5- Alisa? Itu Kau?

1251 Kata
Draco membawa Calla keluar dari ruangan perjamuan, mereka meninggalkan keributan yang sebelumnya sudah Draco perbuat. Draco membawa Calla ke sebuah taman bunga gantung yang berisikan ratusan kelopak mawar putih yang menghiasi setiap jengkal jalan setapak dan juga gemerlap redup dari cahaya lampu sebagai pemanis dan penerang kala gelap. Draco membawa Calla l, mengajaknya menjauh dari keramaian tanpa sepatah kata apapun, sontak hal itu membuat Calla menjadi terheran atas sikap dari Raja Kerajaan Hellas itu, Calla memang b***k, selir buangan atau apapun itu kalian boleh menyebutkannya. Dia tak terlalu paham dengan apa yang terjadi di luar kerajaan Mexry, bahkan dia sama sekali tak tahu seperti apa kehidupan di luar kerajaan. Calla mengamati tangan kekar Draco yang masih setia berada di lengan kurus miliknya, pria tampan dengan tatapan setajam elang itu terus menarik tangan Calla. Lalu setelah di rasa cukup jauh, Draco akhirnya melepaskan pegangan tangannya dari lengan Calla. Draco tanpa sepatah kata apapun hanya menatap Calla dengan raut wajah tanpa emosi, sulit sekali rasanya menebak seperti apa yang sedang Draco pikirkan. “Tu-an?” akhirnya Calla memberanikan diri untuk memecah keheningan yang tercipta diantara mereka. Suasana redup, dan tanpa kebisingan apapun membuat suasana menjadi semakin intim dengan bulan di utara langit yang menunjukan bentuk sabitnya dengan begitu sempurna, dengan pendar yang menyala, menjadi titik utama fokus di langit utara malam itu. “Tuan Draco,” panggil Calla untuk yang kedua kalinya, karena jujur demi apapun Calla tak paham apakah Draco mendengar panggilannya yang pertama atau tidak, pasalnya Draco hanya terdiam dan masih senantiasa menatap Calla. Calla yang semakin menciut dengan segala hal yang Draco secara terang-terangan lakukan padanya membuat wanita dengan kulit seputih s**u itu memilih untuk menundukkan kepalanya, dia menghindari bertatapan secara langsung dengan Draco. Jujur, bagi Calla Draco jauh lebih mengintimidasi daripada pangeran Frans, jika pangeran Frans itu lebih humoris dan seorang perayu yang begitu handal dengan senyum paling licik, maka Draco adalah sebaliknya, Draco seolah tak tersentuh bahkan saat kau mencoba menelisik jauh ke dalam netra matanya, kau mungkin hanya akan tersesat dalam tatapan tajamnya dan intensitas keberadaanya yang begitu mengeluarkan aura pekat yang mendominasi. “Siapa namamu?!” Tanya Draco pada akhirnya, dengan suara yang yang begitu dalam dan serak, bahkan Calla sampai merasakan jika sebagian dari bulu romanya berdiri secara spontan. Calla mendongakkan wajahnya guna melihat wajah sang Raja. “Say-a, Calla Tuan…”jawab Calla dengan terbata-bata. Calla tak tahu apakah ia masih bisa hidup dengan tenang seperti biasanya atau tidak, atau justru ia akan berakhir menjadi objek permainan Draco dan berakhir di hukum mati tanpa alasan yang kuat atau secara konyol bisa saja Draco akan menghukum mati Calla karena sudah menarik atensinya? Ya, mungkin saja, terkadang kemungkinan konyol adalah sebuah plot twist yang seru. “Calla?” Draco mengamati wajah Calla, mata tajam itu menelisik setiap bagian di wajah cantik itu, tanpa dosa bahkan tangan Draco mulai menyentuh dan menelusuri permukaan wajah wanita itu, mata, kelopak mata, alis, lalu turun ke hidung tinggi kecil itu dan, kini jemari kokoh Draco sampai di bagian paling menarik dari wajah itu, bibir. Dengan perlahan dan tatapan yang terfokus pada bibir delima itu Draco memerintahkan Calla untuk tersenyum, “tersenyumlah!” pinta Draco yang masih mengelus permukaan bibir itu. Bukannya tersenyum, Calla justru membuang wajahnya, dan menghindari bertatapan dengan Draco, lalu entah keberanian dari mana, Calla juga sedikit mendorong tubuh besar Draco dan berjalan mundur dengan bahu yang bergetar ketakutan, Hei! Siapa yang tak takut berhadapan langsung dengan Draco, sang Raja yang terkenal akan kekejamannya dalam mengadili sebuah kejahatan? “Ma-af…” Calla berucap sedemikian dan kembali menatap ke arah Draco yang masih diam dengan ribuan emosi. Draco masih mengamati Calla, ia tahu pasti sikapnya barusan sedikit tak sopan, tapi… “Tersenyumlah!” pinta Draco yang kini mulai memajukan langkahnya mendekati Calla. “Tid-ak, Tuan, maaf…” Calla yang masih bergetar ketakutan terus memundurkan langkahnya guna menjauhi Draco. Bahkan wanita itu tak menyadari jika gaun putih yang ia pakai terlalu panjang hampir saja membuatnya terjatuh ke sungai kecil di belakangnya, untunglah Draco yang memang memiliki insting dan kepekaan yang sangat kuat segera menangkap tubuh ramping Calla dan berakhir dengan Calla yang berada di dalam dekapan hangat Draco. Wajah Calla bersemu merah, ia malu. Jaraknya begitu dekat dengan Draco. Ia tak pernah menyangka hal seperti sekarang ini akan terjadi di dalam hidupnya yang memang sudah dipenuhi oleh ironi. “Aku tak bisa tersenyum saat suasananya menakutkan seperti ini, Tuan-“ ucap Calla terbata-bata. “Kau takut padaku?” Tanya Draco yang sangat to the point. Draco dapat membaca raut wajah Calla yang memang terlihat seperti dia memang sangat takut kepada Draco. Calla mengangguk, untuk apa ia berbohong, faktanya Draco memang sangat menakutkan. Wajahnya memang sangat tampan rupwanan bak dewa, namun tak pernah sekalipun sebuah senyuman terbentuk di lekuk ujung bibir itu. “Alisa” ucap Draco dengan lirih. “Kau Alisa!” ucap Draco dengan suaranya yang meninggi bahkan ia sampai mendorong tubuh Calla hingga wanita itu terjatuh dan pergelangan tangannya tertancap ranting runcing. Draco menatap benci kearah Calla dan Calla tahu dari raut wajah yang Draco perlihatkan, sepertinya pria itu sangat membenci seseorang yang bernama Alisa. Apa wajahnya mirip dengan Alisa yang Draco maksud? Itulah yang Calla pikirkan. “Ak-u buk-an A-lisa… Tuan-“ “Cih! Kau pikir aku akan mempercayaimu?! Pengkhianat!” ucap Draco dengan masih menggunakan raut wajah yang masih dipenuhi oleh emosi. Tak lama setelahya Pangeran Frans dan juga Jayden, adik tiri dari Draco datang menghampiri. “Astaga kakak apa yang kau lakukan pada selir ini?!,” tanya Jayden yang saat itu melihat luka di pergelangan tangan Calla, terlihat sedikit menyeramkan dan menyakitkan saat sebuah ranting dengan ujung yang begitu runcing menggores pergelangan tanganmu hingga genangan darah menghiasi gaun putih yang Calla pakai. “Tak ap-a Tuan,” ucap Calla yang sedang menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, walau jujur saja, luka itu sangatlah sakit. Ia bahkan rasanya ingin menangis tapi tidak dia harus menahannya. “Ayo berdiri,” Jayden membantu Calla untuk berdiri dengan hati-hati, namun hal di luar dugaan adalah saat Draco justru menarik tangan Jayden untuk menjauhi Calla. “Jangan menyentuhnya!” ucap Draco dengan suara tingginya. Jayden yang binggung tak ingin teralalu menuruti keinginan kakaknya yang begitu sangat tak memiliki hati. “Kak, setidaknya dia wanita!” ucap Jayden yang kembali ingin membantu Calla. Namun Draco menahan lengan sang adik. Draco kini beralih menatap Frans yang diam dan mencoba untuk memahami ada apa sebenarnya, “Pangeran Frans. Aku membelinya sebagai selir! Bawa dia ke Hellas!” ucap Draco dengan suara dingin dan melirik kearah Calla yang masih terduduk di tanah dengan menundukkan kepalanya. “Tapi, dia cacat-“ “Kukira kau tak tuli dan paham bahasa manusia. Aku ingin dia menjadi salah satu selirku!” ucap Draco dan kemudian Raja gagah itu pergi dari sana dengan menarik tangan sang adik ikut serta bersamanya. Tersisalah Calla dan Frans. Frans berjongkok dan sedikit mengelus rambut Calla, “aku tak menyangka ternyata kau mampu menarik perhatian Raja Kelam seperti Draco. Good job Calla, aku yakin Draco akan rela membayar mahal untukmu…” ucap Frans dengan begitu licik. “Tap-i aku tidak mau, Pangeran Frans…” ucap Calla dengan begitu lirih. “Apa kau memiliki suara untuk menolak? Tidak Sayang…” ucap Frans dan ia kemudian mengecup ringan pangkal hidung Calla dan sedikit menjilat darah di ujung jemari manis milik Calla. “Hmm, ini manis. Aku yakin Draco akan menyukai ini, kau tahu dia suka sekali bermain dengan pedang dan merah adalah bagian favoritnya dalam setiap permainan itu…” ucap Frans yang entah untuk apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN