29- Calla& Halusinasi

1221 Kata
Calla tengah menangis membayangkan apa yang sudah terjadi karenanya, karena Calla, atau lebih tepatnya karena cinta Draco pada Calla, membuat Weylan, orang yang paling Calla cintai mati dengan sangat mengenaskan. Calla masih terbayang tatapan Weylan yang penuh luka dan seakan sedang menahan ribuan rasa sakit saat Draco memenggal kepalanya. Calla sangat tak percaya, ia kira semua yang terjadi itu hanyalah satu dari mimpi buruknya di malam hari yang kelam, namun Draco terlalu nyata untuk sekedar disebut sebagai mimpi buruk. Draco menemukan Calla dan Weylan kala itu, saat sepasang kekasih itu tengah menghabiskan malam bersama sambil melihat bulan dengan hamparan bunga chamomile sebagai ranjang mereka. -Flashback On- "Aku akan selalu ada di sisimu, ingatlah itu Calla..." ucap Weylan dengan tatapan yang masih fokus pada hamparan benda bersinar di langit hitam di atas sana. "Iya, kau harus Lan, kau tak boleh pergi dariku. Aku tak akan bisa tanpamu..." ucap Calla memandangi Weylan dari samping. Calla mendekatkan wajahnya pada leher Weylan, mencari posisi ternyaman untuk merasakan harumnya Weylan yang seolah memiliki mantra ajaib untuk menenangkan Calla. Berada dalam jangkauan Weylan membuat Calla merasa bahagia, sangat bahagia hingga tak ada kata yang mampu menggambarkan rasa itu, Calla tahu hidupnya sangat miris dan penuh akan beban, namun saat Weylan datang dan hadir di dalam kehidupannya, semuanya berubah, Calla menjadi lebih hidup dan bahagia. "Calla mau lakukan sebuah permainan?" tanya Weylan memecah keheningan. Calla tak bergerak, ia masih menidurkan kepalanya di dekat Weylan, "apa?" tanya Calla. "Kita main tebak bentuk!" ucap Weylan yang kini bangkit untuk duduk, Weylan juga membantu Calla untuk duduk di pangkuannya. Calla dengan senang hati duduk di pangkuan Weylan, dia tersenyum dan mengecup singkat bibir Weylan terlebih dahulu. Cup "Hei? Apa itu barusan?" Weylan mencubit kecil hidung Calla. "Kau sudah mulai berani ya?" tanya Weylan dengan nada bercanda. Calla hanya terkekeh dan dengan berani dia kembali mengecup bibir Weylan. "Kita sepasang kekasih! Apa yang salah memangnya." ucap Calla dengan mengelus rahang kokoh milik Weylan. Weylan menggelengkan kepalanya, dia lebih menyukai Calla yang terbuka dan ceria seperti saat ini. "Ya, aku akan menjadi kekasihmu. " "Selamanya! Kau harus menambahkan kata selamanya, Lan!" ucap Calla mengoreksi perkataan Weylan. "Baik... Baik. Aku akan mejadi kekasih Calla untuk selama-lamanya!" ucap Weylan dengan tatapan lembut, tatapan yang paling Calla sukai di dunia ini. "Berjanji?!" Calla menyodorkan kelingkingnya. Weylan melirik kelingking kecil Calla lalu tersenyum dan membalas dengan menautkan kelingkingnya. "Janji!" ucap Weylan. Dengan bahagia Calla memeluk tubuh Weylan dan mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus, "terima kasih, Lan!" ucap Calla. Dalam beberapa detik mereka hanyut merasakan pelukan satu sama lain, mendengarkan degup jantung satu sama lain dalam heningnya malam. "Aku akan mulai permainannya," ucap Weylan yang masih memeluk Calla, Calla hanya mengangguk, dia terlalu menikmati keromantisan Weylan padanya. "Di bagian Utara, tujuh bintang paling menyala itu, apa bentuk yang kau lihat?" Weylan menunjuk bintang yang ia maksud, Calla mengikuti arah jari Weylan menunjuk dan tersenyum, Calla tahu jawabannya! "Apa ada hadiahnya jika aku tahu jawabannya?" tanya Calla dengan senyuman jahil. Weylan mengangguk dan mengusap rambut Calla dengan lembut, "tentu, hadiah spesial!" ucap Weylan yang sontak menjadi lebih bersemangat dan bahagia. "Perseus!" ucap Calla dengan bangga karena ia tahu nama gugusan bintang yang ditunjukan Weylan. "Kau tahu?" Weylan menatap Calla sedikit tak percaya, ia kira Calla tak akan mengetahui nama-nama rasi bintang. "Kau meragukan aku? Biar hanya seorang selir aku ini pintar astronomi tahu..." ucap Calla sedikit menyombongkan diri. "Aahahaha.Tentu saja, Callaku ini adalah ahli astronomi yang sangat pintar." ucap Weylan dan kembali menciumi hidung Calla. "Mana hadiahnya, berikan!" Calla menagih hadiah atas jawabannya yang benar. "Kau yakin akan menerima hadiahnya?" tanya Weylan yang kembali merebahkan tubuhnya. Calla mengikuti Weylan, namun kali ini Calla lebih memilih untuk menjadikan d**a Weylan sebagai bantalnya. "Tentu," ucap Calla yang sedang menyamankan posisinya. "Baiklah, tapi sebelum itu apa kau tahu makna dan arti dari Perseus?" tanya Weylan mengetes Calla. "Perseus adalah satu dari empat puluh delapan rasi bintang di belahan Utara, dia juga merupakan salah satu rasi bintang modern, Perseus melambangkan seorang pahlawan Yunani kuno yang mengalahkan Medusa. Dia sangat amat hebat dan perkasa, berkarisma, dan sangat indah..." "Sama seperti dirimu, Lan... Kau adalah Perseusku!" ucap Calla lagi dengan lebih serius. Weylan tersenyum lembut dan mengelus rambut Calla, "kau ini bisa saja, aku bukan pahlawan hebat seperti Perseus, aku hanya prajurit biasa yang terlampau biasa... Calla bahkan sebenarnya aku ini tak pantas untukmu..." ucap Weylan merendah. "Kau adalah Acturus, di Utara sana. Kau lihat kan bintang yang paling terang diantara bintang yang lain? Itu adalah dirimu." ucap Weylan memandangi satu-satunya bintang terterang saat itu. "Acturus, adalah seorang bidadari cantik yang bahkan menarik pesona Zeus, sama seperti kau yang menarik perhatian Raja Draco. Calla kau sebenarnya tak pantas denganku yang hanya orang biasa ini." "Lan!" Calla meninggikan suaranya, dia lalu memeluk tubuh Weylan lebih erat. "Sudah kukatakan berapa kali, aku mencintaimu, kita saking mencintai dan cinta kita harus hidup." ucap Calla dengan serius. "Jangan rusak malam indah ini, aku tak ingin Lan." tambah Calla lagi, Weylan memilih untuk mengangguk, dia tak ingin merusak suasana hati Calla. "Baiklah... Maafkan aku." ucap Weylan dengan lembut.. Calla hanya mengangguk, dia kembali menatap Weylan tepat di matanya. "Berikan hadiahku." pinta Calla yang kembali teringat pada hadiahnya. "Aku ingin kau berada di dalamku, Lan." ucap Calla lebih dulu, sontak saja wajah Weylan merona merah, Calla tak lagi sepolos saat awal pertemuan mereka. "Aku ingin kau mengisi diriku Lan," ucap Calla dengan mendekatkan wajahnya pada Weylan. Kini posisinya, Weylan berada di bawah Calla yang berada di atas tubuhnya. Wajah mereka bahkan saling berhadapan, mereka saling bertukar hembusan nafas satu sama lain. "Calla." Weylan tak tahu harus menanggapi seperti apa, apakah ini tak terlalu cepat? "Aku ingin buah cinta kita di dalam sini." Calla menyentuh perut ratanya, Calla tersenyum dan dengan inisiatifnya dia mengulum bibir Weylan dalam dan sesikit agresif. "Mmhmmm... Engmmmnhmmm..." lenguhan keduanya mengisi malam yang sunyi, perlahan keduanya saling membuka pakaian satu sama lain. Saat hampir setengah dari pakaian mereka terlepas suara panahan terdengar, sebuah anak panah melesat tepat mengenai tanah samping Weylan berbaring. "Lan!" panik Calla, untung saja Weylan memiliki refleks yang baik. "Raja." lirih Calla dan Weylan bersamaan. "Beraninya kau!" tatapan Draco penuh akan api amarah, Draco menemukan Calla dan Weylan. "Raja, tidak, jangan sakiti Lan! Hukum aku, aku yang bersalah." Calla dengan cepat berlutut di hadapan Draco, Draco masih mengarahkan anak panahnya membidik Weylan yang hanya bisa terdiam dan menunduk. Berakhir. Semuanya telah usai terlaku cepat, tak akan ada cara untuk merendahkan emosi dan amarah Draco kaki ini, Weylan tahu ia salah, tapi cintanya pada Calla tak pernah salah. "Raja, izinkan aku mencintai Calla. Izinkan aku menjadi cintanya," mohon Weylan yang juga ikut berlutut bersama Calla di bawah kaki Draco. Draco menggenggam anak panahnya erat-erat. Mengapa rasanya sangat sakit? Sesakit inikah kehidupan cinta Draco? Calla benar-benar tak memiliki rasa cinta sedikitpun untuknya? "Tidak" ucap Draco dengan suara rendahnya. "Aku tak peduli kau mencintaiku atau tidak, tapi aku menginginkanmu Calla!" ucap Draco menarik tubuh Calla untuk berdiri di sampingnya, Calla berontak namun Draco memeganginya erat sekali. "Aku akan memberikan hadiahnya padamu..." ucap Draco di telinga Calla, " Spash Deg Deg Calla merasakan nyawanya melayang, nafasnya tercekat. Kepala Weylan menggelinding ke kakinya. -Flashback Off- Dan semua yang Calla ingat hanyalah ketakutaannya, dia berhalusinasi saat Draco menebas kepala Weylan. Calla berhalusinasi tentang semua hal buruk yah Draco lakukan. Karena Calla ingin menjadikan Draco sebagai si antagonis dalam kisah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN