30- Melihat Adegan Panas Draco&Rhea

1156 Kata
"Setidaknya makanlah," Draco tengah membujuk Calla yang sama sekali tak berniat untuk menyentuh makanannya.Jika kalian bertanya apakah ada orang yang tak ingin makan lebih dari tiga hari? Apa orang itu tak merasa lapar? Maka mungkin Calla akan menjawab jika dia telah kehilangan selera makannya, dia bahkan ingin segera mengakhiri hidupnya dan bertemu dengan Weylan. Sudah lebih dari sepuluh hari dan Calla hanya makan beberapa kali dalam tiga hari, Draco sangat cemas karena bahkan Calla beberapa kali pingsan akibat kekurangan energi. "Aku tak lapar." ucap Calla. Draco jengah mengapa Calla selalu mengucapkan hal yang sama. "Ini perint-" ucapan Draco telah terlebih dahulu memotong ucapan Draco. "Kenapa kau tak memerintahkan aku untuk mati saja?" tanya Calla dengan cepat dan berdiri mendekati Draco. "Kenapa kau tak membunuhku juga?!" Calla mulai memandang kosong ke dalam netra gelap Draco. Dia benar-benar merasakan kebencian yang mendalam, Draco membunuh Weylan dengan Calla yang harus menyaksikan semuanya. Draco terdiam, dia merasa bersalah, namun jauh lebih besar dari itu hatinya terasa sakit, Callanya benar-benar mencintai Weylan. Mengapa harus Weylan? Mengapa bukan Draco? "Aku tak akan membiarkanmu pergi," ucap Draco yang kembali kepada sikap dinginnya. Dia memegang pundak Calla dan sedikit meremasnya. "Aku tak akan membiarkanmu pergi, apalagi mati. Bahan jika itu sampai terjadi, kupastikan jiwamu akan tinggal di Kerajaan ini bersamaku." ucapan Draco terdengar sangat serius, Calla sampai menitihkan air matanya. Hancur dan hancur, itulah yang Calla rasakan saat ini. Dia tak memiliki kesempatan untuk bebas, bahkan kematian tak akan bisa membawanya pergi jauh meninggalkan luka yang Draco dan Kerajaan Hellas berikan padanya. Calla sekali lagi membenci hidupnya. . . "Rhea, apa aku begitu buruk?" Draco membiarkan air hangat dengan aroma oak dan bunga kering itu menyentuh dan merendam tubuhnya. Rhea memijat kepala Draco dengan sangat lembut, Rhea tersenyum saat Draco menanyakan hal semacam itu padanya, bukankah itu artinya Draco benar-benar mempercayai dia, bahkan Dhara tak pernah melakukan semua ini. "Kau yang terbaik Raja. Jangan meremehkan dirimu sendiri," ucap Rhea yang terdengar licik, namun sayang kali ini Draco sama sekali tak menyadari itu semua. Draco sedang merasakan lelah di batinnya, dia tahu membunuh Weylan adalah salah satu hal yang akan membuat Calla membencinya seumur hidupnya. Tapi Draco tak akan pernah rela saat Calla bersama dengan Weylan atau pria lain manapun. Draco termakan ucapan dan sumpahnya, Draco mencintai Calla begitu dalam. "Rhea, awalnya aku membenci Calla, dia terlihat mirip dengan seseorang yang sangat amat aku benci. Aku bersumpah untuk membuat hidupnya menderita, namun mengapa kini semuanya seakan berbalik? Aku begitu mencintai Calla." Draco mengutarakan apa yang ia rasakan kepada Rhea. Jika boleh jujur, Rhea memang memiliki sisi keibuan, dimana hal itu membuat Draco merasa seperti sedang meluapkan isi hatinya kepada ibunya sendiri. Walau faktanya ibu kandung Draco tak pernah memberikan kasih sayang kepadanya, namun ibu dari Jayden, istri kedua ayah Draco begitu menyayangi Draco, bahkan melebihi Jayden, anak kandungnya sendiri. "Apa kau tahu karma? Kau terkena karma, karma jahat." ucap Rhea dengan tatapan lurus. "Rajaku, aku pernah berada di posisimu, aku pernah, namun bedanya aku berhasil membuang rasa cintaku itu dan menggantinya dengan rasa benci. Sangat sulit, namun aku tetap memaksakannya, aku tak ingin mencintai hal yang membuatku menderita dan tersakiti.Raja, kau pasti bisa." ucap Rhea dengan suaranya yang merdu. Rhea me dekatkan bibirnya ke telinga Draco dan berbisik, "Bencilah Calla." bisik Rhea. Draco sontak menjauh dari Rhea hingga membuat beberapa air di dalam kolam tempatnya berendam tumpah dan mengenai setengah gaun yang Rhea pakai. "Tidak! Aku tak akan membencinya, lagi. " ucap Draco memandang Rhea dengan tatapan yang sudah kembali seperti tatapan Draco pada umumnya, tajam dan mengintimidasi. Rhea tersenyum kecil dan sedikit memeras gaunnya yang basah, "Aku akan membawakan teh bunga Rosella dan beberapa buah kering, berpakaian lah Raja." ucap Rhea yang mengalihkan topik, wanita dengan gaun abu-abu itu segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan itu, meninggalkan Draco sendiri dengan beragam pikiran yang membuatnya menjadi semakin pening. "Aku tak akan bisa membencinya. Calla ataupun Alisa, kalian adalah satu-satunya yang membuatku dapat menjadi gila karena cinta." Draco berjalan menuju cermin besar yang ada di sana. Dia menatap tubuh polosnya, "aku tak memiliki kekurangan apapun, mengapa kalian membuatku merasakan patah hati untuk yang sekian kalinya? Calla ataupun Alisa, aku akan pastikan tubuh, bahkan hatimu menjadi milikku seorang." ucap Draco yang menampakan senyuman liciknya. Tangan Draco mulai memainkan miliknya sendiri yang mulai mengeras karena memikirkan dan membayangkan wajah Calla yang menangis dengan lelehan air mata, "Akh. Calla, aku sangat ingin mencicipimu." ucap Draco yang masih memainkan dirinya sendiri dengan Calla sebagai bahan imajinasinya. Ceklek Bahkan saat Rhea datang kembali dengan teh dan buah kering, Draco sama sekali tak menyadari keberadaanya dan masih menikmati permainan seorang dirinya dan Calla dalam imajinasinya. "Raja." Rhea menyentuh perut kotak milik Draco dari belakang. "Kau menghancurkan fantasiku!" ucap Draco seraya memandang Rhea dengan kekesalan. Rhea hanya tersenyum, jemari lentik Rhea bermain dari perut kotak milik Draco lalu naik dan menyusuri setiap permukaaan kulit di d**a dan di wajah Draco, "mari bermain denganku, Raja." ucap Rhea yang dengan berani membingkai wajah Draco dan mengecup bibir sang Raja dengan agresif. Draco tersenyum miring, "kau yang memintanya, jangan salahkan aku saat beberapa tulangnya retak di esok hari." ucap Draco dengan smirik andalannya. "Apa aku pernah mengeluh? Aku menyukai setiap sentuhan mi, Raja." ucapan Rhea tak dipedulikan oleh Rhea, Draco langsung mendorong tubuh Rhea ke ranjang dan menindih tubuhnya, Draco mulai melepaskan satu per satu kain yang menutupi tubuh putih milih Rhea, "Berikan aku satu benihmu di dalam sini. Izinkan aku menjadi Ratumu..." ucap Rhea yang dihadiahi tatapan remeh dari Draco. "Kau tahu Rhea? Benihku terlalu mahal untukmu. Kau tak akan mampu menampungnya!" ucap Draco seraya mencengkram dagu Rhea dengan cukup kuat lalu mulai mencumbu tubuh Rhea dan memainkan d**a Rhea dengan sangat sensual, yang mau tak mau membuat Rhea melenguh merasakan kenikmatan di bagian intimnya. Draco mulai memasukinya, keringat mereka mulai berhamburan, tubuh basah keduanya saling bersentuhan membuat Rhea lagi dan lagi menjadi gila dan termakan ucapannya sendiri. "Aku tak bisa menolak gairahmu ini, Draco! Dasar monster licik!" batin Rhea saat Draco sedang bersiap untuk memasuki tahap kedua dalam pelepasannya. "Nghh! Rhea kau nikmat walau usiamu memasuki tiga puluh tahun!" ucap Draco menggigit perut rata sedikit berotot milik Rhea, meninggalkan banyak sekali noda kemerahan di sana. Tanpa Draco dan Rhea sadari ternyata malam panas dan panjang mereka itu tanpa sengaja di lihat oleh Calla, dari balik pintu yang sedikit terbuka Calla melihat setiap gerakan dan sentuhan Draco pada tubuh Rhea, Calla sama sekali tak marah apalagi cemburu, dia justru merasa terangsang. Namun hanya air mata yang mampu ia keluarkan, cintanya telah pergi bahkan sebelum sempat Weylan menyentuh Calla seperti yang sedang Draco dan Rhea lakukan di dalam sana. "Hiks! Lan mengapa kau meninggalkanku?! Aku ingin bersamamu! Kumohon." Calla menangis dengan rasa terangsang yang tak mampu ia tuntaskan seorang diri. Di mana dan siapa yang akan menjadi pelampiasan Calla? Calla bersumpah tak akan menikmati seks dengan siapapun kecuali dengan Weylan, walau sebuah kenyataan baru yang mungkin akan merubah segalanya. "Weylan... Aku merindukanmu..." batin Calla terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN