Dia Ibu Aldrich!

1931 Kata
Anna berjalan terburu-buru menuju toko bunga miliknya, gadis cantik itu kesiangan karena pesta yang ia kunjungi bersama Andrew membuatnya bangun hingga siang hari. Anna membuka tokonya lalu membuka tirai yang menutupi dinding kaca toko tersebut membuat gedung yang berukuran tiga kali enam meter itu tampak buka dan terlihat banyak bunga cantik dan segar di sana. Anna mengambil alat-alat pembersih seperti pel dan sapu begitu juga pembersih kaca. Gadis yang baru merintis usahanya beberapa bulan yang lalu itu terlihat lihai merapikan pekerjaannya. Bunyi lonceng dari pintu masuk membuat Anna menatap kearah pintu masuk. Ternyata itu adalah Gia sahabatnya yang membantunya mengurus toko bunga milik Anna. “Morning, ladies?” teriak Gia saat melihat Anna sedang sibuk mengepel lantai toko. “Morning.” Jawab Anna tak kalah kuat. Gia berjalan mendekati Anna berniat membantu sahabatnya. “Loe kesiangan?” tanya Gia sambil mengambil alih pembersih kaca. “Iya, Gi, gue bangun kesiangan semua ini gara-gara Andrew, dia pulang larut malam dari apartemen gue.” hela Anna sambil terlihat sibuk mengepel lantai. “Loe ngapain aja berdua di apartemen sama kekasih loe itu?” bisik Gia menggoda Anna membuat gadis cantik itu mencebikkan bibirnya. “Enggak ada, kita Cuma minum dan nonton film berdua.” Jawab Anna santai. “Film dewasa?” tanya Gia lagi dengan tatapan memicing, Anna memutar bola matanya mendengar ucapan sahabatnya. “Ya enggak lah, gila aja gue nonton film dewasa bareng pria.” Ucap Anna dengan wajah terkejut membayangkan dirinya melakukan itu. “Andrew itu kekasih loe kali, siapa tahu kan loe sama dia mencoba gaya pacaran yang monoton itu menjadi gaya pacaran panas membara gerah, gerah.” Gia menunjukkan wanita yang tampak sedang mengalami birahi membuat Anna terkekeh. “Ihh, Gia apaan sih, jangan kumat, gue siram air pel mau loe.” Ucap Anna membuat Gia yang sedang mengelap dinding kaca malah semangkin melenggok-lenggokkan tubuhnya. Anna hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya. “An, seharusnya perempuan kaya loe pacaran taaruf aja deh, sama ustadz gitu, ini sama model, loe yakin Andrew gak ada main sama wanita lain di belakang loe?” tanya Gia entah yang ke berapa kali berbicara begitu pada sahabatnya. Anna hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Gia, Gia mendekati Anna menyenggol pundaknya yang terlihat diam sambil mengelap meja- meja bunga di hadapannya. “Loe tahu gak, An?” bisik Gia saat mendekati Anna. “Apa?” “Meskipun gue dan Bobby itu pacaran hampir dua tahun lamanya tapi kita punya fase pacaran yang tidak membosankan seperti loe itu,” Anna mengerutkan dahinya mendengar ucapan Gia. “Fase apa?” tanya Anna merasa penasaran. “Waktu berdua dong, Bobby tahu cara memanjakan gue bagaimana, dengan menyentuh dan memberikan kecupan-kecupan kecil saat kita menghabiskan waktu berdua, itu benar-benar membuat hubungan menjadi membara, loe pasti bakalan ketagihan, apalagi kalau loe sudah sampai ketahap paling serius dalam menyentuh.” Anna menahan nafasnya mendengar celotehan Gia yang membuat tubuhnya ikut merinding dan bereaksi. “Jangan bicara ngaco deh, Gia.” Anna mencoba menghindari sahabatnya itu tapi Gia ikut bergeser dan mendekati Anna lagi. “Kamu tahu gak tahap serius dalam menyentuh itu apa?” tanya Gia membuat Anna mengerutkan dahinya. “Apa?” “Ini,” Gia menggoyangkan buah dadaanya di hadapan Anna membuat wajah gadis itu memerah karena malu. Gia terkekeh melihat raut wajah Anna yang terlihat malu di hadapannya. “Gia, please deh, loe bisa gak, kerja serius, pembahasan loe aneh- aneh.” Jawab Anna menghindari Gia yang terus mengikutinya. “Ck, gue bisa lihat dari raut wajah loe, loe normal, An.” Ucap Gia sambil menatap serius wajah Anna yang salah tingkah. “Apaan sih Gia, jelas lah gue normal, kalau enggak gue gak bakal mau pacaran sama Andrew.” Gia memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Anna. “Cuma formalitas aja, loe pacaran kagak ada sentuh-sentuhan mana enak.” Anna menghela nafasnya membawa alat pembersih itu ke kamar mandi sementara Gia masih terus mengikutinya. Bunyi lonceng dari pintu masuk membuat kedua gadis itu menoleh melihat siapa yang masuk. “Tuh, lihat Mama mertua loe datang.” Ucap Gia sambil menunjukkan wanita paruh baya yang tampak masih fashionable dalam berpakaian karena berasal dari keluarga kaya. “Dia bukan Mamanya Andrew,” ucap Anna menjelaskan. “Tapi dia Mamanya temen Andrew, udah gitu dia suka banget sama loe, gue yakin dia ngefans sama loe, An.” Ucap Gia sambil berlari kecil menjauhi Anna menyambut wanita yang tampak sedang memilih-milih bunga di hadapannya. “Pagi, Tante.” Sapa Gia dengan nada ramah. “Eh, Nak Gia, Anna nya mana?” tanya Nina wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. “Ada Tante, itu dia.” Tunjuk Gia saat melihat Anna mendekati mereka. “Pagi, Tante.” Sapa Anna dengan senyum manisnya. “Pagi sayang, Tante pesan bunga seperti biasa ya?” ucap Nina sambil merangkul Anna, Gia mengedipkan matanya melihat Anna yang tampak tersenyum miring menatap Gia. Anna membawa Nina untuk duduk menunggu, sementara Anna merangkai beberapa bunga segar yang biasa di pesan oleh tante Nina. “Anna punya temen gak? Yang masih jomblo?” Anna dan Gia yang masih sibuk merangkai bunga saling menatap satu sama lain. “Kenapa Tante?” tanya Anna heran. “Tante mau carikan calon istri untuk putra Tante, seandainya Anna bukan kekasih Andrew, pasti Tante sudah jadiin Anna menantu Tante.” Gia tertawa di belakang tante Nina membuat Anna menatap sahabatnya itu dengan tatapan jengah. “Gia saja Tante, Gia mau kok jadi menantu Tante.” Ucap Gia mendekati Nina yang duduk di kursi santai. Anna memutar bola matanya bosan menatap Gia yang dalam mode murahan. “Emangnya Nak Gia tidak punya kekasih?” tanya Nina dengan wajah antusiasnya. “Punya Tante, jangan percaya pada ucapannya.” Jelas Anna membuat Gia menatap sinis Anna yang seperti tidak setuju dengan kelakuannya. “Tante percaya, kalian gadis baik-baik pasti sudah ada yang punya semua, andaikan putra Tante itu tidak lama di LA, pasti Tante sudah punya calon menantu seperti kalian ini.” Gia mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan tante Nina. “Kalau anaknya sudah kembali dari LA, boleh dong Tan, di kenalin sama kita-kita.” Nina menatap berbinar kearah Gia yang berbicara padanya seperti itu. “Kalian mau? Kebetulan sekali Tante pergi bersamanya, dia sudah kembali dari LA sejak satu minggu yang lalu.” Nina terlihat senang mendengar ucapan Gia. Anna langsung menatap Gia dengan tatapan sinis seolah mengatakan jika ini adalah kesalahan Gia sepenuhnya. “Wah kebetulan sekali, Tante, siapa tahu kita berubah pikiran pingin menjadi menantu Tante.” Jawab Gia lagi membuat Anna menatapnya tajam kali ini, Gia hanya terkekeh tanpa bersuara mendapati tatapan marah Anna. “Sebentar ya, Tante suruh masuk dulu.” Ucap Nina berlalu keluar toko bunga tersebut. “Gia, cukup, loe sadar gak kalau loe itu sedang mempermainkan orang tua, bisa gak sih bersikap sopan.” Ucap Anna dengan nada kesal, Gia menunjukkan wajah cengengesan karena merasa ucapan Anna ada benarnya. “Sorry, An.” Jawab Gia dengan nada bersalah. “Bercanda loe gak lucu, Gia. Tante Anna itu orang tua, kita harus menghormatinya, lihat lah betapa berbinarnya tatapan matanya saat loe bilang mau kenalan dengan putranya.” Ucap Anna menjelaskan situasinya. “Iya, maaf Anna.” Anna hanya menghela nafasnya panjang lalu bunyi lonceng dari pintu masuk terdengar dan tante Nina masuk bersama pria yang membuat Anna terkejut. Pria itu menatap Anna dengan senyuman lebar terlihat benar-benar beruntung menemukan Anna di sana. “Anna, Gia, kenalin ini anak Tante, namanya Aldrich, temen Andrew juga.” Ucap Nina dengan nada bersemangat sementara Anna menunduk menghindari tatapan Aldrich yang berdiri di hadapannya. “Oh, my God, kalau ini gue beneran mau, An. Putusin Bobby juga oke deh.” Gumam Gia di hadapan Anna dengan tatapan tak putus dari Aldrich. Gia berjalan mendekati Aldrich dan tante Nina, Gia tersenyum menawan di hadapan Aldrich lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan. “Hai, aku Gia.” Ucap Gia sambil mengulurkan tangannya di hadapan Aldrich. “Aldrich,” jawab Aldrich dengan wajah tersenyum, Gia mengerjabkan matanya menatap pria sexy di hadapannya, demi apa ini namanya rezeki nomplok jika bisa bersama Aldrich, karena tampan dan kaya serta sexy dan creamy. “Anna, kenalkan ini putra, Tante.” Ucap Nina dengan nada ramah, Anna akhirnya mendekati mereka dan berdiri di hadapan Aldrich. Gia sudah menyenggol Anna memberi kode untuk berkenalan dengan pria sexy itu. “Anna,” ucap Anna dengan nada enggan. “Senang bisa bertemu kembali, Nona Anna.” Nina dan Gia terkejut mendengar jawaban Aldrich, “Loe udah pernah bertemu Aldrich?” tanya Gia penasaran. “Sudah, tadi malam.” Ucap Anna dengan nada santai, Nina menatap terkejut kea rah Anna. “Jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Nina dengan wajah berbinar. “Sudah, Ma, dia kekasih Andrew, bagaimana aku tidak mengenalnya.” Jawab Aldrich membuat Nina mengubah raut senyumnya menjadi senyum tipis. “Oh iya, benar, Mama tidak ingat sampai di sana, Mama pikir Andrew belum memperkenalkan kekasihnya padamu.” Aldrich merangkul sang ibu dan menatapnya dengan tatapan tersenyum. “Sayangnya sudah, Ma.” Ucap Aldrich membuat Gia dan Anna tersenyum tipis. Nina dan Aldrich pergi dari toko bunga Anna setelah Anna menyelesaikan pesanan Nina. Gadis itu tampak menggunting beberapa batang bunga yang hampir layu. Gia mendekati Anna yang sejak tadi diam tidak banyak bicara. “An,” Gia mendekati Anna memanggil gadis itu dan membuat Anna menoleh. “Hem,” “Seriusan, An, loe pernah bertemu dengan anaknya Tante Nina?” Anna hanya mengangguk menjawab ucapan Gia. “Dia sexy banget ya, An. Gue hampir tidak sadar kalau punya pacar Bobby.” Ucap Gia membuat Anna menghela nafasnya panjang. “Bukannya loe selalu seperti itu di hadapan semua pria.” Gia mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Anna. “Enggak kali, An. Aldrich ini beda, ihh loe tuh, kalau gue jadi loe, gue putusin Andrew gue sama Aldrich aja,” Anna menatap Gia dengan tatapan aneh. “Kenapa enggak loe aja, putusin Bobby terus sama Aldrich.” Jawab Anna dengan nada santai. “Sepertinya dia kagak mau sama gue, An.” Jawab Gia sadar diri. “Apa lagi sama gue,” “Loe masih punya harapan, An. Mamanya suka sama loe.” Ucap Gia mengingatkan. “Tapi gue bukan tipe dia Gia, loe tahu kehidupan LA itu seperti apa, mana mungkin dia bisa pacaran sama perempuan seperti gue yang di cium saja masih nolak.” Ucap Anna membuat Gia mengangguk-anggukan kepalanya. “Loe bener, An.” Gia tampak terdiam tidak melanjutkan ucapannya dan melanjutkan pekerjaannya kali ini. Didalam perjalanan Aldrich menuju rumah tampak terdiam tidak banyak bicara. Pria itu tahu jika gadis bernama Anna punya toko bunga di daerah tersebut karena ibunya. “Al,” Aldrich menoleh menatap ibunya yang memanggil dirinya. “Ya, Ma.” “Mama pingin punya menantu seperti Anna itu, kamu kapan bawa pacar kamu ke rumah, kenalin sama Mama.” Ucap Nina sambil menatap putranya kesal. “Nanti deh, Aldrich bujukin Anna dulu.” Nina mengerutkan dahinya mendengar ucapan putranya. “Kok, Anna?” “Kata Mama mau punya menantu seperti, Anna. Nanti Al coba ajak Anna ke rumah ketemu Mama dan Papa.” Nina langsung memukul putranya yang tampak santai tanpa rasa bersalah. “Itu namanya kamu nikung pacar sahabatmu, Mama cuma bilang kalau cari wanita itu seperti Anna, cantik, baik, sopan, menghormati orang tua, bicaranya lembut, dan juga anggun. Mama bahkan sudah menganggapnya putri Mama.” Ucap Nina memuji pacar Andrew membuat Aldrich mengepalkan tangannya kesal. Mengapa seorang Andrew bisa mendapatkan wanita seperti itu, mengapa bukan dirinya, Andrew yang selalu berbuat curang namun Tuhan sepertinya tetap memihak dirinya. “Selama janur kuning belum melengkung, semua aman terkendali, Ma.” Ucap Aldrich membuat Nina menatap putranya dengan tatapan curiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN