bergerak dengan leluasa.
"Maafkan kelancanganku." ucap si Merman dengan menunduk, kemudian dia lenyap entah kemana, meninggalkan Calla yang bingung atas ucapan si siren.
"Tersegel? Raja Kegelapan?"
"Calla!" Weylan memecahkan lamunan Calla.
"Lan? Tunggu sebentar! Aku akan menepi." Calla segera berenang ke tepi sungai dan di sambut oleh senyuman hangat Weylan.
"Aku mengkhawatirkan dirimu, kau tak kunjung kembali, ternyata kau sedang berendam di sana? Nakal sekali membuatku khawatir hmmm." Weylan mencubit pucuk hidung Calla dengan gemas.
"Aku hanya gerah dan mandi hingga lupa waktu, maafkan aku Lan." ucap Calla yang kini membingkai wajah Weylan.
"Ya. Aku memaafkanmu, ayo kau akan kedinginan jika terus berendam sampai sore." Weylan membantu Calla untuk mengenakan kembali gaunnya, dan mereka pergi bersama dengan bergandengan tangan.
Merman yang sedari tadi mengamati Calla dan Weylan kembali menampakan dirinya.
"Permaisurimu baru saja mencicipi sungaiku, Raja." ucap si Merman seolah sedang bertelepati dengan seseorang.
.
"Lan, ikan bakarnya lezat! Aku sangat menyukainya, kau sangat ahli memasak ternyata!" ujar Calla yang tengah merasakan begitu lembutnya daging ikan yang dibakar Weylan.
Beberapa jam yang lalu Weylan kembali ke sungai Fillas untuk menangkap beberapa ikan, dan tebak apa yang terjadi, Weylan mendapatkan lebih dari lima ekor ikan besar hanya dalam waktu beberapa menit saja, bukankah sangat terkesan woah?
Namun Calla yang saat itu menanti Weylan di tepi sungai, sedikit lebih jauh dapat melihat sosok Merman yang sempat membuatnya kebingungan siang tadi.
"Merman itu yang membuat semua ikan ini naik ke permukaan," ucap Calla tanpa sadar dan di dengar oleh Weylan.
"Merman?" tanya Weylan binggung, dia menghentikan acara makannya dan menatap Calla dengan fokus sepenuhnya.
"Hah? Aku mengatakan apa Lan?" tanya Calla gugup.
Dia tak menceritakan tentang siren dan semua yang dikatakan oleh Merman itu.
"Kau baru saja mengatakan merman. Apa kau bertemu dengan salah satu dari mereka?" tanya Weylan dengan wajah penuh akan rasa penasaran.
"Tidak, aku hanya teringat beberapa cerita tentang siren, aku tak bertemu dengan mereka." ucap Calla berbohong.
Weylan menyipitkan matanya, dia tahu Calla sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tapu biarlah, Weylan tak ingin merusak malam berharga ini dengan mempertanyakan sesuatu hal lain kepada Calla.
"Oke, sekarang ayo buka mulutmu, ikannya akan terbang menuju perutmu, Calla..." Weylan memainkan sepotong ikan yang di terbangkan layaknya pesawat terbang.
"Dengan senang hati Tuan Weylan, bawalah ikanmu untuk mengisi perutku ini." ucap Calla dengan membuka mulutnya lebar dan bersiap menerima suapan ikan dari Weylan.
"Aaa... Ayo ikan terbang dan masuklah ke dalam perut kekasihku yang sudah sangat kelaparan ini." canda Weylan.
Calla tersenyum sambil mengunyah ikan yang tadi sudah Weylan siapkan ke dalam mulutnya. Semuanya terjadi dengan begitu indah bagi Calla. Dia tak memikirkan harta ataupun kekuasaan seperti yang ada pada Draco, baginya Weylan dengan kesederhanaan miliknya sudah sangat cukup, karena iya Weylan si ramah, baik hati dan sederhana adalah pria yang Calla cintai dengan sangat dalam.
Ini memang sederhana, tapi ini adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai bagi Calla. Malam itu seakan Beratus kali sangat indah dari malam seribu bulan sekalipun. Mereka berdua, Calla dan Weylan yang menghabiskan waktu berdua, hanya satu sama lain dari mereka di malam yang dingin dengan di temani api unggun dengan bara api yang menyala-nyala, seperti rasa cinta yang sedang mereka rasakan saat ini.
"Lan, peluk aku." Calla yang sudah menyelesaikan acara makannya dan mengisi perutnya hingga terasa sangat penuh dan kenyang mulai bermanja dengan Weylan.
"Kemarilah," Weylan membuka tangannya dan dengan segera Calla masuk ke dalam pelukan hangat yang paling ia sukai, pelukan Weylan adalah yang terbaik.
"Aku bahagia bersamamu." ucap Calla dengan binar di matanya melihat Weylan seolah sedang melihat bulan paling bersinar. Weylan adalah segalanya di mata Calla.
"Aku akan selalu menjaga kebahagiaanmu ini, kau harus selalu bahagia Calla." ucap Weylan menikmati harus dari rambut kemerahan milik Calla yang bersinar karena terkena cahaya dari api unggun.
"Ya, kau harus. Itu adalah tugasmu." ucap Calla yang sedang memainkan jemarinya di leher Weylan.
"Lan, kapan kau akan menjadikanku menjadi milikmu sepenuhnya? Aku sangat menanti waktu itu tiba." ucap Calla yang mulai mengarah kepada sesuatu yang jauh lebih intim.
Bagaimana tidak? Jangan selalu berfikir Calla hanyalah selir polos dan lugu, dia tak selugu itu, dia sama liarnya seperti wanita lain jika itu berkaitan dengan kekasihnya, cintanya. Weylan.
Weylan terdiam sesaat, dia tak menyangka jika Calla akan mengucapkan hal itu.
"Calla, kau sudah mulai nakal ya?" tanya Weylan dengan nada candaan dan terkekeh setelahnya.
"Tidak, Lan dengarkan aku." Calla serius, dia benar-benar serius, Calla membingkai wajah Weylan dengan jemari ramping nan panjangnya, membawa wajah Weylan agar bertatapan dengan Calla.
"Aku mau ikatan antara kita abadi, aku ingin benar-benar menjadi milikmu, aku takut Lan, aku takut jika kita terlambat semuanya akan hancur dan menghilang." ucapan Calla terdengar sangat amat dipenuhi kecemasan. Weylan dapat merasakan bagaimana khawatirnya Calla tentang masa depan.
Hidup mereka belum sepenuhnya aman dan bebas, mereka harus menyembunyikan diri dari Draco dan Hellas. Mereka buronan, kalian bisa beranggapan jika Calla dan Weylan adalah sepasang kekasih yang tak akan direstui oleh Kerajaan Hellas, karena nyatanya Draco benar-benar sudah mencintai Calla.
"Calla, semuanya akan baik-baik saja, aku akan membuat ikatan diantara kita menjadi abadi, tapu tidak sekarang..." ucap Weylan dengan mengecup dahi Calla cukup lama.
"Lalu kapan?" tanya Calla yang menikmati sentuhan dan kecupan dari kekasihnya di malam bulan purnama itu.
"Kau tahu tidak, malam bulan Harvest? aku sangat ingin mengikat hubungan ini menjadi abadi di malam spesial itu," ucap Weylan.
"Itu masih sekitar tiga hari lagi," ucap Calla dengan sedih. Ia benar-benar ingin Weylan saat ini.
"Ya, kau benar, tiga hari bukan waktu yang lama kan?" tanya Weylan dengan senyuman kalemnya.
.
"Tiga hari lagi adalah waktu tercepat kita sampai di sungai Fillas, Rajaku..." Rhea membawa informasi yang sebelumnya Draco tanyakan padanya, tentang dimana sungai Fillas berada.
"Aku akan datang menjemputmu, Calla..." ucap Draco yang tengah memainkan pedangnya.
"Bagaimana jika Calla dan Weylan sud-"
"Tidak!" balas Draco dengan cepat.
"Jangan katakan hal buruk apapun tentang Calla." perintah Draco dengan suaranya yang dalam.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan kepada Weylan?" pertanyaan Rhea membuat Draco terdiam.
Dia tak tahu harus melakukan apa kepada Weylan, jujur Weylan sudah Draco anggap sebagai saudaranya. Namun fakta ini begitu menyakitkan bagi Draco, saat ternyata Calla dan Weylan kabur bersama.
"Aku akan membuatnya pergi dari Calla." ucap Draco.
"Lantas bagaimana jika mereka saling mencintai?" sungguh sangat mudah memancing emosi Draco saat ini.
"Aku akan memisahkan mereka apapun yang terjadi." kini Draco dengan tatapan matanya yang menerawang jauh ke depan.
"Kau harus membunuh Weylan, untuk semua keinginanmu dengan Calla" ucap Rhea y g seolah memprovokasi Draco agar membunuh Weylan.
"Jika kau tak melakukan itu maka kupastikan Calla dan Weylan akan selalu mencari cara untuk menyatu dan bersama, kau tak akan menang dari Weylan dalam hal ini, karena Calla tak pernah mencintaimu, Raja." ucap Calla panjang lebar.
"Aku akan merobek mulutmu jika kau masih mengatakan semua hal itu!" maki Draco dan si memilih untuk meredam amarahnya dengan mengasah pedang kesayangannya.
Rhea tersenyum sinin membelakangi Draco, dia tahu dengan jelas jika Draco mulai terpancing, Draco mulai merasa terdesak.
"Bersabarlah Rajaku, tiga hari tak akan lama, Sungai Fillas akan segera kita jumpai, dan Callamu akan berada di dalam dekapanmu lagi." ucap Rhea yang menenangkan sekaligus memprovokasi Draco.
Draco acuh, dia bergegas menunggangi kudanya dan melanjutkan perjalanan.
.
"Calla? Kau merias wajahmu?" tanya Weylan yang saat itu baru saja kembali dengan membawa daging rusa yang ia dapatkan di hutan.
"Iya! Bagaimana? Aku cantik tidak Lan? " tanya Calla yang kini berjalan mendekati Weylan, lalu mengecup pipi kanan dan kiri milik Weylan dengan cepat.
"Calla." Weylan melepaskan sarung tangan. dan topinya, ia kemudian membawa Calla untuk duduk di tepi ranjang mungil mereka.
"Kau selalu cantik di mataku, bahkan tanpa semua riasan ini." ucap Weylan sembari mengelus sisi kanan wajah Calla.
Calla tersenyum, ia tahu Weylan akan mengatakan semua hal itu, Calla tahu jika Weylan memang mencintainya dengan setulus hati bukan sebatas karena kecantikan ataupun keelokan tubuh yang Calla miliki.
"Lan, kau tahu aku hanya merias diriku di depanmu, hanya kau... Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu..." ucap Calla dengan menyenderkan kepalanya ke bahu Weylan.
"Aku tahu itu Calla, terima kasih."
Cup
Weylan mengecup pucuk hidung Calla dan mencubitnya setelahnya.
"Awh! Sakit Lan, jika hidungku menjadi panjang dan tak indah lagi maka aku akan memakan hidungmu sebagai gantinya!" ucap Calla dengan nada kesalnya, namun entah mengapa Weylan justru melihat seekor kucing kecil yang merajuk dengan wajah imutnya.
"Astaga? Calla manisku ini merajuk... Maafkan aku oke..."
Cup
Weylan memberikan kecupan di setiap bagian wajah Calla, Kecupan yang terasa ringan dan bagai candu untuk Calla, kecupan yang menyentuh permukaan wajahnya dengan sangat lembut, ringan dan Calla senang! Ini yang dia inginkan, dia menginginkan Weylan yang dengan bebas menyentuh dan mencumbu dirinya di setiap sisi.
"Lan, malam ini bulan Harvest." ucap Calla dengan sedikit malu-malu. Ya, Calla sedang menagih janjinya kepada Weylan.
"Ya. Aku sangat mengingatnya Calla." ucap Weylan dengan masih mengagumi kecantikan Calla yang mengalahkan Aphrodite.
"Kau akan membuatku menjadi milikmu sepenuhnya kan?" tanya Calla dengan senyum malu-malu.
Weylan terkekeh, dia kini membawa Calla untuk masuk ke dalam pelukannya, memeluk Calla dengan begitu lembut dan penuh cinta.
"Ya. Bulan Harvest malam nanti akan menjadi saksi penyatuan antara kau, dan aku." ucap Weylan yang juga merasakan kebahagiaan.
"Ya. Terima kasih Lan, " ucap Calla lagi dengan menyamankan posisinya.
"Itulah mengapa aku merias diriku hari ini, aku ingin malam penyatuan kita menjadi semakin indah, kau lihat. Aku bahkan membuat kamar kecil kita menjadi indah dengan bunga-bunga yang kudapatkan di sekitar gubuk." ucap Calla yang memamerkan kamar kecil yang sudah ia hias.
"Wah. Ini begitu indah Calla. Kau sangat hebat." ucap Weylan dengan mengelus pipi Calla.
"Mandilah. Aku akan berhias selagi menunggumu." ucap Calla seraya mendorong Weylan keluar dari gubuk itu untuk pergi mandi di sungai dekat tempat mereka berada.
"Calla. Dia manis sekali!" ucap Weylan.
.
Di lain tempat, Draco dan Dhara terus memacu kuda mereka. Hingga kini sebuah tempat dengan hutan Pinus mengelilingi sebuah sungai jernih di bawah air terjun.
Di sana, Draco dapat melihat sebuah gubuk kecil yang terlihat begitu bersinar di matanya, ia tahu semua itu karena ada Callanya di dalam gubuk reyot itu.
Tanpa menunggu Draco memacu kudanya lebih dekat dengan gubuk itu, dia sudah sangat tak sabar melihat kembali Calla, Draco begitu merindukan Calla yang menghilang beberapa hari dari pandangannya.
Brak
Draco membuka pintu masuk gubuk itu dengan sangat brutal.
Deg
Jantung Draco seolah berhenti berdetak untuk sementara.
Di ranjang kecil itu, Callanya yang begitu bersinar dan cantik membuka seluruh pakaiannya, Calla tak berbusana dan dalam posisi yang membuat Draco ingin segera membunuh Weylan saat itu juga.
Posisi antara Weylan dan Calla begitu intim, posisi layaknya sepasang kekasih yang ingin berhubungan badan.
"Calla." lirih Draco dengan tangannya yang mengepal.
Calla masih menikmati pangutan bibir antara dirinya dan Weylan, ia belum menyadari keberadaan Draco di sana, begitupun juga dengan Weylan. Mereka berdua terlalu terbawa suasana hingga membuat keduanya tak sadar dengan keadaan dan suasana sekitar. Afeksi cinta itu memang benar-benar kuat kan?
Draco masih melihat dengan mata tajamnya bagaimana tubuh antara Weylan dan Calla saling bertindihan. Bagaimana kulit Calla yang begitu putih dan lembut saling bergesekan.
Draco menginginkan posisi Weylan saat ini, seharusnya Dracolah yang berada di sana. Dracolah yang harus menyentuh dan memiliki tubuh itu.
Hanya Draco!
"Calla!" panggil Draco dengan suara nyaring miliknya.
1
2
3
"Ra-ja?" Calla merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Draco ada di tempat ini? batin Calla.
Calla memutar kepalanya ke belakang, tepat di depan pintu masuk, Calla menemukan Draco yang berdiri tegak dengan ekspresi yang sangat datar dan menyiratkan kemarahan.
"Apa?" tanya Weylan yang saat itu bangkit dari atas tubuh Calla.
"Raja?!" kaget Weylan dan ia segera mencari pakaiannya dan langsung ia kenakan.
Calla menyelimuti tubuhnya dan enggan menatap Draco.
"Di sini ternyata kalian bersembunyi?!" desis Draco, dia mendekati Weylan dan bertatapan dengan salah satu orang kepercayaannya.
"Raja, aku, Ak-"
Bugh
Bogeman mentah Weylan terima dari Draco saat itu juga.
Bogeman yang hingga melukai wajah tampan Weylan.
"Lan!" Calla berteriak tak terima saat Draco memeluk keras wajah Weylan.
Dengan menyelimuti dirinya, Calla mendekat dan menyentuh pundak Weylan, jelas sekali tercetak raut wajah khawatir saat ini.
"Kau tak apa Lan?" Calla bertanya dengan nada khawatir. Weylan tersenyum dan menyentuh tangan Calla seraya membisikan kata "aku baik-baik saja Calla." ucapnya.
Semua yang Calla dan Weylan lakukan tak pernah luput dari pandangan Draco.
Draco semakin merasa jika emosinya memuncak dan darahnya mendidih.
Segera setelah itu dia menarik tubuh Calla, merengkuhnya degan erat, dia tak menghiraukan Calla yang berteriak minta dilepaskan. Yang Draco lakukan saat ini adalah mengobati rasa rindunya selama beberapa hari ini.
.
Draco tak akan marah kepada Calla.
Dia tak akan, walau Draco tahu Calla dan Weylan sama-sama salah dalam hal ini.
"Aku merindukanmu." bisik Draco dengan sangat lirih kepada Calla.
"Lepaskan aku! Raja! Lepaskan!" Calla mencoba lepas dari pelukan Draco, namun sepertinya Draco begitu enggan untuk melepaskan pelukannya.
Draco menggeleng, dia semakin mengeratkan pelukannya.
Mata tajam Draco melirik ke arah Weylan yang hanya menunduk seperti sedang merasakan kekesalan.
"Rhea... Kau uruslah penghianat itu. Aku akan mengurus cintaku yang mulai berhianat ini." ucap Draco yang secara tak langsung mengatakan jika Calla mengkhianati dirinya.
"Tidak! Lepaskan aku!" Draco mengangkat tubuh Calla dan menggendongnya di depan d**a, dia tak menghiraukan Calla yang selalu memberontak bahkan hingga memukul dan mengajari wajah dan leher Draco.
"Kita akan kembali, ke tempat dimana seharusnya kau berada Calla." ucap Draco yang membawa Calla keluar dari gubuk itu.
"Tidak! Aku tak mau, ini tempatku dengan Lan! Kau datang lalu menghancurkanya!" teriak Calla dengan lelehan air matanya. Dia tak menyangka jika malamnya ini yang tadinya sudah sangat Calla nanti akan dikacaukan dan dihancurkan oleh Draco.
"Kau sangat kejam! Kau jahat!" Calla memaki Draco tanpa henti.
Draco menulikan pendengaran miliknya, dia terus berjalan memasuki hutan yang gelap dengan iringan kunang-kunang yang seolah penasaran dengan kisah mereka.
"Kau tak punya hati!" Calla menangis, dia benar-benar tak mengharapkan semua hal ini terjadi.
"Lan! Lan! Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan!" Calla menoleh ke belakang, gubuk cintanya dengan Weylan perlahan mulai tak terlihat.
Hal gilanya adalah, Draco berjalan dan meninggalkan kudanya, dia berjalan di tengah malam dengan Calla yang berada di dalam gendongannya, dan yang perlu kalian tahu adalah jarak dari Fillas ke Hellas memakan waktu empat hari dengan menunggang kuda, dan kaki ini Draco hanya berjalan kaki.