-Dalam Mimpi Calla-
Saat itu Calla membuka matanya dan menyadari jika dirinya berada di sebuah tempat yang begitu indah, dengan langit berwarna violet yang begitu terlihat lembut dan juga perpaduan warna biru muda serta awan kapas berwarna peach, yang seakan mengelilingi Calla dan berbisik untuk berbaring di atasnya.
“Ini sangat indah.” Calla masih tetap melangkahkan kakinya secara perlahan, ia terlalu menikmati suasana di sekitarnya, hingga ia berhenti di satu titik, Calla melihat yang Weylan berdiri dengan setelan putih, baju pernikahan!
“Lan!” Calla dengan sangat berbunga-bunga berlari tanpa ragu untuk menghampiri Weylan yang masih berdiri di sana dengan senyuman yang selalu menjadi favorit Calla.
Langkah demi langkah Calla berlari, tapi mengapa terasa sangat jauh? Jarak Antara Weylan dan Calla seolah melebar, Calla menggeleng ketakutan, dia tak menghiraukan apapun dan terus berlari demi menggapai tubuh Weylan.
“Lan! Lan!” Calla melihat Weylan melambaikan tangannya dan secara tiba-tiba sesosok wanita lain hadir tepat di samping Weylan.
Calla menghentikan langkahnya dan terdiam, “Lan.” gumam Calla di saat ia menyaksikan bagaimana Weylan dan wanita itu saling menempelkan bibir mereka satu sama lain.
“Lan!” Calla menangis dan berteriak penuh luka kea rah Weylan dan si wanita yang Calla akui sangat cantik.
Weylan tak menjawab panggilan Calla, dia memilih untuk mendekati Calla yang saat itu masih membeku di tempatnya, satu langkah, dua langkah, dan hanya dalam tujuh langkah Weylan dan si wanita itu telah sampai tepat di hadapan Calla.
“Calla.” panggil Weylan dengan tangan terulur untuk mengelus rambut indah milik Calla.
“Lan,” tangis Calla pecah, sesaat sebelum Calla mampu memeluk tubuh kekasihnya itu, Weylan menghindar.
Calla semakin tak percaya dengan apa yang terjadi, mengapa Weylan menghindar darinya? Bukankah mereka saling mencintai? Calla dan Weylan bahkan akan menikah dalam beberapa waktu lagi, itu adalah apa yang Calla ingat.
“Kita tak bias bersama Calla,” ucap Weylan dengan memandang Calla sedih.
Calla menggeleng rebut, dia tak mau mendengar Weylan mengucapkan hal semacam itu, bagi Calla hidup bersama Weylan adalah impiannya, jika ia tak bias bersama dengan duplikat Apollo itu, lebih baik ia mati, kehidupan ini taka da artinya lagi bagi Calla.
“Kau mencintaiku! Aku mencintaimu! Lan, kita saling mencintai!” Calla meluapkan semua emosi yang ada di dalam hatinya, hai dan perasaanya sudah tak lagi mampu untuk menampung segala beban dan kesedihan di dalamnya.
“Aku sudah mati Calla, aku dating dalam mimpimu untuk mengucapkan selamat tinggal,” ucap Weylan yang juga tersirat kesedihan dalam nada bicaranya.
“Hisk Lan, aku akan ikut denganmu, aku tak mau bangun agar pertemuan ini tak berakhir, kumohon." Calla memohon dengan tatapan penuh luka, dia masih berusaha meraih tangan Weylan, namun pria itu selalu memundurkan langkahnya dengan diikuti oleh si wanita cantik tadi.
“Takdir tak mengizinkan kita untuk bersama” ucap Weylan yang merobek hati Calla untuk yang kesekian kalinya, Calla terluka lagi, hatinya hancur kali ini. Apa dia tak berhak merasakan kebahagian yang lebih panjang? Mengapa Tuhan membuat takdirnya sangat berat?!
“Aku tak peduli dengan semua itu! Aku mencintaimu Lan, sangat mencintaimu.” tangis Calla.
“Walau kau bersama wanita itu, aku tak masalah asalkan aku bias berada di sisimu, aku tak masalah kau duakan, tapi jangan tinggalkan aku, biarkan aku ikut bersamamu, aku sangat mencint-“
“Tak ada cinta di antara sepasang kakak beradik, Calla.” ucapan Weylan terlebih dahulu memotong kalimat panjang berupa pernyataan cinta yang awalnya akan Calla ucapkan.
“Apa?” lirih Calla, ia berharap apa yang ia dengarkan tadi hanya angina lalu.
“Kau adalah adikku, aku tak akan pernah bias mencintaimu sebagaimana lelaki mencintai wanitanya ” ucap Weylan menunduk dalam.
Deg
Jantung Calla berdetak sangat cepat SATA mendengar kalimat itu keluar dari bibir Weylan.
“Kau berbohong kan?!” Calla bangkit dengan wajah yang sudah basah karena tangisannya dia mendekati Weylan.
“Kakak?” taya Calla sekali lagi.
Weylan mengangguk kaku, dia lantas langsung memeluk tubuh Calla, “selama ini ternyata kau adalah adik kecilku, Carralia,” ucap Weylan memanggil Calla dengan nama Carralia, nama asli Calla.
“Kau tahu nama itu?” tanya Calla yang pandangannya kini telah kosong.
“Ya, Carralia, nama yang kubuatkan untukmu, karena kau tak menyukai nama Calla. Benarkan?” Weylan membingkai wajah Calla dan menghapus buliran air mata di wajah cantik itu.
“Kau adikku, kita tak bias saling mencintai.”
“Tapi, kau, tak mungkin, kakakku sudah mati lama sekali, kau bukan kakakku, kau adalah Weylan, kekasihku!” ucap Calla yang kembali memeluk erat-erat tubuh Weylan, tak ingin membiarkan pria itu kembali menjauh darinya.
Pundak Calla disentuh leh seorang wanita yang sedari tadi ada di samping Weylan.
“Dia adalah kakakmu.” ucap wanita itu.
“Siapa kau?! Apa kau akan merebut Lanku? Katakan, mengapa semua orang sangat jahat padaku?” Tanya Calla yang kembali menangis.
Mungkin tangisan adalah salah satu hal yang selalu Calla lakukan, setiap detik mereka semua mengujinya, memberinya lebih banyak air mata dan kemudian menghempaskannya dengan semua luka dan meninggalkan Calla dalam kesendirian.
“Aku Avita, aku adalah bidadari yang di utus Tuhan untuk menjadi pendamping Weylan,” ucapnya seraya menarik Weylan secara perlahan untuk menjauhi Calla.
“Calla, aku tahu kau wanita yang kuat, kau harus menyelesaikan segala urusanmu di dunia, dan tetang kakakmu, kau tak boleh mencintainya, cinta kalian terlarang.” Ucapnya panjang lebar.
“Tidak! Kau iblis! Kau merasuki Lank an?!” Calla menuding wajah Avita dengan tatapan penuh kebencian.
“Untuk apa aku berbohong?” tanya Avita dengan tenang.
“Calla, kumohon, berhentilah mencintaiku, kau tahu ini begitu menyakitkan untukku, aku melihatmu menangis setiap saat di sana, kau menangisiku dan cintamu padaku,” ucap Weylan menyendu.
“Calla, dunia kita kini berbeda, aku tahu, sangat sulit melepaskan dan melupakan cinta kita, tapi cinta kita itu terlarang, aku tak akan bias mencintai adik kandungku sendiri.” ucap Weylan membelai rambut Calla.
“Kau harus melanjutkan hidupmu, kau memiliki banyak sekali hal untuk diselesaikan, Calla lakukan ini untukku,” pinta Weylan seraya mengecup kening Calla untuk yang terakhir kalinya sebelum berjalan menaiki anak tangga Kristal menuju ke surge bersama Avita sang bidadari.
“Kakak…” lirih Calla dengan badan meluruh, ia jatuh terduduk dengan tangisan tanpa suara dan pandangan kosong.
“Kakak.” ucap Calla sekali lagi.
“Aku tetap mencintaimu, kak." ucap Calla melirih dan kemudian menangis dalam keheningan langit violet.
Tap Tap
Suara langkah kaki menyadarkan Calla yang menangis dalam hening, Calla melihat siapa yang menemuinya kali ini.
“Calla.” panggil sebuah suara dari arah kanan Calla.
“Raja,” lirih Calla menatap Draco yang sangat khas dengan setelan pakaian perang berwarna hitam.
Belum sempat Calla tersadar jika ada suara lain yang juga memanggil namanya, suara yang dating dari arah kiri Calla.
“Calla.” panggilnya dengan di bubuhi senyuman, senyuman yang entah mengapa mengingatkan Calla kepada, Weylan.
“Jayden?”