28- Memohon Demi Dhara

1292 Kata
"Aku tak memintamu untuk berada di sisiku. Kau yang memaksanya Pangeran." Dhara berucap sambil enggan menatap langsung Jayden yang berada di luar sel tahanan. Sedari tadi, Jayden berlutut di sana dengan tatapan penuh kesedihan memandangi Dhara yang harus terkurung di dalam penjara. "Bagaimana aku bisa melihat orang yang kucintai menderita?" tanya Jayden sendu. "Aku tak mencintaimu." ucap Dhara dengan sangat lirih, ia sudah sangat lelah menolak Jayden terus-menerus. Dhara hanya tak mencintai Jayden, namun mengapa pria itu selalu ada untuk Dhara? "Aku tak masalah, Dhara kau tenang saja aku akan mengeluarkanmu dari tempat menjijikan ini, maafkan aku tak bisa langsung mengeluarkanmu saat ini juga." Jayden mencoba meraih jari-jemari Dhara untuk ia genggam melalui sela-sela besi yang mengurung Dhara. "Dhara, apapun akan aku lakukan untukmu, kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja." ucap Jayden dengan mengecup punggung tangan Dhara. Dhara terharu, jika saja ia memiliki rasa pada Jayden, tapi dia sama sekali tak memiliki rasa apapun, Dhara merasa menjadi wanita terbodoh dan paling jahat saat bersama dengan Jayden. Jayden selalu memastikan apapun yang berkaitan dengan Dhara selalu aman dan terkendali, pangeran adik tiri dari Draco itu bisa dibilang selalu menjadi perisai bagi Dhara sejak saat pertama Dhara datang sebagai selir di saat usianya menginjak empat belas tahun. Sejak itu, Jayden selalu menaruh mata dan hatinya untuk Dhara, ia akan dengan senang hati mengorbankan apapun demi membuat Dhara bahagia. Bukankah cinta Jayden sangat berlebihan? Karena hal yang paling menyakitkan adalah, Dhara yang ternyata mencintai Draco, kakak tiri Jayden. "Berapa banyak aku berhutang padamu?" tanya Dhara yang kini mencoba memberanikan dirinya untuk bertatapan dengan Jayden. "Tak ada, kau tak berhutang apapun." Dhara menggeleng dan tertawa penuh luka saat Jayden mengatakan hal itu, "hidupku hingga detik ini adalah hutangku padamu." ucap Dhara, Jayden menghapus lelehan air mata yang mengalir membasahi wajah cantik Dhara. "Ini salah satu hutangmu, kau menangis. Jangan menangis, Dhara. Kau tahu melihatmu menangis membuat sesuatu di dalam sini berteriak kesakitan." Jayden membawa tangan Dhara menuju dadanya, dia tak bohong saat mengatakan semua itu, faktanya melihat Dhara sedih adalah hal paling menyakitkan yang Jayden rasakan. "Seluruh hidupku adalah berkatmu, Jayden." ucap Dhara pada akhirnya. Dhara mengakui, dia tak bisa apapun tanpa Jayden, walau setiap malam yang mencicipi tubuhnya adalah Draco, Draco selalu menyentuhnya tanpa cinta, namun Jayden yang bahkan tak pernah sekalipun menyentuh Dhara tanpa izin adalah seorang pelindung, segalanya Jayden lakukan untuk Dhara, bukankah itu artinya seluruh hidup Dhara adalah hutangnya pada Jayden? "Maka jika memang begitu, jangan bersedih, jangan Dhara." ucap Jayden lagi. Dhara menggeleng, "aku tahu kesalahanku cukup besar kali ini, Raja sangat marah dengan apa yang kulakukan. Aku tahu dan melihat jelas saat Calla dan Weylan kabur, aku tahu, tapi aku sama sekali tak memberitahukan itu kepada siapapun, aku membiarkan mereka kabur." ucap Dhara dengan menerawang kejadian malam itu. "Saat itu perasaanku sangat bahagia, karena Calla akan pergi bersama Weylan, maka Raja akan menjadi milikku. Tapi aku salah besar, aku tahu Raja sangat mencintai Calla, atau Alisa? Aku tak paham. Tapi yang jelas, Raja benar-benar mencintai Calla, Raja hanya terlambat mengetahui itu." terang Dhara dengan sendu. "Calla dan Weylan saling mencintai." tambah Jayden yang membuat Dhara mengangguk setuju. "Bukankah mereka sama dengan kita? Saling bertepuk sebelah tangan." ucap Dhara. "Tidak Dhara, kau tenang saja... Aku akan membuatmu bisa bersama dengan kakak, aku akan membuatmu bahagia dengan kakak. Kau akan menjadi Ratu Hellas." ucap Jayden meyakinkan. "Dan hal paling bodoh adalah bertahan dengan cintamu yang terlalu besar, Jayden, jangan terlalu jauh, aku takut kau tersesat, aku takut tak bisa membayar semua hutang ini padamu." ucap Dhara dengan mengelus lengan Jayden. "Aku mencintaimu, aku tak ingin memilikimu jika itu membuatmu tersakiti, cinta tak harus memiliki, Dhara." ucapan Jayden membuat Dhara memejamkan matanya dan menangis. "Mengapa bukan Draco yang seperti ini padaku? Mengapa aku mencintai Draco? Mengapa Jayden yang selalu ada untukku? Tuhan, aku benar-benar jahat." batin Dhara. Saat Dhara dan Jayden tengah menikmati keheningan dan rasa sakit yang mereka rasakan, seorang pengawal datang dan mengatakan jika waktu bertemu mereka telah habis. "Waktu anda telah selesai pangeran." ucap di pengawal dengan membungkuk hormat kepada Dhara. Jayden menghapus air mata Dhara sekali lagi, ia lalu melepaskan mantelnya dan memberikannya kepada Dhara melalui cela penjara. "Udara di penjara sangat dingin, pakailah ini Dhara." Jayden memastikan jika Dhara memakai mantelnya dengan benar. Dhara hanya diam dan membiarkan mantel Jayden yang di penuhi oleh aroma wangi musk bercampur oak itu menutupi pundaknya. "Aku akan segera kembali dan membebaskan dirimu." ucap Jayden dengan melangkahkan kakinya keluar dari penjara itu. Di dalam penjara yang kembali sepi, Dhara tersenyum licik. Licik? Dhara memang licik. "Kerja bagus. Dhara!" gumam Dhara saat cahaya dari pintu keluar telah tertutup dan menghilang. . . Jayden mengunjungi Calla secara diam-diam. Bukan hal sulit baginya untuk menyelinap masuk ke dalam paviliun milik kakaknya. "Calla!" panggil Jayden melalui jendela. Calla menoleh, wajahnya pucat, bahkan Jayden sama sekali tak melihat rona-rona kehidupan di wajah putih itu. "Calla! kemarilah!" ucap Jayden sekali lagi. Calla tetap diam di tempatnya, dia sama sekali tak bergerak atau berbicara. Dengan susah payah akhirnya Jayden membuka jendela yang terkunci itu, dia mendekati Calla di ranjang, lalu berlutut di hadapan Calla. "Calla..." Jayden menggenggam jemari Calla yang terlihat semakin kurus. Jayden tahu Calla juga menderita, sama seperti dirinya dan Dhara, dia tahu semuanya menderita dan masalahnya adalah karena cinta yang rumit. "Maafkan kakakku." ucap Jayden lirih. Calla menoleh dengan tatapan kosong, lalu setetes air mata jatuh dari mata tanpa binar itu, "Lan, dia di mana? Dimana Lanku?" tanya Calla yang mulai menangis. Calla tahu faktanya, dia melihatnya secara langsung. Namun Calla menolak fakta itu. Weylan adalah kekasihnya, mereka saling mencintai dan mengapa Draco dengan tanpa hati membunuh Weylan tepat di hadapan Calla?! Tak cukupkah dengan memisahkan Calla dan Weylan? Mengapa harus sampai membunuh? "Weylan sudah tiada, Calla. Coba mengertilah." ucap Jayden yang juga ikut bersedih akan hal buruk yah terjadi di Hellas beberapa waktu belakangan ini. Calla menggeleng, "bunuh saja aku, biarkan aku mati dan bersatu dengan Lan, Jay kumohon bunuh aku!" ucap Calla dengan histeris sambil memegangi tangan Jayden dan memohon. Memohon untuk sebuah kematian. "Calla, jika semua hal bisa diselesaikan dengan kematian, maka seluruh manusia yang ada akan memilih untuk mati, peradaban ini akan musnah jika itu terjadi," "Aku tak ingin memikirkan apapun, aku hanya ingin bersama dengan Lan. Hiks. Tolong bantu aku Jayden." Calla memohon dengan menyatukan kedua tangannya di depan d**a. "Aku bukan Tuhan yang memiliki kuasa itu Calla." ucap Jayden dengan lirih. "Calla, bisakah kau membantuku sekali ini saja? Bujuk kakak untuk membebaskan Dhara." pinta Jayden. "Dhara." gumam Calla. "Dhara beruntung, dia memiliki orang yang mencintainya sedalam dirimu mencintai Dhara, Jayden kau berkorban terlalu jauh untuk Dhara yang bahkan tak pernah menoleh padamu." ucap Calla yang tanpa sadar menohok hati dan perasaan Jayden. "Bukankah aku sama dengan kakak? Kakak juga mencintaimu terlalu dalam Calla." ucap Jayden. "Kalian mencintai orang yang salah, cinta tak berbalas adalah salah satu hal paling menyakitkan." ucap Calla tanpa menoleh pada Jayden. "Bedanya adalah, Raja mencintaiku dengan obsesi dan kegilaannya, sedangkan kau mencintai Dhara dengan setulus hatimu." tambah Calla. "Ya, kau benar. Aku begitu mencintai Dhara, sangat! Aku ingin membuatnya bahagia walau bukan aku penyebab kebahagiaannya itu." ucapan Jayden mengenai cintanya pada Dhara selalu membuat Calla bersedih dan teringat dengan Weylan. "Jayden jika aku membantumu kali ini, apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Calla. Calla dengan tatapan yang tak bisa terbaca mulai menelisik mata Jayden, "apapun." ucap Jayden spontan. "Bantu aku pergi dari Raja, bagaimanapun caranya, bantu aku keluar dari semua yang ada di Hellas ini." ucap Calla dengan serius. "Baiklah, aku berjanji." ucap Jayden yang saat itu mengucapkan janjinya tepat di malam bulan purnama ke-tujuh. Mereka tak menyadari jika Dewi bulan mencatat apa yang mereka inginkan, semua keinginan itu akan terwujud dengan hal nyata yang akan membuat semuanya terasa berbeda dan jauh lebih mengerikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN