27- Kisah Weylan

1966 Kata
Draco akhirnya kembali membawa Calla menuju Hellas, walaupun Calla dengan terang-terangan menolak cinta Draco. Draco tak menghiraukan segalanya, yang ia mau hanyalah Calla berada di sisinya, maka Draco akan memiliki Calla secara fisik walau tidak hatinya, karena seluruh Hellas sudah mengetahui tentang kisah cinta mereka, Draco Calla dan Weylan. Weylan sengaja Draco asingkan di sebuah penjara yang jauh dari Hellas, Draco akan membunuhnya nanti, Draco akan melenyapkan orang yang pernah menjadi sahabatnya itu, orang kepercayaannya dan orang satu-satunya yang tak pernah mengkhianati Draco. Apa salah cinta Calla dan Weylan? Mereka hanya saling mencintai, mereka ingin hidup bersama dan bahagia menjadi diri mereka sendiri, namun mengapa Draco dan Tuhan seolah membawa mereka ke dalam suatu masalah besar yang titik temunya tak kunjung terlihat? Weylan berusaha lari, dia ingin menyelamatkan Calla walau ia tahu Draco tak akan melukai Calla, Weylan juga tahu sebesar apa Rasa cinta Draco untuk Calla, tapu sekali ini saja, tak bisakah Weylan mendapatkan kebahagiaan miliknya? Dia dan Calla saling mencintai, biarkan mereka bersama dalam cinta walau tak abadi. Karena nantinya semua orang hanya akan mengenal kisah cinta Draco dan Calla, bukan Weylan dan Calla. Weylan hanya figuran yang tak akan terlihat dalam kisah-kisah besar sang Raja. Namun walau dalam kisah kecil, biarkan Weylan bersanding dengan Callanya. . . "Dasar penghianat! Kerajaan Hellas sudah mengasihanu hidupmu!" ucap salah seorang penjaga senior yang sudah mengabdi puluhan tahun kepada Kerajaan Hellas. "Jika saja Hellas tak menampung mu dan ibumu, maka saat ini kau hanyalah gelandangan miskin di luar sana!" ucapnya lagi dengan marah. Weylan hanya terdiam, ia tahu semuanya telah hancur. Dia tahu jika Draco akan segera membunuhnya nanti. Weylan tak takut, ia sama sekali tak takut dengan kematian dan rasa sakit yang harus ia tanggung nantinya, yang Weylan cemaskan hanyalah Calla. Dia terlalu takut untuk meninggalkan Calla di Kerajaan Hellas. Hellas bukan tempat yang cocok untuk Calla, Hellas adalah tempat yang kejam. Mengapa Weylan mengatakan semua itu? Hellas adalah tempat yang kejam? Karena Weylan bahkan menyaksikan hak-hal pilu yang meremas hatinya sejak ia kecil di dalam gerbang Kerajaan Hellas ini. "Aku tahu hidupku saat ini adalah belas kasih dari Kerajaan Hellas, dari Raja Draco. Aku tahu dan tak melupakannya sama sekali." ucap Weylan yang terdengar parau. "Bahkan Ibuku membayar hutangnya pada Hellas dengan nyawanya sendiri." ucapan Weylan terdengar sangat sedih. Memori masa kecil yang sangat kelam masuk memenuhi ingatan Weylan untuk yang sekian kalinya. "Ibu! Hiks, jangan pukul Ibu!" Weylan kecil menangis, dia mencoba menghentikan para orang dewasa yang tengah memukuli ibunya di pelataran Kerajaan. "Akhs, Weylan, pergilah nak, Ibu tak apa-apa akhs!" jeritan dari sang ibu membuat Weylan semakin menangis menjadi. Bagaimana bisa dia diam saja saat melihat ibu yang selama ini ia hormati diperlakukan dengan sangat kasar seperti itu? "Hiks, mengapa kalian memukul ibuku?!" Weylan bertanya dengan air matanya kepada pelayan yang memegangi tangannya. Pelayan muda itu hanya mampu terdiam, dia juga merasa sedih dan luka saat melihat ibu dari Weylan sedang disiksa seperti saat ini. "Kau tahu! Ibumu harus membayar atas kecerobohannya! Dia lalai dan memasukan obat yang salah ke dalam minuman Ratu Melian!" ucap salah seorang penjaga! "Hiks, Ratu Melian tak apa-apa, dia selamat. Jadi tolong maafkan ibuku!" Weylan berlutut sambil menangis, anak itu berharap jika Ibunya tak lagi merasakan sakit akibat pukulan-pukulan itu. "Cih! Pangeran Draco yang memintaku untuk menghukum pelayan teledor yang menyebabkan Ratu Mekian demam!" Deg "Pangeran Draco?" lirih Weylan. Ia kira ini adalah perintah Raja Ronf. Tapi ternyata tidak. Weylan bangkit dan segera berlari, dia mengunjungi Draco yang saat itu sedang berlatih memanah tupai dengan anak panah runcing berwarna silver. "Pangeran!" Weylan berteriak, sisa-sisa air matanya tak mampu ia sembunyikan. "Weylan?" Draco meletakan anak panahnya dan mendekati Weylan yang wajahnya sudah kacau dan basah, dia membantu Weylan berdiri, namun anak seusianya itu menolak. "Tidak perlu!" ucap Weylan. Weylan masih berlutut di bawah kaki Draco dengan sesekali tangisannya yang dapat di dengan oleh calon Raja Hellas itu. "Pangeran, aku mohon jangan siksa Ibuku, Ibuku kesakitan. Hiks." tangis Weylan sambil berlutut. "Berdirilah terlebih dahulu, apa yang kau lakukan dengan berlutut padaku! Kau temanku!" Weylan menggeleng ribut, '?"tidak pangeran, kita bukan teman. Kau adalah calon Raja selanjutnya, kau pemimpin Hellas yang akan dihormati, sedangkan aku hanyalah anak pelayan!" "Raja, kumohon jangan siksa Ibu, jika Ibuku bersalah, kau bisa menghukummu. Asal jangan ibuku!" Weylan menatap wajah Draco, anak lelaki yang memiliki usia sepantaran dengannya itu tampak tak suka. "Weylan! Sekali lagi aku meminta dirimu untuk berdiri! Ini perintah!" suara Draco terdengar sarat akan penenakanan. Mau tak mau akhirnya Weylan bangkit dan berdiri. Dengan masih menangis, sebuah hal yang tak terduga terjadi. Grep. Draco memeluk tubuh temannya itu, "jangan menangis. Aku tak suka temanku menangis seperti ini." ucap Draco. "Tap-" "Shut." "Aku akan meminta mereka untuk tak menyiksa ibumu lagi. Maaf, aku tak tahu jika pelayan teledor itu adalah ibumu." ucap Draco yang sepertinya menyesal. "Maafkan aku juga pangeran," lirih Weylan. Akhirnya kini Weylan sedang berada di dalam kamarnya dan ibunya, dia sedang mengobati beberapa memar yang didapatkan ibunya tadi. Dengan mengusap dan menempelkan es batu di bagian yang mulai membiru. "Kau membujuk Putra Mahkota?" tanya ibu Weylan. Weylan hanya mengangguk, dia masih sangat fokus mengobati ibunya. "Seharusnya kau tak perlu melakukan itu nak, kau- uhuk, uhuk." "Ibu!" dengan cepat Weylan mengambilkan air minum, dia membantu ibunya minum. "Ibu kau harus banyak beristirahat, aku tak mau kau sakit." Weylan mengusap darah yang ada di telapak tangan ibunya karena batuk tadi. Ibu dari Weylan itu tersenyum, senyuman yang sarat akan rasa sakit dan kesedihan. "Lan, sayang, maafkan ibu ya nak. Kau, kita seharusnya tak berada di Hellas." tangisan Ibunya akhirnya pecah. "Hellas adalah tempat yang kejam, kita harus mati dan meninggalkan jiwa kita di sini, barulah setelahnya kita bisa bebas." ucapan dari sang ibu membuat Weylan semakin menangis. "Hiks, Ibu aku akan selalu ada dan membantu Ibu, kita harus bebas dari Hellas." ucap Weylan. "Ya, kau harus bebas dari sini. Kau harus bisa, Ibu akan mengusahakan itu nak." bisik Ibu dari Weylan itu. Dan di hari-hari selanjutnya, Weylan menyadari jika ibunya semakin sakit dan menua. "Maaf, maafkan aku nak, sekarang adalah saatnya kau pergi, kau pergilah." usir Ibu Weylan yang sekarat saat itu, sebelum sekarat ibu dari Weylan membukakan sebuah pintu rahasia yang akan membawanya keluar dari Hellas. Namun Weylan menolak. "Tidak ibu, aku akan mengabdi untuk Hellas. Aku akan di sini." ucap Weylan dengan air matanya yang menetes di saat ibunya menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. "Sekarang Ibu sudah bebas." lirih Weylan dengan memeluk tubuh ibunya yang sudah tak memiliki detak jantung. . . Weylan memandang satu per satu penjaga yang ia kenal. Tentu saja Weylan mengenal mereka semua. Pasalnya beberapa penjaga sempat memuji Weylan sebelumnya itu kini dengan membabi buta memukuli wajah Weylan, bahkan wajah tampan Weylan kini sudah penuh dengan lebam kebiruan yang menyebar di wajah hingga ke perutnya. "Kalian tak paham, aku tahu semua yang kulakukan salah. Aku tahu Raja mencintai Calla. Namun aku juga mencintai dia, tak bisakah aku bahagia walau hanya kebahagiaan sederhana bersama Calla? Selama ini hidup dan nafasku selalu kupersembahkan bagi Kerajaan Hellas dan Raja Draco. " "Aku. Lelah." setetes air mata jatuh dari ujung mata Weylan yang mulai kehilangan binarnya. "Aku sangat lelah." ucap Weylan yang sangat terdengar putus asa. "Jika kalian ingin membunuhku saat ini maka lakukanlah, mungkin rada sakit dan kematian mampu mengakhiri semua beban yang kurasakan." ucap Weylan memandang satu per satu penjaga itu dengan tatapan penuh luka. Para penjaga itu terdiam, semua yang Weylan katakan memang terdengar begitu menyedihkan. Mereka tahu Weylan adalah orang kepercayaannya Draco, Weylan bahkan tumbuh dan besar di Kerajaan Hellas dengan menjadi teman bagi Draco. Weylan sudah seperti bagian dari Kerajaan Hellas, namun cinta menghancurkan semuanya. Karena cinta kini sebuah hubungan kembali rusak dan mustahil untuk dikembalikan seperti semula. Cinta antara Calla, Weylan dan Draco adalah sebuah ironi di musim dingin. . . "Kalian bisa membunuhku, ayo. Lakukan apa yang kalian mau. lakukan saja!" ucapan Weylan sudah nampak tanpa rasa. Badannya lelah, semua luka hati dan fisiknya rasanya sudah sangat berat. "Kalian tahu aku mengabdikan hidupku untu Raja Draco dan Hellas. Aku merelakan semuanya, namun tidak untuk cintaku dan Calla. Aku dan Calla saling mencintai.". "Aku ingin sedikit egois kepada kehidupan dan takdir Tuhan. Walaupun aku tahu jika Calla dan aku tak akan pernah bisa menjadi satu." Rentetan ucapan panjang yang Weylan ucapkan terasa sangat menyayat hati, para pengawal yang ada di sana bahkan ikut merasakan beban berat dan kesedihan mendalam yang Weylan ucapkan. "Aku akan mati dalam penyesalan, aku akan mati dalam dosa. Kalian tahu kenapa? Karena aku tak berhasil menyelamatkan Calla. Aku tak mampu membawanya dalam kebahagiaan." lirih Weylan. Lagi-lagi pria yang wajahnya penuh luka pukulan itu mengenang ucapannya sendiri kepada Calla. "Calla, aku yang akan membawamu kepada jalan kebahagiaan itu, aku akan membuatkan jalan itu untukmu." Weylan teringat semua yang ia ucapkan, janji, dan juga tatapan Calla padanya selalu menjadi hak yang tak terlupakan bagi Weylan. "Aku tahu, aku hanya bagian kecil dari kisah Hellas nantinya, namaku tak aka ada di dalam kisah besar Calla dan Raja Draco. Tapi satu hal, aku tahu jika Calla hanya mencintaiku." ucap Weylan dengan lelehan air mata yang basah membasahi luka-luka menyakitkan di wajahnya. "Raja Draco tak akan bahagia, Calla tak akan mungkin mencintainya, karena aku telah mengunci hatinya di dalam jiwaku. Hati Calla milikku dan bukan milik Raja Draco." Brak "Sialan!" teriakan itu terdengar, membuat para pengawal ketakutan. Di depan pintu penjara dingin ini, Draco berdiri dengan amarah serta pedangnya yang berada apik di tangan kirinya. "Calla buka. milikmu!" ucap Draco seraya mendekati Weylan yang sudah tak berdaya. Weylan tersenyum dalam rasa sakitnya. Sebenarnya sedari tadi Weylan tahu jika Draco ada di sana. Semua yang Weylan ucapkan hanya untuk memancing Draco. Memancing amarah Draco. "Apa-apaan kau?! Calla. Hati dan tubuhnya dalah milikku! Apa yang kau miliki hingga kau dengan percaya diri menyatakan cinta murahanmu kepada Calla?!" Draco murka. Dia mencengkram rahang Weylan yang dipenuhi lebam. "Raja, Calla tak akan mencintaimu!" ucap Weylan dengan menahan rasa sakit. Plak Draco menampar wajah Weylan dengan tanpa hati. "Kau hanya anak pelayan yang terlalu beruntung menjadi tangan kananku! Lalu bisa-bisanya kau mengkhianati aku?!" Draco menatap benci kepada Weylan yang menunduk dengan darah merembes keluar dari hidungnya. "Aku ingat dan tahu segalanya Raja, aku tahu hidupku adalah milik Kerajaan Hellas. Tapi, Calla. Aku mencintainya, kita saling mencintai-" Belum sempat Weylan menyelesaikan ucapannya, Draco terlebih dahulu menendang tubuh Weylan. Draco dikuasi amarah, ia tak lagi melihat Weylan sebagai sahabat kecilnya dulu. "Tidak! Kau tak pantas untuk Calla!" "Lalu apa kau pantas untuknya? Raja, aku tahu hidupku tak akan panjang dan lebih lama lagi. Aku terlalu takut meninggalkan Calla di Hellas." "Hellas adalah tempat yang mengerikan." lirih Weylan. "Raja, kau akan mengambil nafasku kan? Kau akan menerbangkan jiwaku, kau akan membunuhku kan?" pertanyaan macam apa itu!? Bagaimana bisa Weylan bertanya seperti itu?! "Tapi Raja, aku mohon, jagalah Calla. Kau mencintai dia kan? Maka jaga dia dengan sepenuh hatimu. Berikan dia jalan menuju kebahagiaan miliknya." Weylan menangis, nafasnya sudah terasa berat dan dadanya sesak. "Raja, anggaplah aku sebagai teman dan sahabatmu semasa kecil, dan kabulkanlah keinginan terakhir dari sahabatmu ini," Weylan terbata-bata. Draco berlutut di samping Weylan. Mengapa kini Draco menjadi sedih? "Lan, Weylan." Daraco memangku tubuh Weylan. "Raja, kita sahabat. Aku akan menitipkan sesuatu yang sangat berharga dari hidupku padamu. Aku akan menitipkan Calla padamu." ucapan Weylan terdengar begitu lirih. "Raja, bawalah Calla untuk melihat dunia yang bahagia, dia adalah wanita yang murni dan baik hati. Jiwanya bersih, kumohon jangan kotori Calla dengan kebencian dan amarah apalagi dendam." pinta Weylan. Weylan menutup matanya, dan berkata pelan. "aku telah menyelesaikan tugasku untuk Hellas. Ibu, aku akan pergi menyusulmu. " Weylan kembali membuka matanya, mata sayu yang menatap Draco. "Raja, terima kasih dan selamat tinggal." Weylan menutup matanya. Dia telah pergi, jiwanya telah bebas dari Hellas yang kejam. Setetes air mata Draco juga membasahi wajah kaku Weylan. "Terima kasih Lan, aku akan menjaga Calla kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN