Menikahlah Denganku!

1187 Kata
Ellianna berputar di depan kaca menggunakan gaun satin berwarna hitam mengkilat dengan punggung setengah terbuka. Malam ini ada pesta peresmian produk baru milik Andrew yang bekerja sama dengan salah satu perusahaan. Tentu pastinya banyak sekali mitra dan model yang berada di tempat itu untuk mendukung produk yang baru di luncurkan. Dering ponsel Anna membuat gadis itu menoleh mengambil ponselnya. Pesan dari Andrew yang mengatakan ia sudah di bawah menunggunya. Anna langsung bergegas keluar dari apartemennya menemui Andrew. Andrew terlihat menunggu bersandar di mobilnya saat Lianna mendekatinya. Andrew menyimpan ponselnya dan langsung menyambut kekasihnya. "Lihatlah siapa yang datang?" Anna tersenyum tersipu malu merapikan rambutnya yang tergerai lurus. "Ayo." Andrew meraih pinggang ramping Anna mendekatkan wajahnya berniat mengecup bibir Anna singkat. Anna tampak gugup menunduk dan langsung meraih handle pintu mobil. "Ayo, nanti kamu terlambat." Andrew menggantung ciumannya karena Anna sudah berlalu masuk ke dalam mobil. Pria itu mengepalkan tangannya kesal. "s**t!" gumamnya kesal, Andrew tersenyum pada Anna lalu menutup pintu mobilnya dengan cepat. Ia berlari kecil mengambil kemudinya. "Kita berangkat?" Andrew mencium tangan Anna membuat gadis itu tersenyum mengangguk. Mobil mereka melaju pesat ke salah satu hotel dimana acara di laksanakan. Setibanya di hotel Anna hanya berdiri menikmati anggurnya sesekali memperhatikan acara. Sedangkan Andrew tampak sibuk menyapa para tamu dan rekan kerjanya. Anna memilih melipir karena kakinya lelah berjalan kesana kemari mengikuti Andrew sejak tadi. "Sayang, nikmati pestanya, maafkan aku jika aku sedikit sibuk. Aku kesana dulu ya." ucap Andrew saat ia melihat salah satu tamu penting di acaranya. "Aku mengerti An, kamu adalah bintang acara mana mungkin aku marah padamu, Pergilah." Andrew tersenyum dan mengecup singkat pipi Anna. Dari kejauhan Denisha menatap mengejek kemesraan Andrew pada kekasihnya. "Dia seperti aktor senior." ucap Denisha sembari menenggak anggur di tangannya. Anna menatap sekelilingnya dan melihat ada sebuah balkon yang terbuka. Ia berjalan mendekati balkon dimana aula tersebut mengadakan acara. Rasanya butuh udara segar di tengah keramaian dan musik acara tersebut. Anna berdiri memegang pagar pembatas merentangkan kedua tangannya memegang bagian besi teras balkon. Memejamkan matanya merasakan angin malam berhembus lembut di wajahnya. Tanpa dia sadari seseorang sejak tadi berdiri di sudut balkon menikmati segelas anggur di tangannya menatap kearahnya. Aldrich tersenyum simpul saat melihat gadis itu di hadapannya. "Cantik sekali." Anna mengerutkan dahinya seperti mendengar seseorang bicara. Ia menoleh ke kanan dan kekiri mencari suara itu. Aldrich tersenyum smirk di sudut balkon lalu mendekati Anna. Anna menoleh menatap langkah sepatu mendekatinya dan tatapannya semakin jelas menunjukkan wajah Aldrich di balkon yang minim pencahayaan itu. Aldrich menggunakan setelan jas berwarna abu gelap dengan kemeja hitam di dalamnya yang terbuka hingga beberapa kancingnya. Anna menahan napasnya melihat pria itu tampan, ya tampan sekali, ia terpukau dan jakunnya yang bergerak naik turun menambah kesan sexy serta sorot mata Aldrich yang begitu menggoda dan serius. Anna mengerjabkan matanya menelan salivanya tersadar dengan tatapannya. "Kau!" tegur Anna gugup, Aldrich terus berjalan mendekati Anna dengan satu tangan di sakunya. "Kenapa?" "Kenapa kamu ada disini?" Aldrich tersenyum simpul menatap Anna. "Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Anna mendesis kesal menatap Aldrich dan berjalan meninggalkan balkon tapi dengan sigap Aldrich meraih Anna dan merengkuh pinggang rampingnya. "Kau Gila!" Anna melotot saat mendapatkan sentuhan Aldrich yang berani padanya. Aldrich tertawa kecil melihat ekspresi Anna yang marah dan menatapnya tajam. "Menggemaskan!" "Lepas!" Aldrich melepas rengkuhannya membuat Anna mundur beberapa langkah menjauhi Aldrich. "Dasar sinting!" Anna kembali berjalan hendak masuk tapi lagi-lagi Aldrich menarik tangannya. "Kau gila!" Aldrich tersenyum meski di bilang gila. "Ya, aku gila." Anna tampak menatap kearah hotel terlihat panik. "Lepaskan Tuan Aldrich, aku tidak mau Andrew melihatnya dan salah paham." Aldrich tersenyum simpul menghentakkan tangan Anna membuat gadis itu masuk ke dalam pelukan Aldrich. Aldrich langsung membelakangi acara mengurung Anna di hadapannya membuat Anna tidak bisa bergerak di hadapan Aldrich. Posisi Anna membelakangi Aldrich dan Aldrich memeluknya dari arah belakang. Pria itu mengurungnya dengan kedua tangannya yang memegang pagar balkon. "Bersikaplah sopan, apa yang kamu lakukan ini sangat-sangat kurang ajar." Aldrich terkekeh dan meletakkan dagunya di pundak terbuka Anna membuatnya terkejut merasakan sengatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Aku suka kesalahpahaman dan kekurang ajaranku." Anna memejamkan matanya meremas tangannya, emosinya benar-benar memuncak. "Pria gila, singkirkan wajahmu dariku." "Kenapa kamu begitu menggemaskan." Aldrich bukan malah menjauh malah memiringkan wajahnya mencoba mencium leher jenjang Anna. Anna langsung menepis apa yang Aldrich lakukan. "Lepaskan!" desis Anna mencoba keluar dari cengkraman Aldrich. "Menikahlah denganku!" Anna membeku mendengar Aldrich berbisik di telinganya. "Dasar sinting, aku kekasih sahabatmu, bagaimana bisa kamu mengajakku menikah. Lepaskan!" Anna mencoba mendorong Aldrich yang menghambat geraknya. Entah mengapa Aldrich begitu menikmati wajah marah Anna. "Kenapa? Apa itu tidak boleh?" Anna mendorong kuat Aldrich hingga akhirnya terlepas dari cengkraman pria tersebut. "Bagaimana bisa kamu melamar kekasih sahabatmu sendiri." Anna masih tidak habis pikir dengan pria aneh di hadapannya. "Apa itu masalah?" Aldrich bertanya seolah ia tidak terpengaruh dengan hal itu. Anna menganga tak percaya dengan tingkat kepedean Aldrich dan rasa percaya dirinya. "Kamu bisa melamar wanita manapun tapi tidak denganku!" Anna berjalan meninggalkan Aldrich disana. "Kenapa?" Anna menghentikan langkahnya karena Aldrich kembali bicara. "Kenapa kamu tidak boleh?" Anna menghela napasnya kasar apa pria kaya selalu seperti ini, sesuka hatinya jika menginginkan sesuatu. "Supaya kamu tahu rasanya tidak bisa memiliki apa yang kamu inginkan." Aldrich menatap Anna sembari bersandar di pagar balkon. "Kenapa kamu bisa bilang begitu?" "Aku yakin di hidupmu, kamu punya segalanya, kamu bisa memiliki cinta wanita manapun, kamu pasti tidak pernah merasakan kekurangan, apalagi merasakan keinginan yang tidak terpenuhi. Kamu akan tahu cara menghargai hal yang kamu inginkan jika kamu tidak mendapatkannya." Aldrich menatap Anna lekat dengan tatapan serius membuat Anna takut karena tatapan Aldrich berubah seketika saat ia bicara begitu. "Kenapa harus Andrew?" Anna mengerutkan dahinya menatap Aldrich. "Maksudmu?" "Kenapa kamu harus menjadi kekasih Andrew? Kenapa?" Anna mendengkus mendengar pertanyaan konyol itu. "Karena dia pria yang baik!" Aldrich menahan tawanya mendengar hal itu hingga ia tidak bisa lagi menahannya dan tertawa terbahak di hadapan Anna. Anna menatapnya aneh karena Aldrich terlihat tidak waras. Aldrich mengusap ujung matanya yang berair karena pujian Anna terhadap Andrew. "Aku harap dia akan terus begitu!" ucap Aldrich setelah selesai tertawa. "Apa yang kamu bicarakan?" Aldrich mengangkat pundaknya tersenyum. "Andrew pria yang baik!" Anna mengerutkan dahinya menatap Aldrich. "Tentu saja!" suara langkah mendekati keduanya dan menunjukkan Andrew tiba disana menatap Aldrich dan Anna. "Sayang!" Anna tersentak mendengar suara Andrew di belakangnya. . "Andrew." Andrew mendekati Anna lalu merangkul pinggang ramping Anna di hadapan Aldrich. "Kalian sedang membicarakan apa?" Aldrich menatap tangan yang bertengger di pinggang Anna tersebut. Pria itu mendesah kesal lalu menatap Anna dan Andrew. "Membicarakan mu!" Andrew mengerutkan dahinya terkejut. "Aku? Apa yang kamu katakan padanya?" Andrew melirik Anna dengan tatapan khawatir, Aldrich terkekeh pelan mendekati Andrew. "Aku bicara padanya agar dia memikirkan kembali hubungannya denganmu!" Andrew tertawa mendengarnya lalu melirik Anna dan seketika senyumnya menghilang. "Lalu apa jawabanmu sayang?" Anna menatap Andrew lalu menatap Aldrich gugup. "Apa itu harus aku jawab?" Andrew dan Aldrich tertawa bersama mendengar jawaban Anna. Aldrich melangkah melewati Andrew dan Anna. "Semoga dia berubah untukmu!" ucap Aldrich sembari menatap Andrew lalu mengedipkan matanya kepada Anna. Aldrich meninggalkan Anna dan Andrew disana. Andrew menatap kepergian Aldrich dengan wajah tidak suka. Pria itu, mengapa wajahnya seperti penuh kepalsuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN