4- Sebagai Raja Dengan Banyak Selir

1117 Kata
Dhara terbangun dengan kondisi yang sangat kacau, dilihatnya ranjang samping yang sudah kosong. Draco sudah pergi pagi-pagi sekali. Pria itu sungguh sangat mengerikan saat berada di ranjang. Dhara bahkan tak bisa menghitung berapa kali Draco melakukan hal itu padanya semalam. “Ah, sakit sekali…” rintihan Dhara terdengar saat ia hendak berdiri dan mengenakan pakaian tipisnya. Namun sedetik kemudian Dhara tersenyum sinis dan berkata, “setidaknya aku akan mampu mengendalikannya suatu saat nanti. Oh Raja Draco, aku akan membuatmu berlutut padaku suatu saat nanti,” gumam Dhara dengan lirih. “Bermimpilah hingga kau terjatuh dan mati,” celetuk sebuah suara dari pintu masuk kamar. Di sana berdirilah seorang wanita dengan gaun berwarna hitam, wanita yang cantik walau usianya hampir menyentuh angka tiga. Dia adalah Rhea. Salah satu selir lain kebanggan Draco. Bedanya, Rhea itu jauh lebih terpelajar dan cerdas ketimbang Dhara yang licik. “Raja tak akan tertarik padamu, dasar selir rendahan,” ucap Rhea dan kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan Dhara yang semakin kesal. Saat Dhara sedang memakai pakaiannya, Jaden masuk dan menyentuh pundak Dhara, “maafkan kakakku yang terlalu keras…” ucap Jaden yang disuguhi tatapan tak suka dari Dhara. “Aku sangat suka pada apa yang Raja lakukan padaku, aku bahagia!” ucapnya dengan ketus. Dhara tahu jika selama ini Jaden menaruh perasaan untuknya, namun Dhara tak sama sekali tertarik pada adik dari Draco itu, baginya Jaden tak lebih dari seekor burung kecil yang hidup menumpang pada kekuasaan Draco. Lalu sesaat setelahnya Dhara melangkahkan kakinya pergi keluar dari sana, “ Kak Draco, kau merebut segalanya dariku,” ucap Jaden dengan tanpa emosi. Brak “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Draco yang saat itu kembali ke kamarnya untuk mengambil pedang kesayangannya yang tertinggal. “Tidak, aku hanya mengecek apakah Dhara baik-baik saja atau tidak, kudengar ia sedang hamil-“ “Tidak, aku menggugurkannya semalam.” Ucap Draco dengan sangat tajam. “Jangan pernah masuk ke kamar ini dan mencampuri urusanku!Apa kau mengerti Jaden?!” ucap Draco seraya menyodorkan pedangnya di hadapan wajah Jaden. Jaden tersenyum kecil dan mengangguk, “maaf kak.” Ucap Jaden dan setelahnya Draco pergi dari sana. . . Kehidupan di kerajaan itu cukup berat dan keras, ada beberapa taktik dan juga akal licik di setiap sudut kerajaan. Ada mereka yang benar-benar kuat dan memiliki kemampuan untuk tetap bertahan di lingkungan kerajaan. Di lain itu mereka yang lemah akan terus-menerus tertindas. Pagi itu bertepatan di ruang selir kerajaan Mexry, Pangeran Frans yang merupakan putra mahkota kerajaan Mexry sedang mengecek satu per satu selirnya, dia berencana untuk membawa dan menjual beberapa selirnya di acara perjamuan yang akan diadakan nanti malam. Pangeran Frans tak pernah melewatkan setiap jengkal tubuh-tubuh selirnya, memastikan tidak ada lecet ataupun cacat. “Oh sayang sekali, kau memiliki bekas luka di sini.” Ucap Frans seraya menyentuh tengkuk leher salah seorang selir berambut merah kecoklatan. “Kau tak akan laku terjual jika begini, ah, siapa namamu?” Tanya Frans. Selir dengan rambut merah kecoklatan itu Nampak ketakutan, tubuhnya bergetar. “Tuan, sa-ya Calla…” ucap si selir itu dengan suara lirih. “Nama yang cantik… Calla! Artinya cantik, bukankah aku benar?” Tanya Frans dengan membelai pipi tirus putih milik Calla. “Tapi sayang sekali kau tak sebersih selir lain yang tanpa bekas luka,” ucap Frans dengan nada di buat-buat. “Tapi tak apa, kau juga akan tetap kubawa, kau sepertinya akan tetap menarik perhatian para raja lain, kau sangat cantik walau dengan sedikit bekas luka ini.” Calla hanya mampu terdiam, selama lebih dari dua tahun hidupnya sebagai selir rendahan yang tak pernah di sentuh oleh raja ataupun pangeran, entahlah itu suatu keuntungan ataupun kerugian, tapi yang Calla tahu setidaknya ia masih tetap murni dan belum pernah tersentuh oleh orang lain. “Baiklah, kalian semua bersiaplah, rias diri kalian sendiri secantik mungkin!” ucap Frans sembari menunjuk sepuluh selir yang akan ia bawa ke acara perjamuan nanti malam. Semua selir yang sudah terpilih mengangguk bahkan hampir semua dari mereka yang terpilih tersenyum bahagia, sungguh sangat berbeda dengan Calla yang justru ingin menangis. Para selir mulai merias wajah mereka dengan kosmetik yang ada di sana, sebagian dari mereka mulai mencoba gaun-gaun cantik yang sudah disiapkan, Calla yang melihat itu hanya terdiam, ia tak tahu caranya merias wajah, Calla berjalan mendekati tempat gaun-gaun itu digantung. Calla mengambil salah satu gaun berwarna putih pudar yang sama sekali tak menarik. Memang, Calla tak ingin menarik perhatian orang-orang yang ada di sana, ia tak ingin kembali dijual, Setidaknya Calla sudah cukup nyaman berada di kerajaan Mexry ini. “Hei! Kau bersiaplah! Jangan gunakan gaun sepolos itu! Astaga!” salah satu selir yang sudah nampak cantik dengan gaun merah tadi mulai menarik tangan Calla dan merias Calla. “Kita para selir dituntut untuk menjadi cantik, kau itu harus belajar merias diri!” ucap selir yang bernama Vania. “Ak-u tidak bisa,” ucap Calla dengan terbata-bata. “Aku akan mengajarimu, siapa tahu kau akan memiliki tuan raja baru, kau memang cantik seperti yang Pangeran Frans katakan,” ucap Vania dengan senyuman. “Wah, kulitmu bagus sekali! Sepertinya kau tak perlu menggunakan riasan yang terlalu tebal. Kau sudah cantik!” ucap Vania yang kagum akan tekstur kulit Calla yang begitu lembut dan kenyal. Kulit sehat yang bercahaya secara alami, seperti itulah kulit Calla. Malam tiba dengan begitu cepat, para selir sudah masuk ke dalam ruangan perjamuan. Ruangan dengan cahaya lilin dan lampu gantung emas bergantung di langit-langit membuat nuansa yang tercipta di sana cukup intim. Teman-teman selir Calla yang lain sudah dengan sendirinya menari dan mendekati para raja dan pangeran yang hadir di sana. Namun, Calla hanya terdiam sambil meremat gaun putihnya di sudut ruangan, Calla tak tahu apa yang harus ia lakukan. Calla terdiam dengan perasaan takut yang berkecambuk. Hingga tak lama Calla didatangi oleh dua orang pangeran yang sepertinya tertarik pada Calla. Mereka mulai menggoda dan bahkan dengan lancang ingin mencumbu bibir delima milik Calla, namun belum sempat niat itu terlaksanakan, Draco yang sudah ada di sana dari tadi langsung memberikan tinjuan telak di rahang dua orang pangeran tersebut. “Akhs! “ mereka merintih kesakitan bahkan merasakan jika rahangnya patah. Seketika suasana di perjamuan itu menjadi tegang, Pangeran Frans yang melihat bagaimana Raja Draco tiba-tiba memukul dua orang pangeran lain tanpa sebab langsung menghampiri dan melerai. “Raja Draco? Ada apa ini? Mengapa anda memukul mereka?” Tanya Frans dengan tenang agar suasana tak bertambah buruk. Tanpa menjawab apapun Draco malah menarik tangan Calla dan membawanya keluar dari ruangan perjamuan. “Kakak, membuat malu saja!” desis Jaden yang sedari tadi berdiri di belakang Frans yang sedang membantu kedua pangeran, korban tinjuan maut Draco. “Ada apa dengan Raja Draco? Dia mengacaukan perjaumanku!” ucap Frans seraya menatap Jaden.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN