7- Paviliun Pribadi

1378 Kata
Paviliun Selatan Kerajaan Hellas, adalah tempat paling terlarang untuk dimasuki di wilayah kerajaan. Di sana adalah wilayah pribadi milik Raja Draco, semua yang ada di sana sungguh terjaga dengan segala perintah dan keinginan Raja Draco. Tempat yang sunyi dengan penerangan redup yang seakan membuat hati menjadi lebih tenang, di sana juga ditumbuhi oleh banyak sekali bunga Daisy dan juga Lily. Draco tak terlalu menyukai bunga-bunga itu, tapi setiap kali Draco membuang dan memusnahkan bunga itu, maka dalam hanya tenggat waktu seminggu saja, bunga itu akan kembali muncul. “Tu-an,” Calla menatap sekitar yang terlihat sangat amat kosong, padahal setahu Calla, bahkan saat di Kerajaan Mexry semuanya tak se-kosong ini. Ramai orang, pelayan dan para selir bahkan pengawal yang berlalu lalang, namun mengapa di tempat Raja Draco ini semuanya nampak berbeda? “Duduk dan diamlah!” tunjuk Draco pada ranjang dengan seprei sutra berwarna putih gading di pojok ruangan. Calla menurut dan duduk dengan tenang di sana. Lalu setelahnya Draco keluar dan menutup pintu dengan sangat keras, bahkan suaranya sampai membuat Calla kaget. “Ini terlalu berbeda, dan aneh? Dimana selir yang lain? Mengapa ruangannya begitu sepi?” Tanya Calla pada dirinya sendiri. Calla belumlah menyadari jika sebenarnya Draco tak membawa Calla ke kerajaan utama, dia justru membawa Calla menuju tempat paling terlarang di kerajaan Hellas. Apa alasannya? Entahlah, Draco hanya ingin membawa Calla kemari. Calla mengamati sekitarnya, ruangan ini ternyata tertata sangat rapih dengan perabotan mewah. Calla berdiri dan mulai berjalan untuk melihat setiap bagian di dalam ruangan itu. Langkah kakinya terhenti saat ia mendapati beberapa kupu-kupu yang diawetkan dan dipajang di dinding. Calla menyentuh hewan cantik yang telah diawetkan itu dengan raut wajah sedih. “Mengapa kalian harus mati dalam keadaan seperti ini?” gumam Calla mengelus kupu-kupu yang terhalang bingkai kaca itu. Calla sangat menyukai kupu-kupu dan serangga kecil lainnya, sebelum menjadi selir di Kerajaan Mexry, Calla dulunya hanya gadis kecil biasa yang menjalani hidup sederhana dengan bermain di padang rumput dengan para sahabat kecilnya, serangga dan burung-burung. "Menjadi indah itu menyakitkan, benar kan?" Calla merasa jika dia akan hidup seperti kupu-kupu cantik yang diawetkan itu. “Kau akan menjadi salah satu dari mereka!” ucap Draco yang entah datang dari mana dan saat ini sudah berada di belakang tubuh Calla dengan membawa sebuah gaun sederhana berwarna hijau muda pudar yang terlihat begitu lembut dan nyaman untuk dikenakan. Calla tentu sangat kaget, ia tak mengira jika Draco akan muncul dengan sangat tiba-tiba dan berada di belakangnya, Calla pikir, apa Draco memiliki kemampuan semacam teleportasi ? Karena Calla sama sekali tak mendengar suara langkah kaki Draco tadi. “Pakai ini!” Draco melemparkan gaun yang ia bawa, sehingga mengenai wajah cantik Calla, Calla mengamati gaun itu, lalu kemudian dia melihat Draco dan kembali kepada gaunnya. Dari segi bahan dan kualitas sungguh sangat berbeda. Padahal sewaktu di Kerajaan Mexry, sesederhana apapun gaun yang Calla pakai, gaun itu pasti selalu memiliki kualitas dan bahan yang bagus. Namun, mengapa kini ia seperti diberikan gaun dengan kualitas yang sepertinya lebih rendah daripada milik para pelayan. “Apa? Kau tak mau memakainya?!” Tanya Draco sambil mengamati raut wajah Calla yang sepertinya terlihat kurang puas dengan gaun yang Draco berikan. “Tuan, ini sangat indah…Terima kasih, aku akan segera memakainya.” Ucap Calla dengan senyuman lembutnya, Calla tak ingin membuat Draco menjadi semakin tak menyukainya hanya karena Calla berkomentar tentang gaun itu. Saat Calla berniat mengganti gaunnya di dalam kamar mandi, Draco menghentikan Calla dengan menahan lengan Calla, menariknya lalu meraih pinggang ramping Calla dan kini berakhirlah dengan Draco dan Calla yang berada di dalam posisi yang sangat intim. Mereka saling menatap satu sama lain, Draco masih mengamati mata Calla, setiap biji bola mata Calla seolah menjadi hal paling menarik untuk diamati bagi Draco. Tapi sayang, yang Draco percayai kala itu adalah tentang Calla yang ia kira adalah reinkarnasi dari Alisa, kekasih yang sangat ia cintai sebelum ia dilahirkan kembali menjadi seorang raja paling berkuasa seperti saat ini. “Tu-an,” Calla memanggil Draco lebih dari dua kali, ia merasa tak nyaman saat Draco memandangnya dengan begitu intens. “Lepas semua pakaianmu itu di hadapanku!” ucap Draco dengan berbisik tepat di telinga Calla, bahkan Calla sampai merasa sekujur tubuhnya bergetar. Calla bahkan bisa merasakan hembusan nafas Draco yang melewati perpotongan leher jenjangnya. “Aku tidak-“ ucapan Calla yang telah terlebih dahulu dipotong oleh Draco dengan menempelkan jemarinya di depan bibir delima milik Calla. Draco memajukan kembali wajahnya di hadapan Calla, sehingga kini jarak Antara keduanya tidaklah bersisa, bahkan hidung tinggi milik keduanya saling bersentuhan. “Aku yang memerintah di sini, aku… Draco.” Ucap Draco dengan suara serak basah miliknya yang terdengar sangat seksi. Lagi dan lagi Calla berusaha untuk mengontrol detak jantung dan kewarasan akan dirinya, Calla tak boleh sampai jatuh dan masuk dalam pesona Draco, Calla tak akan mau menerima fakta jika nanti hatinya menyukai Raja kejam itu. Calla menunduk dan mengangguk, gerakannya yang bagai slow motion itu mulai membuat Draco membayangkan kembali kekasih masa lalunya, Alisa. Dia dan Alisa tentulah sangat sering melakukan hubungan seperti ini, bukan kegiatan yang terlalu panas dan ekstrim, hanya saling melihat tubuh masing-masing dan merasakan suhu tubuh masing-masing. Draco dalam beberapa detik tertegun. “Alisa…” batin Draco yang masih merasakan kerinduan yang mendalam kepada Alisa, namun juga disatu sisi terdapat kebencian dan perasaan marah yang begitu besar. Terkadang kau akan sulit membedakan beragam rasa yang sedang kau rasakan, kau bisa tiba-tiba merasakan sebuah déjà vu dan kemudian marah ataupun sedih tanpa sebab. Aku mencoba mencaritahu mengapa itu bisa terjadi, tapi nyatanya hal itu cukup lumrah. Di saat kau memiliki sebuah rasa cinta yang begitu besar terhadap seseorang, maka di saat yang sama pula rasa takut kehilangan akan muncul, dan benci itu berasal dari cinta yang terlalu besar dan mati perlahan, jadi jika kau teralalu besar dan dalam mencintai seseorang, maka besar kemungkinannya kau juga akan merasakan kebencian suatu saat nanti kepada orang itu. Calla menahan air matanya, ia tak pernah mengira menjadi selir akan mempermainkan kehormatan dan harga dirinya seperti ini, Sepanjang hidup Calla bahkan ini adalah kali pertama baginya berganti pakaian dan disaksikan oleh pria yang notabennya masih asing dalam kehidupan Calla. Tubuh mulus nan ramping Calla mulai terekspos, kini semua pakaian yang tadinya Calla kenakan telah tertanggal apik, Draco tak berkedip. Dia pria usia matang yang tentunya akan sangat terpengaruhi oleh kecantikan dan keindahan Calla. Perpotongan leher, pinggang ramping, dua buah d**a yang terpasang apik dengan bentuk terindah serta setiap jengkal tubuh Calla benar-benar terlihat sangat indah. Sesaat lagi saat Draco merasakan perasaan aneh, ingatan kelam masa lalunya dengan Alisa kembali dating dan menghancurkan semua fantasinya pada Calla. “Sialan! Kau menjual tubuhmu kepada para lelaki lain kan?! Alisa! Saat ini aku bisa dan bahkan sanggup membayar tubuhmu itu! Rendahan!” sertak Draco yang entah kesetanan langsung mendorong tubuh Calla hingga wanita cantik itu jatuh tersungkur di ranjang. Lalu setelahnya Draco berjalan cepat menuju ke laci meja kerjanya dan mengambil setumpuk uang kertas kuno dan juga sekantong koin emsa yang begitu mahal harganya. Tanpa sepatah katapum Draco kembali mendekati Calla dan melemparkan semua koin emas dan uang itu pada Calla yang mulai menitihkan air matanya. “Aku membelimu! Aku membayar untuk setiap malam penderitaan yang harus kau jalani! Alisa…” ucap Draco dan dengan emosi Draco melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Calla memegang dadanya, sakit. Sungguh a lebih baik menjadi pelayan di Kerajaan Mexry ketimbang harus mempertaruhkan harga diri dan kehormatannya. Calla tak serendah itu, dan apa itu barusan, mengapa Draco selalu salah sangka dan mengatakan jika Calla adalah Alisa? Siapa Alisa? “Aku bukan Alisa… Aku Calla,” “Tuhan, mengapa kau membuat nasibku seburuk ini?” Calla bergumam lirih, suaranya terdengar sungguh menyayat hati. Calla bangkit dan berjalan mendekati saklar lampu, mematikannya dan membuat ruangan ini menjadi sangat gelap. Lalu kemudian dalam kegelapan Calla mulai memeluk lututnya dan menangis dalam keheningan. “Apa aku harus menanggung desamu, Alisa? Alisa, siapa kau itu sebenarnya?” "Aku bahkan tak tahu siapa dirimu, Raja selalu menyebut namamu! Aku Calla... Hanya Calla dan bukan Alisa!" Dan malam yang menyakitkan itu menjadi awal penderitaan Calla di Kerajaan Hellas. Malam yang membawa kehancuran dan kesedihan bagi Calla di hari mendatang. Malam kelam pembuka penderitaan. "Tak cukupkah semua penderitaan ini sebelumnya? Tuhan kau mendorongku terlalu jauh..." gumam Calla dengan raut wajah sendu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN