Anna lebih banyak diam saat mobil Andrew melaju membawanya pulang dari acara pesta yang baru saja mereka hadiri. Gadis berwajah cantik itu termenung menatap keluar dengan tatapan menerawang. Andrew yang sejak tadi sesekali memperhatikan kekasihnya mencoba mengalihkan perhatian Anna kepadanya.
"Ada masalah?" tanya Andrew saat Anna terlalu banyak diam sejak kepulangan mereka. Anna masih bergeming dan belum menoleh ke arah Andrew
"Anna." panggil Andrew membuat Anna tersadar dari lamunannya.
"Ya," jawab Anna cepat sambil menatap Andrew yang terlihat mengerutkan dahinya.
"Kamu melamun, sayang?" tanya Andrew sambil menautkan tangannya dengan Anna.
"Oh, itu, aku sedang memikirkan Mama." jawab Anna sekenanya.
"Kenapa dengan Mama?" Anna mengerjabkan matanya terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Aku hanya merindukannya, sayang." Andrew mengangguk percaya dan mengulum senyumnya. Pria itu mengambil tangan Anna lalu menciumnya lembut dan fokus pada setirnya.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Aldrich tadi?" Anna mengerutkan dahinya mengingat pria yang sejak tadi ada di dalam pikirannya. Gadis itu tersenyum canggung lalu menatap kekasihnya.
"Hanya sekedar menyapa satu sama lain, dia pria yang..." Anna bingung harus menilai bagaimana, pasalnya ia selalu kesal jika bertemu dengan pria itu.
"Sexy dan keren?" sambung Andrew membuat Anna sedikit terkejut.
"Hah, bukan, tidak seperti itu." ucap Anna cepat merasa takut Andrew marah dan cemburu.
"Biasanya pendapat semua wanita yang mengenalku pasti menilai Aldrich adalah pria kaya dan tampan, tapi aku percaya dengan kekasihku." ucap Andrew tersenyum tipis di akhir bicaranya. Anna ikut tersenyum dan terdiam memikirkan apa yang baru saja di katakan kekasihnya. Sexy dan keren, pria itu memang sexy, keren, dan juga kaya, tapi mengapa Anna merasa selalu kesal bertemu dengan pria itu.
Tanpa di sadari mereka sudah berada di gedung apartemen milik Anna. Andrew memang mengantarkan kekasihnya pulang menuju apartemennya. Apartemen ini bukan apartemen seperti kalangan pengusaha dengan fasilitas elit, Anna memilih dari hasil uangnya sendiri. Meskipun Andrew bersedia memberikan apartemen yang jauh lebih luas dari milik Anna, tapi gadis itu tetap menolak. gedung apartemen yang terbilang memiliki lima lantai itu cukup ramai dan banyak yang tinggal di tempat tersebut. Anna menyukai tempat tinggalnya meskipun berukuran kecil. Mereka baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju apartemen milik Anna. Anna membuka kuncinya dan mempersilahkan Andrew yang juga ikut bersamanya naik ke atas. Keduanya masuk ke dalam apartemen yang hanya terdiri dari satu kamar dan satu kamar mandi, ruang tamu serta dapur mini yang bisa di bilang cukup lengkap dengan segala peralatannya. Meskipun kecil, tempat ini sangat nyaman untuk Anna serta terlihat rapi dan bersih. Andrew duduk di satu sofa yang memang ada di ruang tamu tepat di depan televisi. Anna melepas heels nya lalu menatap kekasihnya yang sudah duduk santai di sofa.
"Kamu mau orange jus?" tawar Anna melihat Andrew yang terlihat lelah. Andrew menoleh menatap Anna yang hendak berjalan ke arah dapur.
"No, aku butuh kamu, sayang." ucap Andrew cepat membuat Anna menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh menatap Andrew yang terlihat melambaikan tangannya mengajak Anna bergabung di sana bersamanya. Dengan tubuh kaku, Anna berjalan mendekati Andrew dan duduk di samping kekasihnya. Andrew langsung memegang tangan Anna menatapnya dengan tatapan memuja. Anna terdiam, ia tidak suka dengan suasana intim ini. Entahlah, ia juga tidak mengerti mengapa setiap berhadapan dengan Andrew rasa enggan dan tidak rela langsung menguasai dirinya untuk menjauh dari Andrew.
"Anna, aku sangat mencintaimu." ucap Andrew seperti terdengar merayunya, karena Andrew selalu mengucapkan hal itu di hadapannya, mengapa Anna malah memikirkan ucapan Aldrich yang lebih aneh untuk menikah dan menjadi kekasihnya.
"Ya, aku tahu." jawab Anna pelan. Andrew mengikis jarak di antara keduanya, membuat Anna seketika menegang dan membuatnya menatap Andrew tidak tenang. Tangan Andrew mengusap pipi Anna membuat gadis itu terkejut dan menegang. Anna terus menatap Andrew, ia tahu apa yang akan pria ini lakukan, Andrew ingin menciumnya. Andrew selalu berusaha untuk itu, dan Anna kali ini tidak bisa mengelak lagi, ia tidak memiliki alasan untuk menolak Andrew. Anna meremas sofa menunggu Andrew untuk menciumnya, hingga bunyi dering ponselnya di dalam clutch membuat Anna langsung menoleh menatap clutchnya di atas meja.
"Ponsel aku bunyi." jawab Anna spontan yang langsung di beri tatapan sinis oleh Andrew. Anna menghela nafasnya pelan lalu meraih clutch yang ada di atas meja mengambil ponselnya dan melihat nama Gia ada di sana. Anna menatap penuh bersyukur karena Gia menolongnya.
"Aku angkat teleponnya dulu ya?" Andrew hanya mengangguk malas membuat Anna langsung berlari masuk ke kamarnya.
"Hallo?"
"Anna, loe dimana? Gue mau ke apartemen loe, gue bete di rumah." cerocos Gia saat sambungannya terangkat.
"Gue di apartemen ini,"
"Ya udah, loe jangan kemana-mana, entar gue bawakin martabak kesukaan loe deh," ucap Gia terdengar sudah dalam perjalanan menuju ke apartemennya.
"Oke, gue tunggu." jawab Anna dengan nada senang, panggilan itu langsung Gia matikan membuat Anna menghela nafasnya lalu keluar dari kamar menemui Andrew kembali.
"Siapa?" tanya Andrew yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Gia," Andrew mengangguk-anggukan kepalanya. Anna masih berdiri di hadapan Andrew membuat Andrew ikut berdiri dan mendekati Anna. Anna kembali menegang karena pria itu mengikis jarak di antara mereka.
"Aku pulang ya, kamu istirahat saja." ucap Andrew membuat Gia menghembuskan nafasnya lega. Inilah yang membuat Gia selalu mengejeknya, ia tidak pernah membuat Andrew berhasil mencumbunya, dan Anna selalu merasa enggan, dan itu membuat Andrew juga selalu mengurungkan niatnya untuk mencumbunya meskipun mereka pacaran dan saling mencintai. Anna merasa belum siap dengan apapun yang harus ia berikan kepada pria yang ia pacari saat ini.
"Kamu mau pulang?" tanya Anna sambil menatap Andrew.
"Ya, sepertinya aku lelah dan mengantuk." jawab Andrew yang terlihat sambil tersenyum datar. Anna ikut tersenyum tipis, ia tahu pria itu merasa kesal karena sikapnya yang terus menghindari Andrew.
"Baiklah, jangan terlalu banyak minum alkohol, istirahat langsung, hubungi aku saat kamu tiba di rumah." Andrew mengangguk cepat dan mencium pipi Anna sebelum benar- benar meninggalkan Anna. Anna menatap kepergian Andrew lalu menghela nafasnya panjang. Mengapa ia seperti ini, ada apa dengannya, bukankah Andrew pria yang baik, bahkan tidak pernah kurang ajar terhadapnya, dan selalu menghormati dirinya meskipun Anna selalu menolak untuk berciuman. Andrew berjalan masuk ke dalam lift sambil melonggarkan dasinya. Ia memanggil seseorang di ponselnya lalu menunggunya hingga tersambung.
"Denis, datanglah ke apartemenku, aku merindukanmu." ucap Andrew dengan nada berat dan langsung mematikan panggilannya setelah mendapatkan jawaban dari wanita tersebut.
***
Anna berjalan masuk ke kamarnya berniat untuk mengganti baju dan membersihkan riasan dari wajahnya.
Selang beberapa menit bunyi bel apartemen Anna membuat gadis itu keluar dari kamarnya dengan baju tidur berbentuk terusan dengan gambar beruang putih. Membuat tampilan Anna cantik tapi terkesan lucu. Anna membuka pintunya setelah memastikan siapa yang datang. Gia langsung masuk membawa plastik berisikan makanan tanpa menghiraukan Anna yang masih di depan pintu. Anna mengikuti langkah Gia yang berjalan ke arah dapur.
"Gue tidur di sini ya?" tanya Gia membuat Anna tersenyum.
"Terserah kamu." jawab Anna santai.
"Kamu katanya ada acara sama Andrew, udah pulang?" tanya Gia sambil sibuk menempatkan martabak coklat ke dalam piring.
"Udah, Andrew juga baru saja pergi." Gia mengerutkan dahinya mendengar hal itu.
"Gue ganggu dong?" ucapnya dengan mimik wajah bersalah.
"Enggak, biasa aja kali." Gia mendekati Anna lalu mendengkus menatap sahabatnya.
"Hih, enggak peka banget." ucap Gia lalu berjalan membawa piring martabak dan beberapa ciki yang ia beli. Anna membawa air minum lalu meletakkannya di atas meja.
"Udahlah, gue tahu loe mau bahas apa, jangan di bahas sekarang." ucap Anna sebelum Gia menatarnya dengan silsilah berpacaran.
"Oke deh." Anna mengambil satu potong martabak dan melahapnya dengan cepat. Pikirannya berkelana mengingat kejadian di balkon hotel bersama Aldrich. Mengapa ia malah memikirkan pria itu, ia juga merasa tidak berkutik dan berdebar saat Aldrich mencoba menyentuhnya. Anna termenung cukup lama membuatnya tanpa sadar jika Gia memanggilnya sejak tadi.
"An, Anna." Gia menggoyang tubuh Anna membuat gadis itu menoleh dan menatap Gia dengan tatapan terkejut.
"Ada apa sih, Gi." Gia memutar bola matanya menatap Anna kesal.
"Gue ngomong dari tadi loe bilang ada apa? Loe ngelamun, An?" tanya Gia dengan tatapan kesal.
"Enggak kok."
"Masih bilang enggak, loe mikirin apa sih? Andrew?" tanya Gia dengan tatapan menyelidik.
"Bukan,"
"Terus?"
"Terus apa?" tanya Anna merasa bingung.
"Terus kamu mikirin apa?"
"Enggak ada mikirin apa-apa."
"Bohong!" ucap Gia dengan tatapan memicing.
"Terserah kamu deh, Gi." Anna mengambil potongan kedua martabak di hadapannya.
"Loe di cium Andrew?" tanya Gia membuat Anna yang sedang mengunyah martabak hampir tersedak dan menatap Gia melotot.
"Enggak!"
"Jadi mikirin apa? Ngaku aja deh loe, temen loe cuma gue loh, An." ucap Gia sambil mengunyah ciki di pangkuannya.
"Kenapa sih, pikiran loe itu mulu, heran gue." jawab Anna sewot.
"Kali aja ada kemajuan, An. Kan gue seneng dengarnya." Gia mendorong pundak Anna yang terlihat menghela nafas.
"Hubungannya yang bakal maju." jawab Anna sekenanya.
"Iya deh, tapi loe yakin Andrew itu pria baik-baik, An?" tanya Gia dengan nada serius. Anna menatap Gia dengan dahi berkerut dan teringat dengan ucapan Aldrich. Pria itu mengatakan jika Andrew bukan pria baik, pria itu juga tampak serius mengatakannya. Anna menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran itu.
"Gak mungkin." jawab Anna spontan.
"Maksudnya? Gak mungkin Andrew pria baik-baik, begitu?" Anna tersadar dari ucapannya dan menatap Gia.
"Ehh, bukan itu, maksud gue pasti baik." jawab Anna dengan wajah bingung.
"Loe mikirin apa sih, An? Jujur deh sama gue." ucap Gia menatap Anna serius.
"Entahlah, gue ngantuk." Anna menenggak air di gelasnya lalu berjalan meninggalkan Gia begitu saja.
"Loh, Anna, mau kemana? Loe ninggalin gue sendiri gitu aja? Anna!" teriak Gia menatap Anna yang berjalan masuk ke kamarnya. Gia seketika mengikuti langkah Anna masuk kedalam kamar menyusul sahabatnya tersebut.