“Apa yang kau lakukan kak?” Tanya Jayden saat Draco sudah berhenti di aula utama.
“Apa yang aku lakukan?” Tanya Draco secara acuh.
“Kau menyakiti selir itu tadi, kau membuat tangannya terluka dan kemudian kau ingin membelinya. Selirmu sudah sangat banyak kak, jika lupa itu aku mengingatkanmu! Apa kau akan menyiksa dan bermain dengannya sama seperti kau bermain dengan para mainan yang lain? Setidaknya jangan bermain dengan wanita, kau tahu kan? Kau masih bisa bermain dan menggoreskan pedangmu itu kepada para pengkhianat kerajaan yang lain.” Ucap Jayden panjang lebar.
Setidaknya Jayden memang sedikit jauh lebih bijak dan juga memiliki hati, walaupun kenyataanya Jayden hanyalah adik tiri, pangeran terakhir yang mau tak mau harus ditempatkan di kerajaan Hellas dengan status abadi hanya sebatas pangeran terakhir.
“Apa masalahmu? Itu hak milikku! Adik tiri,” ucap Draco dengan sangat sinis seraya menekan pengucapan kata ‘adik tiri’.
Di saat kedua kakak beradik itu tengah beradu argumen, Pangeran Frans datang dengan Calla yang mengikutinya dari belakang. “Yak! Aku membawa apa yang kau inginkan, Raja Draco, bisakah kau berikan imbalannya sekarang?” Tanya Frans dengan tawa liciknya. Seraya memainkan bibirnya dengan cara menjilat dan sesekali menggigit permukaan luar bibirnya.
“Ya, bagus!” ucap Draco seraya memandang tajam kepada Calla yang ternyata lukanya di pergelangan tangan sudah diobati dan terbalut perban dengan begitu rapih. Perkara luka itu sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Draco, pria itu tak tahu jika kala ia mendorong Calla, akan ada ranting runcing yang mengakibatkan ranting itu menancap dan melukai pergelangan tangan mulus Calla.
Jayden yang masih merasa tidak setuju dengan niat Draco memilih untuk diam dan mengamati, ia tahu jika Draco itu suka sekali bermain dengan nyawa seseorang, tapi kali ini dengan seorang wanita? Tidak, ini terlalu kelewatan. Jayden bertanya-tanya apa yang sedang kakaknya itu rencanakan, dia tak akan memotong bagian tubuh Calla dan membagikannya kepada Beruang dan Singa peliharaannya kan? Jayden hanya merasa sedikit prihatin dengan ribuam selir Draco yang lain, apakah kakaknya itu tak pernah mau mencoba merasakan bagaimana perasaan para selir? Jayden selalu teringat pada Dhara kala mengingat kata ‘selir’.
“Ah, Dhara…” gumam Jayden dengan sangat lirih yang hanya mampu di dengar oleh angin.
“Aku ingin tanah di utara kerajaan Hellas dan juga koin emas sepuluh ribu keping!” ucap Frans dengan senyuman licik itu. Kukatakan sekali lagi, Frans situ sangat gila harta, ia begitu menyukai kepingan koin emas yang begitu amat bernilai di kala itu.
Kerajaan Hellas dan Mexry adalah kerajaan besar yang sangat kaya, namun dibandingkan dengan Kerajaan Hellas, tentulah Kerajaan Mexry kalah, Kerajaan Hellas adalah yang paling berkuasa dengan banyak sekali harta berharga. Itulah alasannya Frans meminta tanah utara di Kerajaan Hellas, Frans tahu di dalam tanah Kerajaan Hellas tersimpan banyak sekali harta karun.
Draco mengangguk, mengiyakan keinginan Frans, sontak hal itu membuat Jayden membulatkan matanya tak percaya, apa Draco itu gila? Dia mengiyakan permintaan Frans yang menginginkan tanah di bagian utara kerajaan Hellas, tanah itu sangat kaya akan emas yang terkubur di dalamnya, itu sama saja seperti memberikan harta sebanyak itu kepada Kerajaan lain.
“Kak-“
“Aku tak memintamu berbicara, Diamlah!” ucap Draco singkat, lalu kemudian si raja paling berkuasa pada masa itu berjalan mendekati Calla yang sedari tadi diam dan mencoba untuk menahan air matanya agar tak keluar. Draco menarik kuat lengan Calla, sehingga kini selir itu sudah berada di sisinya.
“Akh- sakit- tuan,” keluh Calla saat Draco meremas lengannya dengan sangat kuat.
“Aku membelimu dengan harga yang tak sedikit, Alisa…” ucap Draco tanpa ekspresi.
“Aku membayar sangat mahal untuk ini…” Draco semakin menekan pergelangan tangan Calla yang lukanya bahkan belum mengering.
“Kak! Kau menyakitinya!” ucap Jayden yang mencoba melepaskan cekalan Draco pada tangan Calla.
Namun itu sia-sia, karena Draco bahkan tak sedikitpun mengendurkan cekalannya kepada Calla.
“Oke baiklah, aku akan menanti semua bayarannya! Nikmatilah selir barumu, Raja Draco…” ucap Frans yang mulai melangkahkan kakinya pergi, baru setengah jalan Frans berbalik dan tersenyum licik, “ah, iya aku lupa mengatakan hal ini, darahnya begitu manis.. aku yakin kau akan menyukainya!” ucap Frans seraya menjilat bibirnya sendiri.
Tanpa sadar entah karena perkataan dari Frans tadi atau bukan, Draco bukannya melepaskan cekalannya dari Calla, namun justru semakin menekan kuat, hingga dapat terlihat darah merah yang kembali menghiasi perban baru itu.
“Kau akan membayar semuanya! Alisa!” ucap Draco dengan mendesis, lalu kemudian tanpa berbelas kasih, Draco menarik paksa Calla untuk memasuki kereta kuda dan membawanya menuju Kerajaan Hellas. Tempat baru yang akan menjadi rumah Calla, selamanya!
“Demi Tuhan! Aku tak mengerti sikapmu kak!” keluh Jayden yang kini ditinggal sendiri. Pria itu masih mengamati bagaimana Draco dengan kasarnya menarik tangan Calla yang terluka.
Pria tampan itu menghela nafasnya pelan dan mulai mengikuti langkah kaki kakaknya yang sudah terlebih dahulu membawa Calla menuju kereta kuda khusus. Ia tak tahu apa yang akan mungkin terjadi kepada Calla, dan Jayden heran mengapa kakaknya itu memanggil Calla degan nama Alisa? Siapa Alisa?
“Apa Alisa adalah selir lama milik kakak?” gumam Jayden.
“Tapi aku seperti tak asing dengan nama itu, Alisa, “
.
“Astaga, apa kau melihatnya? Dia amat sangat cantik, terlihat murni!”
“Kau benar sekali dia seperti titisan dewi!”
“Aku tak pernah melihat orang seperti dia, dia terlalu indah untuk menjadi selir!”
“Dia sungguh sangat cantik! Aku tak pernah melihat wanita secantik dirinya!”
Gosip hangat mulai beredar di kalangan para selir, mereka mulai mencium bau-bau pengangkatan Selir agung yang diadakan setiap dua tahun sekali. Apa mungkin selir baru yang mereka bicarakan yang tak lain adalah Calla akan menjadi kandidat untuk posisi itu yang selalu dipegang oleh Rhea dan Dhara.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?!” Dhara yang sedari tadi mendengar para selir tengah bergosip di area ruang violet menjadi risau. Pasalnya, mereka kerap mengatakan kata-kata seperti sangat memuji dan mengagungkan si wanita ataupun selir baru yang mereka bicarakan akhir-akhir ini.
“Ah, Kau Dhara, tak kah kau mendengar kabar ini? Raja Draco membawa pulang seorang selir yang begitu cantik,” ucap salah seorang selir tua di sana.
“Apa?!” Dhara bahkan sama sekali tak tahu mengenai hal itu.
“Aku tak tahu namanya, tapi dia begitu memukau! Sungguh wajahnya sangat manis dan cantik.”
Dhara terdiam, dia mencoba untuk memasang senyuman palsu. Jujur saja ia tak suka saat ada yang secara terang terangan memuji orang lain di hadapannya.
“Lalu dimana selir itu saat ini?” Tanya Dhara yang kala itu mecoba untuk tetap terlihat normal, ia tak ingin orang lain melihat wajahnya yang memerah menahan amarah dan iri hati.
“Raja membawanya ke pavilion selatan, tempat pribadi Raja.” Ucapan itu sontak membuat Dhara membulatkan matanya. Bahkan selama ini Dhara tak pernah sekalipun diizinkan memasuki paviliun selatan, tempat pribadi milik Raja Draco.
“Seistimewa apa dia itu?” geram Dhara seraya melangkahkan kakinya menjauhi kumpulan selir tadi.
Di tengah perjalanan Dhara tak sengaja berpapasan dengan Jayden. Dhara sedikit muak melhat Jayden. Sungguh Dhara bukannya tertarik, ia justru merasa risih dan terganggu saat Jayden berada di sekitarnya.
“Pangeran Jayden yang terhormat, saya harus pergi.” Ucap Dhara dengan intonasi datar tanpa senyuman, kemudian wanita itu melenggang pergi meninggalkan Jayden yang memandang sedih kepergian Dhara.
“Mungkin kehadiran selir baru itu akan berguna,” Jayden berucap hal aneh yang terkesan janggal. Apa maksudnya?
“Kakak harus mencintai wanita itu, selir baru itu, maka Dhara akan menjadi milikku… Ya aku akan membuat kakak jatuh cinta pada Calla…” gumam Jayden.